HAKIKAT DUNIA (Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i)

Fithri Dzakiyyah. H.

1. Perbandingan Alam Dunia dan Alam Kehidupan Setelahnya (Akhirat)
Meskipun bukan merupakan analogi yang sempurna, namun dari segi kondisi, tamtsil yang diambil dari deskripsi kehidupan janin di dalam rahim dan setelah bayi lahir ke alam dunia cukup mampu menggambarkan perbandingan antara kehidupan di alam dunia dengan kehidupan di alam setelahnya, tepatnya adalah kehidupan setelah kematian. Untuk lebih jelasnya lagi, apa yang menjadi titik fokus perbandingan antara kedua alam ini adalah pada sistem kehidupan sebelum kelahiran dan sistem kehidupan setelah kelahiran.
Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa kehidupan janin yang berada di dalam Rahim mengalami pembentukan organ-organ tubuh yang setelah sempurna tetap tidak difungsikan di dalam Rahim tersebut. Sebagai contohnya adalah paru-paru yang sudah terbentuk sempurna namun pada kenyataannya hanya dapat berfungsi setelah sang bayi dilahirkan. Sementara pada masa si janin masih berada di dalam Rahim, paru-paru itu sama sekali tidak berfungsi, sebab jika ia berfungsi di dalam Rahim tersebut justru akan mengakibatkan kematian pada si bayi.
Perancangan organ secara sempurna yang terjadi di dalam Rahim, dalam hubungannya dengan tema kita ini adalah, bagaikan kehidupan dunia yang mana dijalani manusia demi persiapan untuk menjalankan kehidupan mereka di kehidupan berikutnya. Dunia ini sama halnya dengan kehidupan dalam rahim dimana di dalamnya terjadi rancangan dan kesiapan sistem-sistem psikis dan spiritual manusia yang disempurnakan. Manusia beramal dan berbuat baik, berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, beribadah dengan tulus ikhlas, dilakukan secara sempurna bukan untuk di dunia dan kesenangan dunia, melainkan untuk bekal persiapan menyambut kehidupan yang akan datang setelah melewati periode kematian. Di mana di alam setelah kematian, bekal tersebut akan amat berharga dan berpengaruh bagi dirinya.
Apa buktinya bahwa manusia diciptakan di dunia karena untuk dipersiapkan di kehidupan setelahnya? Allamah Thabathaba’i menyebutkan bahwa hal ini salah satunya dapat kita lihat pada kapasitas manusia dalam berpikir yang tak terbatas, ego mereka, dan harapan-harapan yang merupakan kesiapan psikis manusia sebagai indikator bahwa manusia diciptakan untuk kehidupan yang lebih luas, abadi dan kekal. Ini semakin diperkuat dengan kondisi manusia yang hidup di dunia ini bahkan merasa terasing akan kefanaan alam ini. Laksana buluh perindu (nay) yang membuat wanita maupun pria sedih dan merasa kehilangan, serta senantiasa mencari separuh hatinya yang patah akibat perpisahan. Allah Swt menegaskan dalam firmannya berkaitan dengan kehidupan yang dijanjikan setelah kematian:
“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia dan bahwa sesungguhnya kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 115)
Andaikata kehidupan dunia berakhir begitu saja setelah terjadi kematian, maka hal demikian bagaikan janin yang seluruh organnya telah disempurnakan di dalam Rahim, namun kemudian binasa juga di dalamnya. Jika demikian, tentunya, akan tampak sia-sia seluruh fase penyempurnaan pembentukan organ yang telah terjadi tersebut.
Dalam hubungannya dengan dunia, kematian diumpamakan sebagai kelahiran bayi ke dunia dimana fase penyempurnaan organ yang telah dilakukan di dalam rahim dapat terfungsikan dengan baik di dunia yang baru. Yakni, manusia yang telah mengalami kematian bagaikan lahir kembali ke dalam alam yang baru dimana sebelumnya di alam dunia ia sudah melewati masa-masa penyempurnaan dirinya dengan berbagai amal perbuatan baik serta kematangan spiritual sebagai bekal menyambut kehidupannya di alam setelah kematian. Jika kita kaitkan kembali bayi dalam kaitannya dengan Rahim, maka kelahiran bayi di dalamnya adalah kematian, dalam arti meninggalkan dunia Rahim tersebut. Dan kelahirannya di dunia lah yang disebut dengan kelahiran.
2. Analogi Lainnya : Dunia adalah Sekolah Manusia
Allamah Thabathaba’I juga Dunia ini juga menggambarkan dunia ini ibarat sekolah dan tempat pendidikan yang terdiri dari fase persiapan, pelatihan, dan penyempurnaan manusia. Hal ini jelas dalam firman-Nya,
“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]:2)
Dalam Nahj al-Balagah dikisahkan bahwa ada seorang lelaki datang menemui Imam Ali a.s. Lelaki itu mulai mencela dunia, karena telah memperdaya manusia, merusak, menipu dan berbuat jahat kepadanya. Tampaknya lelaki itu telah mendengar sejumlah pemuka agama yang mencela dunia, lalu ia mengira bahwa yang mereka cela adalah realitas alam ini – dan menganggap bahwa secara inheren alam ini jahat. Akan tetapi lelaki lalai tersebut tidak tahu bahwa yang sebenarnya tercela dan jahat adalah “cinta dunia”. Pandangannya sempit dan rendah terhadap wujud, sehingga bertentangan dengan (ketinggian derajat) manusia dan kebahagiaannya.
Kemudian Imam Ali as menjawab, “ Sesungguhnya engkaulah yang tertipu oleh dunia ini, padahal dunia tidak menipumu. Engkaulah yang menganiaya dunia, bukan dunia yang menganiayamu,” sampai beliau pun berkata, “Dunia akan jujur pada siapa saja yang memperlakukannya dengan jujur; ia adalah sarana kesembuhan bagi yang mengetahui hakikatnya. Dunia adalah tempat ibadah para kekasih Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan pusat berniaga para wali Allah.”

3. Akar-akar Persoalan
Asumsi-asumsi manusia yang memandang hidup sebagai kesia-siaan sesungguhnya berasal dari sikap mereka yang mengharapkan keabadian, meskipun mereka sendiri memandang dan mengetahui bahwa hal demikian mustahil terjadi adanya. Adapun harapan-harapan itu sendiri muncul sebagai hasil dari konseptualisasi keabadian, kekekalan, keindahan serta berbagai daya tariknya yang mendesak diri kita untuk hidup abadi dan dianugerahi karunia secara terus menerus. Tak diragukan lagi, pandangan-pandangan demikian adalah pandangan kaum materialis yang merupakan berdampak kontradiksi antara naluri bawaan dan doktrin-doktrin rancu yang diterima oleh seseorang.
Memang pada hakikatnya bathin manusia sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dalam dirinya terdapat harapan abadi sebagai sarana untuk meraih kesempurnaan yang sanggup dicapainya. Namun apabila kita memandang kematian sebagai kebinasaan yang berujung pada non–eksistensi, maka akan menjadi suatu kontradiksi bagi eksistensi kita sendiri dimana kata hati kita merindukan sesuatu yang sebaliknya, yakni kehidupan yang berlanjut setelah adanya kematian.
Oleh karena itu, bagi orang-orang yang menganggap dunia ini sebagai sekolah, maka mereka tidak akan berkata, “Sebaiknya kita tidak dilahirkan ke dunia ini sama sekali, atau kalau sudah lahir, kita tidak boleh mati.” Dengan mengatakan ini, maka sama saja kita mengatakan, “ Sebaiknya jangan kirimkan anak ke sekolah sama sekali, atau kalau sudah mengirimkannya ke sekolah, maka syaratnya dia harus tinggal selamanya di sana.”
4. Kematian adalah Perluasan Kehidupan
Refleksi yang mesti kita lakukan lebih jauh lagi adalah bahwa kematian itu bukan merupakan stagnasi, ataupun merupakan akhir dari kehidupan yang sesungguhnya. Karena sebenarnya, kehidupan itu sebagian mempersiapkan kehidupan yang lain. Dengan mengamati alam semesta ini, sebagaimana materi, alam raya ini terus menerus merentang secara ruang dan waktu. Akan tetapi rentangan dimensi waktu dalam eksistensi ini jauh lebih besar daripada rentangan dimensi ruang.
Materi alam, melalui proses alami dan gerakan trans-substansialnya (harakah jawhariyyah), akan memunculkan mutiara-mutiara yang bercabang dari ruh-ruh imaterial. Ruh membebaskan diri dari materi dan pindah ke kehidupan yang lebih sublim dan lebih kuat. Materi akan diisi oleh ruh lain untuk pematangan. Di dalam tatanan seperti ini, yang ada hanyalah penyempurnaan dan perluasan kehidupan. Dan perluasan dan perentangan ini terjadi melalui perpindahan, transmutasi dan transubstansi. Artinya, ruh yang sudah terlepas dari jasad akan berpindah kepada kehidupan yang lebih mulia lagi, dan materi-materi yang sudah terlepas dari ruh tadi akan terisi lagi oleh ruh lain untuk menjalankan kehidupan yang baru. Sehingga proses penciptaan pun tetap berlangsung di samping terjadinya kematian. Dan siklus kehidupan tetap berlanjut.
Akan tetapi bagi kaum yang tidak punya pandangan demikian, khususnya orang-orang materialistis, akam merasa selalu gusar dalam menghadapi kematian, karena kematian bagi mereka adalah ketiadaan atau kebinasaan. Ada perasaan takut yang menyergap mereka akibat keterikatan mereka dengan dunia, tepatnya karena ‘cinta dunia’ itu sendiri.
Berbeda hal nya dengan orang-orang yang mengetahui hakikat mutiara yang ada dalam tubuh manusia. Karena bagi mereka, pengalaman keluar dari tubuh adalah merupakan perkara yang mudah. Sebagaimana yang dialami dan dikatakan oleh Mir Damad dan Suhrawardi. Orang-orang ini adalah termasuk kaum arif yang sudah mengetahui akan makrifat hakiki.
Dalam sebuah hadits, Muhammad bin Ali al-Baqir a.s. pernah ditanya: “ Apakah kematian itu?” Beliau menjawab: “ Ia adalah tidur yang kalian alami setiap malam. Hanya saja yang ini waktunya berlangsung lama. (Orang yang tidur semacam ini) baru akan terbangun di Hari Kiamat. Sewaktu tidur ada orang yang bermimpi mengalami kenikmatan yang tak dapat dibayangkan, ada pula yang bermimpi merasakan ketakutan yang luar biasa. Keadaan senang dan cemas yang kalian alami dalam tidur itulah perumpamaan (keadaan-keadaan yang kalian alami) dalam kematian. Maka bersiap-siaplah kalian untuk menghadapinya.”
Hadits ini memiliki pengertian yang sama sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]:42: “Allah yang menggenggam nyawa ketika kematiannya dan nyawa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”
Sumber: Thabathaba’i, Allamah Sayyid Muhammad Husein. Kehidupan Setelah Mati. 2013. Jakarta: Penerbit Mizan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s