COMPARISON AMONG 4 FIGURES OF DIFFERENT SCHOOLS OF JUSTIFICATION (Perbandingan Teori Pengetahuan antara John Locke, J. G. Fitche, C. S. Peirce, dan Bertrand Russell)

Fithri Dzakiyyah Hafizah

0.0. Abstrak
Pengetahuan diartikan sebagai Justifed True Belief. Dalam arti bahwa syarat sesuatu dapat disebut sebagai pengetahuan adalah ketika ia memiliki 3 elemen: yakni Belief (percaya/keterikatan), Truth (kebenaran) dan Justification (justifikasi). Inilah sebuah teori yang juga digagas oleh Plato dalam menawarkan definisi dari pengetahuan. Teori ini pula yang kemudian dijadikan sebagai pendekatan kontemporer (Contemporary Approach) epistemologi filsafat Barat dengan tujuan untuk mengetahui hakikat pengetahuan (The Nature of Knowledge). Pengertian ini disebut pula sebagai analisis pengetahuan dalam terma lain. Tak adanya salah satu dari 3 elemen tersebut, maka tidak bisa disebut sebagai pengetahuan. Namun, dalam menjustifikasi suatu kepercayaan (belief) atau suatu proposisi untuk kemudian dapat dianggap sebagai pengetahuan nyatanya dilakukan oleh para filosof Barat dengan landasan epistemologis yang berbeda. Beberapa aliran utama (main stream) filsafat Barat diantaranya adalah empirisime, idealisme, pragmatisme dan realisme, khususnya akan penulis paparkan dari masing-masing tokohnya (John Locke, J. G. Fitche, C. S. Peirce, dan Bertrand Russell) dalam paper yang singkat ini tentang bagaimana mereka menjustifikasi suatu proposisi sehingga proposisi tersebut layak untuk disebut sebagai pengetahuan.
Kata Kunci: Pengetahuan, Ide, Justifikasi, Belief, Kebenaran, Proposisi, Idealisme, Realisme, Empirisme, Pragmatisme.
1.0. Apa yang dimaksud dengan Justifikasi? (What is Justification?)
Sebelum membahas mengenai pandangan 4 tokoh dari mazhab justufikasi yang berbeda, sebelumnya perlu dipaparkan terlebih dahulu secara singkat mengenai apa itu pengetahuan dan justifikasi. Apa sebenarnya yang disebut dengan pengetahuan? Inilah pertanyaan dan persoalan yang pertama kali muncul dalam benak kita ketika kita mempelajari epistemologi. Kapan sesuatu itu dapat disebut sebagai pengetahuan? Bagaimana sesuatu bisa disebut sebagai pengetahuan? Dalam mengatasi problema ini, Plato menawarkan gagasannya mengenai True Justified Belief, dimana sesuatu dapat dikatakan sebagai pengetahuan ketika ia mengandung kepercayaan (Belief), kebenaran (Truth), dan justifikasi (Justification). Jika salah satu saja dari elemen ini tidak ada, maka sesuatu tersebut tidak akan bisa disebut sebagai pengetahuan. Misalnya saja kita mempercayai akan adanya mimpi yang nyata (True Dream). Jika mimpi yang nyata ini tidak kita justifikasi (The True Dream Not Justified), maka ia tidak bisa disebut dengan pengetahuan (Knowledge), meskipun banyak orang yang juga mempercayai tentang mimpi yang nyata tersebut.
Persoalan mengenai True Justified Belief bisa juga kita sebut dengan filsafat analisis dalam rangka menjustifikasi proposisi-proposisi. Sebagaimana contoh mengenai keyakinan akan adanya mimpi yang nyata (True Dream). Keyakinan akan mimpi yang nyata itu benar adanya, namun selama ia belum dijustifikasi, maka ia bukan pengetahuan. Oleh karena itu, suatu keyakinan tidaklah cukup sekedar benar (Merely True Belief is not enough), akan tetapi juga harus terjustifikasi (Justified).
Namun apa yang seharusnya dijustifikasi? Apakah Truth? Atau Belief? Kita contohkan persoalan ini dalam suatu proposisi. Misalnya, Mawar itu merah (The Rose is Red). Jika kita analisa proposisi tersebut, maka kita akan menemukan dua kata, yaitu Mawar dan Merah. Sedangkan ‘itu’ dalam proposisi tersebut berfungsi sebagai kopula. Di sini dapat kita lihat bahwa mawar (the rose is one thing) adalah sesuatu dan kemerahan adalah sesuatu yang lain (redness is another thing). Akan tetapi kedua kata tersebut menyatu dalam satu proposisi “Mawar itu merah”, dimana mawar sebagai subjek dan merah sebagai predikat. Nah, dalam hal ini justifikasi lah yang bertugas dalam membenarkan/memperjelas relasi antara subjek dan predikat. Ia mencoba membuktikan bagaimana predikat kemerahan dapat dipredikatkan pada mawar sebagai subjek. Ketika kita menemukan jawabannya, baik antara keduanya itu ada relasi atau tidak, atau mengapa dan bagaimana subjek berelasi dengan predikat, maka ini kah arti/makna dari justifikasi itu sendiri. Dan ketika relasinya dapat dibuktikan, maka belief atau proposisi dapat dibuktikan. Namun jika tidak, maka proposisi tersebut tidak terjustifikasi.
Akan tetapi, dalam rangka membuktikan proposisi di atas, ternyata para filosof memiliki pandangan yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa pengujian melalaui pengalaman empiris adalah benar, dan itulah pengetahuan. salah satu tokoh empirisme adalah John Locke. Namun ternyata empirisme tampak membatasi proposisi hanya dalam lingkup empiris saja. Sehingga dalam menilai proposisi muncullah pemikiran lain yang mengatakan bahwa dengan membiarkan objek di luar diri kita menetapkan pengetahuan dalam kesadaran kita tampak lebih berkarakter determinis. Oleh karenanya daya inteligensi kita lah yang justru menciptakan kenyataan di luar. Sesuatu itu benar karena saya meyakininya benar. Dan inilah yang merupakan pengetahuan. Pemikiran ini disebut dengan Idealisme, salah satu tokohnya adalah Fitche. Tokoh lainnya mengatakan bahwa suatu proposisi dikatakan benar ketika kita mempraktekkan proposisi tersebut (through practical effects) dalam menguji validitasnya. Jika melalui praktek tersebut muncul efek terhadap indera kita, maka berarti ia benar, ia ada, dan merupakan pengetahuan. Paham tersebut disebut dengan pragmatisme dan salah satu tokohnya adalah C. S. Pierce. Ternyata pergumulan pemikiran mengenai teori pengetahuan tidak hanya berhenti sampai di situ. Nyatanya, idealisme pun di kritik oleh realisme yang salah satu tokohnya adalah Russell, dimana menurutnya, objek di realitas eksternal justru harus ada untuk menjelaskan kemampuan berpikir kita terhadap hal-hal yang tidak eksis pada kenyataan (things which do not exist in fact), sehingga kita memperoleh pengetahuan darinya.
2.0. Bapak Empirisme, John Locke (1632-1704)
“When he first has any sensation, a man begins to have any ideas”
(Locke, Bk. 2:1::23)
John Locke adalah seorang pionir aliran filsafat empirisme modern. Empirisme adalah paham yang mengajarkan bahwa pengetahuan yang kita miliki diperoleh dari pengalaman, khususnya pengalaman indera. Dalam Riwayat hidupnya, Locke dilahirkan pada tanggal 29 Agustus 1632 di Wrington, kemudian ia berprofesi sebagai dosen filsafat di Oxford pada tahun 1652. Pada tahun 1689 ia menerbitkan karyanya yang berjudul Epistola de tolerantia, dan An Essay Concerning Human Understanding. Tahun 1960 kemudian ia kembali menerbitkan karyanya yang berjudul The Second Treatise of Government. Dan filososf ini kemudian menutup usianya pada tanggal 28 Oktober 1704 di Oates/Essex.
The way of Ideas merupakan fokus pemikiran Locke yang berkaitan dengan epistemologi, tepatnya mengenai teori pengetahuan. John Locke berpandangan bahwa segala pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Mengapa? Locke menolak akal sebagai sumber pengetahuan karena akal menurutnya adalah pasif pada saat pengetahuan itu didapatkan. Locke menganalogikan akal seperti kertas kosong yang menerima berbagai tulisan dari pengalaman. Pemikirannya ini juga merupakan respon dan penolakannya terhadap rasionalisme Descartes yang mengatakan bahwa pengetahuan kita tentang dunia luar ditentukan oleh kebenaran-kebenaran yang sudah melekat dalam pikiran subjek. Inilah yang disebut Descartes sebagai innate ideas, dan ini pula yang ditolak oleh Locke. Namun istilah ‘ide’, meminjam dari Descartes, tetap digunakan oleh Locke dalam menjelaskan pemikirannya. Ide dalam pengertian Locke merupakan gambaran dari seluruh objek-objek pemahaman (All the objects of understanding are described as ideas).
Menurut Locke, ide-ide yang ada di benak kita sebagai objek pengetahuan itu timbul dari pengalaman. Adapun Locke membagi pengalaman menjadi dua macam, yakni pengalaman lahiriah (sensasi) dan pengalaman bathiniah (refleksi). Kedua pengalaman ini tidak bekerja masing-masing melainkan saling berhubungan satu sama lain dan menimbulkan ide-ide (gagasan-gagasan). Itu artinya pengalaman lahiriah (sensasi) menghasilkan kondisi-kondisi psikis (phsycological states) yang kemudian harus ditanggapi oleh pengalaman bathiniah (refleksi). Maka pada akhirnya, segala sesuatu yang berada di luar diri kita menimbulkan ide-ide pengalaman lahiriah di dalam diri kita.
Gagasannya mengenai ide ini kemudian dibagi lagi ke dalam dua bagian, yakni:
• Ide tunggal (Simple Ideas) yakni ide yang langsung datang dari pengalaman tanpa pengolahan logis (which we get from sensation).
• Ide majemuk (Complex Ideas) yakni percampuran dari ide-ide tunggal (arise from simple ideas by the processes of combination and abstraction carried out by the mind).
Dan dari sinilah, menurut Locke, tugas roh manusia yang terbatas adalah dengan memberi sebutan pada ide-ide tunggal, kemudian menggabung-gabungkannya, merangkumnya, dan menjadikannya bersifat umum. Dan oleh karenanya, maka ragam pengetahuan pun timbul. Inilah teori pengetahuan Locke yang sekarang kita sebut sebagai psikologi.
Pada kesimpulannya, Locke menyatakan bahwa asal mula seluruh pengetahuan itu ditemukan dalam dunia partikular, dalam sesuatu yang simpel dan tak tercampur. Ia pernah berkata, “If any one asks me, what this solidity is, I sent him to the senses to inform him. Let him put a flint of a football between his hands, and then endeavor to join them, and he will know” (Bk. 2:4:4). Ia menyatakan bahwa jika ada seseorang bertanya pada saya, apakah kepadatan ini? Maka saya akan membawanya pada penginderaan untuk memberitahunya. Akan saya biarkan ia meletakkan batu di antara tangannya, dan membiarkannya merasakannya, maka kemudian ia akan mengetahuinya. Karena ide bagi Locke merupakan cara reaksi subjektifku terhadap pengaruh dari benda-benda yang menimpaku. Mereka adalah gambaran dalam kesadaranku mengenai benda-benda material di luar diriku. Mereka adalah tiruan mental dari benda-benda material tersebut. Dan ide-ide yang mewakili apa yang terdapat pada benda-benda material itu sendiri disebut dengan ide-ide mengenai kualitas primer , sebagaimana contoh yang telah disebutkan, yakni misalnya ide soliditas (kepadatan) pada batu.
Locke pada akhirnya mendefinisikan hakikat dan jangkauan pengetahuan yang tidak lain sebagai persepsi dari hubungan dan persesuaian, atau persesuaian dan ketidaksesuaian, dari ide kita mengenai apapun.
3. 0. Johan Gottlieb Fitche (1762-1814), A Founder of Idealism (19th Century)
“Proposition I thought could never be overtuned have been overtuned for me. Things have been proven to me which I thought could never be proven—e.g.. the concept of absolute freedom, the concept of duty, etc.—I feel all the happier for it…”
-Fitche (III, 1:167)
Idealisme yang sangat bercirikan filsafat abad ke-19 dimulai ketika Fitche menemukan kesalahan dalam pandangan Kantian tentang realitas sebagaimana dirinya (Das Sing an Sich) yang di luar dari jangkauan pengetahuan kita. Kemudian ia juga menentang teori mengenai persepsi pada dasar yang serupa. Namun sebelum itu, ada baiknya kita mengetahui riwayat singkat kehidupan Fitche.
Johan Gottlieb Fitche dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1762 di Rammenau/Lausitz. Pada tahun 1780 ia belajar teologi protestan di Jena. Di tahun 1794 ia diangkat sebagai profesor filsafat di Jena yang kemudian mempublikasikan karyanya yang berjudul Wissenschaftlehre. Pada tahun 1805 ia mengajar di Erlangen, dan karirnya menanjak sebagai Dekan Universitas Berlin tahun 1809, kemudian menjadi rektor universitas Berlin di tahun berikutnya (1810), dan akhirnya menutup usia pada tanggal 29 Januari 1814 di Berlin.
Problem utama yang dikemukakan oleh Fitche adalah mengenai bagaimana kita dapat mungkin untuk membedakan antara pengalaman-pengalaman yang murni subjektif, dan pengalaman-pengalaman yang benar-benar objektif. Persoalannya adalah bagaimana kita bisa membedakan antara apa yang dikontribusikan oleh pikiran dan apa yang bukan oleh pikiran, antara diri dan bukan diri, sebagaimana yang dimaksud oleh Fitche. Akan tetapi, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai latar belakang filsafat idealisme Jerman yang salah satunya sudah disebutkan yakni sebagai kritik dari filsafat Kantian mengenai Das Ding an Sich. Latar belakang idealisme Jerman lainnya adalah teologis yakni sebagai rasionalisasi dari teologi Kristen, sementara latar belakang historisnya berasal dari pergerakan Romantisis dan Revolusi Prancis.
Menurut Fitche, kehidupan empiris kita, adalah bagaikan sebuah perjalanan di Venice, yang merupakan sebuah presentasi (Vorstellung) yang disertai dengan indra yang niscaya. Akan tetapi imajinasi kita yang bebas, adalah bagaikan sebuah perjalanan di Mars atau galaksi lain, yang merupakan representasi yang disertai oleh indra kebebasan. Faktor yang membuat Fitche tertarik pada Idealisme adalah karena idealisme mampu mendamaikan kebebasan manusia dan kebutuhan alamiah, perasaan moral dan penilaian rasional, “perasaan” dan “pemikiran”.
Dalam karyanya Wissenschaftslehre (Theory of Science), Fichte merumuskan idealismenya bahwa filsafat itu harus bersifat saintifik. Maksud dari saintifik di sini adalah bahwa filsafat harus koheren (dengan deduksi logis) dan sistematis. Filsafat juga harus bersifat tepat seperti matematika.
Adapun Idealisme Fitche adalah juga merupakan kritiknya terhadap Kant. Sebagaimana ungkapan presentasi dari indra niscaya dan indra kebebasan yang sudah sempat disinggung pada beberapa paragraf sebelumnya. Maka, Fichte berpandangan bahwa realitas yang ada di luar dari benak kita adalah hanya sekedar presentasi kita. Gagasan ini ia dapatkan sebagai kritik terhadap Kant. Fitche menghapuskan “das Ding an sich” dan memandang realitas sebagai Subjek atau Ego (seperti Cogito cartesian dalam ‘ukuran’ absolut). Ia menamakan realitas (Being) sebagai ‘pure ego’ (absolutes Ich). Menurut Fitche, realitas dapat dilihat sebagai tiga momen dari pure ego:
• Momen pertama adalah pure ego itu sendiri. Yaitu realitas yang belum menyadari akan dirinya sendiri (the reality that has not been conscious of itself).
• Momen kedua adalah pure ego yang membedakan dirinya pada dua aspek, yakni ego dan non ego. Masing-masing dari keduanya tersebut masih absolut.
• Momen ketiga: ego dan no ego membatasi diri mereka dan menjadi ego yang terbatas juga non ego yang terbatas.
Lantas, apakah yang dimaksud Fitche dengan objek-objek empiris dan konkret misalnya pohon atau meja yang ada di hadapan kita? Dalam menjawab ini, Fitche mengatakan bahwa pohon dibatasi oleh no-ego yang terbatas (limited non-ego), sementara kesadaran kita (sebagai subjek) mengenai objek itu disebut dengan ego yang terbatas (limited ego). Maka, yang dimaksud dengan pure ego menurut Fitche adalah merupakan hasil dari kebermunduran yang tak terbatas (infinite regression) dari kesadaran kita sebagai sebuah refleksi di atas refleksi (reflection on reflection). Adapun pandangan idealisme ini kurang lebih dipengaruhi oleh pandangan yang meyakini bahwa penilaian dunia empiris itu memiliki level kebenaran yang sangat rendah, karena biasanya membawa paradoks dan kontradiksi. Oleh karenanya menurut idealisme, dunia terindra adalah penampakan semata (sensible world only apparence), dan realitas pastinya adalah sesuatu yang lain.
4. 0. Charles Sanders Pierce (1839-1914), Pioneer of Pragmatisme
“We must look to the upshot of our concepts in order rightly to apprehend them”
(CP 5.4)
Kita seringkali mengenal bahwa William James adalah bapak dari pragmatisme. Akan tetapi, yang sebenarnya menjadi sumber original dari pandangan pragmatis adalah C.S. Pierce. Pierce memasuki wilayah filsafat sebagai seorang ahli matematika dan ilmuwan. Adapun kontribusi terbesar Pierce terletak pada teorinya mengenai tanda-tanda dan makna. Secara umumnya, Peirce berpandangan bahwa konsepsi kita mengenai segala sesuatu ditentukan oleh konsepsi kita mengenai tindakan-tindakan praktis dari konsep tersebut. Jadi, kunci dari kebermaknaan suatu konsep adalah terletak pada kegunaan praktis dari konsep tersebut.
Charles Sanders Pierce adalah seorang penemu pragmatisme yang berpandangan bahwa teori-teori kita harus dihubungkan dengan pengalaman atau praktek. Barangkali pada masa sekarang ia masyhur (dikenal) dengan teorinya mengenai kebenaran dan semiotika serta pengaruhnya terhadap William James dan John Dewey.
Peirce meyakini bahwa pasti ada suatu hubungan (koneksi) antara pemahaman akan suatu konsep dan mengetahui apa yang diharapkan (There is connection between understanding of a concept and to know what we expect) jika pada kalimat-kalimatnya itu mengandung konsep benar atau salah. Jika sebuah konsep tidak memiliki konsekuensi yang demikian, maka konsep tersebut akan kekurangan sebuah dimensi penting yang mesti kita benarkan supaya bisa memahami konsep tersebut sepenuhnya. Hal ini diperjelas Peirce dalam maxim pragmatisnya, yaitu bahwa maxim pragmatisme berfungsi sebagai sebuah standar penentu akan ekspresi mana yang ternyata kosong tak bermakna (empty expression), dan juga sebagai sebuah prinsip metodologis dalam memformulasikan teori-teori kebenaran filosofis, realitas dan lain sebagainya.
Dalam papernya, “How to make our ideas clear”, Peirce mengajukan bahwa ciri mengetahui itu adalah ditandai dengan adanya efek-efek “praktis” yang mana ia cirikan sebagai “efek”, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap penginderaan kita. Sebagai contohnya, Peirce menguji makna dari sebuah proposisi “Berlian ini Keras” (This diamond is hard). Peirce membuktikan proposisi ini dengan melakukan praktek secara langsung, yaitu jika kita mendapatkan bahwa berlian itu tidak dapat kita regangkan atau kita panjangkan, maka kita akan temukan bahwa “Berlian tersebut tidak akan bisa diregangkan atau dipanjangkan oleh substansi-substansi yang lainnya”.
Efek-efek praktis yang menjadi perhatian pragmatisme adalah efek-efek yang akan terjadi pada kondisi-kondisi yang pasti, bukan efek-efek yang sebenarnya akan terjadi. Pandangan Peirce mengenai berlian yang tidak dapat diregangkan atau dipanjangkan adalah bahwa ‘hal tersebut memang merupakan fakta yang nyata bahwa berlian itu akan tahan tekanan’(CP 8. 208). Maka dari contoh ini kita dapat menarik jalur pemikiran Peirce pada konsep kebenarannya yakni melalui keyakinan (belief), penyelidikan (inquiry), dan pertimbangan (deliberation): Praktek dihubungkan dengan kebenaran (truth) dan pencarian kebenaran. Peirce mengajukan bahwa kita harus memperhatikan diri kita dengan proposisi-proposisi yang telah kita ekspresikan (expressed), kita afirmasi (affirmed), atau kita yakini (believed), dan juga proposisi-proposisi yang akan kita ekspresikan, kita afirmasi dan kita yakini. Dengan membuat fokus ini, maka kita akan mengetahui sesuatu sebagaimana adanya yang sesuai dengan tujuan kita yakni “Kebenaran” (Truth). Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa kebenaran tersebut adalah merupakan gagasan epistemologis. Melainkan lebih pada pencontohan (simplifikasi) satu cara, untuk menemukan sesuatu tentang kebenaran, yakni sebuah cara yang dilakukan melalui praktek-praktek epistemologis kita, seperti dari kegiatan mempercayai, menyelidiki, dan mempertimbangkan.
5. 0. Bertrand Russell (born 1872)
“Every proposition which we can understand must be composed wholly of constituents with which we are acquainted.”
-Russell (in Problem of Philosophy)-
Peristiwa utama pada masa peralihan abad adalah peralihan dari Idealisme ke realisme. Khususnya pada abad keduapuluh, Russell menjadi salah satu tokoh realis terpenting yang patut untuk dibahas.
Russell lahir pada tahun 1872. Selama tahun 1900 ia tertarik pada Meinong yang realismenya tampak mengkonfirmasi Moore dalam garis pemikiran Russell. Ia mulai memikirkan supposisi Meinong bahwa “There had to exist objects to explain our ability to think of things which do not exist in fact, such as round, squares, showed, as he put it, an insufficiently robust sense of reality” yang tepatnya mengatakan bahwa pastilah ada objek-objek yang eksis untuk menjelaskan kemampuan kita berpikir akan hal-hal yang justru tidak eksis dalam kenyataan, contohnya bulat, persegi, yang tampak sebagai sebuah pengertian realitas yang tidak cukup memadai.
Russell pada mulanya adalah seorang idealis. Akan tetapi kemudian ia berubah menjadi seorang realis karena terpengarus oleh Moore. Moore menyatakan bahwa “Kesadaran adalah, dan harus, sedemikian rupa, sehingga objeknya bila kita sadari, sama seperti adanya dengan bila tidak kita persepsi”. Inilah yang disepakati oleh Russell dengan mengatakan bahwa data inderawi yang kita persepsi berada persis sama seperti kalau kita tidak mempersepsikannya. Russell menggunakan kata ‘sensibilia’ untuk memaksudkan data indrawi yang tidak dipersepsi.
Teori pengetahuannya terletak pada perbedaan antara pengetahuan dengan pengenalan (knowledge by acquaintance) dan pengetahuan dengan deskripsi (knowledge by description). Menurut Russell, pengetahuan tentang benda, bila berkaitan dengan jenis yang kita sebut dengan pengenalan, secara esensial lebih sederhana dari pengetahuan mengenai kebenaran, dan secara logis tidak bergantung pada pengetahuan tentang kebenaran. Sebaliknya, pengetahuan tentang benda melalui deskripsi selalu melibatkan pengetahuan tentang kebenaran sebagai sumber dan dasarnya.
Seluruh pengetahuan yang kita miliki, baik ia pengetahuan tentang benda atau tentang kebenaran, akan selalu berlandaskan pada pengenalan. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan benda macam apa yang kita kenal itu. Dalam hal ini, Russell mengatakan bahwa data indra termasuk di antara hal-hal yang kita kenal. Data indra (sense-data) tersebut memberikan contoh yang paling nyata tentang pengetahuan melalui pengenalan.
Lebih jauh lagi, penjelasan mengenai pengetahuan melalui pengenalan dan pengetahuan melalui deskripsi sebagai perhatian Russell dalam menjustifikasi klaim pengetahuan adalah sebagai berikut:
• Seluruh pengetahuan itu ditemukan pada pengetahuan melalui pengenalan, karena dalam pengetahuan melalui pengenalan, kekeliruan itu mustahil ditemukan. Contohnya adalah data indra (sense data), ingatan (memory data), introspeksi/kesadaran diri (the self), dan universalia-universalia (universals).
• Sementara itu pengetahuan mengenai objek-objek fisik hanya ditemukan dengan pengetahuan melalui deskripsi. Dan pada pengetahuan ini, kekeliruan (error) mungkin saja terjadi.
• Russell menyatakan bahwa “Setiap proposisi yang dapat kita pahami harus sepenuhnya tersusun dari komponen-komponen yang sudah kita kenali”. Dan hal ini hanya akan mungkin terjadi hanya jika apapun yang kita punya pada pengetahuan melalui deskripsi dapat direduksi pada hal-hal yang kita miliki pada pengetahuan melalui pengenalan. Misalnya: objek-objek fisik harus direduksi menjadi data indra.
• Melalui adanya reduksi objek-objek fisik kepada data indra, maka pengetahuan mengenai objek fisik terlindungi, dan inilah yang selalu menjadi poin utama program Russell.
Pada kesimpulannya, prinsip fundamental Russell adalah bahwa segala pengetahuan kita atau proposisi-proposisi yang kita mengerti, pasti secara keseluruhan terdiri dari komponen-komponen yang sudah kita kenali (ketahui). Kalau begitu, nilai pengetahuan dari deskripsi itu apa? Meskipun seluruh pengetahuan kita dan kita dapat mengetahui kebenaran secara keseluruhan hanya dengan melalui pengetahuan melalui pengenalan, namun pengetahuan melalui deksripsi dapat menjadikan kita mampu melampaui batas –batas pengalaman pribadi sendiri. Dalam arti, kita masih bisa memiliki pengetahuan melalui deskripsi mengenai segala hal yang tidak pernah kita alami.
6. 0. Perbandingan antara 4 tokoh dari masing-masing mazhab Justifikasi
Adapun perbandingan antara keempat tokoh yang sudah disinggung di atas dapat dijelaskan dalam tabel berikut:
4 Tokoh Pengetahuan yang benar Main Stream Sumber Pengetahuan
John Locke Ide-ide dari sensasi Empirisme Persepsi, Pengalaman (Sensasional maupun lahiriah) sebagai sumber ide-ide dalam benak.
J. G. Fitche Realitas sebagai Subjek atau Ego Idealisme Menolak teori Persepsi, melainkan kesadaran lah yang menentukan realitas (Pure ego)
C. S. Pierce Proposisi yang memiliki efek praktis Pragmatisme Tindakan praktis yang berefek langsung atau tidak langsung pada indra.
Bertrand Russell Proposisi-proposisi yang dipahami dari pengetahuan melalui pengenalan (Knowledge by Acquaintance) Realisme Objek-objek eksternal (yang independen dari kesadarn subjek) yang menjadi penjelas daya pikir kita mengenai objek-objek yang tidak eksis dalam kenyataan.

Locke sebagai seorang empiris menganggap bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman yang secara langsung memberikan ide-ide dalam benak yang pada mulanya disebut oleh Russell sebagai kertas kosong (Tabula rasa). Konsepnya mengenai tabula rasa ini menolak konsep Cartesian mengenai ide-ide bawaan (innate ideas). Dan bahwa proposisi atau ide mengenai sesuatu itu dikatakan benar ketika bersesuaian dengan pengalaman sensasi kita. Adapun Fitche di sini selain sebagai pengkritik Kantian juga sebagai yang mengkritik konsep persepsi. Menurutnya, dengan membiarkan objek eksternal sebagai yang memberi atau menentukan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam diri kita hanya akan membuat subjek penahu menjadi determinis. Dan Fitche menolak ini. Oleh karenanya Fitche memilih idealisme, dimana subjek memiliki fungsi sebagai penentu pengetahuan dan realitas yang disaksikannya, lalu kemudian ia memformulasikan konsep ‘pure ego’ yang memandang realitas sebagai ‘subjek’ atau ‘ego’. Pierce kemudian hadir sebagai seorang yang menyelidiki kebenaran melalui telaah proposisi-proposisi yang selama ini kita afirmasi dan kita ekspresikan serta kita yakini. Kebenaran pengetahuan bagi Pierce adalah ketika pengetahuan itu memberikan efek dalam aspek praktis. Telaah proposisi tidak cukup hanya menganalisanya secara semiotik, linguistik atau logis. Kebenaran dapat dipertimbangkan atau ditemukan hanya jika peoposisi yang kita yakini memberikan manfaat pada wilayah praktis, jika hal ini dapat dilakukan, maka inilah yang disebut sebagai “Truth” yang sesuai dengan tujuan kita. Russell kemudian mengatakan bahwa dengan pengetahuan yang kita miliki, atau ide-ide yang kita miliki dalam benak, pastilah berasal dari objek-objek eksternal yang keberadaannya independen dari kesadaran kita. Semua data-data indra yang kita miliki akan tetap ada persis pada objek-objek eksternal meskipun sedang tidak kita persepsi. Gagasan ini adalah sebagai oposisi atau reaksi terhadap idealisme yang menganggap dunia eksternal hanyalah penampakan dari subjek.
7. 0. Kesimpulan
Dari keempat tokoh yang sudah secara singkat dipaparkan di atas, maka kita dapat melihat bagaimana justifikasi mereka terhadap pengetahuan dengan menggunakan teori pengetahuan (theory of knowledge) yang berbeda-beda. Locke menjustifikasi klaim pengetahuan dengan “the way of ideas –nya dimana hanya dapat diperoleh melalui pengalaman sensasional (persepsi) dan tidak lebih dari itu. Fitche menjustifikasi klaim pengetahuan tentang realitas dengan konsepnya tentang ‘pure ego’ as being. Kemudian Pierce melalui maxim pragmatism nya berupaya untuk memecahkan persoalan mengenai “How to make the ideas clear”, dan terakhir Russell yang menyatakan bahwa pengetahuan-pengetahuan kita yang bebas dari kesalahan secara fundamental hanya bisa didapatkan dari pengetahuan melalui pengenalan. Oleh karenanya, sebelumnya kita harus bisa membedakan mana yang pengetahuan melalui pengenalan (knowledge by Aqcuaintance) dan mana yang merupakan pengetahuan melalui deskripsi (knowledge by Description) yang rentan akan kesalahan. Oleh karenanya, agar data indra dapat tersimpan dan terbebas dari kesalahan, menurut Russell, maka pengetahuan melalui deskripsi harus direduksi pada data-data indra.
Bibliography
Gallagher, Kenneth T. Epistemologi Filsafat Pengetahuan. 1994. Yogyakarta: Kanisius.
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. 2004. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. 1980. Yogyakarta: Kanisius.
Misak, Cheryl. The Cambridge Companion to Pierce. 2004. UK: Cambridge University Press.
Ree, Jonathan (edit) et al.The Concise Encyclopedia of Western Philosophy. 2005. USA & Canada: Routledge.
Russell, Bertrand. Persoalan-persoalan seputar Filsafat (The Problems of Philosophy). 2002. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
Routledge History of Philosophy Volume VI, The Age of German Idealism. 2004. London: Routledge (Adobe eReader Format).
JohnLocke (InternetEncyclopediaofPhilosophy),http://www.utm.edu/research/iep/l/locke.htm (Adobe eReader Format).
Referensi Tambahan:
An Essay written by D. W. Hamlyn. History of Epistemology. (Word Document Format).
Ppt slides, presented by F. Budi Hardiman, Fitche and Schelling, Introduction to German Idealism in the lecture of modern philosophy.
Dictat of Epistemology, Note and Transcript of Epistemology Class. 2010, Not Published.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s