Pengetahuan (Knowledge)

Epistemologi I tentang Pengetahuan

Pengetahuan

Apa yang kita sebut dengan pengetahuan (knowledge) umumnya timbul dalam pengalaman, muncul dari perenungan (reflection), dan berkembang melalui kesimpulan (Inference). Namun apakah sebenarnya yang disebut pengetahuan itu? Jika pengetahuan itu muncul sebagaimana cara yang telah dideskripsikan tadi, maka mengetahui itu paling tidak adalah meyakini. Akan tetapi sekedar meyakini saja tentulah tidak cukup. Karena keyakinan yang salah bukanlah merupakan pengetahuan. Sebuah keyakinan yang berdasarkan pada tebakan mujur pun (lucky guess) bukanlah merupakan pengetahuan sama sekali, meskipun jika keyakinan itu benar. (Robert Audi, 2002; 214).

Definisi Pengetahuan

Dalam Islam, istilah pengetahuan disebut juga sebagai ma’rifah. Ma’rifah dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi umumnya ia berarti pengetahuan (knowledge), keasadaran (awareness), dan informasi. Kadang-kadang ia juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Meskipun masih juga terdapat perdebatan filologis dan etimologis mengenai padanan kata ini.

Bertrand Russell mengatakan bahwa kita mungkin saja membayangkan bahwa pengetahuan dapat didefinisikan sebagai “keyakinan yang benar”. Ketika yang kita yakini benar, mungkin kita menganggap bahwa kita telah mencapai suatu pengetahuan yang kita yakini. Akan tetapi keyakinan yang benar belum tentu merupakan pengetahuan. Russell menyimpulkan bahwa suatu keyakinan yang benar bukanlah pengetahuan jika disimpulkan dari keyakinan yang sesat.[1] Misalnya, dari jauh kita melihat salah satu guru kita menuruni tangga dengan terburu-buru dan secara simpel menebak bahwa ia sedang marah, maka kita tidak dibenarkan dengan meyakini bahwa ia sedang marah. Bahkan jika secara kebetulan keyakinan kita berubah menjadi benar, hal itupun tetap tidak membentuk pengetahuan. Meskipun ia nampaknya bisa dijelaskan, namun ia kurang dari pembenaran. Akan tetapi, andaikata kita pergi melewati kantor guru kita, lalu melihatnya sedang mengacak-ngacak kertas dengan cepat sambil agak mengomel dan memaki dengan kesal. Pada poin ini, kita mungkin saja menjadi tahu bahwa guru kita itu memang sedang marah; dan pengetahuan yang kita peroleh bahwa ia sedang marah bisa dijelaskan dengan bukti-bukti yang kita peroleh yang membenarkan keyakinan kita yang benar bahwa guru kita itu sedang marah.[2]

Watloly dalam bukunya Tanggung Jawab Pengetahuan mengatakan bahwa secara kodratnya, pengetahuan adalah wahana dengan mana manusia mencapai kebenaran. Sedangkan J. Sudarminta dalam bukunya Epistemologi Dasar  mengungkapkan bahwa pengetahuan seringkali dimengerti sebagai kepercayaan yang benar dan yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Ayatullah Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa pengetahuan dan pemahaman adalah sama dengan keyakinan, karena keraguan bukanlah merupakan pemahaman atau pun pengetahuan. Pengetahuan dan pemahaman adalah ketika kita sampai pada titik tertentu dimana kita berpikir bahwa ini adalah demikian, dan saya yakin bahwa itu adalah benar. Saya tak meragukan kebenarannya, karena bila saya meragukannya maka itu bukanlah pengetahuan melainkan “apakah”, “saya tak tahu”, “mungkin ada”, “mungkin tidak”, dan ungkapan-ungkapan sejenis seperti “saya tidak tahu” (la ’adri). Pada hakikatnya, suatu pengetahuan dapat disebut sebagai pengetahuan yang hakiki, jika disitu tidak terdapat sedikitpun keraguan, namun jika terdapat keraguan maka ia menjadi “saya tidak tahu” (la ’adri).[3]

Berdasarkan definisi-definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli, maka kita dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan itu adalah keyakinan yang benar, yang dapat dipertanggungjawabkan secara  rasional dan tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Meskipun dalam filsafat Islam juga dikatakan bahwa pengetahuan itu tidak bisa didefinisikan karena tidak ada kata yang tepat untuk mendefinisikannya. Sebagaimana definisi-definisi tadi bahwa pengetahuan berkaitan erat dengan keyakinan yang benar, dalam ilmu logika, pengetahuan didefinisikan sebagai “penangkapan bentuk (shurah atau form) sesuatu dalam pikiran”, yang tujuan dari definisi ini adalah untuk mendefinisikan ‘pengetahuan hushuli’[4].

Sumber-sumber Pengetahuan

Para filosof umumnya membedakan dua sumber pengetahuan, yakni pengetahuan yang bersumber pada daya indrawi dan budi (intelektif) manusia. Secara umum, kedua pengetahuan ini berbeda, namun kedua pengetahuan ini tidak bersifat terpisah-pisah (parsial), melainkan manunggal dan berjenjang. (Waltloy, 2001; 141). Adapun dalam filsafat Islam, terdapat pula sumber pengetahuan selain indra dan akal budi, yakni hati (intuisi).

Pada dasarnya, penjelasan mengenai sumber-sumber pengetahuan ini sangat banyak dan luas, sehingga tidak mungkin untuk menjelaskan semuanya dalam makalah ini. Untuk itu, dalam makalah ini hanya akan dijelaskan secara ringkas per poinnya saja.

Pengetahuan Indrawi

Manusia pada dirinya dilengkapi dengan daya indra yang menjadi pintu gerbang langsung antara manusia dan objek-objek di realitas eksternal dalam mendapatkan pengalaman primer sebagai hal pertama yang mendasari dan memungkinkan adanya pengetahuan. Menurut J.Sudarminta, pengalaman primer adalah pengalaman langsung akan persentuhan indrawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan akan peristiwa yang disaksikan sendiri.

Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya, entah nyata atau semu. Pengetahuan indrawi bersifat parsial, disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan indrawi juga menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ indra tertentu. Karakter lain dari pengetahuan indrawi adalah  ia hanya terletak pada permukaan kenyataan  karena terbatas pada hal-hal indrawi secara individual, dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. Oleh karena itu, pengetahuan indrawi ini tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh dan belum memiliki dasar pengetahuan yang kokoh. Adanya warna, rasa, suara, tidaklah termuat secara esensial di dalam benda material. Unsur-unsur tersebut hanyalah sensasi yang disebabkan di dalam diri manusia oleh kualitas-kualitas primer yang juga belum memiliki dasar objektif yang sama. Karena semua sensasi akan lenyap jika masing-masing alat indera kehilangan fungsinya atau tidak ada. Tak kalah lebih penting dari itu bahwa, semua substansi material tidak dapat dianggap lepas dari budi (intelektif). Sebab bila demikian, maka pengetahuan hanya merupakan mitos saja. Hal ini membantah pandangan ‘Determinasi Empiris Indrawi’ yang dipelopori oleh John Locke yang mengatakan  bahwa seolah-olah pengetahuan asli yang ada dan didapat oleh manusia adalah semata-mata yang dicerap oleh indra saja.  Demikian pula pandangan ‘Realisme Naif’ yang meyakini bahwa kualitas-kualitas yang dirasakan adalah secara formal lepas dari sensasi-sensasi atau rangsangan sebagai cara subjek penerimanya. Namun, meski pengalaman indrawi bersifat terbatas, ia tetap merupakan pengetahuan yang pertama kali bertindak menuju pengetahuan yang lebih utuh. Aristoteles mengatakan ‘barangsiapa kehilangan satu indera, maka ia kehilangan satu ilmu’[5]. Ungkapan itu mengindikasikan betapa pentingnya indera, hingga jika salah satu indera saja yang hilang, maka ia akan kehilangan salah satu pengetahuan.

Terdapat dua pandangan yang berbeda dalam hal kebenaran pengetahuan indrawi di kalangan para filsuf. Ada yang lebih menekankan pada bentuk fisik daripada suatu ‘badan benda’, dan ada juga yang lebih menekankan pada tangkapan ‘arti dan signifikasi’ keadaan daripada bentuknya. Pandangan kedua ini dipegang terutama oleh para filsuf kontemporer. Namun sebenarnya kedua pandangan ini bersifat saling melengkapi dan tidak saling bertentangan. Arti, tujuan, dan makna suatu benda akhirnya akan tergantung pada bentuknya juga. Misalnya, ketika kita menangkap bentuk pisau, berarti kita mengerti sekaligus untuk apa pisau itu dibuat.

Pengetahuan Intelektif

Pada dasarnya, pengetahuan intelektif dan pengetahuan indrawi pada manusia itu saling melengkapi dan tidak bisa terpisahkan. Dalam arti kedua pengetahuan itu bersifat sinergis. Adapun intelektif yang berasal dari istilah Intelektual berakar dari bahasa Latin ‘intellectus’ yang mengandung arti ‘dalam pikiran’ atau ‘dalam akal’, tanpa menutup kemungkinan terhadap adanya realitas. Jadi, pengetahuan intelektif berarti pengetahuan yang diperoleh  dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Pengetahuan ini dapat dicapai oleh rasio atau intelligen.

Ayatullah Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa dalam memperoleh pengetahuan, manusia terkadang membutuhkan pada suatu bentuk pemilahan (tajziah) dan penguraian (tahlil). Nah, pemilahan dan penguraian ini merupakan aktivitas rasio. Rasio atau intelligen menurut Watloly yang mengutip dari Lorens Bagus (1996; 359), biasa dikenal dengan kata intelligensi diambil dari bahasa latin intellectus dan kata kerja intellegere yang terdiri dari kata intus artinya dalam pikiran atau akal,  dan kata legere yang artinya membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. Intelligensi  adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi, seleksi, relasi, rencana, ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pegendalian), memilih, dan mengarahkan. Berbeda dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, dan tradisi. Pada tingkatan intelek (pemahaman) yang lebih tinggi, intelligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak.

Intelligensi bukan hanya berupa penyesuaian diri dan meninggalkan suatu keseimbangan, akan tetapi juga lebih dari itu yakni dengan mempersoalkan, mempertanyakan, dan menilai segala sesuatu, dan mengatakan ya atau tidak kepada segala sesuatu. Pengetahuan intelektif yang dicapai melalui daya inteligensi ini lebih luas sifatnya, berbeda dengan penangkapan indrawi yang hanya bersifat material dan individual saja. Inteligen dalam arti menangkap, menyatakan, menyimpan, membangkitkan, dan mempertimbangkan melalui konsep atau ide, struktur esensial, susunan fundamental, dan metafisik dari objek itu.

Objek pengetahuan intelektif adalah meliputi segala sesuatu yang pernah ada, dan segala sesuatu yang akan ada, baik berupa kenyataan maupun khayalan. Kalau pancaindera hanya menjangkau realitas sejauh yang bersifat indrawi, maka intelligensi sama sekali mengenai segala-galanya, dalam arti bukan sedalam-dalamnya secara sempurna, melainkan tidak ada realitas apapun yang secara prinsipiil tidak dapat dicapai, dan bahwa tidak ada apa pun sedikitnya tidak dapat menjadi objek penyelidikannya.

Pengetahuan Intuitif

Umumnya, kita mengetahui bahwa filsafat Barat memberikan dua pilihan sumber pengetahuan bagi manusia, yakni pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektual. Lain halnya dengan Filsafat Islam yang menambahkan satu lagi sumber pengetahuan bagi pengetahuan manusia, yakni hati (intuisi). Mulyadhi Kartanegara (2003; 29) mendefinisikan pengetahuan intuitif sebagai pengetahuan ‘eksperiensial’ atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Selain itu, pengetahuan hati juga disebut dengan ‘presensial’ karena objeknya dipandang hadir dalam diri atau jiwa seseorang. Misalnya, seseorang mengerti akan cinta bukanlah melalui  perkataan-perkataan orang, atau teori-teori cinta dalam buku-buku yang sering jauh berbeda dengan yang dialami. Seseorang mampu memahaminya dengan betul-betul merasa jatuh cinta. Akal mungkin akan bingung mengapa seseorang jauh di mata tapi terasa lekat di hati. Bahkan, kalau perasaan cinta telah begitu besar, seorang pecinta tidak bisa lagi dipisahkan dari kekasihnya, dan dua jiwa pun tidak dapat dipisahkan lagi karena mereka telah bersatu. Dari sinilah kita dapat mengerti  mengapa banyak para sufi yang telah merasa bersatu dengan Kekasihnya, yakni Tuhan, sehingga nama al-Hallaj pun hilang, dan yang tersisa hanyalah Tuhan, Sang Kebenaran.

Sedangkan Ayatullah Murtadha Muthahhari (2010; 56) menyebutkan bahwa hati merupakan salah satu sumber pengetahuan manusia melalui ‘penyucian jiwa’ atau ‘penyucian hati’. Namun berdasarkan pengamatannya, bahkan filosof berkebangsaan Amerika pun seperti  William James, Alexis Carrell dan Henry Bergson meyakini hati sebagai sumber pengetahuan. Bergson malah lebih yakin bahwa hatilah satu-satunya sumber pengetahuan manusia sedangkan indra dan rasio tidak memiliki peranan sebagai alat pengetahuan. Muthahhari mengibaratkan hati sebagai satu sumber, dan manusia dapat mengambil manfaat dari sumber itu dengan menggunakan alat penyucian hati (tazkiyah an-nafs).


[1] Bertrand Russell. The Problems of Philosophy. 2002. Yogyakarta: Ikon Teralitera. Hal. 126.

[2] Contoh diambil dari Epistemology, A contemporary introduction to the theory of knowledge pada Bab The Analysis of Knowledge. Hal. 215 yang sedikit ditambahkan dan dirubah nama tokoh dan tempatnya oleh penulis makalah.

[3] Ayatullah Murtadha Muthahhari. Pengantar Epistemologi Islam. 2010. Jakarta: Shadra Press. Hal. 15.

[4] M.T. Misbah Yazdi. Buku DarasFilsafat Islam (Jakarta: Shadra Press, 2010), hal. 113.  Pengetahuan Hushuli (acquired knowledge/al ‘ilm al-hushuli), adalah pengetahuan yang ditangkap lewat perantaraan atau santiran konseptual.

[5] Ungkapan Aristoteles dikutip dari  Ayatullah Murtadha Muthahhari. Pengantar Epistemologi Islam. 2010. Jakarta: Shadra Press. Hal. 38.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s