Wujud Mustaqil dan Wujud Rabith

Pembagian wujud ke dalam mustaqil dan rabith adalah pembagian yang dirumuskan oleh Mulla Sadra. Adapun motif dari adanya pembagian wujud ke dalam mustaqil dan rabith adalah dalam kaitannya dengan teori wahdah dan katsrah yang juga merupakan salah satu teori yang dicetuskan oleh Mulla Sadra. Dengan pembagian wujud ke dalam mustaqil dan rabith ini, Mulla Sadra berupaya untuk menjelaskan adanya unitas dan pluralitas wujud yang disebabkan karena adanya ketidakpuasan pada klarifikasi kaum paripatetik mengenai isu ini dalam karya-karya mereka. Implikasinya, isu ini masih menjadi poin perdebatan di antara kalangan filosof maupun arif. Perdebatan ini didasari pada pandangan sufi mengenai kesatuan wujud (wahdah) yang tampak sebagai oposisi bagi pandangan filosof paripatetik mengenai pluralitas wujud. Kaum arif meyakini bahwa wujud hanya dinisbahkan pada al-Haqq. Dalam irfan, wujud sama sekali tidak bercampur dengan apapun yang akhirnya mengakibatkan adanya pluralitas dalam wujud . Sementara selain dari wujud al-Haqq hanyalah fatamorgana semata yang tak lain merupakan manifestasi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan filsafat paripatetik meyakini bahwa wujud secara esensi (dzat) bersifat tabayun. Oleh karena itu hal ini meniscayakan bahwa antara satu wujud dengan wujud lainnya, satu sama lain saling berpisah. Adapun kesatuan wujud hanya terjadi dalam konsep semata dan di luar dari zat wujudnya. Oleh karena itu yang ditekankan di sini adalah pluralitas yang merupakan landasan inti di alam eksternal.
Mulla Sadra yang kemudian hadir dengan corak pemikiran hasil dari sintesis pemikiran filosofis dan gnostis pun berupaya untuk memecahkan persoalan unitas dan pluralitas (wahdah wal katsrah), sehingga keduanya ini tidak bertentangan satu sama lain . Bagaimana kita menemukan relasi antara unitas dan pluralitas? Bagaimana kita menjelaskan relasi antara Tuhan dan eksistensi-eksistensi lainnya? Lebih spesifik lagi, bagaimana kita menjelaskan relasi Tuhan dengan makhluknya? Dalam persoalan teologis, hal ini berhubungan dengan konsep kesatuan (Tauhid). Demi menjelaskan relasi inilah, maka Mulla Sadra menemukan teori wujud rabith. Namun sebelumnya perlu diketahui apa makna dari wujud rabith dan wujud mustaqil.
Makna wujud mustaqil (eksistensi mandiri/independen) disepakati sebagai realitas yang ada pada dirinya, dan bagi dirinya. Namun M. Taqi Misbah Yazdi dalam hal ini menjelaskan pembagian wujud ini berangkat dari penjelasan mengenai wujud rabith dalam pandangan filosof pre-Sadrian dan kemudian menurut Sadra dimana wujud rabith (wujud kopulatif ) pada masa sebelumnya disamakan atau dianggap sinonim dari wujud rabiti (wujud aksidental). Akan tetapi kedua terma ini digunakan dalam dua ekspresi:
1. Membahas mengenai kopula dalam proposisi logis yang mana terdiri dari 3 elemen, yakni subjek, kopula dan predikat. Contoh : Iman adalah Guru. Iman di sini adalah konsep nominal dan merupakan konsep non-kopulatif, dalam arti ia dapat dibayangkan secara mandiri dan dipahami tanpa perlu terikat dengan konsep ‘guru’. Begitu pula dengan konsep ‘guru’. Sementara ‘adalah’ disini merupakan konsep verbal yang tidak bisa dipahami secara mandiri, pada konsepnya sendiri ia hanya dapat dipahami dalam konteks kalimat. Inilah yang disebut sebagai kopula.
2. Membahas mengenai wujud aksidental, yang mana terma ini diterapkan pada objek-objek di realitas eksternal yang butuh pada objek lainnya. Itu artinya realitas ini bergantung pada realitas lainnya. Akan tetapi, objek yang dependen ini secara konseptual ia bermakna independen. Konsepnya bermakna independen karena punya makna nominal yang dapat kita pahami tanpa harus menambahkan subjek dan predikat padanya. contoh konsep-konsep aksidental ini diantaranya adalah konsep mengenai garis, atau konsep warna (hijau, misalnya). Secara konseptual ia dapat dipahami secara independen, namun jika di realitas eksternal, ia membutuhkan objek lain untuk keberadaannya. Dalam arti eksistensinya ini menjadi atribut bagi objek yang ia tempeli, oleh karenanya ia juga disebut sebagai wujud atributif. Contoh: ‘Hijau’ memiliki makna mandiri, namun ia membutuhkan daun, misalnya, agar dapat terealisasi.
Menurut M.T. Misbah Yazdi bahwa Mir Damad, yang merupakan Guru dari Mulla Sadra menyarankan untuk membedakan antara wujud rabith dan wujud rabiti. Dimana wujud kopulatif dalam proposisi logika disebut sebagai wujud rabit, sementara wujud aksidental disebut dengan wujud rabiti. Dikatakan bahwa Mulla Sadra merujuk poin yang sama dalam Asfar dimana pembedaan antara istilah wujud rabith dan wujud rabiti ini harus dibedakan untuk mencegah dari kebingungan akan makna logis dan filosofis. Adapun yang logis sebagai rabith dan yang filosofis sebagai rabiti. Hal demikian mengindikasikan bahwa wujud kopulatif itu tidak independen. Dalam pengertian logis, wujud kopulatif adalah wujud yang dalam konsepnya pun tak bisa dipahami secara mandiri. Berbeda dengan konsep nominal yang bisa dipahami secara mandiri. Adapun dalam pengertian filosofis, bahwa wujud rabith diaplikasikan pada aksiden-aksiden dimana aksiden tidak bisa ada tanpa bergantung pada substansi.
Sementara M.H. Thabathaba’i dalam Bidayatul Hikmah menjelaskan bahwa wujud mustaqil adalah realitas yang memiliki eksistensi mandiri. Sementara wujud rabith adalah realitas yang eksistensinya bergantung pada eksistensi lainnya. Wujud mustaqil ini kemudian ada dua macam :
1. Wujud yang ada dengan dirinya untuk dirinya sendiri, yakni wujud yang menegasikan ketiadaan quiditas pada dirinya, contohnya seperti manusia, kuda, dsb.
2. Wujud dengan dirinya untuk selain dirinya, yakni wujud yang menegasi ketiadaan quiditas pada dirinya juga menegasi ketiadaan pada sesuatu yang lain. contohnya adalah pengetahuan yang eksistensinya adalah untuk menegasikan ketiadaan dirinya, juga menegasikan kebodohan dari subjeknya. Bukti lain dari jenis ini adalah aksiden-aksiden yang menegasikan ketiadaan akan subjeknya dan ketiadaan akan esensinya sendiri. Atau forma-forma substansial spesifik yang mengaktualisasikan materi mereka dengan menegasikan kekurangan substansial mereka. Inilah yang dimaksud dengan eksistensi yang menegasi ketiadaan quiditas pada dirinya juga menegasi ketiadaan pada selainnya. Adapun eksistensinya bersifat atributif.
Kemudian wujud rabith dibagi lagi kedalam dua bagian:
1. Wujud Rabith sebagai realitas yang eksistensinya bukan tambahan bagi eksistensi subjek dan predikat. Ia melekat pada dua sisi tersebut dan tidak independen. Ia pun tidak punya makna yang independen sebagai sebuah konsep. Sementara wujud yang punya makna yang independen secara konseptual disebut dengan wujud mustaqil (wujud predikatif).
2. Wujud Rabith sebagai efek dalam hubungannya dengan sebab. Meskipun kita tahu bahwa efek itu terdiri dari substansi dan aksiden, yang satu sifatnya predikatif dan satunya eksistensi independen. Namun mereka adalah wujud rabith dilihat dari hubungannya dengan sebab mereka.
Dari konsep ini, para filosof lebih jauh lagi kemudian membagi wujud kedalam dua bagian, yakni wujud yang mandiri dengan dirinya sendiri dan wujud yang ada karena sesuatu yang lain. Pembagian ini berhubungan dengan konsep kausalitas. Dalam kaitannya dengan ini, Mulla Sadra, menurut M. Taqi Misbah, selalu berupaya untuk menjelaskan relasi antara Tuhan dengan makhluknya dalam istilah independensi dan dependensi. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia itu mempunyai eksistensi. Akan tetapi eksistensi mereka adalah sama dengan dependensi mereka terhadap Tuhan dalam pengertian bahwa mereka tidak memiliki independensi sendiri. Dalam menjelaskan relasi ini, Mulla Sadra mencoba memikirkan prinsip filosofis dengan terma-terma yang mewakili gagasannya tersebut. Adapun penjelasan mengenai relasi antara Tuhan dan makhluknya ini pun tak lepas dari prinsip kausalitas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s