Kaidah Filsafat: “Mu’tiy al-Syai’ La Yakunu Faqidan Lahu” (Pemberi Sesuatu tidak mungkin tidak memiliki sesuatu yang diberikan itu)

Kaidah ini, secara makna sebenarnya sudah dapat kita pahami dengan jelas. ‘Tidak mungkin saya meminjamkan uang kepada anda apabila saya tidak memiliki uang tersebut”, inilah salah satu contoh sederhana akan makna dari kaidah ini.Umumnya kaidah ini juga disebut dengan Faqidu Syai’ la Yu’thiy, yang bermakna bahwa jika ada yang memberikan sesuatu maka sudah pasti yang memberikan sesuatu itu memiliki sesuatu yang diberikan. Kaidah ini berlaku pada unsur sebab agen (‘Illah Fa’iliyah), sebagai sebab yang paling penting dari sebab yang empat dalam kaitannya dengan proses keberadaan yang mana sebab agen ini tidak bisa dipisahkan dari sebab tujuan (‘Illah Gha’iyah). Adapun sebab yang empat, dalam Bidayatul Hikmah, dibagi sebagai berikut:
1. Internal/’illah al-Dakhiliyah/’ilah al-Qiwam, yakni sebab penunjang dimana sebab ini terdiri dari materi (maddah) dan forma (shurah) yang menyebabkan akibat terbentuk. Dalam hal ini, materi tidak akan bisa ada tanpa adanya forma. Sementara forma juga tidak bisa terwujud karena ia pun bergantung pada materi. Materi dan bentuk adalah sebab yang ada dalam diri akibat. Kita bisa analogikan materi dan bentuk ini dengan adanya bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu, dan semen. Ada pula desain rumah dari batu, pasir dan semen. Akan tetapi semuanya tidak akan mewujud kalau tidak ada sebab agen sebagai pelaku dari yang membangun rumah itu, yang disertai dengan sebab tujuan untuk membuat rumah itu menjadi nyata. Maka materi dan bentuk di sini yang dimaksud hanyalah batu, pasir, semen dan konsep di kepala saja.
2. Eksternal/’illah al-Khorijiyah/’ilah al-Wujud, yakni sebab keberadaan yang terdiri dari sebab agen (‘Illah fa’iliyyah) dan sebab final (‘Illah Gha iyah). Sebab agen adalah sebab yang dimana eksistensi efek bergantung (ma bihil wujud). sementara sebab tujuan adalah sebagai alasan dari munculnya sesuatu. Karena suatu tindakan yang dilakukan pasti memiliki sebab (terdapat unsur ghayah di dalamnya). Sementara sebab tujuan nya adalah kamu memiliki konsep akan apa yang akan kamu lakukan. Konsep inilah yang disebut dengan pengetahuan. dan ketika yang dikonsepsi ini aktual (mewujud) secara sempurna, maka ini disebut dengan ghayah (tujuan).

Semua filosof yang mengakui akan keberadaan sebab agen dalam prinsip umum sebab-akibat, maka mereka bisa mengambil faidah dari kaidah ini. Adapun bagi mereka yang mengingkari ‘ilal wujud yang diantaranya ‘ilal fa’iliyah dan gho’iyah, maka mereka hanya mengakui adanya dua ‘illah, yakni ‘illal madhiyah, yakni ‘illah yang tidak memilki rasa, kerena sebabnya hanya berkaitan dengan sebab-sebab materi saja. Bagi orang-orang yang hanya meyakini pandangan ini, maka ‘illah bagi mereka bukan bermakna I’tha wal ijad (memberikan dan mengadakan).
Mayoritas kalangan filosof sebelum Mulla Sadra mengibaratkan sebab dan akibat dengan istilah mufid dan mustafid (yang memberikan dan yang mengambil pemberian), Mufidh dan Mustafidh (Yang memancarkan dan mengambil pancaran), serta Shadir dan Mashdar. Dan sebagian filosof pun berpandangan lebih jauh bahwa akibat itu memiliki peranan sebagai ‘illah atau ditempatkan pada tingkatan bagi ‘illah. Pandangan ini bisa kita lihat dalam karya Mulla Shadra secara khusus.
Untuk menjelaskan kaidah filsafat ini lebih jauh lagi, di sini akan dipaparkan beberapa filosof Islam yang menerapkan kaidah ini, di antaranya adalah al-Farabi, Ibn Sina dan Shadr Muta’allihin.
• Al-Farabi
Dalam pandangan al-Farabi, kaidah ini adalah persoalan mengenai ‘Illah sebagai yang memberikan faidah, sedangkan ma’lul adalah yang mengambil faidah. Berdasarkan kaidah ini, maka dapat diketahui bahwa tidak mungkin quiditas (mahiyah) sesuatu itu menjadi sebab keberadaan sesuatu itu sendiri. Karena pada prinsipnya, keberadaan sebab itu akan menjadi sebab keberadaan wujud akibat (ma’lul). Sementara mahiyah tidak memiliki dua wujud sekaligus dimana yang satu sebagai mufid dan satunya lagi sebagai mustafid.
Penjelasan dari kaidah di atas bisa kita lihat pada contoh dari dua jenis proposisi yang berbeda. Pada proposisi yang pertama misalnya, “Bujangan adalah pria belum menikah”. Sedangkan proposisi keduanya, “Kursi itu ada”. Dengan mengamati dua contoh tersebut, maka dapat kita lihat bahwa pada proposisi pertama, relasi antara subjek dan predikat sudah jelas dengan sendirinya. Ia tidak perlu lagi pada sebab (‘illah) atau argumentasi. Karena predikatnya adalah identitas subjek itu sendiri. Sementara pada proposisi kedua, kita dapat melihat bahwa makna “ada” tidak termasuk pada wilayah mahiyah Kursi. Predikat “ada” bukan merupakan identitas bagi subjek sebagaimana yang terlihat pada proposisi pertama. Jadi relasi predikatnya terhadap subjek tidak niscaya, oleh karenanya ia memerlukan sebab.
Akan tetapi, bagaimanakah kursi tersebut bisa ada? Bagaimana “ada” ini menjadi mungkin untuk dipredikatkan pada kursi? Apakah sebabnya? Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa mahiyah pada prinsipnya tidak akan mungkin untuk menjadi sebab keberadaan bagi keberadaannya sendiri. Dengan kata lain, mahiyah di sini adalah sebagai mustafidh. Apabila dirinya sendiri yang menyebabkan ia terwujud (padahal sebenarnya ia sendiri tak bisa berwujud) maka itu artinya ia juga akan menjadi mufidh dan pada saat yang sama ia pun merupakan mustafidh sebagai yang butuh pada yang menyebabkan. Maka jelaslah bahwa mahiyah yang berperan sebagai mufidh dan mustafidh pada saat yang sama adalah mustahil. Pada dasarnya, mahiyah itu berada dalam posisi setara antara ada dan tiada. Untuk itu, tentunya ia tak bisa mewujud dengan sendirinya. Agar mahiyah keluar dari posisi kesetaraan tadi kepada ranah wujud atau mengada, maka ia memerlukan pada sebab (‘illah). Sebab ini hanya dapat kita lihat pada dua opsi logis, yakni (1) Selain Wujud (‘Adam) dan (2) Wujud. Selain wujud adalah berarti ketiadaan. Apabila ketiadaan menjadi sebab maka tidak akan mungkin, karena ketiadaan tidak memberikan efek dan memang pada dirinya sendiri tidak memiliki efek. Satu-satunya opsi yang tersisa adalah wujud, dimana jelas ia merupakan sumber dari efek (mansya al-atsar). Oleh karena itu, realitas wujud memiliki realitas eksternal yang real dengan sendirinya dan tanpa perlu pada mediasi. Dari sini dapat kita ketahui bahwa yang menjadi sebab keberadaan mahiyah adalah wujud. Pada kesimpulannya, kita dapat mengetahui bahwa wujud lah yang menjadi mufidh (pemberi), dan mahiyah menjadi mustafidh (penerima). Inilah salah satu penggunaan kaidah “Mu’tiy al-Syai’ La Yakunu Faqidan Lahu” yang diterapkan oleh al-Farabi.
• Ibn Sina
Menurut Ibn Sina bahwa fa’il yang bisa memberikan wujud pada sesuatu, setelah sebelumnya tiada, maka yang terjadi pada maf’ul (sesuatu itu) adalah dua perkara: (1) Sebelumnya ia tidak ada, (2) kemudian menjadi ada. Kaidah ini berarti bahwa ketika sesuatu sebelum menjadi ada, maka sesungguhnya ia tidak memiliki sesuatu. Akan tetapi setelah ia ada, maka ia memiliki sesuatu. Dalam kaitannya dengan ini, maka jika fa’il ingin memberi, terlebih dahulu pasti ia memiliki apa yang ia ingin berikan. Sedangkan objek yang diberikan (yang akan menjadi ada) sebelumnya tidak ada. Berdasarkan pada prinsip ini, dengan demikian, maf’ul yang diperlakukan itu memiliki dua hal, yakni sebelumnya tiada dan setelahnya ia ada. Memang pada umumnya dalam kaidah paripatetik, sebab fa’il (yang hakiki), yakni Tuhan hanyalah memberikan ‘ada’ saja.

• Sadr Mutha’allihin
Dalam pandangan Shadr Mutha’allihin, kaidah faqidu syai la yu’thi ini diterapkan pada prinsip “Bashitul Haqiqah” dimana basith yang hakiki itu mencakup segala sesuatu. Basith hakiki yang dimaksud di sini adalah Tuhan. Tuhan itu basith dan mencakup segala sesuatu. Dalam menerapkan kaidah ini, kaum urafa memberi istilah Wujud Mutlaq sebagai yang memberi, dan Wujud Muqayyad sebagai yang diberi.
Wujud Mutlaq dikalangan ahli Irfan adalah wujud yang tak terbatas pada wujud tertentu, dan tidak dibatasi oleh batasan khusus. Beda hal nya dengan wujud muqoyyad (yang terbatas), seperti manusia, falak, nafs (jiwa), dan akal.
Mengapa Tuhan itu disebut dengan wujud mutlaq? Karena Ia mencakup segala sesuatu dan karena Ia adalah dzat yang paling sederhana. Sementara manusia itu terikat, dan tak mencakup segala sesuatu. Oleh karena itu wujud mutlaq menjadi fail dari segala wujud muqoyyad dan segala kesempurnaannya. Karena jelas bahwa sumber dari setiap keutamaan lebih utama dari keutamaan itu sendiri. Sumber segala keutamaan itu lebih utama dengan keutamaannya dan segala keutamaan itu pasti memiliki mabda. Dengan demikian, sumber segala sesuatu atau yang memancarkan segala sesuatu itu pasti mencakup segala sesuatu dalam bentuk yang lebih tinggi. Itulah mengapa wujud mutlaq itu disebut mu’thiy syay’. Akan tetapi Tuhan sebagai sumber utama dari segala kesempurnaan adalah disebut dengan mu’thiy syay’ haqiqi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s