MEDSOS, OPINI, DAN KERETAKAN SOSIAL

“Medsos: Berkah atau Musibah Bagi Toleransi dan Keberagaman?”

By: Fithri Dzakiyyah Hafizah

“Sosial” adalah sebuah istilah yang maknanya melekat erat dengan eksistensi manusia. Kenapa manusia? Karena manusia diberkahi dengan kedudukan istimewa. Itulah mengapa kita tidak pernah sekalipun mendengar seseorang mengatakan, “Lihat! Betapa sosialisnya kambing-kambing itu!” atau mengatakan, “Rerumputan itu sungguh interaktif!” Bukankah ungkapan-ungkapan itu terdengar ganjil? Kira-kira mengapa? Sudah barang tentu, karena kata “sosial” bukan istilah yang mendefinisikan keberadaan mereka.

Pada hakikatnya, wawasan mengenai pengertian sosial telah kita dapatkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. “Manusia adalah mahluk sosial”, merupakan pengertian yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Sebutan mahluk sosial mengindikasikan bahwa manusia hidup dalam lingkungan komunal yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda. Ya, “Ber-be-da”. Perbedaan itulah yang telah membentuk suatu struktur kehidupan sosial pada manusia. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, “Sudahkah setiap manusia menyadari itu?”

Menariknya, di era cyber ini, kita diperkenalkan dengan dunia baru yang disebut dengan media sosial. Sederhananya, kata “sosial” yang menjadi atribut dari kata “media” mengindikasikan bahwa media tersebut memberikan atmosfir yang dilingkupi kehidupan sosial, di antaranya melibatkan proses interaksi, partisipasi, dan relasi antar manusia yang berasal dari ragam latar belakang yang berbeda melalui jaringan online. Dengan itu, manusia dapat saling mengenal, saling bertukar pikiran, saling berbagi informasi, dan lain sebagainya.

internet-marketing

www. profomardukee.com

Sayangnya, ekspektasi tak selalu sejalan dengan realita. Meski pada teorinya media sosial memiliki tujuan mulia, namun isi kepala setiap manusia sama sekali berbeda. Perbedaan tersebut membuat media sosial memiliki ragam pengertian dan ragam fungsi yang bergantung pada cara pandang si pengguna.  Dari situlah, lambat laun, media sosial dapat bertransformasi menjadi senjata yang berbahaya, yang bukannya menjadi sarana untuk menciptakan perdamaian, malah berujung pada memecah belah persatuan.

moslem chritian

nonalignedmedia.com

Tapi, percaya atau tidak, kehadiran media sosial telah menyuntikkan kekuatan besar pada manusia. Hasilnya, manusia mampu merasa lebih berani dan percaya diri. Oleh karenanya, tak heran jika banyak orang yang meski foto-foto yang dipostingnya sedang berekspresi sejelek mungkin, atau pun menyorot kehidupan sehari-harinya yang meski tidak semewah para sosialita, namun melalui medsos, semua hal yang mereka tunjukkan seolah mendapatkan satu label yang menjanjikan, “Keren”.

Seberapa berpengaruh label “keren” bagi manusia yang sudah kecanduan medsos? Saya akan katakan “sangat”. Gambar-gambar jempol dengan jumlah banyak, emoticon love, dan lain sebagainya mampu memberikan sensasi yang mungkin dapat dikatakan “lebih nikmat” daripada interaksi dengan manusia yang dirasakan di dunia nyata. Label “keren” pada akhirnya menginspirasi banyak manusia dalam berucap dan bertindak di dunia media sosial. Jika dipikirkan lebih dalam lagi, memangnya apa tolak ukur sesuatu dibilang “keren”? Itulah yang tidak dapat saya jawab, karena “keren” bagi saya adalah penilaian yang subjektif.

Memang benar adanya, “keren” atau tidaknya sesuatu yang diposting di jejaring sosial bersifat subjektif. Tak heran jika banyak pengguna medsos yang memberikan tanggapan sebaliknya yang terekspresikan dengan kata “jelek”, atau “aneh”, dan lain sebagainya. Sayangnya, tanggapan-tanggapan yang tidak diharapkan ini tak selalu dapat diterima dengan damai. Sebaliknya, tanggapan tersebut malah membangkitkan keinginan untuk melakukan perlawanan. Dari sanalah biasanya perpecahan dimulai. Seringkali komentar negatif memancing rasa kebencian, dan membuat beberapa orang atau komunitas tertentu dimasukkan dalam daftar orang-orang yang tidak disukai.

Perpecahan yang terjadi di media sosial, tak dapat dihindari akan memberikan pengaruh yang lebih masif pada kehidupan sosial di dunia nyata. Hasil interaksi dan pandangan yang didapat dari media sosial, akan menentukan pula cara pandang dan modus interaksi manusia di kehidupan sosial. Yang berbahaya adalah, ketika penilaian subjektif di medsos tetap dipertahankan saat manusia berbaur dengan manusia lain dari ragam lapisan masyarakat. Pada akhirnya, ras, suku, budaya, pemikiran, agama, akan dipandang dan dinilai berdasarkan “Penilaian suka-suka saya”. Penilaian sejenis inilah yang akan mengantarkan pengguna media sosial lebih menutup diri dari berbagai “kemungkinan lain”. Lebih jauh lagi, penilaian seperti ini akan menanamkan benih-benih kebencian, yang jauh dari nuansa keharmonisan.

Sekarang, memangnya penilaian yang objektif itu seperti apa? Toh, sekelas profesor sekalipun jika menanggapi sesuatu tetap saja jatuhnya disebut sebagai “opini”. Bukankah itu juga subjektif? Yah… memang cukup sensitif juga jika membahas tentang opini. Namun, menurut saya, apa yang perlu kita perhatikan sebelum beropini dalam media sosial adalah bersikap “hati-hati”. Sikap hati-hati ini dapat kita lengkapi dengan melakukan lebih banyak eksplorasi, refleksi, dan kontemplasi. Karena kita mahluk sosial, maka apa yang masuk ke dalam refleksi tidak hanya tentang orang lain, atau hanya tentang diri sendiri, melainkan keduanya, yakni tentang orang lain dan diri sendiri.

“Oh, maksud anda kalau mau menanggapi apapun di medsos harus mikir dulu gitu yang lama? Bengang-bengong dulu di depan laptop atau hp sampe sejam, baru menanggapi?” Hehe, ya itu sih terserah anda jika memang begitu cara anda melakukan refleksi. Bagaimanapun, eksplorasi dan refleksi tidak hanya di lakukan ketika menggunakan media sosial saja, melainkan juga ketika menghayati keberadaan entitas manusia di lingkungan sosial. Refleksi yang demikian akan menjembatani relasi antara dunia media sosial dan kehidupan sosial, juga melahirkan sikap yang patut dan koheren antara pandangan, perkataan, dan tindakan baik di medsos, maupun kehidupan sosial.

1491444_10151846501338247_445181471_o

www. kaskus.co.id

Saya teringat kata-kata bijak dari seorang guru sufi yang banyak dikutip orang. Suatu hari seorang guru sufi ditanya mengenai dua keadaan manusia. Pertama, manusia yang sangat rajin ibadahnya, namun bersikap angkuh dan selalu merasa suci. Kedua, manusia yang teramat jarang beribadah, namun berakhlak mulia, rendah hati, santun, dan cinta dengan sesama. Kemudian sang guru menjawab,

“Keduanya adalah baik. Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang angkuh menemukan kesadaran tentang keburukan akhlaknya, kemudian ia bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik lahir dan bathinnya. Untuk yang kedua, boleh jadi disebabkan oleh kebaikan hatinya, Tuhan memberikan hidayah dan ia menjadi ahli ibadah yang juga baik secara lahir dan bathin.”

Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu…?

Sang guru menjawab, “Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri.

 

“Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa”. #celebratediversity #10tahunicrs

logo-icrs-10-b

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s