Sosialitas, Individualitas, dan Visi Antropokosmik dalam Humanisme Konfusian

Oleh: T2B

Pembahasan Humanisme Konfusian ini dimulai terlebih dulu pada rumusan definisi mengenai “apa itu individu” yang akan dihubungkan relasinya dengan sosial dan berujung pada visi antropokosmik yang merupakan visi ideal dari Konfusianisme. Berhubungan dengan ini, Rotry merumuskan konsepsi mengenai individu dan sosial. Menurut Rotry, Individu dan sosial merupakan suatu oposisi yang kontras. Individu dianggap sebagai yang bersifat singular, partikular, privat dan independen. Sedangkan sosial dianggap bersifat relasional dalam arti hubungan antara individu dengan orang yang lain (masyarakat), dan juga dependen. Nah, dari sinilah akan muncul suatu problem mengenai rekonsiliasi antara sosialitas dan individualitas dalam humanisme Konfusian. Manakah yang harus dipilih? Apakah individu atau sosial? Rotry memberikan statemen bahwa individu tidak boleh merealisasikan diri dalam arti tidak boleh bersosial karena individu akan kehilangan identitas individu itu sendiri. Namun, jika pernyataan ini benar, maka ini akan kontradiksi dengan humanisme konfusian itu sendiri. Menanggapi ini, Niklas Luhmann memberikan definisi individu dalam pandangan Konfusianisme. Luhmann menegaskan bahwa dalam pandangan konfusian, individualitas berasal dari akar kata indivisibility (tidak terbagi-bagi) yang bukan merupakan singularitas atau partikularitas atau privat atau merupakan lawan bagi sosial. Oleh karena itu, individu dalam pandangan Konfusian itu bersifat utuh yang harmonis dengan sosial dan tidak merusak keutuhan identitasnya, karena ia bersifat interdependen dalam arti individualitas ditegakkan dan sosialitas pun ditegakkan. Selain itu, Luhmann menguraikan mengenai perbedaaan antara individu pada masyarakat tradisional dan modern. Pada masyarakat tradisional, individu itu bersifat inklusif dan merupakan bagian dari masyarakat secara utuh yang juga saling melengkapi satu sama lain. Sementara pada masyarakat modern, individu sudah bersifat spesifik, dalam arti ia eksklusif dan hidup masing-masing. Masyarakat modern diatur oleh institusi-institusi seperti politik, sosial, ekonomi, yang tujuan akhirnya kembali pada kepentingan pribadi juga. Akhirnya muncullah persoalan mengenai dilema realisasi diri dan pelayanan sosial pada masa modern ini.

Hanya saja pada akhirnya tesis ini di lawan, mengingat pada zaman globalisasi ini ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan ketimbang sekedar memikirkan soal mentalitas pencerahan[1] yang lebih fokus pada persoalan realisasi individual dan sosial saja. Bahwa pada zaman modern ini ditemukan banyak masalah yang lebih urgen seperti bencana alam, terorisme, dll. Memang pada awalnya, visi idealnya era globalisasi adalah mengangakat semua kalangan (kaya maupun miskin, lokal maupun urban) menjadi sama-sama terangkat. Namun, kenyataannya sekarang yang terjadi justru malah sebaliknya, yang menyebabkan terjadinya disintegrasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan ini, maka kita membutuhkan sebuah visi yang tidak hanya sekedar antroposentris akan tetapi juga yang mencakup kosmosentris. Itulah mengapa untuk mewujudkan seluruhnya ini, kita membutuhkan visi antropokosmik yang mencakup alam, antroposentris dan sosial.

Pandangan antropokosmik ini berasal dari pandangan Konfusian yang didasarkan pada pemahaman bahwa manusia itu memiliki dua peran, yakni peran antropologis dan peran kosmologis. Kedua peran ini harus bisa berelasi. Dari sini, maka muncullah persoalan baru lagi mengenai “Bagaimanakah caranya?” Kaum romantik menganggap bahwa terdapat banyak perbedaan pada individual, sosial maupun alam. Maka jika ingin mewujudkan suatu persatuan antara persepsi antropologis dan kosmologis kondisi manusia, akan dilakukan dengan melakukan suatu penyeragaman dari seluruh perbedaan-perbedaan, dimana individu pun akan lebur kedalam persamaan tanpa ada lagi perbedaan di dalamnya. Teori ini dibantah oleh teori Konfusian Klasik yang merumuskan bahwa persatuan itu dapat diwujudkan melalui harmonisasi perbedaan, sehingga terjadi keselarasan antara persatuan dan perbedaan dalam arti kesatuan selaras dengan keragaman. Harmonisasi ini adalah transformasi. Hal ini bisa kita lihat pada kosmos yang memiliki struktur dinamis yang mentransformasi ketegangan-ketegangan destruktif menjadi ketegangan kreatif. Nah, visi antropokosmik ini bisa direalisasikan dengan mencontoh kepada alam dan menyamai daya cipta langit yang bersifat terbuka, kreatif dan inovatif.

Dari sini maka kita mulai mencari modus relasi antara manusia dengan langit dengan mengutarakan pertanyaan “Apakah manusia diciptakan?”, “Apakah manusia terwujud melalui desain misterius sebuah realitas yang transenden, yakni realitas yang sepenuhnya lain, ataukah manusia itu merupakan hasil evolusi yang terus menerus?” Dalam menjawab ini Konfusius menjawabnya dengan menjelaskan bahwa manusia itu ikut berpartisipasi dalam kosmos, tidak pasif dan sekedar tunduk pada kekuatan transenden, dan dikaruniai kecerdasan dan kebijaksanaan untuk memahami daya cipta langit sehingga dapat menjadi rekan penciptaan. Daya cipta langit bersifat natural sedangkan daya cipta manusia teraktualisasi melalui usaha dan upaya dengan bekal kecerdasan memahami hukum alam, daya penciptaan, dan prinsip kehidupan. Oleh karena itu untuk mencapai visi ini, manusia harus melakukan penempaan diri secara spiritual dengan, pertama, kejelian mengapresiasi bagaimana semesta atau kehidupan bekerja. Kedua, kecakapan moral (sense of responsibility), untuk aktif melanjutkan karya besar langit. Sehingga manusia menjadi langit, dalam arti bersikap seperti sikap alam dan berpartisipasi dalam gerakan kehidupan.

Manusia diciptakan bebas-bertanggung jawab, punya kecerdasan-berkesadaran, bijaksana-mampu memahami kerja langit, dan tidak pasif atau fatalis (jabr). Akan tetapi, karena manusia bebas, maka bisa saja manusia bertindak selaras dengan daya cipta langit, atau menyimpang dalam arti tidak mengikuti daya cipta Langit. Itulah mengapa sebenarnya bencana itu datang dari manusia dan di luar dari kekuasaan Langit. Akan tetapi perlu diketahui bahwa, meskipun Konfusian mengunggulkan manusia, namun bukan berarti pemikiran Konfusian bercorak antropomorfisme (Tuhan berbentuk manusia). Karena sesungguhnya jalan Langit itu bukan sekedar bersifat di luar ruang dan waktu, akan tetapi juga bisa terealisasikan dan menyatu dalam kehidupan manusia. Itulah mengapa manusia bisa menjadi rekan penciptaan.


[1] Pandangan Cartesian (Cogito ergo sum) yang cenderung fokus pada subjek/individu yang terisolir. Memahami diri dulu baru memahami yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s