Ontologi dan Kosmologi Suhrawardi

Oleh: Fithri Dzakiyyah Hafizah

Tujuan dari filsafat tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari kebenaran dan menggalinya terus menerus. Hal ini tidak diragukan lagi mengingat betapa lestarinya pemikiran filsafat dari masa Yunani hingga sekarang di Barat maupun Timur. Di dunia Timur, utamanya Islam, dikenal cukup banyak filosof masyhur yang senantiasa mempelajari dan  mengembangkan pemikiran-pemikiran filsafat dengan kekritisan analisa mereka. Buktinya setelah Ibn Rusyd wafat, kajian filsafat Islam tidak menemui jalan buntu,  sebaliknya, filsafat Islam makin berkembang setelah wafatnya beliau yang dilanjutkan oleh filosof-filosof Islam yang fenomenal seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn-Sina, Suhrawardi dan sebagainya. Adapun Suhrawardi adalah salah satu tokoh filsafat yang akan dibahas dalam makalah ini. Ia merupakan salah satu filosof yang memberikan kritik tajam terhadap mazhab paripatetik, khususnya pada sisi epistemologi, ontologi dan kosmologi, meskipun pada awalnya ia terpengaruh oleh pemikiran para filosof dari mazhab tersebut. Kecenderungannya yang kuat dalam mencari kebenaran mengantarkannya untuk melahirkan suatu inovasi pemikiran baru yang dikenal dengan teosofi. Teosofi Suhrawardi[1] adalah modifikasi pemikiran baru antara latihan intelektual teoritik melalui falsafah dan pemurnian hati melalui tasawuf. Oleh karena itu filsafat Suhrawardi juga memiliki corak mistik. Adapun pemakalah di sini akan membahas sedikit banyak mengenai pemikiran Suhrawardi tentang ontologi dan kosmologinya.

  1. 1.      Kritik Suhrawardi atas Kaum Paripatetik

Pemikiran kaum Paripatetik, khususnya emanasi, tidak akan lepas dari asal-usul pemikirannya yang mengacu pada 3 filosof paling berpengaruh dalam pemikiran Filsafat Islam yaitu Aristoteles, Plato dan Plotinus. Persoalan utama filsafat yang dibahas di sini adalah bagaimana dari yang satu bisa muncul yang banyak? Dan dari yang banyak bisa ada kesatuan? Nah, perlu diketahui bahwa pada mulanya, ketiga filosof ini memiliki corak yang berbeda, bahwa Aristoteles bercorak rasionalis sedangkan Plato dan Plotinus bercorak ruhani/ mistis.

Pada dasarnya pembahasan ini dimulai dengan pengetahuan menurut Plato. Plato menganggap bahwa pluralitas itu hanya terjadi di dunia indra (Becoming) yang sebenarnya kesegala entitas yang ada di dunia indra itu hanyalah bayang-bayang yang berasal dari dunia ide yang mengandung seluruh arketip-arketip ideal, yang keseluruhan arketip ideal itu pun akhirnya terkandung pada 1 ide tunggal, yakni ide dari semua ide, ide kebaikan [Tuhan]. Sedangkan Aristoteles menolak teori ini, karena menurutnya Plato tidak memberikan penjelasan signifikan mengenai relasi antara dunia ide dan dunia indra, karena forma-forma ideal Plato ini nampak terputus dengan dunia indra sama sekali, sehingga tak ada yang menjembatani antara keduanya. Untuk itu Aristoteles menggagas teori hylemorphisme untuk menolak ide-ide Platonik ini dengan menggagas bahwa entitas itu terdiri dari forma (bentuk) dan materi (matter). Agar intelek kita mampu mendapatkan forma universal, maka menurut Aristoteles bisa dilakukan melalui abstraksi akal pada realitas-realitas partikular. Tentu saja abstraksi ini baru bisa dilakukan hanya dengan melalui pengalaman indera terlebih dahulu. Alhasil, Dunia Ide Plato, menurut Aristoteles, tidak bermanfaat. Hal ini bertentangan dengan teori Plato yang menganggap bahwa kita sudah lebih dahulu mengetahui bentuk-bentuk universal  melalui persepsi intelektual tanpa melibatkan aktivitas indrawi. Akan tetapi, jika pun Aristoteles menolak adanya dunia ide, maka darimanakah asal bentuk-bentuk universal yang ada di realitas indrawi yang partikular dan beragam?

Adapun upaya-upaya untuk mendamaikan antara kedua mazhab yang nampak bertentangan ini dilakukan oleh aliran Plotinus yang dikenal dengan Neo-Platonisme dengan mengharmoniskan antara konsep Ide dari segala Ide milik Plato, dan Penggerak Pertama yang tak tergerakkan (Unmoved First Mover) milik Aristoteles kedalam teori Emanasi. Menurut filosofi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan Tuhan, melainkan limpahan dari Tuhan (The One) melalui proses emanasi. Teori emanasi ini kemudian dikembangkan oleh filosof Islam salah satunya al-Farabi yang juga berupaya untuk mendamaikan antara pemikiran Plato dan pemikiran Aristoteles.[2]

Dalam menanggapi kedua mazhab yang pemikirannya terlihat berseberangan tersebut, suhrawardi mengkritik Aristoteles yang menolak untuk percaya akan dunia arketip-arketip atau ide-ide Platonik, yang juga terlihat menyingkirkan sesuatu dari realitas dalam tatanan wujud yang lebih tinggi. Demikian juga, Suhrawardi menolak definisi Aristoteles mengenai tempat-tempat dan lebih memilih sebuah konsep mengenai tempat yang lebih mirip pada konsepnya Plato.[3]

Selain itu, masalah yang amat penting dipahami dalam seluruh masalah filsafat abad pertengahan ialah masalah hubungan antara Ada dengan eksistensi di satu pihak, dan masalah bentuk pertama (arketip) dan batasan-batasannya di pihak lain. Filsafat Paripatetik dan kaum sufi beranggapan bahwa alam semesta ini terdiri dari tingkatan-tingkatan Ada dan ada batasan-batasan tertentu yang membedakan ada yang satu dengan ada yang lain. Menanggapi ini, penafsir di kalangan tokoh Isyraqiyyah menafsirkan hal ini dengan tidak mengganggu prinsip Ada, tapi lebih menganggap eksistensi itu berada di bawah arketip dan itulah eksistensi yang berada di bawah langit. Dengan kata lain, Isyraqiyyah berpendapat bahwa esensi (mahiyyah) berada di bawah Ada (wujud), bila kita menganggap Ada sebagai Ada; tetapi bila esensi itu dianggap sebagai arketip, maka ia berada di atas eksistensi yang khusus, ia merupakan “bentuk lahir” Ada.[4]

Suhrawardi bahkan memodifikasi pemikiran Aristoteles dengan menolak salah satu doktrin fundamental dan merupakan tulang punggung filsafat Alam Paripatetik yang dikenal dengan doktrin hylemorphisme. Sebagai gantinya, Suhrawardi menganggap bahwa Alam semesta itu terdiri dari tingkatan-tingkatan cahaya dan kegelapan. Kegelapan di sini diartikan sebagai ekspresi dari kurangnya cahaya.[5] Begitu pun persoalan mengenai tubuh, sejauh mereka dianggap sebagai aspek material, maka ia tidaklah lebih dari kegelapan ini, yang tidak membiarkan cahaya menembus dan melewatinya.  Sedangkan pembahasan mengenai bentuk menurut kaum Aristotelian, maka hal itu dapat teridentifikasi dengan malaikat-malaikat yang ‘mengawasi’ dan membimbing setiap sesuatu (benda), dan ia adalah cahaya yang ada dalam setiap tubuh yang mampu membuat tubuh itu menjadi ada (exist).[6]

Suhrawardi, Sang guru Ishraq ini pun membantah argumen-argumen kaum paripatetik tentang keabadian jiwa sebagai wujud yang lemah dan nyatanya malah mendekati pada pertanyaan mengenai kajian tentang jiwa dalam sudut pandang yang berbeda.  Sementara kaum Aristotelian disibukkan dengan mendefinisikan macam-macam fakultas jiwa, Suhrawardi pada dasarnya justru merasa tertarik pada pendemonstrasian bukti asal samawi (celestial) jiwa dan penderitaannya di dunia sekarang. Hal itu, dengan demikian mampu mencarikan suatu jalan agar jiwa mampu keluar dari penjara duniawinya atau ‘Pengasingan ke Barat, kemudian kembali lagi pada kediaman asalnya, yang disana ia sendiri dapat menemukan kebahagiaan  dan kedamaian.

  1. 2.      Ontologi Cahaya di atas cahaya

Suhrawardi meyakini bahwa seluruh realitas itu adalah cahaya yang memiliki level-level intensitas yang beragam. Cahaya ini tidak membutuhkan definisi , karena seseorang akan selalu berusaha untuk mendefinisikan sesuatu yang samar-samar melalui bukti-bukti, sementara tidak ada lagi yang lebih real dan  lebih jelas dibanding dengan cahaya itu sendiri, jadi tidak ada istilah apapun yang mampu mendefinisikan cahaya ini.[7] Karena, bagaimanapun, pada kenyataannya segala sesuatu itu tampak jelas melalui itu
(cahaya), dan oleh karena itu ia harus didefinisikan dengan merujuk kepadanya. Cahaya murni (Pure Light), yang dinamakan Suhrawardi sebagai Cahaya di atas cahaya (Nur al-Anwar), adalah esensi Tuhan yang cahayanya membutakan karena kebegitu benderangannya dan intensitasnya. Cahaya tertinggi ini merupakan sumber dari segala maujud, selama alam semesta dalam keseluruhan latar realitasnya hanyalah terdiri dari cahaya dan kegelapan. Suhrawardi mengatakan:

“  Esensi dari Cahaya pertama yang absolut, Tuhan, memberikan pancaran (Illumination) yang tetap, di mana cahaya itu termanifestasikan dan membawa segala sesuatu menjadi maujud (existence), yang juga memberikan kehidupan bagi mereka dengan cahaya-cahayanya. Segala sesuatu di dunia ini diturunkan dari cahaya esensi-Nya, begitu pula dengan kesempurnaan dan keindahan adalah hadiah atas karunia-Nya, dan mencapai pancaran ini secara total adalah penyelamatan (salvation).”

Mengikuti Paripatetik, Suhrawardi mengikuti argument Ibn Sina mengenai Wajib al-Wujud. Menurut Suhrawardi, Wajib al-Wujud itu mesti satu, karena Dia adalah Nur al-Anwar, Nur al-Mujarrad dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Selain tunggal (esa) dalam dzatnya, Wajib al-wujud juga esa dalam sifat-Nya. Artinya, Wajib al-Wujud tidak memiliki banyak sifat, sebab keragaman sifat yang melekat pada dzat-Nya menyebabkan penilaian logis yang menujukkan bahwa zat-Nya juga beragam, dan, menurut Suhrawardi, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip tauhid dalam Islam. Suhrawardi juga berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat diliputi aksiden (‘ardh) maupun substansi (Jauhar), sebab hal itu pasti akan mengurangi keesaan Tuhan.  Menurutnya, untuk memurnikan ketauhidan Tuhan, maka cahaya pertama mesti satu (Esa, Tunggal), baik dzat maupun sifat-Nya. Selain itu Suhrawardi juga menegaskan bahwa selain cahaya terdapat juga kegelapan. Bagi Suhrawardi, konsep gelap dan terang merupakan runtutan intensitas dari pancaran cahaya, dimana semakin jauh dari sumber cahaya maka ia akan semakin meredup dan akhirnya sampai pada kegelapan.[8] Oleh karena itu, status ontologis dari segala sesuatu itu tergantung kepada tingkatan yang mana mereka mendekati Cahaya Tertinggi dan diri mereka pun terpancari (illuminated).

Dalam hal ini Suhrawardi menentukan pembagian wujud berdasarkan tingkat keseluruhan dan kesadaran mereka. Suatu wujud, boleh jadi ia menyadari akan dirinya sendiri atau tidak menyadari akan dirinya sendiri. Jika ia sadar, maka kesadaran itu inheren dalam dirinya, sebagaimana pada kasus Cahaya Tertinggi atau Tuhan, malaikat-malaikat, jiwa manusia, dan arketip-arketip, atau justru ia bergantung pada sesuatu yang lain untuk membuatnya sadar, seperti bintang-bintang dan api. Begitu pula jika wujud itu tidak sadar akan dirinya, maka ia bisa berada dengan dirinya sendiri dan menjadi keburaman (obscurity), seperti seluruh benda-benda alam, atau ia bergantung pada yang selain dirinya, seperti warna dan bau. Jadi pada intinya, kriteria untuk pembedaan adalah tergantung pada level-level cahaya yang dimiliki, yang juga diidentifikasi dengan pengetahuan dan kesadaran. Dengan demikian semesta berasal dari Cahaya Tertinggi-tanpa ada kesinambungan dengan substansi dan materi diantara keduanya. Lebih jauhnya lagi, Cahaya di atas cahaya memiliki wakil pengawasnya dan simbol langsung dalam setiap domainnya. Suhrawardi menyebut wakil agen ini sebagai anwar al-mudabbirah atau kadang-kadang disebut anwar ispahad, yang merupakan suatu istilah dalam Persia kuno[9].

  1. 3.      Malaikat-malaikat

Dalam Doktrin Isyraqi, Suhrawardi menggunakan paham Zoroaster tentang angelology yang sangat berbeda dengan Aristoteles dan Ibn Sina yang membatasi akal atau malaikat hanya sampai sepuluh dengan dihubungkan pada jumlah langit sesuai dengan ajaran Ptolemus.[10] Angelology adalah ilmu yang mengarahkan perhatiannya pada hierarki cahaya yang luas, atau substansi-substansi malaikat yang berada di antara dunia bayang-bayang dan Cahaya Tertinggi. Malaikat secara serempak adalah merupakan pemelihara dunia ini, instrumen pengetahuan, dan yang dicari manusia untuk menjadi dia dan dicari manusia dalam kehidupan duniawinya. Suhrawardi juga sangat bertumpu pada Angelology Mazdean dalam menjelaskan tata urutan malaikat-malaikat yang beragam dan juga menggunakan istilah-istilahnya yang telah ada di Kalender Persia hingga saat ini, untuk menamakan ragam cahaya malaikat, sembari menggunakan juga istilah-istilah Islam tradisional yang diturunkan dari al-Qur’an. Selalu keindahan dan daya malaikatlah yang paling berkilauan dalam Kosmos Ishraqi dan juga yang paling menyilaukan pandangan manusia yang melihatnya.

Suhrawardi juga tidak membatasi malaikat-malaikat pada jumlah yang spesifik yang berkaitan dengan langit yang tampak (terindera), sebagaimana yang dilakukan al-Farabi dan Ibn Sina; dan juga tidak membatasi aspek inteleksinya hanya tiga kali saja sebagaimana yang dicetuskan oleh Paripatetik. Pada dasarnya, ia mengkritik para pendahulunya karena telah membatasi hirarki malaikat dengan cara ini. Karena bagi Suhrawardi, jumlah malaikat tidak sama dengan 10 langit sebagaimana dalam model astronomi di abad pertengahan; akan tetapi sama dengan jumlah bintang-bintang yang sudah ditetapkan. Hal itu adalah untuk tujuan-tujuan praktis, maka ia tidak akan terbatas dan juga di luar kemampuan kita untuk menjumlahkannya. Dan cara-cara yang diterima oleh malaikat-malaikat dari penyinaran Tuhan dan terpancari oleh yang tidak terbatas oleh bentuk- bentuk logis yang dipahami sebelumnya.

Adapun Hirarki dari malaikat-malaikat dipertimbangkan oleh Suhrawardi  dalam istilah dua tatanan, yakni longitudinal (Vertikal/Thuli) dan Latitudinal (Horizontal/Ardhi).[11]

  1. a.      Peringkat Vertikal (Thabaqah ath-Thul)

Yang menempati puncak tatanan longitudinal adalah malaikat tertinggi, dan yang tertinggi ini disebut dengan Bahman (Vohuman menurut kaum Mazdean) dan merupakan cahaya terbesar (al-nur al-a’dzam) atau cahaya terdekat (al-nur al-aqrab).  Malaikat tertinggi ini menyebabkan adanya malaikat-malaikat yang di bawahnya, yang menerima penyinaran darinya dan juga dari Cahayanya segala cahaya (Nur al-anwar). Penyinarannya pada gilirannya ditransmisikan ke tingkat berikutnya hingga tatanan vertikal (longitudinal) itu-yang masing-masing bagiannya disebut cahaya viktorial (al-nur al-qahir)-berakhir ke tingkat yang paling rendah.  Nah, tatanan ini juga disebut dengan dunia induk (Ummahat), karena segala sesuatu yang ada di alam semesta itu dihasilkan darinya dan anggota-anggotanya adalah malaikat tertinggi yang meimiliki aspek dominasi (qahr) pada yang dibawahnya, dan dibawahnya memiliki aspek cinta (mahabbah) terhadap yang di atasnya. Dan setiap cahaya itu adalah Barzakh, di antara dua kecermelangan di atas dan di bawah. Ia bertindak sebagai sebagai tabir yang secara bersamaan menyembunyikan dan menyingkapkan cahaya dari tatanan tertinggi – menyembunyikannya dalam arti bahwa ia tidak ditransmisikan dalam intensitas penuh dan memperlihatkannya dalam memungkinkan tingkatan tertentu dari penyinaran dan pancarann untuk melintasinya agar bisa memungkinkan bagian yang lebih mudah berikutnya dalam hirarki tersebut untuk berwujud.

Jadi bisa disimpulkan bahwa proses iluminatif ini akan terus berlanjut ke bawah secara vertikal dengan menghasilkan cahaya dan barzakhnya. Nur al’aqrab, sebagai cahaya pertama, memancarkan sinarnya kemudian melahirkan cahaya kedua yang disertai dengan barzakhnya; dari cahaya kedua melahirkan cahaya ketiga disertai barzakhnya dan begitu seterusnya. Proses melahirkan cahaya-cahaya ini selalu disertai dengan barzakh-barzakhnya.  Rentetan pancaran cahaya-cahaya baru yang membentang secara vertikal dari atas ke bawah, oleh Suhrawardi, diberi nama khusus ‘alam al-ummahat. Disebut demikian karena fungsi cahaya-cahaya tersebut adalah melahirkan cahaya-cahaya baru yang sangat banyak, dan dari cahaya-cahaya dominator (al-anwar al-qahirah) melahirkan ‘arbab al-ashnam[12] dan thilsamat. [13]

  1. b.      Peringkat Horizontal (Thabaqah al-‘Ardh)

Sedangkan dari aspek maskulin hirarki tertinggi ini-yakni aspek kekuatan dan kontemplasinya, muncul tatanan latitudinal (horizontal) para malaikat yang sesuai dengan dunia arketip, atau “ide-ide Platonik’. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di alam semesta yang terindra (visible) adalah merupakan kekuatan gaib (tilasm), atau merupaka “ikon” (sanam) dari salah satu arketip-arketip yang ada di dunia ide platonik ini yang mengandung “pengaruh malaikat” partikularnya. Oleh karena itulah Suhrawardi menyebut arketip-arketip ini sebagai sebagai induk dari segala spesies (arbab al-anwa’), atau induk dari kekuatan-kekuatan gaib (arbab al-tilasm). Karena kedua ini menguasai spesies-spesies tertentu dan yang kedua itu merupakan arketip samawi dan ide Platonik bagi spesies tersebut. Disinilah Suhrawardi sepenuhnya menggunakan nama-nama Amshahpand Mazdean-Amesha spentas-untuk merujuk arketip-arketip beragam spesies.[14] Misalnya arketip air disebut Khurdad dan untuk mineral Shahriwar, tetumbuhan Murdad dan api Urdibihisht.

Yang terakhir pada tatanan Latitudinal para malaikat memunculkan tatanan malaikat perantara yang bertindak sebagai pengawas dan menguasai spesies-spesies secara langsung. Para anggota dari tatanan menengah ini disebut cahaya pengatur (al-anwar al mudhabbirah) dan sering juga disebut cahaya agung (al-anwar al-isfahbadiyah). Nama terakhir ini diberikan secara khusus pada malaikat-malaikat yang mengatur jiwa manusia. Malaikat-malaikat ini menggerakkan langit dan menjawab seluruh mahluk di bumi, dan mineral dan tetumbuhan hingga binatang dan manusia. Dalam kasus ini, sebuah cahaya agung bertempat di pusat setiap jiwa dan mengatur setiap aktivitas manusia. Bagi spesies manusia dalam totalitasnya, Jibrillah yang dianggap sebagai malaikatnya, yaitu arketip insani (rabb al-anwa’ al-insani) yang oleh Suhrawardi disamakan dengan Jiwa Suci (Holy Spirit) dan Jiwa Muhammad saw. Dan karena juga disamakan dengan fungsi wahyu, Jibril menjadi penyingkap tertinggi semua  pengetahuan.[15]

Kesimpulan

Dalam memecahakan permasalahan filsafat mengenai yang satu menghasilkan yang banyak dan dari yang banyak terdapat kesatuan, Suhrawardi menjawabnya melalui konsep illuminasinya dengan menggunakan prinsip Cahaya di atas cahaya (Nur al-Anwar), yang terinspirasi dari al-Ghazali, sebagai pondasi pemikiran ontologi maupun kosmologinya dalam mengembangkan filsafat Illuminasi. Mengapa cahaya? Karena cahaya sudah jelas dengan sendirinya, tak perlu didefinisikan, karena dia itu ada dan terang pada dirinya sendiri dan menerangi segala sesuatu yang lain. Dalam mengkritik emanasi Paripatetik pun, Suhrawardi mengembangkan prinsip emanasi menjadi teori pancaran (iluminasi, ‘isyraqi). Menurutnya, Pancaran dari sumber pertama (Nur al-Anwar) akan berjalan terus sepanjang sumbernya tetap eksis. Konsekuensinya, alam semesta ini akan selalu ada selama Tuhan ada. Mehdi Ha’ri Yazdi menyatakan bahwa proses iluminasi akan tetap terus berlangsung, tidak peduli sejauh mana keragaman sebab dan akibat yang terjadi sesuai komposisi dan tertib alam semesta. Menurutnya, kemajemukan itu dirancang sebagai manifestasi tunggal dari Wujud Utama yang merupakan bayangan wajah-Nya yang bergantung sepenuhnya kepada Nur al-Anwar.

Proses pelimpahan yang terus menerus ini menunjukkan adanya suatu garis vertikal yang tak terputus, yang sekaligus menghubungkan seluruh rangkaian besar emanasi dengan prinsip pertamanya dalam suatu kesatuan wujud yang ketat, yang kemudian memunculkan garis penghubung horizontal. Pada garis horizontal penghubung inilah muncul keragaman, esensi, spesies dan individu.  Ha’iri Yazdi menambahkan bahwa garis vertikal melambangkan tatanan batin, sedangkan gariz horizontal melambangkan tatanan lahirnya.[16]

Daftar Pustaka                                                                                                         

Drajat, Amroeni, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005)

Nasr , Sayyed Hossein. Three Muslim Sages : Avicenna, Suhrawardi, & Ibn Arabi (New York, Caravan: 1997)

Nasr , Sayyed Hossein.“Filsafat Hikmah Suhrawardi” dalam Ulumul  Qur’an, no.3 VII/1997

Ziai, Hoessein., ed. Suhrawardi, The Philosophy of Illumination (New York: Brigham Young University Press: 1999)


[1] Kajian teosofi adalah menyingkap misteri ketuhanan yang masih tersembunyi. Selain penyingkapan, teosofi ini juga berkaitan dengan manusia, alam dan Tuhan.

[2] Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005), hal. 104.

[3] Sayyed Hossein Nasr. Three Muslim Sages : Avicenna, Suhrawardi, & Ibn Arabi (New York, Caravan: 1997). Hal. 67.

[4] Dengan catatan lihat Seyyed Hossein Nasr, “Filsafat Hikmah Suhrawardi” dalam Ulumul  Qur’an, no.3 VII/1997, 59.

[5] Ziai, Hoessein., ed. Suhrawardi, The Philosophy of Illumination (New York: Brigham Young University Press: 1999). Hal. 77.

[6] Sayyed Hossein Nasr. Three Muslim Sages : Avicenna, Suhrawardi, & Ibn Arabi (New York, Caravan: 1997). Hal. 68.

[7] Anything in existence that requires no definition or explanation is evident. Since there is nothing more evident than light, there is nothing less in need definition. Dikutip dari Ziai, Hoessein., ed. Suhrawardi, The Philosophy of Illumination (New York: Brigham Young University Press: 1999). Poin ke 107. Hal. 77.

[8] Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005), h. 224.

[9] Dengan catatan lihat Seyyed Hossein Nasr, “Filsafat Hikmah Suhrawardi” dalam Ulumul  Qur’an, no.3 VII/1997, 62.

[10] Dengan catatan lihat Seyyed Hossein Nasr, “Filsafat Hikmah Suhrawardi” dalam Ulumul  Qur’an, no.3 VII/1997, 61.

[11] Sayyed Hossein Nasr. Three Muslim Sages : Avicenna, Suhrawardi, & Ibn Arabi (New York, Caravan: 1997). Hal. 71.

[12] Seperti dunia arketip Plato yang mengandung segala ide ideal dari spesies-spesies.

[13] Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005), hal. 238.

[14] Lihat dalam Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005), hal. 240, yang memberikan penjelasan bahwa Suhrawardi lebih mengutamakan nama-nama malaikat yang berasal dari tradisi Persia, seperti bounteous immortals, amesha spentas (amshaspands atau amahraspands), yang dalam ajaran Zoroaster sering dikaitkan dengan Ahuramazda.

[15] Sayyed Hossein Nasr. Three Muslim Sages : Avicenna, Suhrawardi, & Ibn Arabi (New York, Caravan: 1997). Hal. 73.

[16] Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS, 2005), hal. 244.  Lihat juga Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Hudhuri, hlm. 191.

One thought on “Ontologi dan Kosmologi Suhrawardi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s