Natsir dan Akal Merdeka

Dzakiyyah Spathodea

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Muhammad Natsir adalah salah satu tokoh pemikir di Indonesia yang luar biasa. Ia dikenal sebagai ulama, birokrat, dan tokoh politik yang memiliki gagasan dan ide-ide cemerlang dalam kontribusinya untuk memajukan Islam dan Negara. Prestasinya yang dipandang sangat luar biasa ini semakin gemerlap ketika ia berhasil menjadi perintis NKRI pada tanggal 17 Agustus 1950. Banyak sekali desertasi-desertasi maupun buku-buku yang membahas mengenai perjuangan Natsir, serta sumbangan-sumbangan pemikirannya. Natsir yang selama hidupnya berkecimpung dalam dunia politik dan dakwah membuat banyak peneliti tertarik untuk menuliskan dan menggali lebih jauh mengenai beragam gagasannya. Hal demikian dikarenakan sosok Natsir dikenal sebagai seorang Dai yang sekaligus menjadi Negarawan dan Negarawan yang sekaligus juga menjadi Dai. Akan tetapi di dalam kebanyakan buku atau desertasi yang membahas mengenai Natsir, penulis jarang sekali menemukan judul buku atau isi buku yang secara khusus membahas mengenai pemikiran Natsir mengenai Islam yang esensial itu sendiri. Padahal dalam beberapa referensi dikatakan bahwa Natsir memiliki pemahaman mengenai Islam dengan sangat mendalam karena ia telah menghabiskan semasa hidupnya untuk mempelajari tentang Islam dan kemudian mendakwahkannya. Bahkan dikatakan pula bahwa kontribusi aktifnya dalam urusan kenegaraan serta menjadi bagian dari badan pemerintahan pun adalah merupakan salah satu mediumnya demi melancarkan dakwah Islamnya. Hanya saja, dalam banyak buku mayoritas para penulis membahas mengenai perjalanan dan perjuangannya di pemerintahan dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia dan menentang Pemimpin (Presiden) yang menyeleweng dari UUD 1945 dan Pancasila. Barangkali baru sedikit orang yang membahas mengenai bagaimana Natsir mengeksplorasi pemikiran keislamannya dari berbagai aspek, dimana pemahamannya mengenai Islam dari berbagai aspek ini amat sangat kaya. Hal itu dapat tercermin dalam beberapa karyanya, De Capita Selecta misalnya, dimana ia mampu menjelaskan secara lugas mengenai pemikiran para filosof Islam seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Miskawaih, Ibn Thufail, Ikhwanus Shafa, al-Ghazali dsb. Ia pun tak lepas menjelaskan para pemikir kalam seperti dalam kelompok Mu’tazilah dan Asy’ariah. Atau bahkan dari filosof Barat seperti Immanuel Kant dan Leibniz. Caranya membandingkan dan mensintesiskan pemikiran-pemikiran tersebut sehingga memberikan rumusan pemikirannya tentang Islam justru, menurut penulis, merupakan hal yang esensial dan mendasar yang mesti diketahui alih-alih langsung menerima pemikirannya begitu saja tanpa tahu bagaimana asal mulanya. Bermula dari persoalan ini lah maka penulis tertarik untuk mengungkap lebih jauh mengenai pemikiran Natsir yang cenderung bergerak ke arah filsafat, di antaranya adalah mengenai seberapa jauh peranan akal, dalam kaitannya dengan pandangan dasarnya tentang Islam yang diulas secara detail dalam salah satu karyanya yang berjudul “Islam dan Akal Merdeka”.
2. Metodologi Penelitian
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hitoriografi dan Hermeneutika. Historiografi digunakan karena sosok Natsir tercatat jelas di berbagai karya-karya klasik dalam sejarah Indonesia hingga saat ini. Oleh karena itu, dalam meneliti mengenai figurnya, maka penulis akan menelusuri sosoknya melalui sejarah dan autobiografinya sejak ia lahir serta karirnya hingga akhirnya ia tutup usia. Kemudian dalam menganalisis pemikirannya, penulis mengambil metode Hermeneutika untuk memahami jalan pemikiran dan makna yang ia maksud, serta analisis kritis atas pemikiran Muhammad Natsir, khususnya mengenai akal dalam Islam. Hermeneutika adalah studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi. Hermeneutika yang dimaksud penulis di sini adalah understanding process of understanding (Proses pemahaman terhadap sebuah pemahaman). Dalam kaitan ini penulis mencoba menginterpretasikan teks yang terdapat di dalam sumber data utama (buku tulis dan catatan) yang ditulis secara langsung oleh Muhammad Natsir dan juga sumber data sekunder berupa catatan orang lain mengenai pemikiran Muhammad Natsir. Melalui metode ini penulis berupaya menjelaskan apa makna dari tafsir teks-teks dalam sumber data utama maupun sumber data sekunder tersebut, sehingga penulis dapat mengungkapkan makna yang tersembunyi dalam teks..
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Bagaimanakah kedudukan akal dan agama dalam pandangan Natsir?
2) Corak pemikiran apakah yang mempengaruhi mayoritas pemikirannya mengenai rumusan akal?
3) Sejauh mana hasil konsep pemikiran Natsir mengenai akal berpengaruh pada kehidupan mayarakat di Nusantara?
4. Tujuan Penelitian
Dengan melihat rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Mengetahui kedudukan akal dan agama dalam pandangan Natsir.
2) Mengetahui corak pemikiran yang mempengaruhi mayoritas pemikirannya mengenai rumusan akal.
3) Mengetahui sejauh mana hasil konsep pemikiran Natsir mengenai akal berpengaruh pada kehidupan masyarakat di Nusantara.

5. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan dan memperkaya khazanah intelektual mengenai hakikat Islam baik dalam aspek teoritis maupun praktis serta memperluas wawasan sejarah Nusantara berkaitan dengan ulama-ulama besar asal Indonesia yang amat berpengaruh dalam Negara.
Adapun dari segi praktis dan akademis, hasil dari penelitian yang dilakukan melalui metode historiografi dan hermeneutika ini diharapkan pula mampu untuk membantu dalam aplikasi penggunaan metode yang sama untuk penelitian-penelitian kualitatif lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Biografi Singkat Muhammad Natsir
Muhammad Natsir lahir di sebuah daerah yang banyak melahirkan ulama intelektual kaliber dunia. pada tanggal 17 Juli 1908 di Jembatan Berukir Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Ia dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Khadijah dan ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, seorang juru tulis kontrolir di Maninjau yang kemudian, pada tahun 1918, ia dipindahkan dari Alahan Panjang ke Ujung Pandang (Sulawesi Selatan) sebagai sipir (penjaga tahanan). M. Natsir mempunyai tiga orang saudara kandung yaitu Yukian, Rubiah, dan Yohanusun. Di tempat kelahirannya itulah, Natsir melewati masa-masa sosialisasi keagamaan dan intelektualnya yang pertama.
Natsir, di semasa mudanya, dipenuhi oleh kegiatan belajar dan pendidikan, khususnya agama. Gunawan (2000) mengatakan bahwa waktu belajar Natsir cukup padat. Sehabis maghrib ia mengaji al-Qur’an, pada pagi hari ia belajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS), dan pada siang hingga sore hari ia belajar di Madrasah Diniyah. Akan tetapi HIS yang dimaksud adalah (pertama-tama) sekolah partikelir HIS Adabiah di Padang, Karena di usianya yang kedelapan belas, keinginannya memasuki sekolah rendah Belanda (HIS) tidak terwujudkan gara-gara ia merupakan anak dari pegawai rendahan.
Natsir, ketika menempuh pendidikannya di Padang, ia pun sempat menjalani perjuangan kehidupan yang berat. Namun dalam menghadapi ini, Natsir melalui perjalanan kehidupannya dengan lapang dada. Dengan ringannya ia mengatakan bahwa kehidupan yang berat justru menimbulkan kesadaran akan dirinya, kesadaran bahwa rasa bahagia tidaklah terletak pada kemewahan dan keadaan serba cukup. Rasa bahagia lebih banyak timbul dari kepuasan hati yang tidak tertekan dan bebas, berani mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, tidak mengalah terhadap keadaan, tidak berputus asa, dan percaya kepada kekuatan yang ada pada diri sendiri.
Setelah beberapa bulan mengenyam pendidikannya di Padang, Natsir kemudian dipindahkan ke HIS Pemerintah di Solok oleh ayahnya. Hebatnya, di sana ia bisa langsung duduk di OI atas pertimbangan kepintarannya. Di Solok inilah ia pertama kali belajar bahasa Arab dan mempelajari hukum fikih kepada Tuanku Mudo Amin yang dipelajarinya pada sore hari di Madrasah Diniyah dan kemudian ia pun mengaji al-Qur’an pada malam harinya. Berkat kecemerlangannya yang semakin menonjol ketika ia belajar di sana, maka ia pun diberi kesempatan untuk mengajar dan menjadi guru bantu kelas 1 pada sekolah yang sama.
Thohir (1999) menjelaskan bahwa antara tahun 1916 hingga tahun 1923, Natsir belajar di HIS dan Madrasah Diniyah di Solok dan di Padang. Kemudian Natsir menyelesaikan pendidikan HIS nya pada tahun 1923. Setelah lulus, ia kemudian masuk ke Meer Uitgebreid Lager Orderwijs (MULO) di Padang dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakulikuler, akan tetapi kegiatan kurikuler MULO tetap menjadi perhatian utamanya. Selain itu ia pun masuk menjadi anggota Pandu Nationale Islamietische Pavinderij, sejenis pramuka sekarang, dari perkumpulan Jong Islamieten Bond (JIB) Padang yang diketuai oleh Sanusi Pane. Menurut M. Natsir, perkumpulan merupakan pendidikan pelengkap selain yang didapatkan di sekolah. Dan setelah menyelesaikan belajarnya di MULO, Natsir kemudian melanjutkan sekolahnya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Afdelling A di Bandung. Di kota Bandung inilah bermula sejarah panjang perjuangannya. Natsir belajar Islam secara mendalam dan berkecimpung dalam gerakan politik, dakwah, serta pendidikan.
Pada tahun 1926 Natsir masuk ka dalam Persatuan Islam (PERSIS). Ahmad Hassan, adalah guru Natsir di PERSIS, yang mengajarkan kepada Natsir agar selalu memajukan pendidikan umat Islam, misalnya dengan menggunakan ijtihad. Dan tokoh radikal ini diakuinya telah sangat mempengaruhi alam pemikirannya. Karena itulah Natsir, kemudian, menerapkan metode pendidikan Barat pada sekolah-sekolah Islam yang nanti didirikannya dengan misi supaya umat Islam dapat berhasil dunia akhirat.
Di usianya yang keduapuluh, M. Natsir mulai tertarik pada pergerakan Islam dan belajar politik di perkumpulan JIB, Bandung, yakni sebuah organisasi pemuda Islam yang anggotanya adalah pelajar-pelajar bumi putera yang bersekolah di sekolah Belanda. Organisasi ini mendapat pengaruh intelektual dari H. Agus Salim. Di usianya inilah, Natsir sempat berkenalan dengan tokoh-tokoh nasional seperti Hatta, Prawoto Mangunsasmito, Yusuf Wibisono, Tjokroaminoto, dan Moh. Roem. Oleh karena kemampuannya yang menonjol, Natsir kemudian mampu menduduki kursi ketua JIB Bandung pada tahun 1928 hingga tahun 1932, dan kemampuan politiknya pun makin terasah.
Karir Muhammad Natsir
Setelah lulus dari MULO, Natsir tidak melanjutkan kuliahnya. Ia justru mengajar di salah satu MULO Bandung atas panggilan jiwanya. Natsir kemudian mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (Pendis), yaknis suatu bentuk pendidikan modern yang mengombinasikan kurikulum pendidikan umum dengan pendidikan pesantren. Pada tahun 1932, ia menjabat sebagai direktur pendis hingga sepuluh tahun kemudian. Lembaga-lembaga tersebut kemudian berkembang di berbagai daerah Jawa Barat dan Jakarta.
Tahun 1938, Natsir mulai aktif di bidang politik dengan mendaftarkan dirinya menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung. Dan menjabat menjadi ketua PII Bandung pada tahun 1940-1942. Pada tahun tersebut hingga tahun 1945, ia bekerja di pemerintahan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kodya Bandung dan merangkap Sekertaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta.
Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada pendudukan Jepang yang kemudian berubah menjadi Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) pada tanggal 7 November 1945 selanjutnya mengantarkan M. Natsir sebagai salah satu ketuanya hingga akhirnya partai tersebut dibubarkan.
Pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, M. Natsir menjadi salah seorang politisi dan pemimpin Negara. Dan setelah Indonesia merdeka, ia pun dipercaya menjadi anggota komite Nasional Pusat (KNIP). Ketika Perdana Menteri Sutan Sjahrir memerlukan dukungan Islam untuk kabinetnya, dia memintanya menjadi kabinet penerangan.
Tampilnya M. Natsir ke puncak pemerintahan tidak terlepas dari langkah strategisnya dalam mengemukakan mosi pada sidang parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 3 April 1950, yang lebih dikenal dengan sebutan “Mosi Integral M. Natsir”. Mosi itulah yang memungkinkan Republik Indonesia yang telah berpecah belah sebagai KonferensI Meja Bundar (KMB) menjadi tujuh belas negara bagian, kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Natsir sempat mengalami masa-masa pengembanan tugas yang berat ketika ia masih menjadi seorang perdana menteri dalam memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI yang dibentuk pada 17 Agustus 1950, Kamis Pahing, 2 Dzulhijjah 1369, merupakan masa peralihan berakhirnya Negara-negara boneka buatan Van Mook, menjadi satu Negara yang terdiri dari sejumlah provinsi, di bawah pemerintahan pusat di Jakarta. Namun bagaimanapun, betapapun beratnya pekerjaan sebagai perintis pertama pembangun NKRI, semua problem Negara tetap dihadapi dengan bijaksana oleh Mohammad Natsir. Ia berjuang dengan tabah dan dengan setia membangun kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara agar mampu memahami realitas kebhinekaan yang bukan untuk dipertengkarkan, melainkan agar disadari bahwa keragaman hakikatnya adalah satu kesatuan.
Pada masa Demokrasi Terpimpin Soekarno pada tahun 1958, ia mengambil sikap menentang politik pemerintah. Keadaan ini mendorongnya untuk bergabung dengan para penentang lainnya dan membentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), suatu pemerintahan tandingan di pedalaman Sumatera. Tokoh PRRI menyatakan bahwa pemerintah di bawah presiden Soekarno saat itu secara garis besar telah menyeleweng dari Undang-undang Dasar (UUD 1945). Akibatnya, tindakan M. Natsir dan tokoh PRRI lainnya yang didominasi anggota Masyumi, ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Partai Masyumi pun kemudian dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960. 6 tahun kemudian, M. Natsir lalu dibebaskan pada bulan Juli 1966 setelah Pemerintahan Orde Lama digantikan oleh Pemerintahan Orde Baru. akan tetapi ketika pemerintahan Orde Baru muncul, Natsir tidak mendapat tempat dan kedudukan dalam pemerintahan untuk bersama-bersama memimpin Negara yang baru saja muncul.
Bagaimanapun, perjalanan panjang M. Natsir meniti karir perjuangannya yang penuh resiko tidak pernah melunturkan semangatnya terhadap perjuangan Islam melalui dakwahnya. Beliau wafat pada tanggal 6 Februari 1993, bertepatan dengan tanggal 14 Sya’ban 1413 H, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 85 tahun.
Karya-karya Natsir
Dalam Wikipedia English dikatakan bahwa Natsir menerbitkan 45 buku atau monografi dan ratusan artikel yang berhubungan dengan pandangannya tentang Islam. Karya pertamanya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia yang berhubungan dengan doktrin-doktrin Islam, budaya, hubungan Islam dan politik, dan peran wanita dalam Islam. Beberapa karya berikutnya tertulis dalam bahasa Inggris dan lebih terfokuskan pada politik, juga berdakwah dalam Islam (The Preaching of Islam).
Akan tetapi Thohir (1999) mengatakan bahwa Deliar Noer menyebut M. Natsir melahirkan karya-karya ilmiah menyangkut berbagai masalah sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dakwah, dll. Dan Yusuf Abdullah Puar (1978) menyebutkan bahwa karya Natsir ada 52 judul yang ditulis sejak tahun 1930. Akan tetapi tidak jelas apa yang dimaksud dengan 52 judul tulisan M. Natsir itu, apakah itu judul yang telah dihimpun menjadi buku atau judul artikel lepas yang ada di berbagai media massa. Adapun tulisan dalam bahasa Indonesia yang pertama kali dibukukan adalah Cultur Islam, yang ditulisnya berdua dengan almarhum C. P. Wolf Kemal Schoemaker (1936). Sementara itu karya-karya lain yang masih bertahan, menurut Thohir (1999) adalah Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam yang berisi tentang hubungan agama dan Negara serta upaya umat Islam dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara dan Dari Masa ke Masa yang memuat soal pribadi, batu pertama, pembinaan keluarga, penjajah membawa kesuraman, dan menumpuk kemerdekaan.
Adapun salah satu karya Natsir yang akan diteliti oleh penulis adalah “Islam dan Akal Merdeka”, (Penerbit Hudaya Djakarta, 1970). Karya tersebut berisikan tentang pandangan Natsir mengenai akal merdeka dalam perspektif Islam, dimana dari karya itu pun kita akan menemukan bahwa Natsir juga telah mengkaji para pemikir, teolog dan filosof Islam yang akan dianalisis oleh penulis lebih mendalam pada pembahasan berikutnya.
2. Hakikat Islam dalam Pandangan Natsir
“Batjalah, dengan nama Tuhanmu, Jang menjadikan! Jang telah mendjadikan manusia dari segumpal darah; batjalah dan Tuhan engkau itu MahaMulia, Jang telah mengadjar (manusia) mempergunakan “kalam”. Jang telah mengajarkan manusia akan apa jang tidak mereka ketahui”. (Q.S. Al-‘Alaq:1-5).
Sebelum membahas mengenai karya Natsir mengenai akal merdeka lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu akan pandangan Natsir mengenai hakikat agama Islam. Berkaitan dengan pembahasan akal yang akan dibahas kemudian, menurut Natsir, hakikat Islam adalah terletak pada titik fokus pengajarannya yang menekankan pada ‘ilmu’ dan ‘pendidikan’. Sebagaimana yang tersurat dalam ayat di atas, apa yang diajarkan oleh agama Islam, dalam pandangan Natsir, pertama kali adalah mengenai pokok dari kecerdasan dan kemuliaan yang sejati yang hanya akan didapatkan melalui “ilmu”. Dalam karyanya, Islam dan Kristen di Indonesia, Natsir mengatakan:
“Di tengah-tengah satu bangsa jang umumnja bersifat , tak tahu tulis-batja, di tengah-tengah satu kaum, di mana hak kekuasaan semata-mata berdiri diudjung padang terhunus, kemuliaan dan kehinaan bergantung pada keberanian menjabung njawa dan kemahiran mempermainkan sendjata; di tengah-tengah ummat jang demikianlah Agama Islam mengadjarkan pertama kali bahwa pokok ketjerdasan dan kemuliaan jang sedjati itu diperdapat dari ilmu. Ilmu yang dapat diperoleh dengan kepandaian tulis batja. Tulis-batja, perkakas penjiaran ilmu antara golongan manusia jang satu masa, dan perbendaharaan penjimpan ilmu untuk turunan jang akan datang.”
Sudah tak asing lagi di telinga kita bahwa agama Islam pertama kali turun di tanah Jazirah Arab yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Situasi dan kondisi masyarakat Arab pada saat itu masih amat jauh dari peradaban dan penuh dengan budaya jahiliyyah. Menurut Natsir, Islam lah satu-satunya agama yang telah pertama kali memberikan pencerahan di tanah tersebut. Dan pencerahan itu, sebagaimana wahyu yang pertama diturunkan, adalah melalui ilmu. Selama dua puluh tiga tahun lamanya Nabi Muhammad menyusun ajaran-ajaran Islam menjadi hakikatnya Agama Islam melalui proses yang bertahap dan berangsur-angsur. Dan hal yang pertama kali diajarkan oleh beliau adalah “Ilmu.”
Adapun pengajaran yang dilakukan ini kemudian bertahan menjadi tradisi-tradisi yang menjadi warisan intelektual umat Islam. Dan pada akhirnya pendidikan dan ilmu pengetahuan menjadi kebudayaan yang merupakan sumber kekuatan yang berasal dari agama Islam. Hal ini jelas sebagaimana yang nampak dalam sejarah kemunculan Islam di Arab yang sebelumnya merupakan suatu bangsa yang jahil, namun di kemudian hari, setelah datangnya Islam, bangsa tersebut mampu menggerak menggemparkan dunia, dan membina satu kebudayaan yang sangat penting sejak dulu hingga masa kini.
Prof. H.A.R. Gibb dalam kitabnya Whither Islam menyatakan bahwa, “ Islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization.” Menurut prof. Gibb, Islam itu bukan hanya sekedar sistem teologi agama saja, melainkan juga sebagai suatu kebudayaan yang lengkap. Namun perkataan beliau ini menurut Natsir amat benar adanya. Hal ini terbukti jika kita coba kaji kembali sejarah peradaban Islam. Tak syak lagi bahwa pada zaman pencerahan dulu, ketika kekuasaan dinasti Abbasyiah berpusat di Baghdad, banyak ulama Islam yang membaca dan menelaah kitab-kitab Plato, Socrates, Aristoteles, Ptolemeus dan masih banyak lagi yang kemudian setelah itu mereka buat berbagai syarh dan mukhtasarnya. Dan setelah itu mereka mendiskusikan berbagai pemikiran yang telah mereka lahap tersebut dengan gagasan dan pola pemikiran mereka sendiri. Pada masa ini lah ulama Islam berusaha keras memutar otak untuk membangun gedung kebudayaan yang kokoh yang kemudian akan diwariskan ke seluruh dunia.
Zaman inilah yang disebut dengan zamannya filosof Islam yang ternama, diantaranya seperti Ja’cub bin Ishaq bin Sabrah al-Kindi, yang terkenal denga nama al-Kindi saja. Beliau ahli dalam ilmu tabib, falsafah, astronomi, matematika dan musik. Filosof lainnya adalah Abu Nasr al-Farabi yang merupakan seorang ahli mantiq, ahli musik, dan fasafah juga merupakan orang yang pertama kali membahas mengenai masalah politik dan ekonomi. Dan salah satu filosof Islam yang paling populer hingga ke Eropa adalah Abu ‘Ali Husein bin ‘Abdullah bin Sina yang dikenal juga dengan panggilan Avicenna di dunia Barat. Buah tangan luar biasanya adalah suatu buku standard yang bernama as-Syifa, yakni suatu ensiklopedi dalam 19 jilid besar yang sampai sekarang disimpan dalam bibliotek Oxford University. Kemudian filosof Islam yang dikenal di Eropa adalah Ibn Rusjd, seorang pujangga Islam dari Andalus, dan Ibn Badjah yang masyhur dengan nama Avenpace, zaman Ibn Miskawaih yang merupakan seorag pedagog yang luar biasa, al-Fachari yang merupakan ahli astronomi yang diakui oleh dunia astronomi sampai sekarang. Dan Abu Nafz dan Ibn Chajam yang dikenal sebagai ahli matematika ternama dalam al-Jabar dan Trigonometri.
Bercermin dari sejarah ini, maka jelaslah bahwa Islam mengajarkan pada seseorang agar menjadi seorang Muslim adalah “bil-kalam” bukan “bil-suyuf” (dengan pedang). Adapun ajaran-ajaran yang menjadi hakikatnya agama Islam serta mendorong terbitnya kebudayaan intelektual adalah :
1) Agama Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia mempergunakan akal itu untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam. Al-Hadits mengatakan, “Agama itu ialah akal, tidak ada gunanya bagi seorang yang tidak mempunyai akal.” Allah berfirman, “ Mereka yang ingat akan Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi, (berkata): “ Ya Tuhan Kami, tidaklah engkau jadikan (semua) ini degan sia-sia. Mahatinggi Engkau, maka lindungilah kami dari adzab neraka”. (QS. Ali-Imran:191)
2) Agama Islam mewajibkan tiap-tiap pemeluknya, baik lelaki maupun perempuan untuk menuntut ilmu dan menghormati mereka yang mempunyai ilmu.
3) Agama Islam melarang Islam bertaklid buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, ataupun dari ibu-bapak dan nenek-moyang sekalipun. Allah berfirman, “ Dan janganlah engkau turut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semua akan ditanya tentang itu.” (QS. Bani Israil: 36)
4) Agama Islam menggembirakan pemeluknya supaya selalu berusaha mengadakan barang yang belum ada, merintis jalan yang belum ditempuh, membuat inisiatif dalam hal keduniaan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, “Barang siapa yang memulai satu cara (keduniaan) yang baik, dia akan dapat ganjarannya, ditambah sebanyak ganjaran orang-orang yang menjalankan cara yang baik itu sampai hari kiamat.”
5) Agama Islam menggemarkan pemeluknya, untuk pergi meninggalkan kampong halaman, lalu belajar ke negeri lain, memperhubungkan silaturrahim dengan golongan dan bangsa yang lain, saling bertukar pengetahuan, pandangan-pandangan dan perasaan. “Tidakkah mereka berjalan di atas bumi, supaya mendapat akal untuk berpikir (lebih jauh) atau telinga untuk mendengar (lebih lanjut), sesungguhnya bukan mata mereka yang buta, melainkan hati, yang ada di dalam dada itu yang buta”. (QS. Al-Hajj:46)
Natsir berpandangan bahwa andaikata satu agama yang begini hakikatnya masih belum bisa dinamakan agama pendidikan atau mencerdaskan umat, maka agama mana lagi pula yang sebenarnya berhak dinamakan sebagai agama pendidik bangsa-bangsa?”
Rasulullah saw telah mengirimkan utusan-utusannya kurang lebih sebanyak 40 kali ke negeri lain baik di dalam maupun di luar Jazirah Arab untuk mengajak kaum yang belum sampai seruan Islamnya kepada mereka, supaya menerima akan agama Allah yang ia berkewajiban untuk menyampaikan itu. Adapun 5 dari surat-surat Nabi saw itu dihadapkan kepada raja-raja yang berkuasa di zaman itu: yakni Heraclius di kerajaan Roma, al-Harits bin Abi Syamr al-Ghassani di Damaskus, Chosrus Eparwiz di tanah Persia, Pkauchios di negeri Kibthi dan Nadjasi di Habsyah.
Adapun Natsir menjabarkan beberapa bait surat-surat itu dalam bahasa Indonesia.
Kepada Chosrus Eparwiz, Rasulullah SAW berpesan:
“……. Mudah-mudahan selamatlah orang-orang yang menurut akan petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasulullah, dan mengaku bahwa tidak ada Tuhanm melainkan Allah. dan sesungguhnya Aku utusan Allah kepada segenap manusia, untuk memberi ingat kepada orang yang hidup (akalnya)”.
Kepada Pkaushios a.l.:
“……. Hai Ahli Kitab! Marilah berpaling kepada kepercayaan yang sama antara kami dan kamu, yakni janganlah kita beribadah selain dari pada kepada Allah dan janganlah kita menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun juga………..”
Kepada Nadjasi, a. l.:
“……… Sesungguhnya aku mengajak kamu dan balatentaramu kepada Allah, maka sekarang aku sampaikan (Agama Allah) dan aku menyampaikan nasihat, maka terimalah nasihatku, dan mudah-mudahan keselamatan turun atas orang yang mengikut petunjuk……..”
Dari semua penjelasan mengenai hakikat Islam ini, maka kita dapat mengetahui bahwa kedudukan akal dalam Islam amat sangat utama. Baik dalam al-Qur’an maupun hadits keduanya sama-sama menyeru manusia untuk menggunakan akalnya, untuk berpikir, untuk berkarya, dan untuk bergerak. Namun seberapa jauhkah peranan akal dalam menentukan kehidupan manusia?
Tidak hanya berhenti sampai penjelasan mengenai hakikat Islam, Natsir kemudian mengeksplorasi lebih jauh mengenai peranan akal seiring fenomena-fenomena golongan-golongan yang secara radikal atau pun tradisional menggunakan akal pada zamannya yang juga masih menjadi kontroversi hingga masa kini. Dengan demikian, setelah kita mengetahui apa itu hakikat Islam, maka kita pun beranjak pada pemikiran Natsir mengenai pengertian akal itu sendiri.
3. Mengapa Harus Membahas Akal?
Karya Natsir yang berjudul “Islam dan Akal Merdeka” pada awalnya adalah berupa seri-seri artikel dalam majalah “PANDJI ISLAM” Medan. Namun kemudian dikumpulkan menjadi satu buku dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1947. Adapun karangan yang ditulis Muhammad Natsir ini pada permulaan tahun empat puluhan berangkat dari dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits, serta sumber-sumber kecerdasan ilmiah. Karya ini ditujukan untuk golongan awam maupun intelektual untuk memperdalam semangat keagamaan dan pendidikan.
Karya yang memfokuskan pembahasannya mengenai akal merdeka ini adalah kurang lebih ingin memberikan pembagian dan bagaimana cara memfungsikan secara terang akan wilayah agama dan wilayah akal dalam fungsinya serta batasannya masing-masing. Barangkali ide-ide pemahaman seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Yakni berkaitan dengan problema mengenai kontroversi antara akal dan agama yang terbagi ke dalam dua aliran pemikiran. Aliran pertama adalah paham yang menggunakan akal secara dinamis, yang mana peran agama kemudian harus menyesuaikan diri dengan peran akal. Pada zaman sekarang ini, barangkali kita bisa menyebut paham ini sebagai paham kaum liberalis. Sementara di pihak lain ada juga paham yang meyakini bahwa akal itu tidak boleh dihubungkan dalam urusan agama dan keagamaan. Secerdas apapun akal, jika bertentangan dengan tradisi keagamaan, maka ia harus disingkirkan. Barangkali pada saat ini, golongan ini kita kenal dengan sebutan kelompok fundamentalis atau konservatif. Maka, dengan adanya eksistensi kedua kelompok ini, yang mana yang pertama mengagungkan akal sementara yang kedua mengagungkan agama bahkan hampir menyingkirkan peranan akal sama sekali, dengan demikian, posisi manakah yang semestinya kita pilih? Jika tidak salah satu dari keduanya, dapatkah kita mencari alternatif lainnya? Dalam pengertian lebih khusus bahwa dapatkah akal dan agama saling berkesesuaian (harmonis)? Persoalan inilah yang kemudian Natsir coba selesaikan dalam bukunya “Islam dan Akal Merdeka”.
Natsir meyakini bahwa agama Islam adalah solusi cerdas akan persoalan mengenai peran akal bagi manusia. Karena agama Islam datang bukan untuk menindas akal. Sebaliknya, Islam justru menyeru manusia untuk memfungsikannya sebaik mungkin, sebagaimana dalam beberapa potongan ayat al-Qur’an dikatakan “Afala Ta’qilun” (Kenapa kamu tidak berpikir?). akan tetapi, bagaimanakah seharusnya kita menggunakan akal di hadapan agama? Inilah yang kemudian Natsir coba eksplorasi lebih jauh. Ia mencoba memberikan penjelasan mengenai manakah ranah yang boleh dimasuki oleh akal, dan mana yang tidak. Kurang lebih, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hal-hal demikian lah yang akan di jelaskan kemudian.

4. Mengupas Isi Buku Islam dan Akal Merdeka
Buku yang berisi gagasan-gagasan Natsir yang mengulas tentang Islam dan Akal ini terdiri dari 7 Bab dan kurang lebih menerangkan tentang sikap Islam terhadap kemerdekaan berpikir yang dijelaskan secara rinci dari berbagai aspek akal dan agama.
Kontroversi antara akal dan agama yang dibahas secara blak-blakkan dalam bukunya ini mencoba untuk membimbing kita supaya mengetahui akan posisi manakah yang benar dan semestinya kita pegang antara “apakah akal yang berkuasa atas agama? Ataukah agama yang berkuasa atas akal? Atau justru akal dan agama memiliki status dan posisi yang setara?” dengan membaca bukunya ini pula, maka kita akan mengetahui dimanakah Natsir memposisikan dirinya dalam persoalan akal dan agama ini.
Natsir seringkali menyebut-nyebut akal sebagai akal merdeka, sebagaimana yang tercantum pula dalam judul bukunya. Oleh karena itu, melalui buku ini, kita juga dituntun untuk menyelidiki apakah yang dimaksud dengan akal merdeka itu. Mengapa hal ini penting untuk diketahui? Karena pada awal-awal pembahasan Natsir hanya menggunakan kata “akal” dalam kaitannya dengan keutamaan berpikir. Namun dalam bab-bab berikutnya ia menggunakan istilah “akal merdeka”, maka dalam hal ini, tentunya ada titik penekanan yang berbeda yang mesti kita ketahui apa alasannya dan tujuannya.
Di awal-awal pembahasan Natsir mengatakan bahwa salah satu jasa Islam atas manusia dan kemanusiaan adalah “mobilisasi akal”, yakni pembukaan dan penggebrakan akal manusia yang selama ini tidak mendapatkan tempat yang semestinya dalam peri kehidupan ruhani dan jasmani manusia. Dorongan Islam yang tak kurang-kurangnya untuk memakai akal, mempergunakan pikiran, tak lain lagi adalah merupakan salah satu nikmat Tuhan yang tak ternilai harganya. Dan kita sebagai orang Islam diwajibkan menggunakan akal untuk memikirkan ayat-ayat al-Qur’an supaya memahami akan maksud dan maknanya: lantaran ayat-ayat al-Qur’an itu diturunkan untuk mereka yang mau berpikir, mau mengambil makna, mau mengetahui, dan mau beristinbath. Sebagaimana dalam Q.S. Al-An’am: 97, Allah berfirman: “ Sesungguhnya kami terangkan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.”
Agama Islam pun, menurut Natsir, amat mencela orang-orang yang tidak memergunakan akalnya, yakni orang-orang yang terikat pikirannya dengan kepercayaan-kepercayaan dan paham-paham manusia yang tak berdasar kepada dasar yang benar. Yakni mereka yang tidak mau memeriksa, apakah kepercayaan dan paham-paham yang disuruh oleh kalangan mayoritas terima, betul dan berdasar pada kebenaran, atau tidak. Tegasnya, agama Islam melarang kita bertaklid buta kepada faham dan i’tikad yang tak berdasar kepada wahyu Tuhan yang nyata, yaitu yang hanya didasarkan pada paham-paham lama (gedachte traditie) yang turun temurun dengan tanpa mengetahui dan memverifikasinya terlebih dahulu, apakah pahamnya itu berguna dan berfaidah serta suci atau tidak.
Dalam Islam akal memang mendapatkan posisi yang mulia. Namun apakah dengan kedudukan ini, Islam memberikan kemerdekaan berpikir yang tanpa batas? Jika iya, maka adakah yang disebut dengan akal merdeka itu?
Sejauh pengamatan penulis, penulis tidak menemukan definisi pasti dari akal merdeka. Berhubung pada pembahasan awal mengenai akal merdeka, Natsir lebih banyak menggambarkan dampak-dampak positif dan negatif dari akal merdeka. Akan tetapi penulis hanya dapat menyimpulkan suatu inti dari akal merdeka menurut pandangan Natsir, meskipun kesimpulan tersebut belum berarti sebagai definisi yang pasti mengenai apa yang disebut sebagai akal merdeka.
Natsir berpandangan bahwa akal merdeka itu tak kenal batas dan dan tak menggariskan batas. Konsekuensinya, akal merdeka berada pada dua sisi, yakni sisi si pintar dan sisi si bodoh. Si pintar akan berakal merdeka secara pintarnya, dan si bodoh akan berakal merdeka dengan secara bodohnya. Sehingga akal merdeka yang dibahas dalam bukunya ini memiliki dua aspek yang berlawanan, yang pertama adalah aspek positif apabila ia mampu dibatasi. Dan adapun yang membatasi itu adalah agama atau wahyu. Yang kedua adalah aspek negative, yakni akal merdeka yang tidak dibatasi yang mengakibatkan pada ketidakdisiplinan dan menyimpang. Dua aspek yang melekat pada penggunaan akal merdeka ini. Sekilas konsep akal merdeka ini tampak membingungkan. Barangkali diperlukan penjelasan yang lebih jauh mengenai akal merdeka yang positif dan akal merdeka yang negatif atau jika menurut istilah Natsir adalah akal merdeka si pintar dan akal merdeka si bodoh.
a. Akal Merdeka si Pintar (adalah akal merdeka yang terpimpin) dan Akal Merdeka si Bodoh (adalah akal merdeka yang tersesat)
Akal merdeka yang positif, menurut Natsir, adalah akal merdeka yang terpimpin. Akal inilah yang telah memerdekakan kaum Muslimin dari kekolotan yang membekukan otak dan yang melepaskan kaum Muslimin dari kemalasan berpikir (gedachte indolentie). Akal merdeka macam inilah yang kemudian melahirkan pemikir semacam Washil bin Atha, Fachr al-Din Razi, al-Asy’ariy, dan pemikir-pemikir hebat lainnya. Dengan akal merdeka pula bangsa Turki telah mampu melepaskan dirinya dari taqlid yang berbahaya yang menghambat kemajuan dan menghancurkan semua kekuatan bangsa Turki. Dengan akal merdeka, mereka memodernkan administrasi pemerintahan, mereka masukkan ilmu pengetahuan Barat, teknik dan organisasi Barat.
Sementara itu, Natsir pun berpandangan bahwa akal merdeka pula lah yang telah melahirkan I’tikad anthropomorphisme yang bertentangan dengan dasar-dasar ‘akaid Islam, dengan ruh dan spirit Islam. Lantaran akal merdeka itu pula timbul I’tikad pantheisme (penyembah berhala) dalam kalangan ahli tasawwuf. Lantaran akal merdeka yang tak mau tahu dengan aturan-atura pengambilan al-Qur’an dan Hadis, terjadi pula kemerdekaan membelok balikkan makna Qur’an dan Hadis itu sebagaimana yang cocok dengan si akal mereka itu sendiri pula. Lantaran akal merdeka macam ini, maka seorang al-Hallaj bisa berkata “ana al-Haqq”, akulah Tuhan!
Lantaran akal merdeka lah mula-mula terbit bermacam-macam urusan baru dalam ibadah, terjadi berbagai bid’ah dan khurafat. Khurafat kuno dan khurafat modern.
Dengan akal merdeka orang bisa mencela orang yang percaya kepada azimat, mencela orang memuja patung, lantaran “tidak logis”, “tak masuk akal”. Akan tetapi akal merdeka itu pula yang pandai mencarikan alasan dan helah untuk mempertahankan apa dan betapa kegunaan mascot.
Akal merdeka bisa memperkuat dan memperteguh iman kita, menambah khusyuk dan tawadhu kita terhadap kebesaran Ilahi, membuat kita mampu memahami hikmah-hikmah agama dan memperdalam perasaan keagamaan kita, membersihkan agama kita, dan membukakan jendela alam fikiran kita. Akan tetapi akal merdeka pun pintar dalam membongkar tiang-tiang agama, yang melemparkan hudud dan melampaui batas!
Dengan tegas, berkaitan dengan akal merdeka ini, Natsir menyatakan,
“Akal merdeka ibarat api; ja, mungkin ibarat lampu jang gemerlapan, memimpin kita dari gelap gulita ke terang benderang; seringkali mungkin pula ia menjala berkobar, menjiar-bakar, menghanguskan apa jang ada disekitarnja.”
“Alangkah permainja akal merdeka!”
“Alangkah tjelakanja akal merdeka!”
(M. Natsir. Islam dan Akal Merdeka (1970): 22)
Maka agar akal merdeka terkendali dan dapat difungsikan dengan sebaik-baiknya, Natsir berpendapat bahwa akal mesti mengalir dan bergerak bersama agama. Menurut Natsir, bahwa akal merdeka tanpa disiplin menjadikan chaos centang prenang. Oleh karena itu agama datang bukan semata-mata untuk memerdekakan akal. Agama datang untuk membangunkan akal, membangkitkan akal, menggemarkan orang memakai akal sebagai satu ni’mat ilahi yang maha indah. Agama datang mengalirkan akal menurut yang lurus supaya tidak melantur kesana kemari.
b. Batasan Akal Merdeka
Berulang kali Natsir menegaskan bahwa Islam datang bukan sebagai agama penindas akal. Sebaliknya, Islam justru datang sebagai supplement dari akal, dan sebagai penjambung kekuatan akal, dimana si akal tidak dapat bekerja lagi. Contohnya adalah al-Djubbai, seorang guru besar Mu’tazilah yang menjadi pelopor akal merdeka telah terpaksa mengakui bahwa banyak hal-hal yang tak mungkin dicapai oleh akal mredeka dan bahwa banyak hal-hal yang kita sebagai manusia terpaksa berkata : “Wallahu allam!”, dan bahwa banyak pula yang kita harus terima saja dengan bila kaifa!”
Siapa yang tak kenal Immanuel Kant sebagai seorang pemikir besar? Namun Immanuel Kant yang besar itulah yang telah membantah paham orang yang mengatakan bahwa semua boleh dipulangkan kepada akal merdeka, boleh diputuskan melalui kemauan “rein Vernuft!”
Maka sebenarnya akal dan agama masing-masing memiliki tempat dan gelanggangnya sendiri. Dan Islam lah yang menunjukkan tempatnya masing-masing itu supaya kita tidak keliru dalam memahami dan menggunakannya. Adapun Natsir memperkuat argumentasinya dengan hadits berikut ini,
“Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah, tapi jangan berfikir tentang Zat-Nya!” (H.s.r. ‘Iraqi dan Asbahani)
Okelah barangkali kita bisa katakana Ibn Sina sebagai seorang rasionalis Islam yang masyhur. Namun ia tidak melepaskan dan melampaui batas-batas hukum ‘akaid Islam dalam tiap-tiap tindakannya. Ia mampu memilah mana yang merupakan “Spirit of Islam” dan mana yang merupakan “Spirit of Hellenism”.
Begitu pula hal nya dengan Ibn Thufail yang jika kita katakan ia sebagai seorang rasionalis berakal merdeka, yang telah berupaya menjelaskan pendapatnya tentang lapangan akal merdeka dan gelanggang wahyu ilahi dalam sebuah roman falsafahnya yang bernama Hayy bin Yaqzhan, yang menerangkan lebih lanjut bahwa dalam ikhtiar mencari Tuhan tidak mungkin hanya dilakukan melalui akal semata-mata. Karena dalam mengetahui “sifat-sifat-Nya” dan dalam menentukan cara-caranya kita harus “menghubungkan” diri dengan Tuhan itu. dalam artian bahwa akal semata-mata tidak dapat dan tak sanggup dipakai lagi, karena yang demikian adalah gelanggang wahyu, tempat si manusia mau tak mau, mesti berpendirian dan berkata: sami’na wa atha’na…! kami dengar dan kami turuti.
Dengan mantap, Natsir kembali mendasarkan argumentasinya pada hadits Nabi Muhammad SAW yang dianggapnya telah mmberikan patokan dan batas untuk menentukan dimanakah kita boleh dan mesti memakai rasio dan dimana pula kita mesti menerima dengan sami’na wa atha’na semata-mata, tergambar dalam hadits berikut:
“Jika, ada urusan agamamu serahkanlah kepadaku. Dan jika ada urusan keduniaanmu, maka kamu lebih tahu akan urusan duniamu itu.”
(H.R. Muslim)
Natsir meyakini hadits ini sebagai pedoman dan pusaka dari Muhammad SAW sehingga diri kita mampu tertahan dari keterseretan dan kemauan si akal merdeka dan membebek kepada kemauan hawa nafsu yang bertopeng akal merdeka. Juga menjaga kita agar tidak terombang ambing di antara neoplatonisme dab historich materialism, atau 1001 macam isme lainnya dari yang kolot hingga modern.
5. Pengaruh Pemikiran Natsir di Nusantara
Pengaruh Pemikiran Mohammad Natsir berkaitan dengan gagasannya mengenai Islam yang amat mencolok dan kontroversial adalah pemikirannya mengenai Negara Islam. Hal ini terjadi sebagai hasil dari interaksi Muhammad Natsir dengan Iingkungan sosio-historis yang melingkupi kehidupannya selama ia berdakwah. Sementara itu, dalam konsep Negara Islam, Natsir berpendapat bahwa suatu negara akan bersifat Islam bukan karena secara formal ia disebut sebagai Negara Islam ataupun berdasarkan Islam, melainkan Negara tersebut disusun sesuai dengan ajaran-ajaran Islam baik secara teoritis maupun praktisnya sehingga bagi Natsir, negara berfungsi sebagai alat atau perkakas bagi berlakunya hukum Islam. Dan dengan demikian, Islam menjadi tujuan dan negara adalah alat untuk mewujudkan ajaran Islam.
Bahkan Natsir pun melancarkan dakwahnya selama ia menjabat sebagai menteri di pemerintahan. Melalui susunan kementrian dan menteri-menterinya, Muhammad Natsir nampak berupaya memberikan pesan tersirat kepada generasi muda Islam yang mau belajar sejarah, dan sedang membina dirinya sebagai aktivis organisasi Islam, serta mengingatkan bahwa dalam mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan partai dan pemerintahan di NKRI itu memiliki seni tersendiri. Dan kita ditantang untuk mampu membangun kerjasama dengan menyeleksi tuntutan politik nasional dan kekuatan partai dalam DPR.
FN dalam artikelnya yang berjudul “Refleksi seabad Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir” menyatakan bahwa dalam penyebaran dakwahnya, Natsir pernah mengatakan bahwa kemajuan masyarakat Islam hanya dapat dicapai dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara murni dan tidak bercampur aduk dengan bid’ah, khurafat dan tahayul. Adapun dalam hubungannya dengan konsepsi pemikirannya mengenai Islam dan Akal merdeka adalah Natsir mengharapkan agar masyarakat Indonesia mampu memilah-milah mana yang masuk wilayah akal dan mana yang masuk wilayah wahyu sehingga generasi Muslim Indonesia dapat memahami dan mengamalkan Islam secara murni dari ajarannya yang jauh dari penyimpangan dan kesesatan.
Natsir senantiasa berdakwah pada masyarkat Indoesia dengan penyampaian yang sederhana, penuh wibawa, dan bermakna. Cara berdakwah Natsir tampak pada perkataannya dalam beberapa kesempatan yang menyatakan bahwa “Tiap tiap kita adalah dai pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang muslim, mempunyai tugas dakwah. Ia yang menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara marbot (penjaga) masjid mungkin buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Marbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, merbot menjadi dai. Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan dakwah dapat berjalan lancar. Yang kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah swt, mungkin tidak bisa naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai.”
Mengenai persatuan umat, Muhammad Natsir mengatakan bahwa, “…umat Islam sekalipun menghadapi bermacam cobaan, dan terkadang sampai bercerai berai, namun tetap saja ada seruan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang memanggil mereka kembali ke jalan yang benar.”
Suatu hal yang patut diteladani dari kehidupan Natsir adalah integritas pribadi, pembawaan hidupnya yang sederhana dan jauh dari kecintaan terhadap harta benda. Dan bangsa Indonesia berhutang budi kepada Natsir sebagai sosok pejuang nasional dan pejuang umat. Di samping itu, Muhammad Natsir mewariskan buku-buku karyanya, juga meninggalkan nilai kepahlawanan, kesederhanaan, sekaligus keteladanan yang kini semakin jarang ditemukan. Dan objek dakwah utama yang paling menjadi sasaran Natsir selain masyarakat umum Indonesia tak lain adalah generasi muda.

BAB III
AKAL MERDEKA YANG TIDAK MERDEKA
(Analisis Kritis gagasan “Islam dan Akal Merdeka M. Natsir”)
1. Keunggulan Pemikiran Muhammad Natsir tentang Akal Merdeka
Sebagaimana metode hermeneutika yang telah penulis gunakan dalam melakukan analisis makna di balik makna terkait pemikiran Muhammad Natsir melalui teks-teks primer maupun sekunder, maka penulis menyimpulkan bahwa konsep Islam dan Akal merdeka berdasarkan pandangan Muhammad Natsir, selain bertujuan untuk mencegah umat Islam dari kesesatan disebabkan karena memposisikan dirinya pada salah satu golongan baik fundemantalis/eskstremis maupun liberalis, adalah juga menegaskan bahwa agama (sebagai doktrin) dan akal tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Akal merdeka yang dimaksud oleh Natsir adalah kebebasan berpikir kritis dan analitis. Hal ini tidak keliru, karena sejalan dengan fitrah manusia yang senantiasa mencari kebenaran. Dan kebenaran yang ia cari ini adalah dengan menggunakan instrumen yang sudah merupakan sesuatu yang esensial dalam diri manusia, yakni akal. Konsep yang Natsir rumuskan ini, meskipun lebih menekankan pada sisi keislaman secara spesifiknya, namun esensinya merupakan konsep yang universal yang bisa diterapkan pada siapapun dan kalangan manapun. Sebagaimana dalam hermeneutika, bahwa dalam sebuah teks terdapat makna lahir dan makna bathin, dan makna bathin itu berlapis-lapis adanya, namun apabila tersingkap, maka kita akan menemukan suatu makna yang paling inti dan terdalam dari teks tersebut. Demikian pula dengan manusia yang pada dirinya terdapat aspek intelektual dan spiritual. Dan melalui konsep islam dan akal merdeka itu lah, sebenarnya Muhammad Natsir menjelaskan keduanya.
Dalam beberapa ayat al-Qur’an yang dibawakan Natsir sebagai dasar argumentasinya adalah sudah jelas, bahwa akal digunakan untuk merenungkan bakan ciptaan Allah SWT baik yang di langit dan di bumi. Natsir mencontohkan dalam penjelasannya sebagai berikut:
“Disuruh orang memperhatikan tumbuh-tumbuhan jang hidup, dan ditanja, apakah dan siapakah jang menghidupkan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan itu? Disuruh orang memperhatikan api jang menjala, ditanja apakah dan siapakah jang menjalakannja? Disuruh orang memperhatikan air hudjan jang turun dari langit dan ditanja, siapakah dan apakah jang menurukannja, apakah manusia atau siapa?…………” (M. Natsir. Islam dan Akal Merdeka (1970): 12)
Dari penjelasan Natsir di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa akal (yang diperintahkan oleh Allah untuk merenung) di sini adalah khusus untuk mengamati hal-hal yang sifatnya masih terjangkau oleh akal, yakni tanda-tanda kuasa Tuhan melalui seluruh ciptaan-Nya (Alam Semesta) dengan melalui proses pembelajaran, penelitian, dan lain sebagainya.
Banyak para pemikir yang non-Islam yang memikirkan, meneliti dan mengkaji tentang alam semesta ini. Dan kemudian hasil-hasil temuan dari penelitian mereka berpengaruh pada peradaban manusia berikutnya. Teknologi misalnya, baik itu dalam pangan, pengobatan, industri, tambang, dan lain sebagainya. Semua hasil temuan itu membawa angin segar terhadap kemajuan peradaban manusia. Namun semakin maju peradaban ini, dan semakin berpikir akal manusia, maka semakin berlomba-lomba lah manusia dalam mencapai segala tujuan mereka. Sehingga alam di eksploitasi demi memenuhi kebutuhan dan kepentingan personal masing-masing. Tapi manusia-manusia ini adalah manusia-manusia yang benar-benar menggunakan akalnya. Hanya saja, bagi mereka, hal-hal yang tampak hanyalah aspek materiil saja. Sehingga hanya materi itu lah yang mereka anggap ada dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akal mereka memang bekerja, namun bekerja dalam membentuk strategi demi mencapai dan mewujudkan kesempurnaan hidup materiil pada diri masing-masing. Nah, orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang hanya mempekerjakan akalnya, meskipun mereka masih menggunakan akalnya sesuai dengan fungsinya dan tempatnya. Barangkali inilah maksud Natsir mengenai akal merdeka si bodoh yang berakal merdeka dengan kebodohannya. Dalam hal ini, aspek intelektual mereka memang terpenuhi, namun aspek spiritualnya tidak. Fenomena ini biasanya marak terlihat di dunia barat yang modern dan berperadaban canggih, dimana paradigma yang dipegang oleh orang Barat adalah materialisme dan empirisme. Mereka mereduksi pola pikir mereka akan kebenaran bahwa sesuatu hanya akan dianggap benar jika ia dapat dibuktikan secara saintifik/ilmiah. Sayangnya, karena peradaban Barat di era modern ini amat mendunia dan berpengaruh hingga ke dunia di belahan Timur, maka banyak orang yang mengimitasi pola pikir mereka mengenai kebenaran karena melihat Barat yang saking majunya, maka kemajuan itu dianggap sebagai yang paling benar. Hal inilah yang menjadi sumber dari degradasi moral dan perpecahan yang terjadi antar kelompok Islam di dunia, khususnya di Indonesia menjadi dua kelompok yakni kelompok liberalis dan kelompok ekstremis.
Pemikiran Natsir mengenai Islam dan Akal merdeka ini hampir sejalan dengan pandangan Karen Amstrong dalam The Battle of God: A History of Fundamentalism (2001) yang menuturkan bahwa fundamentalisme radikal agama lahir di penghujung era modern sebagai sebuah respons irasional terhadap sekulerisme dan krisis spiritual dunia modern. Mereka dihadapkan pada situasi yang sulit dipahami, tentang bagaimana hidup yang bermakna sebagai seorang yang beriman dalam dunia modern atau mengakomodasi tantangan-tantangan modern dalam horizon keimanan mereka. Inilah yang menurut Natsir sebagai golongan yang bertaklid buta terhadap suatu kepercayaan dan ajaran tanpa memverifikasi terlebih dahulu akan kebenarannya. Dengan demikian, kelompol ini juga disebut sebagai yang berakal merdeka dengan kebodohannya, yakni ia punya kebebasan berpikir akan tetapi tidak ia gunakan.
Sementara itu, kaum liberalis yang juga menggunakan akalnya secara dinamis dibandingkan dengan agama, menurut filosof asal India, Muhammad Iqbal, sama saja dengan pengekor dan pembeo yang tidak dinamis. Dalam hal ini mereka sama-sama dibatasi oleh paradigma orang lain akibat terlalu terpengaruh dengan paradigma pemikiran dari Barat atau digempur oleh sistem-sistem dan nilai-nilai asing yang mulai menggerogoti keislaman dan lebih menjunjung tinggi rasionalisme non Islam. Iqbal mengatakan,
Jangan hinakan pribadimu dengan imitasi
Bangunlah, hai kau yang asing terhadap rahasia kehidupan
Nyalakan api yang tersembunyi dalam debumu sendiri
Wujudkan dalam dirimu sifat-sifat Tuhan
Dengan demikian, sejalan dengan alur pemikiran Iqbal, maksud Natsir pun tak lain adalah demi menyadarkan umat Islam bahwa kerja nalar dan agama harus seimbang dan harmonis. Ketika keduanya bermain dengan imbang, maka akan tecapailah kebenaran tertinggi yang dicari, yaitu “Tuhan”. Inilah kebenaran yang akan membersihkan agama, yang akan membuka jendela fikiran, yang akan menyingkap berbagai makna-makna mendalam dalam al-Qur’an, yang memberikan berbagai hikmah, dan menjadikan manusia semakin beriman dan tawadhu. Kiranya menurut penulis, inilah yang dimaksud oleh Natsir sebagai si pintar yang berakal merdeka dengan kepintarannya. Terlepas dari maksud menyama-nyamakan, namun penulis menyimpulkan bahwa inilah tujuan yang sebenarnya ingin Natsir sampaikan. Konsep yang ia rumuskan adalah universal adanya, bahwa akal memang harus berjalan beriringan dengan agama. Seorang ilmuwan macam Albert Einstein pun bahkan sepakat dengan gagasan tersebut, yang mengatakan bahwa agama tanpa akal itu pincang, dan akal tanpa agama itu buta.
2. Tinjauan Ulang Konsep Akal Muhammad Natsir
Berkaitan dengan konsep Natsir mengenai akal merdekanya ini, penulis memulainya dengan menganalisis latar belakang pemikiran Natsir mengenai konsepsi akalnya. Mengingat, cara pembagian akal merdeka yang dilakukan oleh Natsir ke dalam akal merdeka pada sisi si pintar dan si bodoh dimana akal merdeka pada sisi si bodoh adalah akal merdeka yang berkonsekuensi pada yang negatif sehingga harus dibatasi, dan akal merdeka si pintar adalah akal merdeka yang terpimpin dan dibatasi oleh wahyu yang sama-sama juga di batasi. Hal ini mengesankan seolah nama akal merdeka ini tidak relevan karena baik bagi sisi si pintar maupun si bodoh, keduanya sama sama-sama dibatasi, dibatasi di sini seolah mengesankan tidak merdeka. Sehingga seakan makna akal yang dimaksud di sini adalah akal merdeka yang tidak merdeka. Dalam pengertian bahwa tidak ada instrument berpikir yang kita sebut sebagai akal merdeka, yang memiliki kebebasan dan ketakterbatasan berpikir. Karena akal merdeka menurut Natsir, dalam beberapa aspek harus menunduk pada wahyu tanpa mesti merasionalisasikan apapun (sami’na wa atha’na). Hal ini menyiratkan bahwa akal ini tidak memiliki lingkup yang luas untuk disebut dan diberi hak sebagai yang merdeka. Apa yang dijelaskan Natsir lebih seperti merupakan “Peranan Akal serta batasan-batasannya”.
a. Latar Belakang Pemikiran Konsepsi Akal Natsir
Dengan mengamati berbagai hadits yang Natsir kutip, serta seringnya ia menyebut tokoh teolog seperti Washil bin Atha, al-Ghazali, dan khususnya al-Ay’ari (lihat dalam Capita Selecta 1), serta gagasannya yang mengatakan bahwa akal adakalanya mesti patuh pada wahyu dan akal merdeka dianggap membelok-belokkan makna al-Qur’an dan hadits , maka penulis berkesimpulan bahwa latar belakang pemikiran mengenai akal dalam pandangan Natsir adalah berasal dari pemikiran teologis/ kalam. Mengapa? Khususnya dengan paham ahlu sunnah yang ia anut, maka penulis memutuskan bahwa Natsir berlatar belakang pada pemikiran asy’ariah, dimana asy’ariyah memandang peranan akal itu lemah, dan adakalanya syariat menjadi bermakna dalam situasi tertentu. Khususnya dalam menilai perbuatan baik dan buruk, akal tak mampu berperan apa-apa dalam wilayah ini. karena baik dan buruk hanya bisa diketahui dengan kedatangan syariat. Menurut Abu Hasan al-Asy’ari, akal tidak memiliki peran untuk menentukan hukum suatu perbuatan dan nilai suatu larangan yang dibuat Tuhan. Ukuran baik dan jahat suatu perbuatan hanyalah syariat. Dalam kitab al-Luma, Asy’ari menulis: “ Jika seseorang mengatakan: Berdusta adalah jahat karena Tuhan menentukan demikian, kita akan jelaskan kepadanya: “Tentu saja, dan jika Tuhan sekiranya menyatakan perbuatan itu baik, maka itu mestilah baik, dan jika itu Ia wajibkan, tidak ada orang yang dapat menentangnya.”
Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa melalui pandangan Natsir yang amat menekankan wahyu disamping pula akal ini, maka penilaiannya yang mengatakan syatohat bahwa “ana al-Haq” adalah merupakan penyimpangan dari akal merdeka, atau kritik terhadap para pemuja patung yang dianggap sebagai tak logis tapi memiliki analisis kritis soal maskot, serta menyetarakan pandangan Das Ding An Sich Immanuel Kant dengan gagasan ‘Ayn al-Syai’ nya al-Asy’ari adalah penilaiannya berdasarkan pemikiran kalam.
Demi meluruskan semua itu, maka penulis akan membahas landasan epistemologis setiap pemikiran satu per satu yang terkesan semuanya direduksi oleh Natsir dalam kacamata penilaian Kalam yang jelas memiliki landasan epistemologis yang berbeda.
b. Tinjauan Ulang Penilaian Natsir Terkait Contoh Penyimpangan Akal Merdeka
a. Syatohat (celoteh) “Ana al-Haqq” al-Hajj adalah penyimpangan dari Akal Merdeka
Hal yang pertama-tama mesti dipahami adalah maksud dari konsep akal merdeka yang menyimpang, apakah ia digunakan terlalu radikal atau tidak digunakan sama sekali. Pengertian inilah yang masih belum jelas menurut penulis. Karena kalimat yang keluar dari mulut al-Hallaj “Ana al-Haqq” yang berarti Aku adalah Tuhan, pada dasarnya bukanlah merupakan kalimat yang dilontarkan secara sadar dan merupakan pengafirmasian diri sendiri sebagai Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun yang jelas memang dalam al-Qur’an sudah dicap menyimpang dan kafir karena ia memang menentang/tak mengimai Tuhan dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan yang memerintah rakyat-rakyatnya. Akan tetapi hal ini berbeda dengan yang terjadi pada al-Hallaj sebagai seorang asketik (sufi) yang justru amat mengimani bahkan mencintai Tuhan. Barangkali karena melihat ayat al-Qur’an mengenai Fir’aun yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan, maka Natsir berkesimpulan yang sama pada pernyataan yang dilontarkan (secara tidak sadar) oleh al-Hallaj. (di luar maksud penulis untuk meremehkan)
Bagaimanapun, pernyataan yang dilontarkan oleh al-Hallaj berbeda dengan yang dinyatakan oleh Fir’aun. Pertama, Fir’aun memang seorang kafir sementara al-Hallaj tidak. kedua, Fir’aun dikenal sebagai raja yang sombong dan lalim, sementara al-Hallaj tidak. Ketiga, penilaian Natsir tampaknya berdasar pada penilaian melalui kacamata teologis sementara, kasus al-Hallaj adalah berada pada wilayah tasawuf yang berhubungan dengan pencarian spiritual untuk bertemu dengan Tuhan.
Dr. Haidar Bagir, salah satu dosen Tawawuf dan ahli filsafat pernah menjelaskan dalam sebuah kelas filsafat bahwa syatohat (celoteh seperti yang diucapkan oleh al-Hallaj) adalah dampak dari ketidakmampuan orang itu (yang tengah melakukan perjalanan spiritual/mystical quest) dalam menerima manifestasi-manifestasi Tuhan yang teramat besar sehingga ia tak mampu untuk menanggungnya. Ketika dia sudah mencapai level itu, kesadaran akan dirinya pun sudah hilang dan ada saat itu hanyalah Tuhan. Oleh karena itulah ucapan itu yang keluar, tanpa bermaksud untuk menzalimi atau menyesatkan orang sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun. Dengan demikian, Natsir tidak bisa menilai ini sebagai kesesatan akal dalam bingkai kalam, karena yang dilakukan al-Hallaj adalah di luar kesadaran akal dan tidak disengaja atau pun direncanakan.
b. Konsep Das Ding An Sich Immanuel Kant
Natsir menyatakan bahwa Kant sendiri adakalahnya tidak menyerahkan segala sesuatu pada akal melainkan pada kemauan “Vernuft”. Pada dasarnya, Immanuel Kant memang menyatakan bahwa ada hal-hal yang dipahami oleh akal teoritis dan ada yang tidak. Kant membagi akal teoritis dan akal praktis, serta realitas ke dalam fenomena dan nomena. Nomena adalah konsep Das Ding An Sich yang dimaksud yakni realita sebagaimana realita. Sementara fenomena adalah suatu objek yang dipersepsi sesuai dengan kacamata (pemikiran) kita. Dan Kant menyimpulkan bahwa nomena itu tidak akan pernah kita ketahui, karena yang kita ketahui pastinya adalah fenomena yang sesuai dengan kacamata pikiran kita, bukan realitas sebagaimana sebenarnya. Penyerahan yang dimaksud Immanuel Kant adalah dalam hal ini. dalam hal bahwa akal pasti sudah terbentuk oleh bingkai pemikiran tertentu sehingga kita tidak bisa memahami realitas sebagaimana adanya. Namun Kant bukan berarti menyerahkan ini pada wahyu atau Tuhan. Karena Kant sendiri bahkan dikatakan sebagai seorang yang berposisi sebagai Agnostik (antara meyakini dan tidak meyakini akan keberadaan Tuhan). Atau pun barangkali Natsir hanya menggunakan kasus Kant ini sebagai analogi akan keterbatasan akal yang di luar dari perbincangan wahyu.
Pun contoh-contoh lainnya seperti Ibn Sina dan Ibn Thufail yang dikatakan religius tapi rasionalis dalam hal ini memang benar bahwa mereka menggunakan akal dan wahyu secara imbang. Akan tetapi penulis belum pernah menemukan bahwa kedua filosof rasionalis tersebut memberikan fatwa bahwa adakalanya kita hanya bisa mengatakan sami’na wa atha’na atau wallahu a’lam bis showab dan kita hanya mesti tunduk pada wahyu. Sejauh upaya mereka dalam menjelaskan mengenai hubungan Tuhan dan ciptaannNya, mereka tetap berpendirian pada penalaran diskursif. Memang, adakalanya rasio terbatas dalam mengetahui sesuatu. Realitas Tuhan yang sesungguhnya, misalnya, yang hanya bisa diketahui melalui tazkiyatun nafs (pensucian diri) dan intuisi melalui tarikat-tarikat atau perjalanan spiritual seperti yang dilakukan al-Hallaj. Dan rasio dalam kasus ini memang terbatas dalam mengetahui realitas Tuhan sebagaimana adanya. Rasio tidak akan pernah bisa mencapai ini kecuali sebatas memikirkan-Nya melalui tanda-tanda Kuasa-Nya di alam semesta. Namun sejauh ini penulis belum menemukan metode serupa perjalanan spiritual dalam pandangan Natsir berkaitan dengan pembahasan mengenai batas-batas akal. Karena semua dalilnya cenderung lebih berpatok pada wahyu dan hadits.*

BAB III
KESIMPULAN
1. Kesimpulan
Muhammad Natsir sebagai ulama dan pejuang Indonesia sudah tidak diragukan lagi akan kecemerlangannya. Beliau memiliki pribadi dan integritas yang luar biasa. Sumbangan utamanya adalah terletak pada pemikiran-pemikirannya mengenai Islam yang menjadi landasan pola pikir dan tindakannya. Beliau meninggalkan warisan intelektual dan religius bagi generasi muda. Konsepsi mengenai Islam dan Akal Merdeka adalah salah satu pemikirannya. Melalui pemikirannya ini ia mengajak umat Islam untuk berpikir kritis serta mengharmoniskannya dengan wahyu sehingga mampu melahirkan pribadi yang bermoral dan berbudi luhur. Inilah salah satu pemikirannya yang menjadi landasan utama yang mesti diperhatikan dan direnungkan sebelum memutuskan sesuatu dan bertindak. Inilah konsep dasar yang mesti ditanamkan dan amat berpengaruh pada jalan kehidupan manusia. Dan inilah yang semestinya dipelajari pertama kali oleh generasi umat Muslim, khususnya para pemuda, serta merenungkan secara dalam-dalam maknanya. Dimana kita, harus mampu memposisikan akal dan wahyu sesuai dengan ranahnya masing-masing dan menyesuaikannya secara harmonis.
Akan tetapi, meskipun demikian, pandangan Natsir di sini banyak dipengaruhi oleh pandangan ahlu sunnah dan kalam. Walaupun di lain pihak, Natsir pun memiliki pengetahuan mengenai falsafah yang tak kalah melimpah. Hanya saja penulis mengamati bahwa corak kalam dari berbagai tulisannya tampak lebih dominan. Barangkali jika keliru, maka kesalahan terletak pada analisa penulis.
Bagaimanapun, tak ada lagi kata yang mampu mewakili akan kekaguman yang luar biasa terhadap sosok yang gigih seperti Bpk. Muhammad Natsir. Perjuangannya dalam membangun Indonesia serta mendakwahkan ajaran Islam adalah sikap dan semangat yang semestinya dicontoh oleh generasi pemuda Indonesia berikutnya. Karena orang-orang yang berkarakter seperti beliau lah yang sebenarnya Indonesia butuhkan. Berprinsip dasar pada Islam, cerdas, dan memiliki semangat juang serta Nasionalisme.
2. Saran
Berkaitan dengan hasil penelitian ini yang masih jauh dari sempurna, maka penulis menyarankan agar pengkajian berkaitan dengan persoalan ini masih perlu diteliti lebih lanjut dengan metode yang lebih analitis, kritis dan komprehensif serta dilengkapi dengan referensi-referensi primer maupun sekunder yang lebih lengkap demi hasil penelitian yang lebih maksimal dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Referensi Primer:
Natsir, M. Islam dan Kristen di Indonesia. 1969. Bandung: Peladjar dan Bulan-Sabit.
Natsir. M. Capita Selecta 1. 2008. Jakarta: Yayasan Bulang Bintang Abadi
Natsir. Mohd. Islam dan Akal Merdeka. 1970. Djakarta: Hudaya.
Referensi Sekunder:
Gunawan, Hendra. M. Natsir dan Darul Islam. 2000. Jakarta: Media Dakwah.
Luth, Thohir. M. Natsir, Dakwah dan Pemikirannya. 1999. Jakarta: Gema Insani.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 2. 2010. Bandung: Salamadani.
Puar, Yusuf A. 1978. Mohammad Natsir 70 Tahun: Kenang-kenangan Kehidupan Perjuangan. Jakarta: Pustaka Antara.
http://en.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir
Referensi Tambahan/Analisis:
Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. 2011. Jakarta: Mizan.
Iskandar, Teuku Safir. Falsafah Kalam. 2003. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
Gufron, Mardias. Tesis: Negara Islam: studi terhadap pemikiran politik Mohammad Natsir. pdf.
Nasution, Harun. Teologi Islam. 2010. Jakarta: UI Press.
NF. Refleksi seabad Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir. Pdf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s