My Little Notes

Larut dalam Metamorfosa

cute-butterfly

Pada hari itu, aku memandanginya dengan takjub. Kulihat  kulitnya sehalus sutra, matanya sebening air, harkatnya lembut bagaikan dedaunan yang gemulai dihembus angin, dan tubuhnya begitu rapuh dan mungil. Ketika ku melihatnya, tampak sorot matanya bercahaya, garis senyumnya memesona, memancarkan aura yang memberikan kesejukan di hati.  Bayi itu tampak begitu menggemaskan di depan mataku, aku tak merasa bosan untuk terus memandanginya. Meski ia masih belum berbicara, meski seluruh indra-indranya belum berfungsi secara sempurna bak seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya, namun kesucian yang tersirat padanya sama sekali tak dipungkiri. Ia terlahir dengan kesucian yang sempurna, hati, jasmani dan pikiran tanpa setitikpun noda.

Bagaikan kertas putih, bagaikan air yang jernih, manusia dilahirkan ke dunia tanpa dosa. Ya, sangat luar biasa. Manusia dilahirkan dalam keadaan yang suci. Meski diawali dengan tangisan yang membahana ke seluruh ruangan. Namun, tangisan itu membuahkan kebahagiaan di hati bagi setiap orang yang pertama kali mendengarnya. Dari sinilah, maka sang bayi akan memulai perjalanannya. Semua jalan siap terbentang luas di hadapannya, menyambut awal kehidupannya yang baru saja lahir, menyajikan beragam pilihan untuk masa depan hidupnya nanti.

Aku memandang manusia sebagai mahluk yang paling istimewa daripada mahluk yang lain. para filosof pun pasti sependapat dengan pernyataan itu. Tentunya pernyataan tadi pun sudah sangat jelas tercantum di dalam kitab suci al-Qur’an bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan paling sempurna. Aku memahaminya karena manusia memang berbeda dengan mahluk yang lain. manusia memanifestasi siat-sifat mulia Tuhan dan manusia memiliki dua keunggulan di dalam dirinya yang tidak dimiliki oleh mahluk yang lain. yakni akal dan hati. Dengan kedua keistimewaan inilah, maka manusia dikatakan lebih unggul daripada mahluk yang lainnya. Dengan kedua instrument canggih ini, manusia dapat dibimbing menuju kebenaran dan mencapai kesempurnaan dalam keadaan yang suci. Meski kadang muncul pertanyaan apakah akal itu sama dengan hati? Ah, tapi nanti kau pasti akan mengetahuinya.

Tapi, apakah kesucian manusia yang sudah ia miliki dari sejak ia lahir itu akan bertahan hingga akhir hidupnya nanti? Hmm, aku meragukan itu. Oh, tapi bukan berarti itu tidak mungkin bagi manusia untuk menjaga kesuciannya. Bahkan manusia sangat mungkin untuk terus mejadi suci dan mencapai kesempurnaan hakiki, juga merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mungkin? Ya tentu saja sangat mungkin, karena manusia adalah mahluk yang memiliki potensi, bahkan manusia itu memang mahluk potensi. Dalam istilah filsafat manusia disebut sebagai mumkinul wujud. Yakni wujud yang mungkin, wujud yang potensi.  Wujudnya actual karena ada yang mengadakannya, yakni Tuhan. haha, tapi kurasa itu menjadi pembahasan yang berbeda lagi dan akan panjang sekali. Yang sekarang menjadi petanyaan adalah, jika memang manusia dapat menjaga kesuciannya itu, atau memperbaiki dirinya yang kesuciannya sedikit demi sedikit terkurangi, maka bagaimanakah caranya?

Sebelumnya aku bertanya-tanya. Apakah suci itu sebenarnya? Dan apakah hakikat kesucian itu sebenarnya? Apakah itu hanya simbol? Apakah suci itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang terpilih? Seperti para Nabi, Rosul, Imam, atau para Wali Songo mungkin? Atau, sebenarnya kita juga bisa menjadi orang yang suci? Yah, memang itu permasalahannya. Apakah suci itu ditandai dengan memperoleh wahyu/ilham? Hmm, tapi aku hanyalah orang biasa. Aku bukanlah Nabi ataupun sufi, apalagi Buddha. Lalu bagaimana donk?

Keajaiban Metamorfosa

Pernahkah kau mendengar istilah ini? Metamorfosa. Sepertinya tidak asing lagi, kan? Aku yakin kau pernah mempelajari ini di Biologi saat ada di bangku sekolah. Tapi apa hubungannya dengan kesucian yang sedang kita bahas? Ouh,,, ini lah yang membuatku merasa tertarik untuk mempelajarinya.

Rasanya begitu berat jika membayangkan untuk meraih kembali kesucian itu dengan harus melewati tahap seperti Sufi atau Buddha, atau mungkin sema’shum (suci) para Nabi, Rosul dan Imam. Tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapan yang mesti dilewati bahkan belum tentu kita pahami meski baru mempelajarinya lewat teori saja. Meskipun sebenarnya yang harus kita lakukan langsung adalah praktek, tapi tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Yah, memang tidak ada yang mudah dalam mencapai sesuatu tanpa usaha yang sungguh-sungguh, kan? Namun ketika kita telah berhasil meraih sesuatu yang kita inginkan maka semuanya terasa begitu melegakkan dan ringan. Dan ketika kita ingin merasa suci kembali, maka tentu kita pun membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh agar dapat menjadi suci kembali dan meraih kesempurnaan dan kebahagiaan itu. Lalu, pernahkah kau berpikir bahwa usaha-usaha yang sungguh-sungguh itu bisa kita lihat, amati dan pelajari dari mahluk selain kita (manusia)? pernahkah kau memikirkan tentang perjalanan hidup hewan yang mengajarimu tentang perjuangan, kehidupan, dan kesempurnaan? loh, kok bisa? Padahal sudah kukatakan sebelumya bahwa manusialah mahluk yang paling sempurna. Bagaimana mungkin kita belajar dari hewan yang tidak lebih sempura dari kita? Makanya, kita jadi manusia jangan sombong, kawan! Sesungguhnya kesempurnaan itu bisa kita dapatkan dari hal-hal lain selain dari diri kita sendiri. Bahkan kehidupan hewanpun akan mengajarimu. Tidak hanya tentang kesempurnaan dan kebahagiaan, melainkan juga melahirkan filosofi tentang kesucian yang bisa kita jadikan hikmah yang amat penting dalam kehidupan.

Tentu kau sudah mengenal sosok ulat di kehidupanmu. Larva kecil berbulu, merayap, menggeliat-geliat, gatal, menjijikkan. Hampir semua orang tidak suka padanya, kecuali yang mengerti, dan mencintai alam. Bagi mereka yang megerti, ulat kecil berbulu itu adalah cikal bakal kehidupan baru, keajaiban, menjanjikan keindahan,,, yang elok luar biasa. Pernahkah kau melihat proses metaorfosis ulat menjadi kupu-kupu? Apa? Hanya baru mendengar dan membaca saja? Haha, tidak apa-apa. Tapi lain kali kau harus melihatnya. Metamorphosis adalah proses dimana ulat berubah menjadi kupu-kupu cantik yang indah. Yang sehari-harinya ia kita lihat sedang menari-nari di atas kelopak bunga-bunga yang cantik, melayang-layang di atas kepala kita, berdansa dengan sesama kupu-kupu satu sama lain di depan mata kita, yang mengembangkan senyum kita ketika melihat kecantikannya. Tapi, proses metamorfosa mereka menjadi kupu-kupu sungguhlah tidak mudah, kawan. Tahukah kau apa saja yang kupu-kupu lakukan dan perjuangkan?

Ketika ia menjadi larva, lingkungan sekitarnya begitu rentan akan bahaya yang mengancam kehidupnnya. Ia mencoba beradaptasi dan melindungi diri. Ia makan daun, dan makan daun, hingga pada waktunya ia menempel di batang ataupun di bawah dedaunan dengan melilitkan benang-benang sutra di sekitar tubuhnya hingga ia menjadi kepompong. Dan tahukah kau bagaimana saat ia ada di dalam kepompong? Ia benar-benar total berpuasa mungkin untuk beberapa minggu higga akhirnya ia keluar dari kepompongnya dengan wujud dan penampilan yang baru. Sayapnya perlahan mengembang memperlihatkan corak-corak warna-warni hasil karya seni kodrati yang tak tertandingi. Dan wujudnya, tentu sangat berbeda dengan yang semula. Ulat yang dulu berbulu dan terlihat menjijikkan itu kini terlihat begitu cantik  menawan. Namun sebelum itu, apakah kau berpikir bahwa proses ketika calon kupu-kupu itu keluar dari kepompongnya berlangsung dengan mudah? Apa kau tahu seberapa besarkah lobang yang ia lewati saat ia mau keluar dari kepompong? Kau tidak tahu? Tahukah kau bahwa lobang itu hanyalah sebesar lobang jarum! Bisakah kau membayangkannya? Bagaimana perjuangan kerasnya hingga ia bisa keluar dari kepompong itu? Jikapun kau merasa iba ketika melihat prosesnya dan tak tega dengan melihat kesulitannya saat tubuhnya mencoba keluar dari kepompong melewati lubang sebesar jarum itu, lalu pada saat itu kau memutuskan untuk mengambil gunting dan membantu mengeluarkannya dengan harapan penderitaan calon kupu-kupu itu akan segera berakhir dan ia akan keluar dengan selamat. Maka, apa kau pikir apa yang telah kau lakukan ini benar dan bagus untuknya? Apakah kau benar-benar membantunya mengatasi penderitaannya? Hm, ternyata tidak! Justru akibat perbuatanmu itu, kupu-kupu itu menjadi lemah tak berdaya, sayapnya tidak mengembang sempurna, ia sama sekali tak bisa terbang, dan tidak lama kemudian kupu-kupu itu pun mati!

Kini apa yang bisa kau pahami dari semua kisah itu? Kau akan mengerti, bahwa perjalanan menuju kesempurnaan itu tidak mudah, dan kau tidak bisa menjalaninya dengan setengah-setengah. Karena jika kau melewatkan satu proses saja, maka kau telah melenyapkan satu bagian penting untuk kesempurnaan yang akan kau raih. Lihatlah apa saja yang telah dilakukan oleh kupu-kupu tadi. Tidak hanya berjuang menghadapi lingkungan yang penuh bahaya untuknya, namun ia juga siap untuk terus menerus berpuasa dalam waktu yang cukup lama, dan ia pun berjuang keras demi dapat keluar dari kepompongnya, hingga sayap itu akhirnya mengembang bebas, mengepak anggun di udara, menunjukkan kualitas hidup barunya kepada kita, yakni manusia sang mahluk yang paling sempurna dan mulia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Tidakkah kau merasa takjub dan penuh syukur? Kupu-kupu telah mengajarimu bagaimana menuju hidup yang sempurna. mereka rela dan ikhlas untuk mengambil resiko yang besar agar terlahir kembali menjadi wujud yang lebih baik. Wujud yang sempurna dan suci. Pelajaran ini sungguh tidak akan mempersempit pandangan hidupmu kan? Kita bisa mengambil analogi ketika kita berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Maka setelah itu kita akan bertemu dengan hari idul fitri yang suci. Bukankah itu seperti kupu-kupu tadi? Ya, persis malah. Namun bukan hanya itu saja pelajaran yang dapat kita ambil. Sungguh terdapat filosofi yang luar biasa di balik proses metamorphosis itu. Pelajaran yang berharga. Pelajaran yang akan membawa kita menuju kesucian kembali apabila kita dapat menerapkan nilai hikmahnya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Manusia memiliki keistimewaan berupa akal. Dengan akal, manusia dapat mengamati seluruh alam dan mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan itu ia akan mendapatkan pelajaran. Dari pelajaran itu ia akan menerapkannya dalam kehidupan, dan kehidupannya berjalan menuju kesempurnaan, kebahagiaan dan kesucian. Tahukah kau? Di dalam filsafat sesungguhnya akal merupakan jiwa. Jiwa adalah mesin yang menggerakkan segala tindakan manusia. namun apa kau mengetahui juga bahwa menurut sufi, akal merupakan hati itu sendiri? yang mengarahkan kita menjadi ruh yang menuju ke ilahi, menuju ke kesucian. Dan kini kau tahu apa yang harus kau lakukan. Maka, gunakanlah keistimewaan yang ada padamu itu sebagai alat untuk membawamu menuju metamorfosa. Metamorfosa dalam kehidupanmu sendiri, Metamorfosa dalam jiwamu.

18-11-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s