Memahami 3 Penyakit Hati Yang Paling Berbahaya: Sombong, Riya, dan Dengki

Oleh: T2B

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat-kalimat nasihat seperti “Berpikirlah sebelum bertindak”, Atau “Berpikirlah dua kali sebelum mengambil keputusan”, atau mungkin “Pikirkan dulu sebelum berbicara”. Tentunya sudah jelas kita ketahui apa sebab dari dilontarkannya kalimat-kalimat tersebut. Hematnya, semua kalimat itu diutarakan untuk mencegah kita dari kekeliruan dalam bertindak atau berbicara, atau agar kita terhindar dari suatu tindakan yang ceroboh. Bagaimana kecerobohan atau kekeliruan ini bisa terjadi? Apakah ada hubungannya berpikir terlebih dahulu sebelum kita hendak melakukan sesuatu? Tentu saja iya. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menganugerahi manusia ‘akal’ untuk berpikir yang juga berintegrasi dengan hati, karena pikiran yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar. Sebaliknya, pikiran yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah pula.

Sebagai “hewan berkesadaran”, manusia tentu memiliki  insting-insting hewani seperti hasrat untuk menang, keinginan untuk memiliki kuasa, gairah seksual, dan sebagainya, sebagaimana hewan.  Namun karena ia berkesadaran, terdapat aspek-aspek konstitutif lain yang membangun kesadarannya, yaitu hati dan akal. Hati adalah sumber otentik kesadaran manusia yang menyuarakan orientasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat ideal, semacam berbuatlah kepada orang baik, bertindaklah jujur, lakukan hal yang benar, dll. Akal membantunya untuk mempertimbangkan apa yang baik dan buruk menyediakannya semacam kemampuan memahami dan menggali secara konseptual mengenai apa yang benar dan apa yang salah.  Dengan kemampuan menyadari, manusia diberkahi kemampuan memutuskan secara independen, otentik, di satu sisi, dan dan karenanya, kemampuan bertanggung jawab. Dengan adanya kesadaran, ada pula tanggungjawab, dan ada pula kebebasan untuk memutuskan. Seluruhnya, dengan berpangkal pada kesadaran yang terpusat dari suara hati,  adalah pra-syarat bagi terciptanya situasi moral (akhlak). Namun, seringkali kita melihat orang-orang yang ‘kelihatannya’ selalu berbuat baik, bersikap baik, terlihat alim dan terpuji, terhormat dan berwibawa, tampak dermawan dan murah hati, hingga orang-orang selalu memuji-mujinya baik, karena ia selalu terlihat baik di depan khalayak umum misalnya, atau terlihat berwibawa dan bijaksana di depan publik, maka apakah mereka memang benar-benar orang yang ‘ikhlas’ berbuat baik? Ataukah ada faktor-faktor lain yang mendorongnya semangat untuk terus berbuat baik? Apakah orang yang terlihat berbuat baik memang memiliki hati yang baik juga? Maka sesungguhnya ada orang-orang atau tindakan-tindakan yang penampakannya terlihat terpuji dan mengagumkan hingga semua masyarakat tahu, akan tetapi justru tindakan baik itu malah bersumber dari virus-virus penyakit yang menggerogoti hatinya. Sayangnya, sang penderita penyakit hati ini kebanyakan justru tidak menyadarinya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Dari sinilah maka kita akan berkenalan secara umum dengan 3 penyakit hati paling berbahaya, yakni sombong, riya’ dan dengki yang akan sulit disembuhkan jika kita membiarkannya hingga usia kian senja. Adapun dalam artikel ini penulis akan memfokuskan untuk membahas mengenai ketiga penyakit hati menurut pandangan al-Ghazali.

1.     Sombong

a.      Definisi

Dalam kamus bahasa Arab al-Munjid, sombong berasal dari kata bahasa Arab Takabbara, masdarnya adalah Takabbur yang artinya adalah sombong. Kata ini pun berkembang menjadi al-Kibriyaa’, al-kibr yang berarti kesombongan, dan memiliki kesamaan arti dengan Istakbara yang masdarnya adalah Istikbar. Namun makna lebih jauhnya lagi, kata al-Kibr berarti sifat sombong itu sendiri, Takabbur berarti tindakan yang sombong, sedangkan Istikbar adalah tindakan sombong yang sudah meminta keterlibatan orang lain untuk ikut bersikap sombong.

Allah Swt berfirman dalam Q. S. Al-A’raf [7]:146), “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” Dan dalam salah satu hadits qudsi Rasulullah Saw bersabda: “ Kesombongan itu adalah kain selendang-Ku dan kebesaran itu kain sarung-Ku. Barangsiapa melawan Aku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku melemparkannya ke dalam neraka Jahannam” (Hadis qudsi).

Menurut Al-Ghazali, kesombongan adalah suatu sifat di dalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu. Sifat ini bermula dari virus hati yang menganggap dirinya paling mulia dan terhormat. Sedangkan orang lain dalam pandangannya adalah hina dan tercela. Maka sikap sombongnya ini hampir sama seperti sikap iblis yang tak mau sujud pada Adam ketika Allah memerintahkan mereka, dan mengatakan: “ … Aku lebih baik dari padanya (Adam). Aku Engkau ciptakan dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Q.S. Shad: 76).[1]

Hakikat sombong, menurut al-Ghazali, adalah apabila seseorang memandang dirinya lebih unggul daripada orang lain dalam segi kesempurnaan sifat. Dan sesungguhnya sifat ini menyebabkan kehinaan dan kegoyahan akidah.

b.     Faktor Penyebab

Al-Ghazali menyebutkan bahwa penyebab utama dari penyakit hati ini terdiri dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah sebab pada orang yang menyombongkan diri, yakni Ujub, kemudian menyangkut orang yang disombongkan, yakni dendam dan dengki, dan yang berkaitan dengan yang lain dari keduanya, yakni riya’. Singkatnya, sebab-sebab sombong itu ada empat, yaitu ujub, dendam, dengki dan riya’. Namun al-Ghazali pun mengklasifikasikan bahwa sumber-sumber kesombongan itu ada 4 macam[2], diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengerti, dalam arti banyak orang-orang yang alim yang mengerti banyak hal, akan tetapi ia tak luput dari kesombongan. Karena ilmu merupakan keutamaan paling tinggi di sisi Allah, maka tak sedikit orang yang berilmu melihat dirinya lebih unggul daripada orang lain. Rasulullah Saw. Bersabda: “ Bahaya mengerti adalah sombong.” Hadis lain mengatakan, “ Janganlah kalian termasuk orang-orang alim yang sombong, sebab ilmumu tidak sebanding dengan kebodohanmu.” Orang alim yang sombong memiliki karakter yang menganggap dirinya di sisi Allah lebih hebat daripada orang lain, atau menganggap bahwa hak-haknya merupakan kewajiban orang lain, bahkan merasa heran jika orang-orang tidak tunduk kepadanya.
  2. Wara’ (Waspada) dan Ibadah, bahwa sesungguhnya ahli ibadah pun tidak kedap dari takabur. Dengan ketekunan mereka dalam menjalankan ibadah, orang-orang ini mennganggap bahwa diri mereka seolah lebih hebat dan utama daripada Nabi, dan barangsiapa yang telah berani menyakitinya maka akan dianggap lebih hina daripada orang-orang kafir.
  3. Sombong karena faktor keturunan. Orang yang menyombongkan asal- usul keturunannya akan semakin sombong dengan perlakuan khusus dari orang lain.
  4. Sombong yang disebabkan oleh harta dan pengikut. Sesungguhnya takabur semacam ini adalah merupakan ketersimpangan dari jati diri. Mereka berbangga akan banyaknya harta yang mereka miliki, atau dengan rupa wajah mereka yang cantik maupun tampan.

c.      Akibat

Kesombongan adalah dosa yang begitu besar, hingga jika seseorang yang dalam hatinya tersimpan kesombongan seberat biji sawi pun, maka ia tidak akan masuk surga, karena dalam sikap sombong terdapat tiga kotoran yang besar.[3] Pertama, ia menyamai Allah dalam kekhususan sifat-Nya. Kesombongan adalah selendang Allah sebagaimana difirmankan-Nya. Karena itu keagungan tidak layak disandangkan selain bagi-Nya. Kedua, sikap sombongmenyebabkan penolakan kebenaran dan menghinakan mahluk-mahluk lain. Rasulullah Saw. Bersabda, “Sikap sombong termasuk sikap yang menampik kebenaran, merendahkan manusia, menutup pintu kebahagiaan, dan menghinakan manusia.” Ketiga, sikap sombong merubah dirinya dengan seluruh mahluk, sebab sikap sombong tidak memungkinkan seseorang mencintai yang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, sukap sombong tidak dapat membuat orang berendah hati, meninggalkan sikap dengki dan marah, tidak berdaya mengekang amarah, bersikap lembut dalam memberi nasehat atau meninggalkan sikap riya’. Jadi pada dasarnya, setiap akhlak tercela akan selalu dilalui oleh orang yang sombong dan tidak ada akhlak terpuji kecuali harus meninggalkan sifat tersebut.

Oleh karena itu al-Ghazali menjelaskan bahwa, jika kesombongan itu ditujukan kepada Allah untuk tidak tunduk pada perintah-Nya, maka itu adalah benar-benar kekufuran. Jika kesombongan itu ditujukan kepada para rasul untuk tidak patuh kepada mereka karena mereka adalah manusia seperti dirinya, maka itu pun benar-benar kekufuran. Dan jika kesombongan itu ditujukan kepada manusia dan menyeru mereka untuk berkhidmat kepada dirinya serta tunduk kepadanya, maka itu pun merupakan pengingkaran terhadap Allah, karena tidak sepatutnya ia memerintahkan orang lain taat kepadanya. Jadi jika ia berbuat baik, berilmu dan beramal, lalu menyombongkannya kepada manusia, maka ia telah menghilangkan pahalanya, dan hampir pahalanya itu menjadi sia-sia.[4]

d.     Langkah-langkah Menghindarinya

Langkah-langkah umum untuk menghindari sikap sombong adalah dengan mengenali diri kita sendiri. Bahwa kita manusia sebenarnya hanya berasal dari mani yang bau dan pada akhirnya akan mati menjadi bangkai yang menjijikkan. Sebagaimana firman Allah, “ Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes sperma, Allah menciptakan lalu menentukannya. Kemudian Ia memudahkan jalannya, dan mematikannya, serta memasukkannya ke dalam kubur. (Q.S. Al-A’raf: 179). Alangkah baiknya jika manusia mengetahui bahwa dirinya diciptakan dari saru pati tanah dan bukanlah apa-apa. Manusia pun tidak bisa menghindar dari ancaman nyawanya, akal, kesehatan, atau anggota badannya dan akhirnya kematian yang akhirnya akan dihadang oleh siksaan dan hisab pula setelahnya. Maka sebenarnya manusia tidak bisa menyombongkan apapun, Karena ia hanyalah seorang hamba yang hina dan tidak memiliki kuasa sedikitpun.

Oleh karena itu al-Ghazali menjelaskan obat kesombongan atas faktor-faktor atau sumber-sumber dari sifat sombong tadi. Bahwa sesungguhnya ilmu yang hakiki adalah sesuatu yang mampu membawa seseorang untuk mengenal Tuhannya dan mengenal dirinya sendiri, takut akan akhir hidupnya kelak dan hujjah Allah yang ditimpakan kepadanya. Sedangkan ‘Abid (ahli ibadah) yang sejati akan bertawadhuk ketika berilmu, karena merasa dirinya bodoh. Dan jika ia berasal dari keturunan yang berpangkat ataupun dianggap terhormat, maka ia senantiasa akan merenungkan asal-usul keturunannya. Dan jika mereka berbangga terhadap harta mereka, seharusnya mereka menyadari bahwa kekayaannya itu adalah sesuatu yang justru akan mengundang tangan-tangan jahil dan pencuri, dan bahwa kemolekan dan kerupawanan paras akan hilang begitu saja jika diri ditimpa sakit.

Di atas semua itu, al-Ghazali mengungkapkan bahwa hal-hal yang terbaik adalah yang pertengahan. Maka kerendahan yang terpuji adalah merendah kepada yang sebaya tanpa kehinaan.[5]

2.     Riya

a.      Definisi

Kata Riya merupakan derivasi dari kata Ra ‘a yang artinya melihat, lalu araa yang artinya memperlihatkan dan ru’yah (melihat). Inti konsep riya adalah mencari muka, atau kedudukan di hati manusia, dengan mempertunjukkan hal-hal yang baik. [6]

Agar tidak disalahfahami, persoalan riya tidak terletak pada persoalan mendapatkan kedudukan itu sendiri, atau melakukan perbuatan baik itu sendiri, melainkan  terletak pada adanya motif halus terselubung untuk mencari kedudukan dalam melakukan suatu perbuatan. Seorang nabi adalah orang yang terpandang di penjuru dunia, namun beliau tidaklah riya, karena beliau tidak mengejar status terpandang selama hidupnya. Seluruh kehidupannya diperuntukkan hanya untuk pengabdian kepada Allah. Kemasyhuran beliau merupakan kemasyhuran sebagai buah anugrah Allah atas pengabdiannya.

b.     Faktor-faktor Penyebab

  1. Cinta Kemegahan: Motif selebritas, Gila Hormat, Hasrat untuk Diagungkan.

Kemegahan menurut al-Gazali bermakna: ‘terbangunnya sebuah kedudukan diri di hati manusia.’ Singkatnya, mendapatkan pengakuan, atau dimilikinya keyakinan pada hati manusia bahwa seseorang memiliki karakteristik kesempurnaan dalam kapasitas tertentu yang dapat mempengaruhi orang lain untuk mengakui kedudukan orang tersebut di hati mereka, dan, efeknya, ia menjadi objek decak kagum dan pujian.   Dengan kata lain, kemegahan adalah mendapatkan pengakuan: sebuah status seseorang di hati orang lain sehingga ia menjadi masyhur, dikenal, memiliki nama besar, atau menjadi berpengaruh, didengar dan diikuti.

Kemegahan ini dapat muncul  dari beragam perspektif, dari sisi keilmuannya, ibadahnya, perilakunya, kesempurnaan fisiknya, dan apapun yang dipandang orang sebagai kesempurnaan sehingga memunculkan decak kagum.  Adanya sifat-sifat ini menjadikan seseorang mendapat tempat kebesaran di hati orang lain, dengan kata lain, menyebabkan  kemegahan.

  1. Phobia Cela: Psikologi Takut Dihina.

Sesungguhnya sebagian besar manusia itu binasa disebabkan oleh ketakutan mereka akan dihina atau dicela dan suka dipuji oleh orang. Maka gerak-gerik dan tindakan mereka terhenti , selaras dengan pendapat-pendapat orang terhadap mereka. Karena mereka takut dihina dan dicaci. Dan yang demikian itulah yang termasuk kepada membinasakan diri.

c.      Akibat

Seorang yang tertambat riya dalam dirinya biasanya adalah mereka yang mengupayakan kebaikan, menahan syahwatnya dari perbuatan-perbuatan buruk, bertutur baik, beribadah dengan rajin, berupaya melakukan 1001 kebaikan, namun dia tidak menyadari tumbuhnya suatu kebanggan “halus” akan upayanya dalam hal-hal tersebut. Kebanggaan diri yang halus inilah yang tanpa disadarinya telah menyimpangkan motif utamanya bertindak baik dari ketulusan, murni pengabdian, menjadi “gila” mengekspresikan kebajikan. Dalam “motif mengabdi” adalah motif kesadaran mendasarkan tindakan demi sesuatu yang lain yang layak diabdi, yakni Tuhan.  Adapun “motif bangga diri” adalah motif kesadaran di mana tindakan-tindakan positif dilakukan karena ada rasa bangga pada diri sendiri, demi memenuhi kepuasan diri, pemenuhan pribadi, sebuah kesenangan tersendiri, yaitu senang dengan tumbuhnya kebanggan, sehingga motif bangga diri dapat dikategorikan sebagai “motif pemenuhan ego” atau “motif demi syahwat,” ketimbang “motif mengabdi,” “motif demi  Ilahi”  atau “motif pemenuhan panggilan Ilahi.” Hal ini selaras dengan pernyataan al-Ghazali:[7]

“Sesungguhnya yang dicoba dengan riya adalah alim ulama, para ahli ibadah nan zuhud, yang bersungguh-sungguh memenuhi panggilan akhirat [spiritualitas/agama]. Mereka, di saat memaksakan diri, bermujahadah, menjauhi nafsu-syahwat dan perbuatan syubhat, tidak lagi terpengaruh perbuatan maksiat yang bersifat lahiriah. Kemudian mereka merasa kerasan dengan berbagai perbuatan baik, yang melahirkan amal dan ilmu. Mereka pun mampu lepas dari rasa sulit dalam bermujahadah, tergantikan oleh kesenangan penerimaan orang lain yang melihat mereka dengan pandangan kemuliaan  dan pengagungan. Jadilah mereka tanggap untuk melakukan ragam ketaatan dan [tanpa disadari] mempertontonkannya di depan khalayak. Ia tidak merasa cukup hanya dengan penglihatan Allah….

Pada hal tersebut ada sebuah kesenangan yang diperoleh, bahkan kesenangan paling besar.  Syahwatnya terpuaskan, bahkan syahwat yang peling intens. Ia memandang hina dan meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa, dan merasa ringan dengan disiplin ketat peribadatan, demi mendapat kepuasan batin tertinggi dibanding segala kepuasan, hasrat nafsu di atas segala syahwat.

Disangkanya, hidupnya adalah bersama Allah dan ibadahnya diridhai Allah. Padahal, ia hidup dengan syahwat tersembunyi yang membutakan akal, alih-alih menyadarkannya. Dikiranya dirinya ikhlas mentaati Allah dan menjauhi dorongan-dorongan pada hal-hal yang dilarang. Nafsu dirinya tersebut telah menyembunyikan nafsu syahwat tersebut….Inilah sebuah penipuan diri, dan takkan ada yang selamat kecuali orang-orang  shiddiq.”

Konsekuensi tindakan Riya pada Moralitas

Dengan perubahan modus tersebut, motifnya tidak lagi persembahan demi ilahi melainkan demi diri. Jika dianalisis lebih lanjut, hal ini berkonsekuensi pada dua konsekuensi kejatuhan moral:

  1. Kemunafikan. Hal ini karena “modus pengabdian” berubah menjadi “modus pemenuhan ego”, sehingga tindakan yang dilakukan tidak lagi sejati mengabdi, melainkan seolah-olah mengabdi. Dengan modus “seolah-olah”  ini, wajar jika kemudian al-Ghazali menempatkan derajat moral seorang yang riya dalam ibadah menjadi berstatus nifak, bertentangannya antara forma lahiriah terpuji yang ditampakkan dengan intensi yang menjadi niat sesungguhnya dalam jiwa,[8]                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               dan dengan kata lain, dalam konteks sosial,  setara dengan penipuan.[9]
  2. Kemusyrikan terselubung. Dalam modus pemenuhan ego/nafsu dalam kebaikan, ibadah, ‘ego’ telah diposisikan secara halus sebagai  padanan, bahkan menggantikan, kedudukan Tuhan sebagai “sumber motif” persembahan tindakan.  Dirinya merasa berada dalam khayalan bahwa dirinya sedang dalam keadaan baik, mengabdi, di satu sisi, padahal faktanya, dirinya terbuat dalam gelombang penyekutuan Tuhan yang tidak kasat mata.[10]

Penyekutuan Tuhan adalah sebuah penyakit moral yang serius, semakin akut ketika penyekutuan tersebut terjadi secara halus, tidak kasat mata, sehingga sulit dibaca dan dijadikan objek kritik dan refleksi-diri (introspeksi).  Karena itu saking akutnya, bukannya pahala yang diperolehnya, melainkan nilai tindakan yang sia-sia. Saking akutnya, bahkan al-Ghazali mengatakan bahwa mereka rentan terjebak hal ini justru bukan hanya orang biasa, melainkan para ulama, ahli ibadah, dan hamba yang rajin dan zuhud menempuh jalan agama, [11]

Demikianlah bagitu laten dan akutnya  penyakit riya sehingga Nabi saw. bersabda, sebagaimana dikutip al-Ghazali:  “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari hal-hal yang membuatku takut akan terjadi pada umatku adalah riya dan nafsu syahwat yang laten (tersembunyi), di mana ia lebih tersembunyi dari merangkaknya semut hitam di atas batu besar hitam pekat di malam yang gelap.[12]

d.     Langkah-langkah Menghindarinya

Al-Ghazali menyatakan bahwa secara praktis, langkah-langkah untuk menghindari maupun mengobati ria ini adalah dengan membiasakan diri dengan menyembunyikan ibadah dan mencegahnya dari terlihat atau ditonton orang lain. Sehingga puas hatinya dengan hanya dilihat dan kitahui Allah saja amalan ibadahnya sampai akhirnya nafsunya tidak berebutan untuk mencari pujian atau diketahui oleh selain dari Allah swt.  Meskipun pada dasarnya, langkah-langkah yang harus dilakukan secara mendasar adalah dengan mencabut akar-akar dan pokok-pokok penyebab ria. Akar-akar dan pokok-pokoknya itu adalah kecintaan pada kedudukan dan kemegahan tadi yang diantaranya meliputi kesenangan untuk dipuji, lari dari kepedihan celaan dan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia.

3.     Dengki

a.      Definisi

Dengki atau disebut juga hasad berasal dari kata bahasa Arab Hasada, bentuk fa’ilnya adalah Hasid. Hasad adalah membenci kenikmatan Allah kepada saudaranya, dan ia menginginkan kenikmatan itu hilang darinya. Atau sikap senang atas hilangnya nikmat orang lain, atas rasa gembira, atas musibah yang menimpa mereka. Akan tetapi, jika ia tidak membenci hal itu bagi saudaranya, maka ia tidak menginginkan kehilangannya, tetapi menginginkannya untuk dirinya sebagaimana yang ada pada saudaranya. Hal ini disebut dengan ghibthah. Rasulullah saw. Bersabda, “ Orang Mukmin bersifat Ghibtah dan orang munafik bersifat hasad.

b.     Faktor-Faktor Penyebab

Al-Ghazali berpandangan bahwa hasad memiliki banyak sebab, yaitu permusuhan, ingin disanjung, kebencian, kesombongan, ‘ujub, ketakutan hilangnya maksud-maksud yang diinginkan, cinta kekuasaan dan kotornya jiwa dan kebakhilan.

c.      Akibat

Dengki adalah penyakit hati yang keras. Ia merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat membatalkan seluruh (pahala) kebaikan dan mengantarkan kita kepada murka Allah. Dengki dapat mengakibatkan seseorang selalu dirudung rasa sedih, dan itu tergantug pada orang yang didengki.  Jika orang yang didengki itu semakin sempurna dan tercapai segala nikmatnya, maka semakin sedihlah si pendengki itu. Orang yang hasud tidak akan berhenti dirundung rasa susah, sebab orang-orang yang dibencinya akan selalu memperoleh nikmat. Pendengki itu ibarat seseorang yang melemparkan musuhnya dengan batu, namun tidak mengenainya, bahkan malah berbalik mengenai matanya dan membutakannya. Sang pendengki akan selalu merasa sakit dan rasa sakit itu akan menjadi teman tidurnya siang dan malam. Dan sikap ini berarti menunjukkan akan kebenciannya terhadap nikmat Allah Swt., maka orang yang mendapat nikmat itu mendapat pahala, sementara si pendengki malah beroleh dosa.

d.     Langkah-langkah Menghindarinya

Untuk terhindar dari hasad, perlu bagi kita untuk mengetahui bahwa kedengkian akan berbahaya bagi dirinya, tetapi tidak bagi pihak yang didengki (mahsud), bahkan sebaliknya bermanfaat bagi yang didengki. Sebab kebaikan si pendengki dilemparkan kepada orang yang mendengkinya. Karena Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “ Sikap hasud akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” Adapun solusi yang bersifat praktis adalah dengan mengenali hukum-hukum dengki beserta kata-kata dan perilaku yang menjurus pada perbuatan tersebut. Kemudian ia harus berbuat hal-hal yang berlawanan dengan semua itu; yaitu dengan memuji orang yang dihasud, menampakkan atas anugerah yang terlimpah padanya dan bersikap tawadhuk kepadanya. Dengan demikian, orang yang dihasud akan menjadi temannya, rasa hasudnya akan sirna dan ia akan terbebas dari sifat tersebut. Berhubungan dengan ini Allah berfirman, “ Dan tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (Q.S. Al-A’raf: 154).

Jadi, agar terhindar dari sifat dengki, maka hal yang pertama harus dilakukan adalah jangan menampakkan rasa hasud baik dengan lidah, gerakan fisik dan upaya-upaya sadar kita, akan tetapi lakukanlah sebaliknya. Kedua, jangan biarkan diri kita merasa senang atas hilangnya nikmat Allah dari hamba-Nya.

Kesimpulan

Meskipun manusia diberkahi suara hati atau nurani, tempat bersemayangnya “nur” Ilahi pada diri, namun seringkali suara hati ini lemah terdengar karena tertutup oleh begitu nyaringnya suara-suara nafsu ego demi mengejar kepentingan tertentu yang terbatas dan bersifat sementara.  Ketika hati tidak lagi jernih, maka modus berfikir manusia pun bergeser dari mengasah suara hati menjadi sekedar instrument/alat apologi, dalam arti mencari-cari alasan membenarkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya salah dan telah menyimpang.   Semua ini terjadi ketika nafsu yang mengejar  orientasi pada kepentingan egoistik lebih menguasai daya sadar otentiknya sebagai manusia yang memiliki fitrah yang hanif, yakni cenderung pada kebenaran. Karenanya, dominasi nafsu-nafsu instingtif hewani yang egoistik dan semakin tidak terkontrol ini merupakan virus yang merongrong daya tahan hati sehingga terbaring kaku, mulai membeku dan suaranya semakin lemah tak terdengar. Ketika hati  menjadi sakit, fikiran pun tidak lagi berdiri di atas motif-motif kejernihan intuitif, melainkan menjadi hamba nafsu sebagai gantinya, dan efek tindakannya pun tidak lagi sehat melainkan menyimpang dari nilai-nilai yang seharusnya sehingga akhlaknya pun menjadi tidak terpuji. Karena itulah akhlak seseorang pertama-tama sangat ditentukan oleh bening dan kotornya, atau sehat dan sakitnya hati seseorang.

Kondisi-kondisi yang dapat membuat hati menjadi sakit, sebut saja, penyakit atau “virus-virus hati yang paling berbahaya diantaranya menurut al-Ghazali ada 3 jenis, yakni  Sombong, Riya dan Dengki. Ketiga penyakit ini memiliki keterkaitan kuat satu sama lain, dalam arti jika ingin mengobati, maka pengobatan penyakit hati ini harus tuntas semuanya. Karena dikatakan bahwa penyakit hati yang tingkatannya jauh lebih berbahaya adalah sombong yang membuat penderitanya tak akan luput pula dari penyakit hati yang lain yakni Riya’ dan Dengki. Ketika menyombongkan sesuatu yang dimilikinya atau yang ada pada dirinya, maka otomatis ia mengharapkan imbalan pujian dari orang lain sebagai pengakuan akan keberadaan dirinya beserta kemegahan (Sifat Riya’) dan berujung pada keiri hatian atau kebencian jikalau ada saudaranya yang memiliki nikmat yang lebih daripadanya, hingga ia berusaha agar ia tetap mempertahankan kedudukannya dan menghilangkan nikmat yang dianugerahkan Allah pada saudaranya itu. Inilah ketiga penyakit hati yang akut dan harus segera diobati dengan ilmu dan pengenalan diri serta kembali menyandarkan segala sesuatunya kepada Yang layak diharap pertolongannya dan dipuja, yakni Allah Swt.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali. 2005. Sucikan Hati Raih Hidayah. Jakarta: Kalam Mulia.

Al-Ghazali. 2003. Mutiara Ihya Ulumuddin. Bandung: Mizan.

Al-Gazali, Imam. 2003. Arba’in Al-Gazali. Yogyakarta: Pustaka Sufi.

Al-Ghazali. 1981. Ihya al-Ghazali JIlid 5. Semarang: C.V. Faizan.


[1] Al-Ghazali. 2005. Sucikan Hati Raih Hidayah. Jakarta: Kalam Mulia, hal. 131

[2] Imam al-Gazali. 2003. Arba’in Al-Gazali. Yogyakarta: Pustaka Sufi. Hal. 122.

[3] Imam al-Gazali. 2003. Arba’in Al-Gazali. Yogyakarta: Pustaka Sufi. Hal. 121.

[4] Al-Ghazali. 2003. Mutiara Ihya Ulumuddin. Bandung: Mizan: Hal. 292.

[5] Al-Gazhali. Mutiara Ihya Ulumuddin. 2003. Bandung: Mizan: Hal. 293

[6] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan. Hal. 317

[7] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan Hal. 245-6

[8] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan. Hal. 284

[9] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan. Hal. 325

[10] Dalam konteks lain, al-Ghazali menyebut tindakan ini sebagai “memperolok Tuhan,” layaknya seorang budak yang berdiri tegap sepanjang hari di hadapan sang raja, seolah setia berada di samping sang raja,  padahal dia sesungguhnya sedang mengamati budak perempuan yang ada di tempat yang sama. Tentu saja hal ini sama saja dengan mempermainkan sang raja. Hal. 325.

[11] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan. Hal. 245

[12] Al-Ghazali. Ihya al-Ghazali JIlid 5. 1981. Semarang: C.V. Faizan. Hal. 244

4 thoughts on “Memahami 3 Penyakit Hati Yang Paling Berbahaya: Sombong, Riya, dan Dengki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s