Hermeneutika Paul Ricoeur

Konsep mengenai Teks dalam Pandangan Paul Ricoeur

0.0.            Abstrak

Hermeneutik, sebagai suatu teori pemahaman terhadap teks, memiliki problem yang tak akan jauh dari persoalan seputar interpretasi terhadap diskursus suatu teks. Persoalan-persoalan yang diperdebatkan masih berputar di sekitar oposisi antara eksplanasi (Enklaren) dan pemahaman (Verstehen) yang melibatkan beberapa pakar hermeneutik seperti F. Schleiermacher, W. Dilthey, M. Heidegger, H.G. Gadamer, Jurgen Habermas, dsb. Dalam perkembangan hermeneutika yang dipahami sebagai teori memahami teks yang kemudian  berkembang melalui metode fenomenologis yang makin meluas ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia, maka paper ini akan menyorot pandangan salah satu pakar hermeneutik, yakni Paul Ricoeur yang mencoba untuk mengembalikan fokus hermeneutik kepada ranah teks. Ricoeur akan menjelaskan secara eksplisit mengenai teks serta kaitannya dengan eksplanasi maupun interpretasi.

Kata kunci: Teks, Fiksasi (Fixation), Komunikasi, Otonomi Teks, Rekontekstualisasi, Dekontekstualisasi, Eksplanasi (Explanation), Interpretasi (Interpretation).

1.0.            Pendahuluan

“Ricoeur’s Philosophy is simultaneously a philosophy of life and a philosophy of reading.”

-Karl Simms, Paul Ricoeur-

Diawali oleh Gadamer yang berpandangan bahwa teks itu bukan sekedar persoalan epistemologi saja, melainkan juga merupakan persoalan mengenai pemahaman manusia. Ia hidup dalam situasi dan kondisi tertentu, sehingga semua hal itu mempengaruhi pemahamannya. Adalah naïf, apabila ada orang yang misalnya mengatakan bahwa filsafat itu sepenuhnya bebas dari prasangka. Karena menurut Gadamer, berfilsafat itu tidak dimulai dari titik nol, melainkan kita harus berpikir dan berbicara dengan bahasa yang sudah kita miliki sendiri. Setiap orang itu memiliki asumsinya masing-masing. Asumsi-asumsi inilah yang menjadi latar belakang pemahaman kita. Semua orang itu memiliki kulturnya masing-masing yang mempunyai suatu bentuk dimana orang tinggal, sehingga bahasa pun termasuk hasil yang dibentuk oleh lingkungan. Jadi, sikap yang lebih baik dalam hermeneutika, menurut Gadamer, adalah sikap fenomenologis, yakni dengan membiarkan sesuatu itu memperlihatkan dirinya, dan karena itu kita berdialog dengan teks. Bagi Gadamer, hermeneutik bukan merupakan suatu metode, melainkan upaya memahami dan menginterpretasi sebuah teks. Gadamer mengkritik F. Schleiermacher dan W. Dilthey yang menganggap bahwa hermeneutika itu merupakan suatu metode memahami yang dilakukan melalui tata bahasa dan psikologi. Menurut Gadamer, metode itu bersifat ketat dan mengekang, karena ia berpendapat bahwa logika sendiri sudah tidak berdaya dan tidak mampu menjadi sarana untuk mencapai kebenaran filosofis.

Dalam beberapa hal, Ricoeur berpihak pada Gadamer bahwa  menginterpretasi sebuah teks itu akan lebih baik dilakukan melalui dialog dengannya. Ricoeur menganggap bahwa teks klasik “menangkap” kita lebih dahulu, sebelum kita menafsirkannya, atau kita menafsirkannya karena teks itu telah berbicara kepada kita terlebih dahulu. Momen awal ini sangat penting sebagai “dugaan pertama” makna teks.[1]

Akan tetapi Ricoeur tidak begitu saja menjadi seorang Gadamerian yang dogmatis. Berbeda dengan Gadamer, Ricoeur menawarkan kritisismenya pada fase hermeneutik yang kedua. Ia menegaskan bahwa sebuah teks itu memiliki dua sisi di dalamnya, yakni sisi subjektif dan sisi objektif. Inilah persoalan yang akan penulis bahas dalam paper yang singkat ini. Tentunya penulis tidak akan menjelaskannya secara lebih rinci dan detail karena keterbatasan dari pengetahuan yang penulis miliki.

2.0.            Paul Ricoeur

Paul Ricoeur (1913), seorang hermeneut dan filosof yang religius, berupaya untuk mengembalikan fokus hermeneutik kepada domain teks. Ricoeur memperluas definisi hermenutik sebagai “perhatian kepada teks”. Hermeneutik dalam hal ini hanya akan berhubungan dengan kata-kata tertulis sebagai ganti kata-kata yang diucapkan. Ia menyatakan bahwa definisi yang tidak terlalu luas justru memiliki intensitas.[2] Akan tetapi bukan berarti ia menganggap bahwa teks merupakan objek penelitian hermeneutik yang sempit. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa justru teks lah yang telah memberikan manusia pengetahuan yang lebih luas. Menurutnya, karya-karya tertulis itu memiliki makna karena mereka merupakan refleksi dari kehidupan, dan kehidupan sendiri menghasilkan makna-makna yang diperoleh melalui kemampuannya untuk terepresentasikan dalam karya-karya tertulis.[3]

Manusia pada dasarnya merupakan bahasa dan bahasa adalah syarat utama bagi semua pengalaman manusia. Melalui bahasa, maka  kita bergaul dengan masyarakat, mengungkapan tentang dirinya, mengerti atau memahami sesuatu dengan mempergunakan istilah-istilah yang terdapat di dalam bahasa. Meskipun di sisi lain bahasa juga mempunyai kelemahan, sebab kita memahami melalui bahasa, kita salah paham juga melalui bahasa. Akan tetapi, melalui hermeneutik, segala problem yang terdapat di dalam filsafat bahasa dapat dijawab, yaitu melalui interpretasi.

Manusia membangun sejarah pribadi dan kehidupannya dalam bahasa, sehingga ekspresi atau ungkapan yang mereka gunakan akan mempunyai arti atau makna yang berbeda-beda. Ekspresi yang berbeda-beda itulah yang tertuang ke dalam teks, apapun bentuk teksnya. Ricoeur menyatakan, disiplin apapun yang sedang kita geluti, apakah ia sejarah, psikoanalisis, kritisisme literal, atau apa saja, semua disiplin itu, bagaimanapun terbangun oleh teks, dan tiap teks-teks tersebut mengandung makna-makna tersembunyi yang diungkapkan oleh hermeneutik-yakni makna dari kehidupan (The meaning of Life).  Kehidupan itu sendiri, menurut Ricoeur, dapat dibaca, atau diinterpretasikan, dan interpretasi itu sendiri mengungkapkan kehidupan menjadi sebuah narasi.[4]

3.0.            Teks Sebagai Objek Hermeneutika

Pada hakikatnya, Hermeneutik menjadi sebuah teori dari teks, disebabkan karena mengambil teks sebagai titik permulaannya. Akan tetapi pada akhirnya hermeneutik datang untuk melihat dunia secara tekstual, sejauh keberadaan manusia itu diekspresikan melalui suatu wacana, dan wacana itu sendiri merupakan undangan bagi manusia untuk dapat diinterpretasikan satu sama lain.[5]

Para pakar hermeneutik melihat dunia yang berhubungan dengan individu-individu melalui perantara teks. I understand the world not directly, but through texts (saya tidak dapat memahami dunia secara langsung, melainkan saya memahaminya melalui teks-teks) – dalam arti melalui teks-teks yang dilihat sebagai keseluruhan, bukan sebagai satuan bahasa individual yang dirangkaikan bersama-sama.[6]

Setiap kali kita membaca sebuah teks, maka ia selalu berhubungan dengan masyarakat, tradisi ataupun aliran yang hidup dari beragam gagasan. Meskipun demikian, sebuah teks yang ditafsirkan tidak akan bersih dari pengandaian dan situasi kita sendiri dalam ruang dan waktu tertentu. Kesenjangan ini mendorong Ricoeur untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu sama lain.[7] Namun sebelum itu, akan lebih baik bagi kita untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan teks menurut Paul Ricoeur.

Teks adalah setiap wacana yang dibakukan (fixed) dalam bentuk tulisan. Sedangkan pembakuan (fiksasi) sendiri adalah yang membentuk teks.[8] Bagaimanapun, tulisan itu menyimpan sebuah wacana dan membuatnya menjadi sebuah arsip yang bisa dibaca oleh individu maupun banyak orang.

Menurut Ricoeur, tulisan adalah manifestasi penuh dari sebuah wacana. Apa yang kita bakukan dalam tulisan adalah suatu wacana yang bisa dikatakan  berasal dari suatu ujaran berdasarkan pada situasi, tempat dan waktu tertentu.  Itulah mengapa, sebelumnya perlu kita ketahui bahwa wacana yang dibakukan ke dalam teks mampu didapatkan melalui proses komunikasi. Proses komunikasi inilah yang menghasilkan suatu wacana yang dapat dituliskan. Adapun proses komunikasi sendiri terbagi kedalam dua bagian:

  1. Komunikasi Oral (Oral Communication), yakni komunikasi yang sifatnya dialog dua arah antara pembicara dan pendengar.
  2. Komunikasi Literal (Literal Communication), yakni komunikasi yang sifatmya satu arah saja.

            Roman Jakobson dalam artikelnya “Linguistics and Poetics” mendeskripsikan suatu skema komunikasi oral,  yang terdiri dari 6 faktor wacana komunikatif, yakni pembicara (speaker), pendengar (hearer), medium atau channel, kode (code), situasi (situation), dan pesan (message).

            Di dalam setiap situasi saat terjadi komunikasi oral, maka sang pemberi pesan pasti akan memberikan pesan (message) kepada pendengar yang diberi pesan. Akan tetapi, agar proses komunikasi ini dapat berfungsi dan operatif, maka pesan saja tidak cukup. Kita memerlukan konteks acuan yang bentuknya bisa verbal maupun non verbal. Konteks acuan non verbal dapat berupa raut muka, gestur, dsb. Selain itu, pesan juga harus mengandung kode yang sifatnya umum (common) bagi si pendengar dan dapat dimengerti. Jika saya hendak menyampaikan sesuatu pada teman saya yang berasal dari Vietnam yang tak mengerti bahasa Indonesia sama sekali, sedangkan saya mengajaknya bicara dengan memakai bahasa Indonesia, maka pesan saya tidak akan tersampaikan pada teman saya yang saya ajak bicara. Tak kalah penting dari itu, dalam suatu komunikasi kita juga membutuhkan adanya kontak. Karena bagaimanapun, suatu proses komunikasi tidak akan terjadi tanpa adanya kontak fisik antara penyampai pesan dan penerima pesan. Jadi, proses komunikasi akan berfungsi melalui pesan yang didalamnya melingkupi konteks, kode, dan kontak.

            Berbeda dengan komunikasi oral, komunikasi literal yang terwujudkan melalui pembakuan (fiksasi) wacana kedalam tulisan justru mengganti media suara manusia, mimik muka, dan gestur oleh tanda-tanda material. Hal ini tampak jelas jika kita jelaskan terlebih dahulu bahwa dalam suatu komunikasi, di dalamnya terkandung aksi berujar (performative acts) yang meliputi poin-poin berikut:

  1. The locutionary act or propositional act, yakni aksi proposisional dalam sebuah ujaran.
  2. The illocutionary act (force), yakni tindakan apa yang kita lakukan saat berbicara, dan
  3. The perlocutionary act, yaitu efek/stimulus yang dihasilkan melalui pembiacaraan.

Ketika kita melakukan suatu pembakuan (fiksasi) sebuah wacana, maka kita akan menemukan bahwa Illocutionary force itu sedikit sekali terbakukan dan prelocutionary act adalah aspek yang paling kurang terbakukan (least inscribable) pada suatu wacana.

Ketika teks telah mengambil alih suatu ujaran dalam sebuah komunikasi, dalam arti ujaran itu telah terbakukan ke dalam tulisan, maka acuan pergerakan terhadap aksi berujar (act of showing) menjadi terhalang. Pada akhirnya kata-kata berhenti untuk menghadapkan diri mereka di hadapan berbagai objek; kata-kata tertulis menjadi kata-kata untuk diri mereka sendiri. Karena dalam budaya menulis, dunia teks itu sendiri bukan lagi merupakan hal yang bisa ditunjukkan dalam aksi dialog, melainkan ia tereduksi menjadi suatu jenis ‘aura’ yang mana mengembangkan karya-karya tertulis itu. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang dunia Yunani atau dunia Byzantium, maka dunia ini bisa disebut sebagai ‘khayalan’, dalam pengertian, ia terepresentasikan oleh tulisan sebagai ganti dari dunia yang direpresentasikan oleh ujaran; akan tetapi dunia imajinasi ini pada dirinya sendiri adalah merupakan sebuah ciptaan dari literatur.[9]

4.0.            Otonomi Teks

“It is… to seek in the text itself, on the one hand, the internal dynamic that governs the structuring of the work and, on the other hand, the power that the work possesses to project itself outside itself and to give birth to a world that would truly be the ‘thing’ referred to by the text. This internal dynamic and external projection constitute what I call the work of the text. It is the task of hermeneutics to reconstruct this twofold work.”

(Ricoeur 1991a: 17-18)

Ricoeur berpandangan bahwa teks itu memiliki kehidupannya sendiri, ia berbeda dari intensi/ maksud si pengarang. Ketika suatu diskursus dituangkan ke dalam teks, atau bisa kita katakan terjadinya suatu inskripsi (fiksasi), maka teks itu tidak akan hanya berhadapan dengan si pengarang melainkan juga dengan pembaca[10]. Kemudian, kita sebagai pembaca, tidak bisa dengan begitu saja menjadikan teks mempunyai arti sebagaimana yang kita kehendaki. Selain itu, kita juga tidak bisa dengan begitu saja mengotak atik struktur bahasa teks yang bukan merupakan bahasa pribadi. Karena struktur bahasa itulah yang menjadi dimensi objektif bagi teks dan memberikan perlindungan bagi subjektivitas ekstrim. Adapun dalam proses menginterpretasikannya, maka apa yang kita tafsirkan dalam suatu teks adalah “dunia yang ditawarkan” dimana aku dapat bertempat tinggal”.[11] Inilah yang akan kita ketahui kemudian bahwa menurut Ricoeur, teks itu bersifat otonom. Ia independen dari intensi maupun kondisi sirkumtansialnya pengarang. Dan karena ia otonom, maka kita dapat melakukan dekontekstualisasi maupun rekontekstualisasi terhadap teks.

Tulisan pada dasarnya telah memisahkan dirinya sendiri untuk terlepas dari batas-batas dialog (komunikasi dua arah) (Ricoeur 1991a: 17): karena tidak sama halnya dengan ujaran, ia bersifat otonom dalam hubungannya dengan maksud pembicara, dan penerimaan terhadap pendengar aslinya (yang benar-benar sedang ia ajak bicara pada saat itu), juga terhadap kondisi ekonomi, sosial dan kultural yang ada pada saat wacana itu dituliskan.[12] Adapun E. Sumaryono (1999) pun menjelaskan bahwa otonomi teks menurut Ricoeur itu dibagi ke dalam 3 macam, diantaranya:

  1. Intensi atau maksud pengarang
  2. Situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks
  3. dan untuk siapa teks itu dimaksudkan

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, Ricoeur menegaskan bahwa teks itu bisa dibebaskan dari maksud psikologis pengarang dan kondisi sosial yang merata pada masanya; ditambah lagi, ia bisa dibaca oleh siapapun, tidak hanya terbatas pada seseorang yang menjadi objek tujuan dari teks itu dialamatkan (tidak lagi bersifat dialogis). Ricoeur menemukan otonomi teks ini terbebaskan dari berbagai kendala, dimana teks lah yang menciptakan dunianya sendiri. Dan kemudian terserah pada pembaca untuk menempati dunia tersebut, lalu menemukan situasinya yang menjelaskan sistuasi dirinya (pembaca). Ricoeur mengatakan, ‘Apa yang harus diinterpretasikan dalam sebuah teks adalah suatu dunia yang diajukan yang mana saya dapat menempatinya dan saya dapat meproyeksikan salah satu kemungkinan-kemungkinan terbesar saya. Itu lah yang saya sebut sebagai dunia teks (World of the text), sebuah dunia yang cocok untuk teks yang unik ini (Ricoeur 1991a:86).

Atas dasar otonomi inilah, maka yang dimaksud dengan ‘dekontekstualisasi’ adalah bahwa materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya, sehingga teks tersebut membuka diri untuk kemungkinan dibaca secara luas[13]. Ia tidak lagi terbatas pada kelemahan suatu komunikasi oral dimana wacananya pasti masih terikat dengan horison pengarang yang terbatas pada situasi dan kondisi, serta dialamatkan untuk orang tertentu. Sedangkan ‘rekontekstualisasi’ adalah ketika teks membuka lebar kemungkinan untuk dibaca oleh beragam pembaca dimana pembacanya pasti berbeda-beda. Jadi proses dekontekstualisasi dapat kita sebut sebagai proses pembebasan diri dari konteks, sedangkan rekontekstualisasi adalah proses masuk kembali ke dalam konteks[14] (berdasarkan konteks pembaca yang berbeda-beda).

5.0. Interpretasi dan Eksplanasi

Dalam suatu aksi membaca sebuah teks, maka hal yang tidak bisa dihindari adalah dua sikap membaca yang biasanya saling mengkonfrontasi satu sama lain. Dua sikap membaca ini disebut dengan interpretasi dan eksplanasi. Tidak mengherankan jika hal ini masih saja diperdebatkan dalam persoalan hermeneutik. Karena interpretasi erat kaitannya dengan pemahaman (understanding) yang dianggap sebagai penafsiran subjektif sang interpreter, sementara kita biasanya menuntut akan sebuah penafsiran yang objektif dari suatu teks. Bagaimana dengan eksplanasi? Ricoeur mengatakan bahwa eksplanasi adalah penjelasan struktural yang ada pada teks yang sifatnya cenderung objektif. Sementara interpretasi dengan melalui pemahaman, memberikan kesan yang subjektif. Nah, apakah ini kontradiksi?

Apa yang ingin Ricoeur jelaskan adalah bahwa sebuah teks itu memiliki tempat diantara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutik yang berhadapan satu sama lain. Untuk memecahkan kesenjangan yang nampak pada dua tempat tersebut, Ricoeur memulainya dengan analisis teks melalui status otonomnya. Kita, sebagai pembaca dari teks tersebut, boleh saja memperlakukan teks tersebut  sebagai sebuah objek yang tanpa dunia dan tanpa penulis dalam kasus kita masih mempertahankan suspensi dari teks tersebut. Maka dari itu, dalam hal ini, kita menjelaskan teksnya dalam pengertian relasi internalnya dan strukturnya. Inilah yang disebut sebagai penjelasan. Pada sisi lain, kita juga dapat mengangkat suspensi teks tersebut dan mengembalikannya terhadap komunikasi yang ada (kini); yang dalam hal ini artinya, kita menafsirkan teks tersebut. Nah, kedua kemungkinan ini (eksplanasi dan interpretasi)  pasti akan berhubungan erat dalam aksi membaca, karena membaca merupakan dua dialektika dari kedua sikap tersebut.[15]

Bagaimanapun, melalui membaca, kita dapat melanjutkan suspensi yang mempengaruhi acuan teks terhadap sebuah dunia di sekitarnya dan pada para pendengar dari subjek yang berbicara (aspek strukturalnya), inilah yang kita sebut dengan eksplanasi. Sementara kita juga bisa mengangkat suspensi tersebut dan mengisi teks juga mengembalikannya pada komunikasi yang ada[16], inilah sikap kedua yang menjadi tujuan utama dari aksi membaca. Interpretasi adalah hasil konkret dari suatu pembaharuan yang mempertahankan keunggulan apropriasi. Hal ini tercapai melalui gagasannya mengenai lego ut intelligam (Aku membaca untuk memahami) yang merupakan tujuan utama dari hermeneutik dan membaca teks. Inilah pula yang berhubungan dengan bahwa filsafat Ricoeur adalah filsafat membaca sekaligus filsafat dari kehidupan[17].

Lego ut intelligam[18]

Peristiwa(Terdapat distansiasi) Teks(Otonom,Terjadi dekontekstualisasi) Dibaca,Membuka dunia(mengandung makna dan nilai) Dipahami, diapropriasi, dijadikan milikku(Terjadi rekontekstualisasi) Etika Naratif (hasil/gol utama):Kebebasan, kehidupan baru, makna baru, melihat dan menghayati kebaikan=etika.

Interpretasi adalah sebuah kerja pemikiran yang terdiri dari penafsiran makna tersembunyi pada makna lahiriah, dalam mengembangkan tingkatan-tingkatan makna yang tersirat pada makna literal.[19] Inilah definisi interpretasi menurut Ricoeur. Menurutnya, interpretasi lah yang mampu membuat pluralitas makna menjadi jelas.[20]

            Dalam menginterpretasi suatu teks, kita tidak hanya terbatas pada kalimat-kalimat individual (eksplanasi secara literal) dalam teks saja, akan tetapi juga mencakup keseluruhan makna teks yang di luar dari jumlah bagian-bagian kalimatnya. Maksud dari makna-makna yang diungkapkan oleh interpretasi ini adalah makna-makna intensional, ‘intensional’ untuk diambil dalam pengertian filosofis khusus (cukup independen dari intensi pengarang) bahwa teks itu termotivasi oleh sebuah sikap, seperti kepercayaan (belief). Kegiatan interpretasi pun disokong oleh lingkaran hermeneutik (Hermeneutic Circle) – bahwa saya harus yakin supaya saya bisa memahami tapi saya juga harus memahami supaya saya bisa yakin.

6.0. Kesimpulan

Tujuan utama dari Hermeneutik, menurut Paul Ricoeur, adalah pemahaman. Hal itu disebabkan karena hermeneutik didasarkan pada premis bahwa teks-teks mengatakan sesuatu tidak hanya mengenai dirinya sendiri melainkan juga mengenai dunia yang lebih luas. Dengan demikian, dengan membaca teks melalui jalan hermeneutik, kita akan mendapatkan pemahaman yang jauh lebih luas dan lebih besar mengenai dunia tidak hanya mendapatkan makna-makna secara literalnya saja. Bagaimana caranya? E. Sumaryono memberikan penafsirannya terhadap apa yang dimaksud Ricoeur untuk sampai pada level pemahaman, bahwa ‘Memahami bukanlah berarti memproyeksikan diri ke dalam teks, melainkan membuka diri terhadapnya’. Penafsir selalu dalam keadaan in medias res atau berada di tengah-tengah teks, dan tidak pernah hanya di depan atau pada permulaan atau pada akhir teks saja.

Daftar Pustaka

Kearney, Richard et al. The Continental Philosophy Reader. London: Routledge. 1996.

Ricoeur, Paul. Hermeneutics and Human Sciences. New York: Cambridge University Press. 1995.

Sastrapratedja, M. “Hermeneutika dan Etika Naratif Menurut Paul Ricoeur” dalam Jurnal Kanz Philosophia, Vol.2, No.2, 2012.

Simms, Karl. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003.

Sumaryono, E. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999.


[1] Lihat, M. Sastrapratedja, “Hermeneutika  dan Etika Naratif Menurut Paul Ricoeur” dalam Jurnal Kanz Philosophia, Vol.2, No.2, 2012.

[2] E. Sumaryono. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 107. (Lihat juga Montefiero, 1983:193).

[3] Karl Simms. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003. Hal. 2.

[4] Ibid.,

[5] Karl Simms. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003. Hal. 30.

[6] Karl Simms. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003. Hal. 33.

[7] E. Sumaryono. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 108.

[8] Ricoeur, Paul. 1995. Hermeneutics and Human Sciences. New York: Cambridge University Press. Hal. 145.

[9] Ricoeur, Paul. 1995. Hermeneutics and Human Sciences. New York: Cambridge University Press. Hal. 148-149.

[10] Karl Simms (2003) menguraikan dengan berulang kali bahwa ‘wacana tertulis’, atau bisa juga disebut dengan inskripsi dalam hal ini adalah ketika intensi pengarang dan maksud dari teks itu berhenti secara berbarengan (cease to coincide) (Ricoeur 1976: 29); teks, kemudian menjadi otonom secara semantik dari sudut pandang si penafsir atau pembacanya.

[11] Lihat, M. Sastrapratedja, “Hermeneutika  dan Etika Naratif Menurut Paul Ricoeur” dalam Jurnal Kanz Philosophia, Vol.2, No.2, 2012, hal. 252.

[12] Karl Simms. Paul Ricoeur. London: Routledge. 2003. Hal. 33.

[13] E. Sumaryono. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 109.

[14] Ibid.,

[15] Ricoeur, Paul. 1995. Hermeneutics and Human Sciences. New York: Cambridge University Press. Hal. 152.

[16] Inilah yang dimaksud dengan hermeneutik yang lebih suka mengekspos mode intensionalitas yang menyertai teks, baik itu berupa kepercayaan (belief), penyesalan (repentance), rasa kasihan (remorse), dsb. Semua itu bersifat objektif sejauh mereka lah yang memotivasi makna-makna teks baik siapapun itu yang menulisnya. (Karl Simms; 2003).

[17] Filsafat kehidupan Ricoeur identik dengan etika manusia sebagai gol utamanya, dimana ia membaca untuk memahami manusia. Dikatakan pula bahwa pemahaman menurut Ricoeur adalah salah satu aspek dari ‘Proyeksi Dasein’ (Proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaannya terhadap being. Salah satu contoh pengejawantahan terhadap being adalah misalnya: manusia kita pahami sebagai Dasein (manusia seutuhnya), artinya kita memandang manusia dari segala sspek yang ia miliki, baik sejarah, asal usul, cita-cita, gaya, penampilan, karakter, serta segala sesuatu yang membuatnya menjadi khas. Sehingga kita memahami manusia sebagaimana ia menjadi. (E. Sumaryono :1999)

[18] Tabel diambil dari, M. Sastrapratedja, “Hermeneutika  dan Etika Naratif Menurut Paul Ricoeur” dalam Jurnal Kanz Philosophia, Vol.2, No.2, 2012, hal. 259.

[19] Richard Kearney & Mara Rainwater. The Continental Philosophy Reader. London: Routledge. 1996. Hal. 245.

[20] Ibid.,

2 thoughts on “Hermeneutika Paul Ricoeur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s