Riya’ Dalam Pandangan al-Ghazali

By: T2B

LATAR BELAKANG.

Membincangkan akhlak seseorang tidak akan lepas dari perhatian bagaimana seseorang bertindak. Namun tindakan manusia tidak sekedar fenomena yang termasuk fakta ‘mati’ sebagaimana seonggok batu di pinggil kali yang mengalir deras, pepohonan yang tumbuh dengan rindang dihempas angin sepoi-sepoi, yang berperilaku, bergerak dibatasi oleh hukum sebab dan akibat fisiologis.  Gerak tanaman yang tumbuh menyongsong sinar mentari adalah sebuah gerak determinasi oleh kodrat fisiologis tumbuhan karena mereka tu mbuh dengan bantuan sinar mentari demi melakukan fotosintesis yang sangat penting bagi proses reproduksi tanaman. Gerak kembalinya sebuah batu ke bumi sesaat setelah ketika kita melemparnya langit, adalah keniscayaan factual sebagai akibat interaksi batu tersebut dengan medan atau daya gravitasi bumi yang membawa efek menarik kembali. Namun gerak manusia  tidak hanya terbatas ditentukan oleh determninasi  hukum-hukum fisis, meski pada tataran tertentu dimensi fisiologisnya tidak dapat dilepaskan dari hukum-hukum fisika, biologi atau kimia.

Manusia tidak hanya bergerak, namun ia juga “bertindak”. Sebuah tindakan lebih dari sekedar fakta fisiologis, ia merupakan sebuah modus ekspressi dari realitas yang lebih “dalam,” batin, aspek mental yang tersembunyi, yaitu kesadaran.  Secara definitif, manusia memang makhluk berkesadaran. Kaum peripatetik mendefinisikan manusia sebagai hayawan al-nâthiq, hewan rasional. Ernst Cassier, seorang antropolog, mendefisikan manusia sebagai anmimalicul simbolicum, hewan simbolik. Pada definisi pertama, konstituen terpenting dari modus eksistensi manusia adalah rasionalitasnya, sebuah daya yang membantunya untuk menilai dan mempertimbangkan, untuk memutuskan dengan sadar, untuk berkesadaran. Definisi kedua mengidikasikan bahwa fenomena kemanusiaan lebih dari sekedar fakta murni, namun merupakan simbol, ekspressi yang menyuarakan sesuatu yang lebih tersembunyi dalam kesadarannya.  Karenanya, nilai sebuah tindakan manusia tidak dapat difahami terlepas dari pemahaman (vertehen) akan dimensi kesadaran yang menjadi pangkalnya. Oleh karena itu, kesadaran adalah infrastruktur (fundamen) sedangkan tindakan adalah supra-strukturnya moralitas. Kesadaran adalah, meminjam istilah Levi-Strauss, deep structure (struktur dalam) dan tindakan adalah surface structure (struktur permukaan) nya, aspek lahi dan aspek batin.

Moralitas manusia tidak dapat dilepaskan dari kedua struktur tersebut karena manusia memang memiliki dua dimensi tersebut, lahir dan batin. Namun aspek fundamental penentu nilai (value) moralitas dan sisi kemanusiaannya terletak pada aspek batin, suprastruktur, deep structure-nya, yaitu kesadaran yang mengatur tindakannya. Kesadaran yang baik akan menghasilkan modus tindakan yang baik, secara eksistensial. Namun kesadaran yang buruk akan menghasilkan tindakan yang secara eksistensial buruk.[1] Karenanya, memahami modus kesadaran seseorang sebagai titik tolak tindakan-tindakannya juga mestinya menjadi sangat signifikan dalam memahami dan menilai seperti apa akhlak dan kepribadian yang dimiliki orang tersebut.

Sebagai  “hewan berkesadaran”, manusia tentu memiliki  insting-insting hewani seperti hasrat untuk menang, keinginan untuk memiliki kuasa, gairah seksual, dan sebagainya, sebagaimana hewan.  Namun karena ia berkesadaran, terdapat aspek-aspek konstitutif lain yang membangun kesadarannya, yaitu hati dan akal. Hati adalah sumber otentik kesadaran manusia yang menyuarakan orientasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat ideal yang bersifat universal, semacam berbuatlah kepada orang baik, bertindaklah jujur, lakukan hal yang benar, dll. Akal membantunya untuk mempertimbangkan apa yang baik dan buruk menyediakannya semacam kemampuan memahami dan menggali secara konseptual mengenai apa yang benar dan apa yang salah.  Dengan kemampuan menyadari, manusia diberkahi kemampuan memutuskan secara independen, otentik, di satu sisi, dan dan karenanya, kemampuan bertanggung jawab. Dengan adanya kesadaran, ada pula tanggungjawab, adan ada pula kebebasan untuk memutuskan. Seluruhnya, dengan berpangkal pada kesadaran yang terpusat dari suara hati,  adalah pra-syarat bagi terciptanya situasi moral (akhlak).

Sayangnya, meski manusia diberkahi suara hati atau nurani, tempat bersemayangnya “nur” Ilahi pada diri manusia, seringkali suara hati ini lemah terdengar karena tertutup oleh begitu nyaringnya suara-suara  nafsu ego demi mengejar kepentingan tertentu yang terbatas dan bersifat sementara.  Ketika hati tidak lagi jernih, maka modus berfikir manusia pun bergeser dari mengasah suara hati menjadi sekedar instrumen apologi, mencari-cari alasan membenarkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya salah dan telah menyimpang.   Semua ini terjadi ketika nafsu yang mengejar  orientasi pada kepentingan egoistik lebih menguasai daya sadar otentiknya sebagai manusia yang memiliki fitrah yang hanif, cenderung pada kebenaran. Karenanya, dominasi nafsu-nafsu instingtif hewani yang egoistik ini yang semakin tidak terkendali ini merupakan virus yang merongrong daya tahan hati sehingga terbaring kaku, dan suaranya semakin lemah tak terdengar. Ketika hati  menjadi sakit, fikiran pun tidak lagi berdiri di atas motif-motif kejernihan intuitif, melainkan menjadi hamba nafsu sebagai gantinya, dan efeknya tindakannya pun tidak lagi sehat melainkan menyimpang dari nilai-nilai yang seharusnya sehingga akhlaknya pun menjadi tidak terpuji. Karena itulah akhlak seseorang pertama-tama sangat ditentukan oleh bening dan kotornya, atau sehat dan sakitnya hati seseorang.

Di sinilah pengetahuan atas kondisi-kondisi dan pra-syarat-pra-syarat yang memungkinkan baik dan buruknya akhlak seseorang menjadi penting dibahas dalam membangun kesadaran moral.  Salah satu aspek perbincangan tersebut adalah terkait dengan kondisi yang dapat membuat hati menjadi sakit, sebut saja, penyakit atau “virus-virus hati.” Dalam makalah ini, pembahasan akan saya batasi pada beberapa jenis virus hati, yaitu riya, takabur dan dengki, menurut salah satu tokoh dalam bidang akhlak dan tasawuf, al-Ghazali.

RIYA

definisi dan Batasan Riya

Kata Riya merupakan derivasi dari kata Ra ‘a yang artinya melihat, lalu araa yang artinya memperlihatkan dan ru’yah (melihat). Inti konsep riya adalah mencari muka, atau kedudukan di hati manusia, dengan mempertunjukkan hal-hal yang baik. [2]

Untuk tida disalahfahami, persoalan riya tidak terletak pada persoalan mendapatkan kedudukan itu sendiri, atau melakukan perbuatan baik itu sendiri, melainkan  terletak pada adanya motif halus, terselubung untuk mencari kedudukan dalam melakukan suatu perbuatan. Seorang nabi adalah orang yang terpandang di penjuru dunia, namun beliau tidaklah riya, karena beliau tidak mengejar status terpandang selama hidupnya. Seluruh kehidupannya diperuntukkan hanya untuk pengabdian kepada Allah. Kemasyhuran beliau merupakan kemasyhuran sebagai buah anugrah Allah atas pengabdiannya.

Terdapat berbagai bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan ria, di antaranya:[3]

  1. Ria dalam urusan agama dengan penonjolan aspek lahirian (tubuh). Misalnya, seseorang yang tampak kurus dan kurang tidur, dan tersirat di hatinya rasa bangga karena hal tersebut  mengesankan bahwa dia adalah ahli puasa dan ahli tahajud.
  2. Ria dalam pakaian.  Penting dicatat, bentuk  riya ini bersifat relatif tergantung pada konteks siapa yang ingin ia jadikan objek riya dan memperoleh pengagungan. Misalnya bias saja orang riya  melalui penggunaan atribut-atribut kebesaran religius yang digunakan oleh orang tidak berilmu, demi memberi kesan saleh dan ahli ilmu agama. Atau menunjukkan kesederhanaan demi mendapatkan kesan tidak terikat dunia; atau justru berpakaian mewah agar dipandang sebagai golongan kelas atas, padahal biasanya dalam kondisi sendiri, sedang tidak berada di tengah khalayak, cara berpakaiannya tidaklah seperti cara yang diperlihatkannya pada khalayak.
  3. Riya dalam perkataan.  Bentuk riya dalan perkataan begitu beragam. Bisa jadi orang riya dengan member nasihat, memperlihatkan hafalan, memfasihkan bacaan sedemikian merdunya ketika menjadi imam, menunjukkan kelihaian berdebat di kelas, menampilkan pepatah. Semua dapat menjadi riya jika, dan hanya jika, semua itu dilakukan karena mempertimbangkan pandangan orang atas dirinya.
  4. Riya dengan amal. Bisa saja orang riya dengan melamakan durasi shalatnya, rukunya, dan sebagainya. Bisa pula orang riya dengan melakukan sedekah, atau dalam menakar jumlah sedekah; dalam puasa, dalam melakukan ibadah haji karena dapat memperoleh kebanggaan dan mendapat status istimewa di masyarakat;; melakukan salat tahiyyatul masjid ketika banyak orang tengah berkumpul di mesjid, padahal biasanya hal tersebut tidak dilakukannya ketika sedang sendiri; bahkan bias pula orang riya dengan berjalan sambil menundukkan kepala ketika bertemu ahli agama.

Mendengar hal ini, tentu saja kita merasa malu, dan kemudian memutuskan untuk melakukan hal serupa meski kita tengah sendirian. Namun hal ini bukan solusi menghapus keriyaaannya, melainkan justru menggandakan riya.  Hal ini dikarenakan hal tersebut dilakukan dengan motif  agar ia dapat tetap melakukan hal tersebut di tengah orang banyak tanpa merasa malu diri atau merasa diri munafik. Tetap saja, hal ini dilakukannya bukan atas dasar ikhlas atau malu kepada Allah.

  1. Riya dalam pergaulan (sosialita).  Hal ini mungki n pernah kita rasakan ketika seorang tokoh datang ke rumah kita. Kita merasa senang dengan kedatangan sang tokoh, karena mengesankan bahwa  dirinya menjadi sosok yang penting, diperhitungkan, punya nama, berpengaruh, dan  mulia sehingga rumahnya didatangi tokoh tertentu, tak perduli apakah dosen, guru, ulama, menteri atau presiden, selama hal tersebut membuat dirinya memiliki kebanggaan dan merasa terpandang, maka itulah riya.

Terlepas dari semua itu, kembali ke persoalan utama, apapun bentuknya,  titik parameter utama riya melainkan motif mencari kebanggaan, kedudukan di hadapan orang lain,  dalam melakukan suatu perbuatan, bukan pada bentuk perbuatannya.

Perangkap Riya: Sebuah Bahaya Laten

Besarnya bahaya riya terletak dapat difahami dengan perbandingan dengan penyakit hati lainnya. Tidak sulit bagi seorang pengumpat untuk melakukan introspeksi, menyadari kesalahan dan keburukan dirinya sebagai tukang umpat, lantaran penyakitnya terkspressikan sebagai fenomena yang secara kasat mata buruk, dan disadari lahir dari modus kesadaran yang buruk (emosian, pemarah, sinis). Namun seorang yang tertambat riya biasanya adalah mereka yang mengupayakan kebaikan, menahan syahwatnya dari perbuatan-perbuatan buruk, bertutur baik, beribadah dengan rajin, berupaya melakukan 1001 kebaikan, namun dia tidak menyadari tumbuhnya suatu kebanggan “halus” akan upayanya dalam hal-hal tersebut.

Kebanggaan  diri yang halus dan laten inilah yang tanpa disadarinya telah mendeviasi motif utamanya bertindak baik dari ketulusan, murni pengabdian, menjadi “gila” mengekspresikan kebajikan. Modus pengabdian di balik modus tindakan yang dipertontonkan berubah menjadi modus pertunjukan.  Lagi-lagi karena modus tindakan yang dilakukannya adalah hal-hal yang positif,  sulit, memerlukan pengorbanan, upaya yang keras, bahkan seringkali mengabaikan keuntungan-keuntungan egoistiknya, seperti salat malam, rajin puasa, dll, maka pergeseran struktuk ini tidak tampak dipermukaan (surface struktur) melainkan pada terjadi diwilayah mentalitas, kesadaran (deep struktur), dan itupun bersifat halus. Halus karena tidak seperti pengumpat yang didasarkan pada mentalitas tempramen yang secara langsung mengarah pada tindakan buruk (mengumpat), kesadaran bangga-diri  atau riya berorientasi pada tindakan-tindakan positif, tidak tercela, penuh upaya pengorbanan diri dan sebagainya. Orientasi kesadarannya menuju tindakan-tindakan positif tersebut telah menjadi tabir bagi dirinya untuk melihat perubahan struktur yang lebih dasar dari “orientasi kesadaran”, yaitu “modus kesadaran” itu sendiri, dari “modus mengabdi” menjadi “modus bangga diri.”

Dalam “modus mengabdi” adalah modus kesadaran mendasarkan tindakan demi sesuatu yang lain yang layak diabdi, Tuhan.  Adapun “modus bangga diri” adalah modus kesadaran di mana tindakan-tindakan positif dilakukan karena ada rasa bangga pada diri, demi memenuhi kepuasan diri, pemenuhan pribadi, sebuah kesenangan tersendiri, yaitu senang dengan tumbuhnya kebanggan, sehingga termasuk pada modus bangga diri dapat dikategorikan sebagai “modus pemenuhan ego” atau “modus demi syahwat,” alih-alih modus “modus mengabdi,” “modus demi  Ilahi”  atau “modus pemenuhan panggilan Ilahi.” Hal ini selaras dengan pernyataan al-Ghazali:[4]

“sesungguhnya yang dicoba dengan riya adalah alim ulama, para ahli ibadah nan zuhud, berungguh-sungguh memenuhi panggilan akhirat [spiritualitas/agama]. Mereka, di saat memaksakan diri, bermujahadah, menjauhi nafsu-syahwat dan perbuatan syubhat, tidak lagi terpengaruh perbuatan maksiat yang bersifat lahiriah. Kemudian mereka merasa kerasan dengan berbagai perbuatan baik, yang melahirkan amal dan ilmu. Mereka pun mampu lepas dari rasa sulit dalam bermujahadan, tergantikan oleh kesenangan penerimaan orang lain yang melihat mereka dengan pandangan kemuliaan  dan pengagungan. Jadilah mereka tanggap untuk melakukan ragam ketaatan dan [tanpa disadari] mempertontonkannya di depan khalayak. Ia tidak merasa cukup hanya dengan penglihatan Allah….

Pada hal tersebut ada sebuah kesenangan yang diperoleh, bahkan kesenangan paling besar.  Syahwatnya terpuaskan, bahkan syahwat yang peling intens. Ia memandang hina dan meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa, dan merasa ringan dengan disiplin ketat peribadatan, demi mendapat kepuasan batin tertinggi dibanding segala kepuasan, hasrat nafsu di atas segala syahwat.

Disangkanya, hidupnya adalah bersama Allah dan ibadahnya diridhai Allah. Padahal, ia hidup dengan syahwat tersembunyi yang membutakan akal, alih-alih menyadarkannya. Dikiranya dirinya ikhlas mentaati Allah dan menjauhi dorongan-dorongan pada hal-hal yang dilarang. Nafsu dirinya tersebut telah menyembunyikan nafsu syahwat tersebut….Inilah sebuah penipuan diri, dan takkan ada yang selamat kecuali orang-orang  shiddiq.”

Konsekuensi tindakan Riya pada Moralitas

Dengan perubahan modus tersebut, motifnya tidak lagi persembahan demi ilahi melainkan demi diri. Jika dianalisis lebih lanjut, hal ini berkonsekuensi pada dua konsekuensi kejatuhan moral:

  1. Kemunafikan. Hal ini karena “modus pengabdian” berubah menjadi “modus pemenuhan ego”, sehingga tindakan yang dilakukan tidak lagi sejati mengabdi, melainkan seolah-olah mengabdi. Dengan modus “seolah-olah”  ini, wajar jika kemudian al-Ghazali menempatkan derajat moral seorang yang riya dalam ibadah berstatus nifak, bertentangannya antara forma lahiriah terpuji yang ditampakkan dengan intensi yang menjadi niat sesungguhnya dalam jiwa,[5]                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               dan dengan kata lain, dalam konteks sosial,  setara dengan penipuan.[6]
  2. Kemusyrikan terselubung. Dalam modus pemenuhan ego/nafsu dalam kebaikan, ibadah, ‘ego’ telah diposisikan secara halus sebagai  padanan, bahkan menggantikan, kedudukan Tuhan sebagai “sumber motif” persembahan tindakan.  Dirinya merasa berada dalam khayalan bahwa dirinya sedang dalam keadaan baik, mengabdi, di satu sisi, padahal faktanya, dirinya terbuat dalam gelombang penyekutuan Tuhan yang tidak kasat mata.[7]

Penyekutuan Tuhan adalah sebuah penyakit moral yang serius, semakin akut ketika penyekutuan tersebut terjadi secara halus, tidak kasat mata, sehingga sulit dibaca dan dijadikan objek kritik dan refleksi-diri (introspeksi).  Karena itu saking akutnya, bukannya pahala yang diperolehnya, melainkan nilai tindakan yang sia-sia. Saking akutnya, bahkan al-Ghazali mengatakan bahwa mereka rentan terjebak hal ini justru bukan hanya orang biasa, melainkan para ulama, ahli ibadah, dan hamba yang rajin dan zuhud menempuh jalan agama, [8]

Demikianlah bagitu laten dan akutnya  penyakit riya sehingga Nabi saw. bersabda, sebagaimana dikutip al-Ghazali:  “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari hal-hal yang membuatku takut akan terjadi pada umatku adalah riya dan nafsu syahwat yang laten (tersembunyi), di mana ia lebih tersembunyi dari merangkaknya semut hitam di atas batu besar hitam pekat di malam yang gelap.[9]

Tingkatan Riya

Al-Ghazali membagi pilar riya dari 3 aspek:  (1) aspek motif dasar tindakan riya; (2) objek tindakan riya; (3) Keuntungan yang ingin diraih. Setiap pilar di atas memiliki hierarki sesuai kategorinya masing-masing.[10]

(1)    Aspek motif dasar. Dilihat dari perspektif motif, riya dapat dibangi dalam beberapa tingkatan. Setiap tingkat dibedakan oleh intensitas proporsi motif yang dipilah pada dua kategori:  mencari ridha Allah atau mencari muka. Hal ini terbagi pada empat tingkat:

Tingkat pertama: orang yang melaksanakan suatu perbuatan murni untuk “mencari muka”. Misalnya shalat demi mendapatkan penerimaan yang lebih intens dari calon mertua, padahal biasanya selalu terlambat shalat, bahkan ditinggalkan.

Tingkat kedua: Adanya kombinasi motif, beribadah sekaligus mencari muka. Hanya saja, proporsi mencari muka lebih inteks dari mencari ridha Allah Taala.

Tingkat ketiga: Kombinasi kedua motif dengan intensitas sama kuatnya. Ketika sendiri, semangatnya beribadah tidaklah muncul. Namun, ketika orang di sekitarnya melakukan amal yang sama, semangatnya beribadah muncul  seiring dengan banyak orang yang mengiringinya.

Tingkat keempat: Motif berbuat adalah demi ibadah. Hanyasaja, kekuatannya beribadah semakin bertambah manakala orng memperhatikannya, meskipun tanpa dilihat perbuatan tersebut tidak akan ditinggalkannya.

(2)    Aspek tindakan riya, terbagi dua: (a) riya dengan pokok-pokok ibadah, dan (b) riya dengan sifat-sifat ibadah.

(a)    Riya dengan menunjukkan sikap iman dan pokok peribadatan. Riya ini adalah yang terberat dalam kategori ini.  Riya pada tingkat ini memiliki tiga sub tingkat:

pertama dalam pokok iman, mengaku bersaksi, menunjukkan keimana secara lahiriyah padahal hal yang berlawanan justru terjadi pada batinnya. Inilah ciri orang munafik sebagaimana ditunjukan dalam beberapa ayat al-Quran. (lihat Q.S. al-Munafiqun:1; al-Baqatrah 204-5; al-Imran: 119)

Kedua, riya hanya pada pokok ibadah semata, meskipun pada dasarnya ia adalah orang yang beriman, percaya pada Allah sebagai sesembahan. Hanya saja, keimanannya tersebut diiringi kemalasan untuk melaksanakan ibadah, sehingga seringkali ia meninggalkannya alih-alih mengerjakannya, kecuali ketika terdapat orang lain di sekitarnya yang memperhatikannya.

Ketiga, riya dengan ibadah sunnah, namun tulus dalam iman dan ibadah yang diwajibkan.

(b)   Riya hanya dengan sifat-sifat ibadah. Tingkat ini dapat dibagi dalam tiga sub-tingkat hierarkis:

Pertama, riya melakukan perbuatan yang sifatnya melengkapi kesempurnaan ibadah, dan jika tidak dilakukan akan mengurangi kesempurnaan ibadah tersebut.

Misalnya dalam melaksanakan slahat dengan tertib, membaca qiraat dengan bacaan yang rapi dalam shalat hanya karena malu dilihat orang. Tindakan ini dikategorikan tindakan penghinaan kepada Tuhan, atau tidak menganggap Tuhan itu sendiri, karena lebih memperdulikan orang lain daripada pengkhidmatan pada sang raja, Allah swt.  Hal seperi ini dapat terjadi karena dua motif, ingin dipuji dan takut dicela. Yang pertama hukumnya haram, namun pada yang kedua, bisa saja orang berbuat sesuatu yang baik agar terhindar dari cacian, makian dan celaan.  Ia melakukan hal ini murni untuk menghindari umpatan, tanpa adanya pretense untuk dipuji dan mendapat pahala. Yang mesti dilakukan untuk mengatasi tingkat riya pada kategori ini adalah dengan berusaha membiasakan diri melakukan hal serupa dalam kesendirian dengan niat yang disempurnakan, yaitu keikhlasan.

Kedua, riya melakukan perbuatan yang sifatnya melengkapi kesempurnaan ibadah yang tidak akan mengurangi nilai ibadah jika  tidak dikerjakan, misalnya memperpanjang berdiri atau sujud dalam shalat, member takaran infak sedemikian rupa jumlahnya, dll.

(3)    Tujuan akhir (keuntungan) yang ingin diraih. Dari aspek ini terdapat tiga tingkat derivatif yang juga bersifat hierarkis:

Pertama, berbuat riya dengan aktivitas ibadah demi tujuan yang tergolong maksiat. Misalnya memperbanyak pengajian ketika mendekati kampanye, sehingga mendapat kesan sebagai orang saleh, dan layak menjadi pemimpin. Dalam benaknya, sasaran utama  aktivitas ibadahnya demi mendapatkan simpati agar dia layak terpilih, sehingga banyak proyek yang dapat dia peroleh, banyak lahan yang dapat dia korupsi, banyak relasi atau teman yang dapat dia bantu (kolusi). Demikian pula menghadiri pengajian demi mengamati betapa menariknya lawan jenis yang ada di majlis. Hal seperti ini termasuk yang dilaknat, karena menggunakan kebaikan sebagai instrumen melakukan keburukan.

Kedua, riya demi keuntungan duniawi yang diperbolehkan, misalnya untuk menikahi lawan jenis dari kalangan agamawan, atau sayyid; Meski berada dalam tingkat kedua, namun riya hal seperti ini merupakan keburukan akhlak, karena menggunakan ketaatan kepada Allah sebagai kedok untuk memperoleh kenikmatan dunia.

Ketiga, melakukan suatu kebaikan bukan untuk mendapat pujian, melainkan takut disepelekan atau diperlakukan secara antipasti oleh orang lain.

 

Sebab-sebab Riya: Cinta Kemegahan dan Takut Dihina

  1. 1.       Cinta Kemegahan : Motif selebritas, Gila Hormat, Hasrat untuk Diagungkan.

Kemegahan menurut al-Gazali bermakna: ‘terbangunnya sebuah kedudukan diri di hati manusia.’[11]Singkatnya, mendapatkan pengakuan, atau dimilikinya keyakinan pada hati manusia bahwa seseorang memiliki karakteristik kesempurnaan dalam kapasitas tertentu yang dapat mempengaruhi orang lain untuk mengakui kedudukan orang tersebut di hati mereka, dan, efeknya, ia menjadi objek decak kagum dan pujian.   Dengan kata lain, kemegahan adalah mendapatkan pengakuan: sebuah status seseorang di hati orang lain sehingga ia menjadi masyhur, dikenal, memiliki nama besar, atau menjadi berpengaruh, didengar dan diikuti.

Kemegahan ini dapat muncul  dari beragam perspektif, dari sisi keilmuannya, ibadahnya, perilakunya, kesempurnaan fisiknya, dan apapun yang dipandang orang sebagai kesempurnaan sehingga memunculkan decak kagum.  Adanya sifat-sifat ini menjadikan seseorang mendapat tempat kebesaran di hati orang lain, dengan kata lain, menyebabkan  kemegahan.

Al-Ghazali menyebut kemegahan ini sebagai salah satu di antara dua pilar duniawi: kemegahan dan harta. Al-Gazali bahkan memperlihatkan antara harta dan kemegahan memiliki paralelitas. Berikut paralelitas / kesejajaran antara cinta harta dan cinta kemegahan menurut al-Ghazali, yang penulis ramu dalam kolom ‘’kesamaan modus:”[12]

KEMEGAHAN (NAMA BESAR) Paralelitas  Modus KEKAYAAN (HARTA BERLIMPAH)
Mencari nama, Memiliki Mencari harta, barang untuk dimanfaatkan
Berkuasa / berpengaruh secara psikologis Menguasai Berkuasa / berpengaruh secara ekonomis
Kedudukan social-psikologis Up-self-positioning Kedudukan social-ekonomis
Dimuliakan /Dipandang sempurna dari perspektif personalias Kesempurnaan/Menjadi objek pemujaan Dipandang sempurna secara ekonomi
Ditaati, diikuti, disanjung Otoritas-Penguasaan Ditaati, diikuti, disanjung
Mudah mempengaruhi orang Mudah membeli tenaga orang
Memiliki hati orang merdeka Memiliki pekerja, budak belian
Perbudakan tingkat tinggi(objek: hati,  orang merdeka) Perbudakan Perbudakan tinggak dasar(objek: raga, tenaga, profesionalitas, penjual jasa)
Modus relasi objek dengan subjek:Patuh atas dasar rasa senang, empati, loyalitas Modus relasi:Dipatuhi-mematuhi Modus relasi objek dengan subjek:Patuh terpaksa, tidak dari hati, karena sesuatu, barter.

Dari bagan di atas kita dapat melihat adanya kesejajaran modus antara kemegahan dan kekayaan. Keduanya memiliki fungsi yang sama, baik kekayaan (uang, emas) dan kemegahan (kebesaran) sama-sama merupakan instrumen, menjadi wasilah atau medium, demi pemenuhan kebutuhan atau meraih tujuan-tujuan lainnya. Bahkan menurut al-Ghazali kemegahan ini jauh lebih disukai alih-alih harta, karena beberapa alasan tertentu.[13]

  1. 2.       Phobia Cela: Psikologi Takut Dihina.

Sesungguhnya sebagian besar manusia itu binasa disebabkan oleh ketakutan mereka akan dihina atau dicela dan suka dipuji oleh orang. Maka gerak-gerik dan tindakan mereka terhenti , selaras dengan pendapat-pendapat orang terhadap mereka. Karena mereka takut dihina dan dicaci. Dan yang demikian itulah yang termasuk kepada membinasakan diri.

 

MENGOBATI RIYA (lihat hal. 354)

Sebab kemegahan disenangi manusia dapat digolongkan pada 2 kategori: eksplisit dan implisit.

  1. Sebab eksplisit: Yaitu menjauhi penderitaan derita karena ketakutan (phobia).

Manusia yang menyayangi diri  terkadang berburuk sangka menegnai akan terjadinys sesuatu yang buruk di masa depannya. Karenanya, dia mencoba mengantisipasi hal tersebut dengan menambah kapasitas diri. Misalnya seseorang yang meskipun sudah kaya, terkadang terbersit di hatinya bahwa kekayaannya tersebut dapat hilang suatu saat, karenanya dia terus menumpuk-numpuk kekayaannya agar kehilangan yang ditakutkannya dapat diminimalisir. Ketika jiwa terfokus mengejar harta, tanpa disadari perlahan tapi pasti, rasa cinta kecintaan kepada harta pun tumbuh di hatinya.  Hal serupa terjadi dalam masalah kemegahan, kemasyhuran, kehormatan, dan nama baik, sehingga terkadang orang menjadi gila hormat sibuk membangun pencitraan sebagai upaya antisipasi yang gencar untuk memudahkannya dalam banyak hal, dalam bergaul, membangun relasi, yang akhirnya membuatnya memiliki akses pada banyak kemudahan dari berbagai pihak yang bersimpati dan mengakui kedudukannya, sehingga menghindarkannya dari kesulitan-kesulitan yang dikhawatirkannya akan terjadi di masa depan.[14]

  1. Sebab Implisit: Kodrat manusia untuk  mencari kesempurnaan.

Meski manusia memiliki beragam karakter, baik karakter hewani , karakter kebuasan, karakter satanik,   namun karena manusia dipandang memiliki asal-usul ruhani yang bermuara pada Tuhan.   Dalam al-Quran dikatakan, bahwa ruh adalah urusan Tuhan (Q.S. al-Isra: 85). Karenanya manusia pun  memiliki karakter Ilahi, misalnya, takabur, pemaksaan (jabr), dan mencari kesempurnaan.

Kaitannya dengan kemegahan / kebesaran adalah, karena kemegahan adalah kita dapat menundukkan hati orang lain untuk loyal kepada kita secara empatik, tanpa balas jasa. Hal ini hanya terjadi dengan suatu kemampuan (pengetahuan) dan kekuasaan.

Problemnya bahwa kesempurnaan mengandaikan kemandirian, kekekalan dan ketidakterbatasan dalam wujud, dan hal ini hanya dimiliki Tuhan. Ketika manusia berusaha mengejar kesempurnaan, maka dua opsi ini memiliki konsekuensinya masing-masing.

Pertama, dalam pengetahuan. Memperluas kemampuan mengetahui, semakin mendekati kenyataan dan  utuh, justru akan mengantarkan kita untuk mengenai hakikat yang sejati, Tuhan yang Mahasempurna. Pengenalan ini akan menjadikan kita dekat dengan yang Mahasempurna. Kedekatan inilah yang menjadikan kita sempurna. Karenanya kesempurnaan dalam ilmu adalah kesempurnaan hakiki.

Kedua , dalam kekuasaan.   Dalam perspektif al-Ghazali, kekuasaan hanya milik Allah. Manusia hanya menerima kekuasaan dari Allah. Karenanya setiap upaya memperoleh kekuasaan, memperluasnya adalah upaya kegagalan dalam memahami hakikat asal-muasal kekuasan itu sendiri.  Orang yang mencoba mengejar kekuasaan adalah orang yang tertipu

, Masalahnya, kesempurnaan ilmu dapat mengantarkan manusia kepada untuk mengetahui yang Maha sempurna, dan karenanya kesempurnaan dalam ilmu dapat member kesempurnaan hakiki.  Sedangkan kekuasaan,


[1] Tindakan yang secara kasat mata baik namun didasari modus kesadaran yang buruk,  hanya baik dari satu sudut pandang, dan akan kembali buruk jika dilihat dari perspektif yang holistik, sebagaimana pelaku kolusi adalah orang yang baik karena dia sudah bersikap dermawan. Tindakan yang buruk padahal didasari kesadaran yang baik, biasanya terjadi karena ketidaksengajaan atau ketidaktahuan, dan karenanya secara moral-eksistensial, bukan secara hukum normatif, perbuatan tersebut tidak dapat dikategorikan buruk, sebagaimana orang yang tidak sengaja mengambil barang orang lain karena dikiranya adalah miliknya, atau dikiranya barang-barang tersebut diberikan secara cuma-cuma.

[2] 317

[3] 318-21

[4] 245-6

[5] 284

[6] 325

[7] Dalam konteks lain, al-Ghazali menyebut tindakan ini sebagai “memperolok Tuhan,” layaknya seorang budak yang berdiri tegap sepanjang hari di hadapan sang raja, seolah setia berada di samping sang raja,  padahal dia sesungguhnya sedang mengamati budak perempuan yang ada di tempat yang sama. Tentu saja hal ini sama saja dengan mempermainkan sang raja. Hal. 325.

[8] 245

[9] 244

[10] Lihat hal. 327-338

[11] 259

[12] Lihat, 258

[13] Lebih detil mengenai hal ini  lihat hal. 260-2

[14] 262

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s