Bagaimana yang Immaterial Berelasi dengan yang Material dalam Pandangan Ibn Sina dan Mulla Sadra

Oleh: Fithri Dzakiyyah Hafizah

1. Relasi Jiwa dan Badan dalam pandangan Ibn Sina
Jiwa memiliki relasi yang erat dengan tubuh. Ia merupakan sebuah unit independen dan memiliki eksistensinya sendiri yang tidak bergantung dan berbeda dari tubuh. Dalam aktivitasnya (fi’liyah), jiwa selalu membutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, misalnya seperti aktivitas-aktivitas setiap fakultas, khususnya dalam mempersepsi benda-benda partikular, seperti fakultas wahmiyah yang berfungsi untuk mengestimasi makna-makna partikular, atau fakultas indera komunal yang mempersepsi bentuk-bentuk partikular, dan fakultas imajinasi untuk menjaga bentuk-bentuk yang ditangkap tersebut.
Pada sisi lain, Ibn Sina menyatakan bahwa eksistensi jiwa itu tidak sama dengan eksistensi tubuh, dalam artian bahwa jiwa memiliki eksistensi yang berbeda dengan tubuh. Ia tidak seperti eksistensi aksiden pada subjek (‘aradh fi al-maudhu’). Badan, sebagaimana hakikatnya, akan selalu membutuhkan eksistensi jiwa, sementara itu jiwa tidak pernah membutuhkan eksistensi tubuh, ia secara total independen darinya. Karena mustahil ada tubuh yang mampu eksis tanpa jiwa, akan tetapi jiwa bisa eksis tanpa adanya tubuh. Ketika jiwa terpisah dari tubuh, maka tubuh secara langsung berubah dan jiwa menjadi bayang-bayang yang semakin naik pada dunia yang lebih tinggi. Dengan demikian, kesimpulan dari Ibn Sina dalam kaitanya dengan jiwa dan tubuh, adalah bahwa jiwa merupakan substansi independen secara essensinya.
Oleh karena itu, meskipun nanti tubuh telah hancur, jiwa akan tetap ada karena relasi mereka bukan esensial melainkan aksidental. Ibn Sina juga sepakat bahwa jiwa itu membentuk (forming) tubuh. Oleh karenanya tubuh bisa menjadi sempurna. Akan tetapi Ibn Sina berbeda dengan Aristoteles, yang meyakini bahwa relasi antara jiwa dan tubuh merupakan relasi substansial-karena jika demikian maka konsekuensinya ketika tubuh hancur atau mati, maka jiwa akan ikut mati dan hancur juga. Sementara relasi aksidental tidak seperti demikian. Yakni jika salah satunya mati, maka substansi yang lainnya tidak akan mati, dalam artian bahwa substansi dari jiwa tersebut akan tetap ada.
Bagaimana jiwa merupakan kesatuan dengan tubuh dalam segi aktivitasnya terjelaskan melalui dua fungsi jiwa, yakni 1) untuk memanage dan mengontrol tubuh, seperti aktivitas dari setiap fakultas, dan 2) untuk mempersepsi ma’qulat (intelligible things).
Ibn Sina meykini bahwa jiwa itu berasal dari akal aktif (al-‘aql al-fa‘al) – yang merupakan provider bentuk (shurah) yang menjadi substansi akal. Ia eksis lebih dahulu. Oleh karenanya, jiwa itu abadi karena sebabnya juga abadi.
2. Relasi Jiwa dan Tubuh dalam Pandangan Mulla Sadra:
Mulla Sadra membenarkan bahwa tubuh dan jiwa memiliki dimensi yang berbeda. Meskipun, jiwa itu pertama-tama eksis dengan tubuh, akan tetapi pada akhirnya, jiwa menjadi sebuah lokus untuk seluruh fakultas dan potensi. Mulla Sadra kemudian mengilustrasikan dualisme jiwa dan badan seperti sebuah kapal dan kaptennya. Proses dalam eksistensinya adalah dimana jiwa pada mulanya merupakan dari benda fisik atau material yang kemudian ia melakukan proses perfeksi (takamul) melalui gerak trans-substansial (harakah al-jauhariyah) dan akhirnya menjadi jiwa (al-nafs) yang abadi (eternal) pada kondisinya sendiri.
Mulla Sadra mendefinisikan jiwa sebagai Jasmaniyatu al-Huduts, Ruhaniyatu al-Baqa, yang mana definisi ini menggambarkan bagaimana interaksi antara jiwa dan badan, yang merupakan problem kesesuaian (sinkhiyyah). Mulla Sadra meyakini bahwa jiwa tidak datang dari luar atau menempel secara aksidental (sebagaimana yang diyakini oleh Ibn Sina), melainkan jiwa itu adalah merupakan perfeksi itu sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Mulla Sadra meyakini bahwa kesempurnaan bukan merupakan persoalan aksiden-aksiden yang ditambahkan. Kesempurnaan, menurut Mulla Sadra adalah perubahan-perubahan dari jiwa itu sendiri. Tidak seperti Ibn Sina, proses ini bukan merupakan proses menambahkan atau menempelkan (process of adding), melainkan proses menjadi (process of becoming) yang terjadi melalui harakat al-jauhariyyah. Oleh karenanya Mulla Sadra meyakini bahwa relasi antara jiwa dan tubuh ini sebagai relasi yang esensial (dzati). Dan maka dari itu, karena relasi jiwa menurut Mulla Sadra itu esensial dengan tubuh, maka relasi antara keduanya tak perlu dijustifikasi karena sudah badihi. Karena semua kesepurnaan dan perubahan itu terjadi pada tubuh itu sendiri melalui perubahan menuju kesempurnaan. Ia tidak datang dari luar (yang jika datangnya dari luar, sebagaimana pendapat Ibn Sina, maka ia perlu untuk dijustifikasi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s