TINJAUAN KRITIS ATHEISME DAWKINS (Kritik terhadap Buku The God Delusion)

Oleh: Fithri Dzakiyyah Hafizah, Sihabudin, dan M. Rainhard

Abstrak: Benarkah Tuhan itu ada? Cukupkah keberadaan dan keteraturan alam semesta membuktikan keberadaan Tuhan? Richard Dawkins, seorang Extreme Atheist menjawabnya dengan tegas ‘tidak!. Hipotesis mengenai Tuhan baginya tidak lebih dari hipotesis ilmiah tentang alam semesta yang mesti diteliti seskeptis mungkin sebagaimana penelitian-penelitian lainnya dan harus dijawab secara saintifik. Namun nyatanya, jawaban dari kaum teis yang membuktikan-Nya melalui argumen desain dianggap Dawkins sangat lemah. Alih-alih mencari ilusi perancang dari alam semesta, Dawkins menawarkan teori Darwinian sebagai yang lebih mampu menjawab bagaimana kehidupan ini bermula dengan lebih sederhana dan sempurna, sehingga dari situlah Dawkins berkesimpulan bahwa Tuhan itu adalah ‘delusi belaka?’ Adapun dalam kaitannya dengan ini, penulis mencoba untuk mengkritisi beberapa poin pemikiran Dawkins dari bukunya the God Delusion.
Kata Kunci: Tuhan (God), keyakinan (faith), agama (religion), science, evolusi Darwinian, the argument from design, the argument of improbability, illusion of design, perancang cerdas (intelligent designer (ID), bukti (evidence).
Pendahuluan
Richard Dawkins (1941) ilmuwan kelahiran Nairobi yang sekaligus merupakan dosen zoologi dan profesor Charles Simonyi pertama di Oxford ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang menolak akan keberadaan eksistensi Tuhan. Latar belakang pemikirannya berbasis pada teori evolusi Darwinian yang menurutnya mampu menjelaskan bagaimana kompleksitas alam secara lebih sederhana, lebih rasional dan lebih masuk akal ketimbang teori yang menjelaskan bahwa alam ini, dengan segala kesempurnaannya, adalah di rancang oleh perancang yang cerdas (Intelligent Designer).
Ada banyak karyanya, yang menarik perhatian orang banyak, yang membahas seputar proses perkembangan alam yang berevolusi berdasarkan teori Darwinian yang sekaligus mengindikasikan pandangannya dalam menegasikan akan adanya eksistensi Tuhan. Adapun buku pertamanya The Selfish Gene (1976;edisi kedua 1989) langsung menjadi Internasional Best Seller, dan demikian pula dengan bukunya yang berjudul The Blind Watchmaker yang sudah diterjemahkan ke banyak bahasa. Karya sekuelnya berjudul The Extended Phenotype (1982), River Out of Eden (1995) dan Climbing Mount Improbable (1996) juga merupakan best seller. Sementara itu karya fenomenal Dawkins yang menyedot perhatian publik berikutnya adalah“The God Delusion” yang telah membuatnya menduduki puncak gelombang atheisme. Bukunya “The God Delusion” merupakan karya best seller terpopuler lainnya yang ditujukan untuk menyerang keimanan (faith) secara filosofis, historis, juga secara saintifik, namun menitikberatkan pada teori Darwinian yang merupakan bidang keahliannya yang ia geluti sebagai seorang ilmuwan muda (sewaktu) di Universitas Oxford. Dalam bukunya The God Delusion ini, terdapat argumen dasar yang dianggap sebagai basis pemikiran Dawkins yang menolak hipotesis keberadaan Tuhan dan menyerang keimanan (faith), yaitu terletak pada pembahasan mengenai “Mengapa hampir pasti tidak ada Tuhan” (why there almost certainly is no God), dan juga mengenai “akar-akar agama” (the roots of religion). Salah satu argumen pembuktian Tuhan yang seringkali mendapat kritikan pedas dari Dawkins adalah The Argument from Design atau The Argument of Improbability.
Alasan Mengapa Agama dan Sains akan Selalu Berbenturan
Pandangan dasar Richard Dawkins mengenai hubungan antara sains dan agama adalah berupa konflik, dalam pengertian bahwa sains dan agama, dari sudut pandangnya, tidak akan pernah bisa harmonis atau pun hidup berdampingan. Menurut Dawkins, nuansa agama adalah musuh dari akal. Mengapa? karena akal itu dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat saintifik dan objektif, sementara agama dihubungkan dengan perasaan subjektif yang padanya tidak memiliki kandungan kognitif.
Dawkins berpandangan bahwa agama akan selalu berkompetisi dengan sains. Karena menurutnya, agama dalam sejarahnya selalu berupaya untuk menjawab persoalan-persoalan yang semestinya dijawab oleh sains. Dan Dawkins dalam hal ini amat menyarankan untuk tidak mempercayai agama yang mana prinsip utamanya adalah keyakinan atau keimanan tanpa bukti. Oleh karenanya, agama itu tidak bisa memberikan bukti (evidence) secara empiris pada kita. Bagi Dawkins, keyakinannya bahwa agama itu banyak tidak menyentuh ranah ilmiah tercermin pada sikap kaum teis yang begitu mudahnya meyakini akan adanya mukjizat yang jelas-jelas tidak hanya bertentangan dengan fakta empiris, melainkan juga dengan spirit sains.
Dawkins pun melontarkan kritik pedas terhadap argumen terkuat dan paling pamungkas andalan kaum teis yang bertahan selama berabad-abad untuk membuktikan keberadaan Tuhan dari sudut pandang dunia fisik, yakni “The argument from design” atau nama lainnya disebut juga dengan “The Argument of Improbability” yang mana melihat bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini begitu indah, elegan dan tampak teratur serta terarah. Dengan melihat adanya kompleksitas yang tampak sempurna dan teratur itu, maka mustahil jika ia terjadi secara kebetulan dan pastilah dirancang oleh perancang cerdas (Intelligent Designer (ID) yang, kemudian oleh kaum teis, disebut sebagai ‘Tuhan’. Nah, Dawkins mengkritik keras argumen ini. Menurutnya, argumen tersebut memang berhasil melahirkan banyak teis dan seolah terlihat sudah sangat meyakinkan. Akan tetapi, argumen yang (menurut Dawkins) berkedok tradisional dan ditawar-tawarkan pada masyarakat di masa kini tersebut telah membuat banyak orang secara gampangan berasumsi bahwa Tuhan itu ada.
Dalam menanggapi persoalan tersebut, Dawkins kemudian menawarkan solusi untuk pandangan yang menurutnya demikian tradisional. Berdasarkan pandangannya, kompleksitas dalam alam semesta ini dapat dijelaskan secara lebih sederhana oleh teori Darwin. Dawkins amat yakin bahwa teori tersebut mampu menjelaskan kompleksitas secara bertahap melalui tahapan-tahapan gradual (berangsur-angsur), yang dimulai dari tingkatan yang paling kecil kemudian melaju pada tahapan yang lebih kompleks, lebih elegan, dan lebih adaptif. Melalui teori Darwin inilah, yang kita kenal dengan teori evolusi, maka ia menegaskan bahwa menjelaskan asal muasal alam sebenarnya tidak mustahil bagi kita jika kita mampu memahami tiap tahapan-tahapannya. Kemustahilan itu terjadi karena kita menimbun jumlah kompleksitas itu selama ribuan tahun sehingga terkesan seperti monster-monster dalam otak manusia, atau serimbun hutan hujan yang membuat manusia kepayahan untuk menembusnya. Oleh karenanya, Dawkins menegaskan bahwa teori evolusi Darwin ini harus bisa terus mengingatkan kita lagi dan lagi untuk menghindari asumsi bahwa karena sesuatu itu kompleks dan tampak amat sempurna, maka (dengan mudahnya) kita langsung berkesimpulan bahwa Tuhan lah yang pasti telah menciptakannya. Melalui teorinya ini, maka secara eksplisit Dawkins telah menolak akan keberadaan Tuhan yang kemudian akan dijelaskan secara lebih spesifik dalam argumen-argumenya mengenai “Mengapa hampir pasti tidak ada Tuhan” (why there almost certainly is no God), dan juga mengenai “akar-akar agama” (the roots of religion).
Akar-akar Delusi Tuhan dalam Pandangan Dawkins
Dawkins meyakini bahwa sekali saja kita berbicara dalam posisi kita sebagai orang yang beriman, maka saat itu juga kita akan menemukan diri kita kehilangan seluruh skeptisisme natural dan kredibilitas/keyakinan saintifik kita sama sekali. Inilah kritik tajam yang dilontarkan berulang kali oleh Dawkins terhadap kaum teis, khususnya kaum kreasionis, yang amat meyakini The argument of design (Argumen rancangan) atau The argument of Improbability (Argumen kemustahilan) sebagai bukti akan eksistensi Tuhan. Kritiknya ini kemudian ia jabarkan dalam beberapa argumennya tentang ‘Mengapa hampir Pasti Tidak Ada Tuhan’(why there almost certainly is no God) sebagai berikut:
a. The Ultimate Boeing 747: nama ini Dawkins adopsi dari gambaran Boeing 747 karya Fred Hoyle yang menyatakan bahwa kemungkinan adanya kehidupan yang berasal dari bumi tidak lebih besar dari pada adanya peluang sebuah badai, yang menyapu seluruh lempengan-lempengan besi, yang akan memiliki keberuntungan untuk merangkai sebuah pesawat boeing 747. Inilah argumen favorit kaum kreasionis yang dalam melihat beberapa fenomena yang teramati – seringnya salah satu mahluk hidup atau salah satu dari yang memiliki organ kompleks, meskipun ia bisa saja merupakan sesuatu dari sebuah molekul di semesta itu sendiri – secara pasti digagungkan sebagai sesuatu yang secara statistik mustahil (untuk dijelaskan). Hal ini, sebaliknya menurut Dawkins, malah tampak seakan menggambarkan pula bahwa sains yang pada abad pertengahan telah berhasil merancang pesawat boeing 747, namun atas kehadiran pesawat yang luar biasa itu, kemudiam dianggap sebagai mukjizat saat diperlihatkan pada kalangan para petani yang terkagum-kagum akan penemuan yang luar biasa tersebut. Argumen Boeing 747 yang pada awalnya diyakini kaum kreasionis untuk membuktikan bahwa Intelligent Designer (Tuhan) itu ada, justru bagi Dawkins pada akhirnya malah membalikkan hipotesis Tuhan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Bagaimanapun, entitas yang dicari secara statistik dan mustahil untuk dijelaskan yang pada akhirnya mengambil hak dari adanya seorang desainer, maka membuat Dawkins yakin bahwa desainer itu sendiri paling tidak telah menjadi sesuatu yang mustahil!!! Tuhan adalah ultimate boeing 747.
b. Natural Selection as a Consciousness Raiser: Teori evolusi Darwin tidak hanya menjelaskan kompleksitas alam semesta secara bertahap, melainkan pula membangunkan kesadaran kita akan keharusan bersikap waspada terhadap gampangan berasumsi bahwa desain adalah satu-satunya alternatif untuk (argumen) segala sesuatu yang dianggap tercipta secara kebetulan. Setelah Darwin, kita semua seharusnya meresapi, secara mendalam hingga ke tulang kita, kecurigaan akan ide-ide desain. Karena ilusi desain adalah sebuah jebakan yang telah menangkap kita sebelumnya, dan Darwin seharusnya telah mengimunisasi kita dengan membangkitkan kesadaran kita.
c. Irreducible Complexity: kaum kreasionis meyakini bahwa fenomena-fenomena alam ini terlalu indah, terlalu teratur, dan terlalu luar biasa jika hanya terjadi secara kebetulan. Pasti seluruh fenomena alam yang indah ini sudah ada yang merancangnya, dan perancang itu pastilah Tuhan. Akan tetapi Dawkins, melalui teori seleksi alam, menolak ini. Berdasarkan pandangannya, desain bukanlah satu-satunya solusi yang bisa menyelesaikan, melainkan malah menambah problem menjadi semakin tak terselesaikan. Jika ada desainer, maka siapakah yang mendesain sang desainer? Dan hal ini akan berujung pada pencarian yang tak berujung.
d. The Worship of Gaps: apa yang menjadi kebiasaan kaum kreasionis menurut Dawkins adalah yang dengan mudahnya langsung mengasumsikan keberadaan Tuhan ketika tampak suatu gap (celah/jurang) yang tidak bisa terjelaskan secara ilmiah karena tak memiliki data saintifik yang cukup untuk menjelaskannya. Segala sesuatu yang jika kekurangan data-data untuk menjelaskannya, maka akan diasumsikan sebagai Tuhan yang mengisinya. Kebiasaan berspekulasi akan Tuhan tersebut Dawkins analogikan seperti orang-orang yang begitu saja percaya dan menganggap sulap yang dimainkan oleh pesulap profesional sebagai hal yang supranatural. Padahal pada kenyataannya, sulap itu adalah tipuan semata yang bisa dijelaskan dengan penjelasan ilmiah dan rasional. Bagi Dawkins, hanya orang-orang bodoh lah yang dengan mudahnya mau mempercayai sulap itu sebagai yang supranatural.
e. The Anthropic Principle: Cosmological Version: Berdasarkan argumen ini, Dawkins berpandangan bahwa keberadaan kita itu ditentukan oleh hukum-hukum fisika yang konstan (tetap) juga hukum kimia. Bintang-bintang misalnya, yang menurut Dawkins merupakan prasyarat bagi banyak elemen-elemen kimia yang jika tanpa ada kimia, maka kehidupan itu tidak akan ada.
Adapun mengenai akar-akar agama (the roots of religion) menurut Dawkins diawali dengan pembahasan bahwa banyak alasan dari kaum beragama yang mengatakan bahwa agama memberikan perasaan nyaman dan hiburan. Inilah yang menjadi alasan mayoritas bagi para penganut agama dalam menggambarkan apa itu agama. Namun bagi Dawkins, agama dari sudut pandangnya adalah pemborosan dan pengambur-hamburan. Dan aspek-aspek pemborosan ini hanya bisa dihapuskan oleh teori Darwin. Selain itu menurut Dawkins, agama itu tidak memberikan manfaat apapun bagi manusia. Sebagai buktinya, agama telah banyak mengorbankan dan menggugurkan nyawa-nyawa orang yang bertakwa atas nama Tuhan. Hal ini justru malah membahayakan. Akan tetapi, mengapa sampai sekarang masih saja ada orang yang beragama? Dawkins berpendapat bahwa agama ini berakar pada: pertama, seleksi kelompok (group selection) yang mana ada kelompok yang mempertahankan agamanya melalui perang antar kelompok. Kedua, extended phenotype seperti virus demam yang secara universal ada dan terjadi pada seluruh manusia, demikian pula yang terjadi pada agama. Dan ketiga adalah meme, yakni unit imitasi kultural (misal, adanya konsepsi Tuhan) pada manusia yang berperilaku sebagaimana replikator sesungguhnya seperti fungsi gen, akan tetapi ia bukan merupakan realitas yang bersifat mutlak, malah menyimpang. Salah satu contoh meme lainnya adalah, “Barangsiapa yang mati syahid, maka ia akan masuk surga”.
Analisis Kritis Terhadap Buku Dawkins, The God Delusion
Apa yang dibahas oleh Dawkins dalam bukunya The God Delusion itu ingin membuktikan bahwa sebenarnya eksistensi Tuhan itu tidak ada dan hipotesis akan keberadaan Tuhan itu adalah salah adanya, sebagaimana yang dijelaskan dalam salah satu bab dalam bukunya “Kenapa hampir pasti tidak adanya Tuhan” (why there almost certainly is no God). Hal ini terbukti bahwa dalam pandangannya, Dawkins hanya mendefinisikan agama sebagai keyakinan kepada Tuhan saja. Adapun penulis mengambil dua pembahasan yang dipertimbangkan sebagai pokok pemikiran yang paling inti dalam bukunya The God Delusion, di antaranya terletak pada bab mengenai The Roots of Religion dan why there almost certainly is no God. Dari dua poin inilah, penulis akan mencoba mengeksplorasi dan mengkritisi pandangan Richard Dawkins.
Jika kita coba analisa pandangan Dawkins dalam menjelaskan mengenai akar-akar agama, maka dapat kita lacak bahwa beberapa pandangannya itu mengambil argumentasi pembuktian non-eksistensi Tuhan yang dilontarkan oleh beberapa tokoh atheis sebelumnya seperti Ludwig Feurbach, Karl Marx, dan Sigmund Freud yang kemudian ia kembangkan dengan cara yang baru. Selain itu, Dawkins juga menawarkan penjelasan agama yang naturalis, yakni dia beranggapan bahwa keyakinan pada Tuhan itu adalah mungkin sebagai produk aksidental dari mekanisme evolusi. Disini dia masuk kedalam pembahasan yang telah dijelaskan oleh tokoh atheis lainnya, yaitu Daniel Dennett. Dia dan Dennett memiliki pemahaman yang serupa terhadap agama sebagaimana yang sudah dikatakan sebelumnya, yakni bahwa ia mendefinisikan agama terbatas pada kepercayaan atau keyakinan pada Tuhan saja. Tentu saja definisi agama semacam ini bukanlah definisi yang sempurna, karena jika kita hendak mendefinisikan agama, maka tentu saja kita harus memasukkan beberapa elemen lainya seperti pengalaman, praktik-praktik ritual, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, disini Dennett mengungkapkan sejumlah alasan kenapa dia memberikan definisi yang demikian. Salah satunya adalah karena di dalam otak manusia itu terdapat sesuatu yang disebut dengan pusat Tuhan (God Center) dan pusat tersebut didukung oleh seleksi alam melalui gen mistik (mystical gene) sehingga manusia denganya cenderung bertahan dengan lebih baik. Dalam hal ini Dawkins menambahkan spekulasi tersebut bahwasanya tendensi natural itu mungkin menjadi salah arah yang berujung pada sesuatu yang religius. Dengan demikian, Dawkins berpendapat bahwa agama itu adalah produk aksidental.
Mengingat Richard Dawkins sangat dipengaruhi oleh Darwin melalui teori evolusinya, sebetulnya pandanganya tersebut bertentangan dengan Darwinisme. Darwinisme menjelaskan bahwasanya alam semesta ini tidak mempunyai tujuan dan tidak ada desain sehingga segala sesuatu itu terjadi secara aksidental. Akan tetapi, disini Dawkins beranggapan bahwa seleksi dan kecenderungan alamiah itu beberapa hasilnya ada yang disenganja dan ada yang aksidental. Jadi bagaimana Dawkins beranggapan bahwa agama itu sebagai sesuatu produk yang aksidental sedangkan teori evolusi itu sendiri menentang bahwasanya hasil dari seleksi alam itu ada yang disengaja dan ada yang aksidental?
Selain hal tersebut ada lagi yang lebih fundamental yang mesti kita tanyakan kepadanya berkaitan dengan apakah pandanganya tersebut mempunyai bukti-bukti saintifik. Karena, berbagai pandangan-pandangannya malahan tidak menunjukkan adanya bukti-bukti saintifik. Seperti yang dilakukanya ketika ia mengkritisi pandangan religius, Dawkins selalu menanyakan apa buktinya (what is the evidence)? Dimana buktinya (where is the evidence)? Jelas yang dimaksud disini oleh Dawkins adalah bukti saintifik. Oleh karena itu, maka kita juga harus menuntut pembuktian saintifik atas pandangan yang ia tawarkan.
Selain itu, sisi yang lain yang paling fundamental dari Dawkins adalah ia beranggapan bahwa eksistensi Tuhan itu tidaklah mungkin. Seorang ahli astronomi Fred Hoyle mengatakan bahwa kemungkinan kehidupan muncul dibumi itu lebih kurang dari kemungkinan pesawat boeing 747 yang tercipta dan terjadi oleh angin topan yang mengumpulkan besi-besi sehingga hal tersebut bisa terjadi. Dalam hal ini, Dawkins menyamakan bahwa eksistensi Tuhan pun sama seperti itu. Mengapa Dawkins berfikir bahwa eksistensi Tuhan itu sangat mustahil? Dawkins berpandangan bahwa jika ada sesuatu yang seperti Tuhan, dia pasti akan sangat kompleks dan semakin kompleks sesuatu itu semakin kurang kemungkinanya untuk ada.
Sekarang kita akan melihat mengapa Dawkins beranggapan bahwa jika Tuhan itu ada maka dia akan sangat kompleks. Ide dasarnya adalah bahwa sesuatu yang mengetahui dan dapat melakukan apa yang Tuhan dapat ketahui dan lakukan pasti sangat kompleks. Dengan kata lain, sesuatu yang dapat menciptakan dan mendesain alam semesta yang mengah dan canggih ini pasti sangat kompleks. Pertama kita bisa menanyakan apakah Tuhan itu kompleks? Jika kita melihat filosof Kristen dan Islam seperti Thomas Aquinas, Ibn Sina ataupun Mulla Sadra maka kita akan melihat bahwa mereka berpandangan bahwa Tuhan itu simpel alias sederhana. Sesuatu yang kompleks itu jika ia mempunyai bagian-bagian sedangkan sesuatu yang simpel adalah yang tidak memiliki bagian-bagian. Kita mengetahui bahwa alam semesta itu sama sekali teratur dan bahkan menurut Stephen Hawking juga berdasarkan fine-tuning argument berpandangan bahwa kehidupan itu bisa mungkin terjadi karena alam semesta yang meluas (expanding) dan berbasis pada hukum-hukum fisika yang ada dan sangat ketat. Hal demikian dalam pengertian bahwa alam semesta ini diatur dengan hukum-hukum fisika dan perhitungan yang sangat tepat sehingga jika perhitungan itu meleset sedikit saja, maka alam semesta ini akan hancur. Contohnya seperti gaya gravitasi yang ada, jika sedikit saja lebih kuat atau lebih lemah, maka akan terjadi kekacauan di alam semesta ini. Oleh karena itu sesuatu yang seperti ini mesti tidak terjadi secara aksidental dan juga mesti ada sesuatu Yang Maha Sempurna dan sangat cerdas yang menciptakan dan mendesainnya.
Dengan demikian, tidaklah mungkin sesuatu yang menciptakan ini tidak bersifat Sempurna dan Maha Cerdas. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa sesuatu yang kompeks itu memiliki bagian-bagian yang membatasinya, sehingga jika ia mempunyai bagian dan juga terkombinasi, konsekuensinya adalah ia tidak sempurna. Selain itu, dengan beberapa hukum atau prinsip dalam kausalitas seperti “Yang satu tidak mungkin keluar dari yang banyak” (al-wahid la yasdur minhu illa wahid) dan hukum lainya seperti imkan al-asyraf bisa membuktikan bahwa Tuhan sebagai sebab pertama itu pasti sesuatu yang sangat simpel. Maka apakah Tuhan itu kompleks? Tentu saja tidak, Tuhan itu adalah sesuatu yang simpel.
Kritik Sejarah Agama Dawkins
Sudah sewajarnya jika agama dipandang sebagai basis kepercayaan orang banyak yang tidak memiliki evidensi. Bagi seorang scientist seperti Richard Dawkins, agama memang seperti demikian. Konflik yang berkelanjutan antara agama dan sains mengundang konsekuensi barunya; masing-masing dari kedua belah pihak berupaya untuk memperbarui argumen-argumennya dalam mempertahankan keyakinannya kelompok mereka. Artinya salah satu dari kedua belah pihak, yaitu sains, mengundang orang-orang baru untuk menjadi ateis dan, hal yang paling umum kita dapati, menolak adanya Intellegent Designer.
Namun, lagi-lagi, agamawan harus melirik ke arah dirinya sendiri dalam bagaimana memberikan evidensi yang kuat sebagaimana rumusan-rumusan yang diberikan oleh scientist, misalnya, tentang alam semesta. Meskipun demikian, konflik ini menggambarkan bahwa iman adalah oposisi dari ilmu pengetahuan dan vice versa. Akan tetapi, meskipun tengah berada di dalam konflik yang tak berujung dan berkepanjangan, keimanan dan sains sedang berada dalam posisi terbaiknya, yaitu keduanya sedang saling menjelaskan kisah-kisah mengenai asal usul kehidupan semua yang ada ini.
Menurut Dawkins, keimanan adalah wakil agama yang tidak memberikan evidensi sama sekali. Artinya tidak ada objek keimanan yang bisa dikaji secara saintifik. Secara singkat kita bisa katakan bahwa scientific evidence proves that God doesn’t exist!! Dan wajar saja kalau menurutnya, Tuhan bagi orang-orang beragama adalah merupakan “delusi”.
Dawkins, setelah menolak adanya eksistensi transenden yang diyakini oleh orang-orang beriman, kemudian melangkah lebih jauh dalam aktivitas intelektualnya, yaitu memberikan deskripsi tentang definisi agama dan akar kemunculan agama (roots of religion).
Bagi Dawkins salah satu sebab orang percaya pada agama adalah proses biologikal dari seleksi alam membangun pikiran anak-anak dengan sebuah kecenderungan agar percaya saja pada apa yang orang tuanya katakan (khususnya; Tuhan & Agama). Dawkins, mengikuti pandangan Freud, mempercayai bahwa agama adalah infantile. Salah satu analogi yang ia berikan mengenai kasus ini adalah betapa mudahnya anak-anak mempercayai Seorang Peri Gigi (tooth fairy) dan Santa Claus.
Tapi, sekali lagi, itulah anak-anak. Mereka ingin sesuatu yang sesuai porsinya; Bahwa Agama sangat menyenangkan bagi mereka. Akan tetapi, mari kita coba lihat kembali analogi yang diberikan oleh Dawkins, lalu bertanya, ‘mau sampai kapan orang mempercayai hal-hal semacam itu? Berkaitan dengan hal ini, kita bisa mengambil contoh Antony Flew, yang pada tahun 2004 ia memberikan wawancara yang dimuat dalam nomor musim dingin majalah philosophia Christie dan majalah Evangelical Philosophical Society, di mana ia menyatakan bahwa berbagai evidensi baru menyakinkan dia bahwa Tuhan itu ada, meskipun bukan Tuhan dalam pengertian agama-agama wahyu; dalam wawancara ini ia menamakan dirinya sebagai seorang deis. Disamping itu, dalam catatan Alister McGrath, Antony Flew baru percaya pada Tuhan dalam usianya yang kedelapanpuluh tahun. Bahkan penulis Dawkins Delusion pun, Alister McGrath, baru mengimani Tuhan saat ia memasuki pendidikan di universitas. Ternyata melalui perjalanan hidupnya yang panjang, tokoh ateisme kita, Antony Flew, pada akhirnya menyakini akan adanya Tuhan.
Salah satu masalah lagi yang dikemukakan oleh Ilmuwan kita, Dawkins, adalah agama sebagai kepercayaan pada Tuhan (belief in God). Ya, memang, percaya pada Tuhan adalah agama. Di sini, kita diperintah Dawkins untuk memasuki ranah religions wissenchaft dalam penyelidikan agama, seperti, definisi agama dan asal-usulnya.
Bagi para ahli religious studies maupun sejarahwan agama, ditemukan berbagai macam kesulitan dalam mendefinisikan agama. Dalam pendefinisian agama biasanya terdapat ungkapan definisi sempit ataupun definisi luas. Ini dalah masalah yang paling detil dan sering dipertentangkan. Dengan adanya masalah jangkauan (scope) definisi agama, maka dimanakah Richard Dawkins berdiri?
Cambridge International Dictionary of English mendefinisikan agama sebagai keyakinan dan penyembahan pada satu Tuhan atau banyak Tuhan, atau keyakinan berbagai sistem dan sistem peribadatan. Definisi tersebut bisa diterima bagi Ummah Muslim, Ummat Kristiani, dan Yahudi. Akan tetapi dalam belahan dunia lain, yaitu bagian Timur, jika kita menerima definisi tersebut berarti kita mau tidak mau harus mengeluarkan Buddhisme, Janinisme, Hinduisme, konfusianise, dan Tao dari komunitas keagamaan.
Di samping itu, apakah setiap orang yang mempercayai Tuhan sudah pasti beragama? Jawaban ini ada dalam kasus Antony Flew yang menyakini Tuhan yang bukan diyakini agama-agama (institutionalized). Jangkauan definisi agama sebagai kepercayaan pada Tuhan adalah definisi yang sempit karena tidak melingkupi agama-agama timur tersebut. Dari sini kita berupaya lagi apakah agama memang benar-benar kepercayaan pada Tuhan.
Sayangnya, kegagalan Dawkins melihat masalah definisi agama belum lengkap dan menyeluruh. Ia hanya melihat kasus di Barat dan agama-agama yang concern pada Tuhan. Barangkali ada suatu pendapat yang dapat kita lihat mengenai kepercayaan pada Tuhan. Di Barat biasanya berpandangan bahwa agama mencakup kepercayaan pada Tuhan dan penyembahan pada-Nya. Sedangkan Buddhisme lebih dipandang sebagai sistem etika daripada sebuah komunitas keagamaan.
Terdapat beberapa pendapat mengenai buddhisme, misalnya, apakah ia agama atau hanya sistem filsafat dan etika. Tapi pendapat yang dapat dikemukakann di sini dan agak lebih jelas adalah masalah The Divine. Dalam agama-agama Barat, misalnya, Islam, Kristen, dan Yahudi, mereka memiliki karakteristik confrontation with the divine, sedangkan bagi agama Timur adalah living in the Divine. Artinya, masing-masing agama memiliki tipe tersendiri dalam membentuk pengalaman beragamanya. Walhasil, Dawkins belum sempurna memberikan pemahaman sempurna pada kita. Andai saja agama yang ia maksud adalah agama-agama Barat, berarti ia masih mengakui agama-agama Timur. Begitupun juga sebaliknya.
Belief in God is like Virus. Begitu kerasnya Dawkins menyerang orang-orang yang bertuhan. Kali ini pertanyaan yang harus diajukan adalah sejak kapan virus itu muncul? Virus yang dikatakannya itu memang memancing pertanyaan tentang bukti substansi ontologis. Apakah ia memiliki struktur-struktur fisikalis dan dapat dilihat dengan alat-alat laboratorium ataukah tidak. Terlebih lagi, ia mengatakan virus tersebut menjalar (contagius) pada seluruh populasi.
Sepertinya Dawkins harus mulai melihat buku-buku tentang sejarah agama yang berbicara mengenai asal-usulnya, dan sosiologi agama yang melihat fenomena-fenomenanya. Begitupula ia seharusnya melihat bagaimana para teoritikus saling bertentangan maupun saling mendukung dalam mendefinisikan agama.
Penutup
Problem mendasar yang semestinya diperhatikan pertama kali oleh Dawkins adalah bagaimana ia mendefinisikan agama itu sendiri yang semestinya bersifat komprehensif dan universal. Adapun dalam pemikirannya yang menjunjung tinggi teori Darwinian malah sebaliknya menampakkan inkonsistensi dengan teori Darwin itu sendiri yang mana seleksi alam semestinya terjadi secara aksidental, menurut Dawkins ada yang disengaja dan ada juga yang aksidental. Dan tuntutannya yang selalu menuntut bukti saintifik nyatanya berlawanan dengan sebagian pandangannya yang justru bersifat tidak saintifik.
Daftar Pustaka
Barbour. Ian G. Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama. 2002. Bandung: Mizan.
Connolly, Peter. Approaches to the Study of Religion. 2002. London: Continum.
Coppleston, Friedrich. Philosophy and Religion. 1974. London: Gill and Macmillan Ltd.
Dawkins, Richard. The Blind Watchmaker. 1996. New York & London: Norton.
Dawkins, Richard. The God Delusion. 2006. London: Bantam Press, a division of transworld publishers.
McGRath, Alister E. et al, The Dawkins Delusion? Atheist Fundamentalism and The Denial of The Divine. 2007. United States of America: InterVarsity.
Platinga, Alvin. The Dawkins Confusion Naturalism ad absurdum. (www.Christianity .com)
Pojman, Louis. P. Philosophy of Religion, an Anthology. 2008. USA: Thomson.
Suseno, Franz Magnis. Menalar Tuhan. 2006. Yogyakarta: Kanisius.
Time Magazine, God vs Science. January 15, 2007.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s