AL-GHAZALI

“Kuletakkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa depan”.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul Islam. Dilahirkan di Thusia, suatu kota di Khurasan dalam Th. 450 H. (1058 M). Ayahnya bekerja membuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar Thusia.

Seelum meninggal ayah Al-Ghazali meninggalkan kata pada seorang ahli tasawwuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik Al-Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah meninggal ayahnya, maka Al-Ghazali hidup di bawah asuhan ahli tasawwuf itu.

Harta pusaka yang diterimanya adalah sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu. Disamping itu, selalu mengunjungi rumah alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar uraian alim ulama itu maka ayah al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya bermohon kepada Allah SWT. Kiranya dia dianugrahi seorang putra yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Jurjan dan belajar pada Imam Abi Nasar Al-Ismaili.

Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, Al-Ghazali berangkat ke negri Nisapur dan belajar pada Imam Al-Haramain. Di sanalah mulai terlihat tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu mantik (logika), falsafah dan fiqh mazhab syafi’i. Imam Al-Haramain amat berbesar hati dan selalu mengatakan : “Al-Ghazali itu lautan tak bertepi……..”

Setelah wafatnya Imam Al-Haramain, lalu Al-Ghazali berangkat ke Al-Askar mengunjungi Menteri Nizamul-muluk dari pemerintahan Dinasti Saljuk. Ia disambut dengan kehormatan sebagai ulama besar.kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian Al-Ghazali. Menteri Nizamul Muluk melantik Al-Ghazali. Pada tahun 484 H, ia menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiyah yang didirikannya di kota Baghdad. Empat tahun lamanya Al-Ghazali mengajar di perguruan Nizamiyah dengan cukup mendapat perhatian dari para pelajar, dari dekat dan jauh, sampai datang kepadanya suatu masa, di mana dia menjauhkan diri dari masyarakat ramai.

Maka pada tahun 488 H, Al-Ghazali pergi ke Mekkah menunaikan rukun Islam kelima. Setelah selesai mengerjakan Hajji, selanjutnya ia pergi ke Syam (Siria), mengunjungi Baitul Maqdis. Kemudian ke Dmaskus dan terus menetap beribadah di masjid Al-Unawi di kota tersebut pada suatu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama “Al-Ghazaliyah” (1), diambil daru nama yang mulia itu. Pada masa itulah dia mengarang kitab “IHYA”. Keadaan hidup dan kehidupannya pada saat itu amatlah sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyidikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid-masjid dan desa, melatih diri berbanya ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada kerelaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian dia kembali ke Bagdad, mengadakan majlis pengajaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitabnya-Ihya’-. Tak lama sesudah itu ia berangkat pula ke Nisapur dan mengajar sebentar pada perguruan Nizamiyah Nisapur. Akhirnya, ia kembali ke kampung asalnya Thusia. Maka didirikannya di samping rumahnya sebuah madrasah untuk ulama-ulama fiqh dan sebuah pondok untuk kaum shufi (ahli tasawwuf). Ia membagi waktunya antara membaca al-Qur’an, mengadakan pertemuan dengan kaum shufi, memberi pelajaran kepada penuntut-penuntut ilmu yang ingin menyauk dari lautan ilmunya, mendirikan sholat dan ibadah lainnya. Cara hidup yang demikian ia teruskan sampai akhir hayatnya. Dengan mendapat husnul-khatimah Al-Ghazali meninggal dunia pada hari senin tanggal 14 januari jumadil-akhir tahun 505 H (1111 M) di Thusia.

Jenazahnya dikebumikan di makam Ath-Thabiran (2), berdekatan dengan makam Al-Firdausi, seorang ahli sya’ir yang termasyhur. Sebelum meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Francis Bacon seorang Filosof Inggris, yaitu : “ Kuletakkan arwahku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa depan”.

Ia meninggalkan pusaka yang tidak dapat dilupakan oleh ummat manusia khususnya dan dunia umumnya dengan karangan-karangan yang berjumlah hampir 100 buah banyaknya. Di Eropa, Ihya ulumud din ini mendapatkan perhatian besar dan telah dialih bahasakan ke beberapa bahasa modern. Dalam dunia Kristen telah lahir pula kemudian Thomas a Kempis (1379-1471 M) yang mendekati dengan pribadi al-Ghazali dalam dunia Islam, berhubung dengan karyanya “De Imitation Christi” yang sifatnya mendekati “Ihya”, tetapi dipandang dari pendidikan Kristen.

Diantara karangannya yang banyak itu ada dua buah karya yang sangat terkenal di dunia Barat, yang malah menyebabkan pecah perang  pena antara ahli-ahli falsafah. Yaitu kitab “Maqasidul-falasifah” (maksudnya ahli-ahli falsafah) dan kitab “tahafut falasifah” (kekacau balauan ahli-ahli falsafah).

Kitab yang pertama berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu falsafah, mantik, metafisika, dan fisika. Kitab ini sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin di akhir abad ke XII M.

Kitab yang kedua memberi kritik tajam atas sistem falsafah yang telah diterangkannya satu per satu dalam kitab pertama tadi. Malah Al-Ghazali sendiri menerangkan dalam kitab yang kedua itu, bahwa maksudnya dlaam menulis kitab pertama tadi ialah mengumpulkan terlebih dahulu bahan-bahan untuk para pembaca, yang nantinya akan dikritiknya satu persatu dalam kitab yang kedua.

Beberapa puluh tahun kemudian, maka lahirlah di Andalusia Ibnu Rusyd yang digelari dengan Filosof Cordova (1126-1198). Dia membantah akan pendirian Al-Ghazali  dalam hal falsafah itu dengan mengarang sebuah kitab yang dinamainya “ Tahafut Tahafutil falasifah” (kekacaubalauan tahafut al-falasifah Al-Ghazali). Dalam buku ini, Ibnu Rusyd telah menjelaskan kesalahpahaman Al-Ghazali tentang mengartikan apa yang dinamakan falsafah dan betapa salah pahamnya tentang pokok-pokok pelajaran falsafah.

Disampingkemasyhuran dan kegungan yang dipunyai Al-Ghazali, diontarkannya kitab Thafut Al-Flasifah ke tengah-tengah umat manusia dengan gaya bahasa yang hidup bergelora. Sehingga karangan Ibnu Rusyd menjadi lumpuh menghadapi Guntur bahasanya al-Ghazali. Maka pada akhirnya dalam peperangan alam pikiran ini, Al-Ghazali tampil ke tengah gelanggang sebagai pemenang.

Sebagai filosof, Al-Ghazali mengikuti aliran falsafah yang boleh dinamakan “mazhab hissiyat” yang artiinya kira-kira saa dengan mazhab perasaan. Sebagaimana filosof Inggris David Hume (1711-1776) yang mengemukakan bahwa perasaan adalah sebagai alat yang terpenting alam falsafah, di waktu dia menentang aliran rasionalisme yang alirannya timbul pada abad ke XVIII, yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.

Al-Ghazali telah mengemukakan pendapat yang demikian, selama 700 tahun lebih dahulu dari David Hume. Ia mengaui ahwa perasaan (hissiyat) itu boleh keliru juga akan tetapi akal manusia juga tidak terpelihara dari kekeliruan dan kesesatan. Dan tidak akan dapat mencapai kebenaranan sesempurna-sempurnanya dengan sendirinya saja. Dan tidak mungkin dpat dibiarkan bergerak dengan semau-maunya saja. Lalu akhirnya Al-Ghazali kembali kepada apa yang dinamakannya “dlaruriat” atau aksioma sebagai hakim dari akal dan perasaan dan kepada hidayah yang datang dari Allah SWT.

Al-Ghazali tak kurang mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan menyusun ilmu kalam yang tahan uji disbandingkan dengan karangan-karangan filosof yang lain. semua ini menunjukkan ketajaman otaknya. Disamping itu tidak enggan dia berkata dengan kerendahan hati serta khusu’ akan kata-kata “Wallahu a’lam” (Allah Maha Tahu).

Dalam Zaman Al-Ghazali, masih berkobar pertentangan antara ahli tasawwuf dan ahli fiqh. Maka salah satu dari usaha Al-Ghazali ialah merapatkan kedua golongan yang bertentangan itu. Baik semasa hidupnya atau sesudah wafatnya, Al-Ghazali mendapat teman sepaham, di samping lawan yang menentang akan pendiriannya. Yang tidak sepaham, di antaranya ialah Ibn Rusyd, Ibn Taimiyyah, Ibn Qoyyim dan Ahli fiqh lainnya. Di dunia Barat Al-Ghazali mendapat perhatian besar, mendapat penghargaan dari para filosof. Diantaranya dari Renan, Cassanova, Carra de Vaux, dll.

Seorang ahli ketimuran Inggris bernama Ds. Zwemmer pernah memasukkan Al-Ghazali menjadi salah seorang dari empat orang pilihan pihak Islam dari mulai zaman Rasulullah SAW. Sampai zaman kita sekarang, yaitu :

  1. Nabi Muhammad SAW.
  2. Imam Al-Bukhari, Ulama hadits terbesar
  3. Imam Al-Asy’ari, Ulama Tauhid termasyhur
  4. Imam Al-Ghazali, Pengarang Ihya yang terkenal.

Allah itu Esa[1]

Ma’rifatullah itu terdiri dari 10 pokok :

Pokok Pertama : Mengenal adanya Allah Ta’ala.

Nur yang pertama-tama yang menyinarinya dan yang berjalan dengan jalan memperoleh ibarat, ialah apa yang telah ditujuki oleh Al-Qur’an. Maka tak adalah penjelasan, sesudah penjelasan Allah Ta’ala.

Salah satu Firman Allah SWT berbunyi :

“ Bukankah Kami telah menjadikan Bumi bagai hamparan (terbentang luas)? Dan gunung-gunug sebagai pasak (nya)? Dan kamu Kami ciptakan berpasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istiahat. Dan Kami jadikan malam sebagai  tutup. Dan siang Kami jadikan untuk mencari penghidupan. Dan Kami bangun di atas kamu tujuh yang teguh. Dan kami jadikan lampu yang terang benderang. Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah. Karena dengan itu Kami hendak menghasilkan tanaman yang berbuah dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang berlapis-lapis pohonnya”. ( QS. An-Naba : 6-16 ).

“ Tidakkah kamu perhatikan, bagaimana Tuhan menciptakan tujuh langit, sepadan satu sama lain? dan dijadikanNya bulan bercahaya terang dan dijadikanNya matahari bagai pelita? Dan Tuhan menumbuhkan kamu dari bumi dengan pertumbuhan (yang berangsur-angsur). Kemudian itu kamu dikembalikanNya ke situ, dan kamu dikeluarkanNya dengan kelahiran (baru).” (QS. Nuh : 15-18).

Maka tidaklah tersembunyi , kepada orang yang ada padanya sedikit sentuhan akal, apabila memperhatikan dengan pikiran yang sederhana saja akan kandungan ayat-ayat di atas tadi. Dan menolehkan arah pandangannya kepada segala keajaiban mahluk Allah di bumi da di langit, kecantikan kejadian hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bahwa keadaan yang amat menakjubkan itu dan susunannya yang kokoh kuat, tidaklah ia terlepas daripada Pencipta yag mengaturnya, dari Pembuat yang mengokohkan dan yang mentaqdirkannya. Bahkan hampirlah kiranya fitrah (kejadian diri yang suci bersih) dari jiwa sendiri, mengakui bahwa semuanya itu di dalam keadaan ADA yang menentukan di bawah pengaruhNya dan yang menentukan arah, dengan kehendak pimpinanNya.

Dari itu, Allah berfirman :

“Apakah kamu ragu-ragu tentang Tuhan, Pencipta langit dan bumi?” (QS. Ibrahim : 10)

Maka karena itulah diutus nabi-nabi rakhmat Allah kepada mereka untuk memanggil umat kepada tauhid, supaya mengucapkan “Laa ilaaha illallaah”. Dan tidak disuruh mengucapkan “Kami mempunyai Tuhan dan alampun mempunyai Tuhan”. cara yang demikian itu adalah merupakan paksaan di dalam fithrah kejadian akal manusia, dari permulaan pertumbuhan mereka dan masa perkembangan kepemudaannya. Karena itu Allah berfirman :

“Kalau engkau menyanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab : Allah!” (QS. Luqman : 25)

Jadi, di dalam fithrah kejadian manusia itu dan dalil-dalil yang ditunjukkan al-QQur’an, sudah lebih dari cukup daripada menegakkan dalil-dalil lain. tetapi untuk lebih jelasnya, bahwa permulaan dalil itu , ialah : akal. Karena yang baru (haadits) itu, tak dapat tidak pada kejadiannya, dengan ADA SEBAB yang menjadikannya.

Bahwa alam itu baru, maka tidak boleh tidak pada kejadiannya dari sebab itu. Adapun kata kita bahwa yang baru itu tak boleh tidak pada kejadiannya daripada SEBAB, maka itu adalah jelas. Karena tiap-tiap yag baru ditentukan adanya dengan waktu, yang mana menurut akal, waktu itu boleh jadi terdahulu dan boleh jadi terkemudian.

Maka untuk menentukan waktu itu, tidak terlebih dahulu dan tidak terkemudian daripada jangkanya, sudah pasti memerlukan kepada YANG MENENTUKAN (Mukhashish).

Adapun kata kita : alam itu baru, maka dalilnya ialah, bahwa tubuh (jism) alam itu, tidak terlepas daripada gerak dan diam. Gerak dan diam itu adalah baru. Tiap-tiap sesuatu yang tidak terlepas dari sifat-sifat baru adalah baru.

Di dalam pembuktian ini terdapat 3 dakwaan :

Dakwaan pertama : kata kita bahwa jism-jism itu tidk terlepas dari gerak dan diam. Dan ini dapat dipahami dengan jelas dan mudah. Maka tidaklah memerlukan kepada penelitian dan pemikiran. Sebab, orang yang berpikir bahwa jisim itu tidak tetap dan diam, adalah orang itu berjalan di atas jembatan kebodohan dan menderita penyakit pikiran.

Dakwaan kedua :ata kita bahwa gerak dan diam itu adalah baru. Hal itu ditunjukkan oleh ganti berganti diantara keduanya. adanya yang satu sesudahnya yang lain. dan itu dapat dipersaksikan kepada sekalian jisim, baik yang sudah dilihat maupun yang belum dilihat. Tidak ada satupun dari yang tetap . melainkan menurut akal dia boleh tetap. Maka yang datang dari gerak dan tetap itu adalah baru karena datangnya. Dan yang dulu itu baru karena tidak adanya. Sebab, kalau dia tidak itu qidam (qadim), niscaya mustahil dia tidak ada, sebagaimana akan datang keterangannya dan dalilnya pada menetapkan kekalnya PENCIPTA Yang Maha Tinggi dan Maha Suci.

Dakwaan ketiga : kata kita bahwa apa yang tidak terlepas daripada sifat-sifat baru, adalah baru. Dalilnya ialah jikalau tidaklah demikian, maka sesungguhnya telah ada sebeum tiap-tiap yang baru itu, yang baru-baru (hawadits), yang tak berpermulaan baginya.

Dan kalau  tidaklah berlalu hawadits itu, dengan keseluruhannya niscaya tidak berkesudahanlah pergantian kepada adanya yang baru ada sekarang. Dan berlalunya apa yang tiada berkesudahan itu, mustahil.

Karena sesungguhnya, jikalau bagi cakrawala itu perputaran yang tiada berkesudahan, maka tidak tersembunyilah bilangannya itu, dari genap atau ganjil atau genap dan ganjil kedua-duanya. Atau tidak genap dan tidak ganjil. Dan mustahillah adanya genap dan ganjil kedua-duanya atau tidak genap dan tidak ganjil. Sebab yang demikian adlaah mengumpulkan diantara naïf (tidak) dan itsbat (ada). Karena pada menitsbatkan yang satu, adalah menafikan yang lain. dan mustahil adanya genap saja, karena genap itu akan menjadi ganjil dengan bertambah satu. Maka bagaimanakah yang satu itu memerlukan kepadanya, sedang dia tidak berkesudahan bilangannya?

Dan mustahil pula bahwa adanya tidak genap dan tidak ganjil, karena dia berkesudahan.

Maka kesimpulannya dari itu semuanya, bahwa alam tidak terlepas dari sifat-sifat baru. Maka dia adalah baru. Dan apabila telah benar barunya, maka dia memerlukan kepada yang membarukannya (muhdits), yang dapat diketahui dengan mudah.

Pokok kedua : mengetahui bahwa Allah itu qadim, senantiasa azali, tak ada lagi wujudNya permulaan. Tetapi Dialah permulaan tiap-tiap sesuatu dan sebelum ada sesuatu yang mati dan yang hidup.

Dalilnya : Jikalau Dia itu baru, tidak qadim, maka Dia memerlukan pula kepada muhdits. Yang muhdits itu memerlukan kepada yang muhdits lagi, terus menerus begitu saling tali menali, sampai kepada yang tak berpenghabisan. Dan yang tali bertali itu tidak membawa hasil atau berkesudahan kepada muhdits yang qadim, yaitu yang pertama. Dan inilah sebenarnya yang dicari dan kita namakan : Pencipta Alam, Pembuat, Penjadi, dan Khaliqnya.

Pokok Ketiga : mengetahui bahwa Allah serta adaNya azali abadi, tak ada wujudNya  berakhir. Dialah yang awal, yang akhir, yang dhahir dan yang bathin. Karena manakala telah benar qidamNya, maka mustahillah tiadaNya (adamNya).

Dalilnya : jikalau Allah itu menghadapi ketiadaan, maka Dia tidak terlepas, adakalanya ketiadaanNya itu dengan sendiriNya atau dengan sesuatu yang meniadakanNya yang melawani dia.

Jikalau boleh akan tiadanya sesuatu dengan sendirinya yang tergambar kekalnya, niscaya boleh akan didapati sesuatu dengan sendirinya yang tergambar tak adanya. Maka sebagaimana kedatangan wujud memerlukan kepada sebab, maka demikian pula kedatangan adam (lawan wujud), memerlukan kepada sebab. Dan batil, bahwa dia menerima adam oleh yang mengadamkannya, yang melawani dia. Karena yang mengadamkannya itu, jikalau ia qadim, maka tidak tergambarlah wujud besertanya.

Bagaimanakah ada wujudNya pada qadim dan besertanya ada lawannya?

Jika lawan yang mengadamkannya itu baru, maka adalah mustahil. Sebab, dalam perlawanan-Nya terhadap sesuatu yang dahulu, sesuatu yang baru tidak bisa sampai memutuskan wujudnya lebih utama daripada yang dahulu sendiri, dalam perlawanannya terhadap yang baru, sehingga ia bisa mempertahankan wujudnya. Malah, memperahankan wujud lebih mudah daripada memutuskannya. Dan yang lebih dahulu lebih kuat dan lebih utama dari yang baru.

Pokok keempat : adalah mengetahui Allah SWT bukan merupakan substansi yang terbatas di suatu tempat. Namun Dia Maha Suci dari menempati suatu tempat. Alasannya adalah setiap substansi mengambil tempat dan terbatasioleh tempat itu. Bila sesuatu yang menempati tempat itu tidak menempati tempat itu, ia tentu beralih dari tempat itu. Karenanya sesuatu itu tidak bebas dari gerak dan diam, padahal gerak dan diam ini baru. Dan, apa yang tidak lepas dari kebaruan adalah baru.

Andaikan ada substansi yang menempati tempat itu dahulu, tentu dahulunya substansi ala mini bisa diterima akal. Dan jika seseorang menamakan sesuatu sebagai substansi dan menyatakan bahwa substansi itutidak mengambil tempat, maka dari segi kata-kata, tidak dari segi makna, hal itu keliru.

Pokok kelima : adalah mengetahui bahwa Allah SWT tidak bertubuh yang tersusun darisubstansi-substansi. Karena tubuh terdiri dari susunan substansi. Bila adanya Allah sebagai substansi yang tertentu dengan sesuatu tempa keliru, maka keliru pulalah ada-Nya sebagai tubuh. Sebab, setiap tubuh terbatasi oleh tempat dan tersusun dari substansi. Sementara substansi mustahil bisa terlepas dari gerak dan diam, berkeadaan, dan terbatas.

Semua itu merupakan tanda sesuatu-sesuatu yang baru. Amdai bisa diyakini bahwa pencipta alam merupakan tubuh, maka dengan sendirinya kita bisa meyakini matahari, bulan, atau bagian-bagian yang bertubuh lainnya sebagai Tuhan. andai ada orang yang berani menyatakan bahwa Allah SWT bertubuh dan tanpa menyatakan bahwa Ia tersusun dari substansi-substansi, pernyataan itu salah dalam menamakan dan benar dalam meniadakan pengertian tubuh.

Pokok keenam : adalah mengetahui bahwa Allah SWT bukan sifat yang berkaitan dengan tubuh atau bertempat pada suatu tempat. Karena sifat termasuk di antara sesuatu yang bertempat pada tubuh.

Padahal, setiap baru dan yang menjadikan tubuh baru ini telah ada sebelumnya. Oleh karena itu bagaimanakah ada-Nya menempati tubuh, padahal Dia sudah ada sejak zaman azali dengan sendirinya tanpa disertai yang selain-Nya? lagipula bukankah Dia-lah yang menjadikan tubuh dan sifat? Dan Dia Yang mengetahui, Yang berkehendak, dan yang menjadikan. Sifat-sifat tersebut mustahil ada pada sifat, malah tidak bisa diterima akal, kecuali pada Yang Mawjud, Yang berdiri dengan sendiri-Nya, dan Yang bebas dengan Dzat-Nya.

Allah SWT berdiri dengan sendiri-Nya, bukan merupakan substansi, tubuh, maupun sifat. Dan alam seluruhnya merupakan substansi, tubuh dan sifat. Jadi, Allah tidak menyerupai sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. tapi Ia adalah Yang hidup, Yang berdiri, Yang tidak seperti sesuatu. Namun, mungkinkah mahluk yang ditakdirkan oleh Yang menakdirkannya dan tang dibentuk oleh Yang membentuknya menyerupai Khaliknya? Seluruh tubuh dan sifat dijadikan dan diciptakan oleh Allah SWT. Karenanya mustahil bisa diterapkan adanya persamaan dan kesempurnaan dengan-Nya.

Pokok ketujuh : adalah Allah menjadikan bagi manusia dua tepi. Pada salah satu tepi tersebut manusia bisa melihat pada sisi yang lain dan bergerak padanya. Maka timbullah sebutan depan untuk arah yang dituju dan sebutan belakang untuk lawannya. Semua arah ini baru dan baru ada kesamaan-Nya dengan munculnya manusia. andaikan bagi manusia tidak dijadikan dua tepi seperti yang ada, tapi dijadikan bundar seperti bola, maka arah-arah itu tidak aka nada.

Kini, bagaimanakah wujud Allah pada masa azali bisa ditentukan dengan arah, padahal arah baru? Atau bagaimanakah Tuhan bisa ditentukan letak arah-Nya, padahal tiada bagi-Nya arah? Apakah caranya dengan : Allah menjadikan alam di atas-Nya? Maha Suci Allah dari letak di atas. Maha Suci pulalah Ia dari mempunyai kepala karena atas adalah yang searah degan kepala. Atau dengan : Allah menjadikan alam di bawah-Nya? Maha Suci Allah dari letak di bawah. Maha suci pula Ia dari mempunyai kaki. Karena bawah adalah apa yang searah dengan kaki.

Semua hal itu merupakan hal yang mustahil menurut akal. Seperti diketahui sesuatu yang berarah bisa diterima bila hal itu dibatasi dengan batas tempat substansi-substani atau sifat tertentu. Karenalah maka mustahil wujud-Nya ditentukan dengan arah. Kalau yang dimaksudkan dengan arah adalah selain dari dua pengertian tersebut, jelas ini merupakan kesalahan pada sebutan tapi mengantarkan pada pengertian. Andaikata letak Allah di atas alam, berarti dia berada di tempat berlwanan dengan alam. Padahal, segala Sesuatu yang berlawanan dengan sesuatu yang bertubuh adakalanya sama dengan sesuatu itu, baik lebih kecil atau lebih besar darinya. Semuanya itu taksiran yang tentu memerlukan penaksir. Maha Suci Kholik Yang Maha Esa lagi Maha Pengatur dari hal demikian.

Mengenai pengangkatan kedua tangan ketika berdoa kepada Allah SWT ke arah langit, ini karena langit merupakan kiblat do’a. di samping itu mengangkat tangan ke arah langit ketika berdo’a juga menjadi isyarat sifat kebesaran dan keagungan Allah SWT. Karena hal itu sebagai pemberitahuan mengenai maksud ke arah yang lebih tinggi yang diwarnai dengan sifat kemuliaan dan ketinggian. Sesungguhnya Allah SWT lebih perkasa dan berkuasa dari segala yang ada.

Pokok kedelapan adalah mengetahui bahwa Allah SWT bersemayam di atas ‘arsy, sesuai dengan makna semayam yang dikehendaki oleh Allah. Yakni semayam-Nya ini tidak berlawanan dengan keagungan-Nya dan kepada-Nya tidak terkena tanda-tanda kebaruan dan kefanaan. Inilah yang dimaksud dengan bersemayam ke langit, dalam QS. Fushilat : 11 : “ Kemudian Dia menuju pada penciptaan langit sementara langit masih merupakan asap”.

Hal itu tidak akan terjadi selain dengan jalan menguasai dan memerintah.

Para pendukung kebenaran (ahl al-haq) memerlukan penafsiran ini, seperti para pendukung kebatinan (ahl al-batin) memerlukan penafsiran pada firman Allah, “ Dia beserta kalian di mana saja kalian berada”. Karena dengan secara sepakat firman itu diartikan dengan ilmu Allah dan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ini seperti halnya sabda Nabi saw, “ Kalbu seseorang yang beriman berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Pengasih”.

Sabda Nabi saw tersebut diartikan sebagai kekuasaan dan keperkasaan Allah. Juga seperti sabda beliau, :Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi-Nya”. sabda ini diartikan dengan kemuliaan dan keagungan Hajar Aswad. Karena kalau hadits tersebut dibiarkan seperti apa adanya tentu akan menimbulkan kemustahilan.

Demikian pula halnya dengan kosakata istiwa’. Bila kosakata ini dibiarkan memiliki makna “bersemayam dan bertempat”, tentu yang bersemayam dan bertempat tersebut sesuatu yang bertumbuh yang bersentuhan dengan ‘arsy. Dalam hal ini adakalanya sesuatu itu seperti ‘arsy atau lebih besar atau lebih kecil. Yang demikian itu jelas mustahil. Padahal, segala sesuatu yang mengantarkan pada kemustahilan adalah mustahil.

Pokok kesembilan : adalah mengetahui bahwa Allah SWT dan keadaan-Nya adalah Maha Suci dari bentuk dan batas, juga Maha Suci dari arah dan penjuru, di akhirat dan tempat ketetapan  nanti Ia akan melihat dengan mata kepala dan hati. Dalam QS. Al-Qiyamah : 22-23 yang artinya : Wajah-wajah (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri . kepada Tuhannyalah mereka melihat”.

Di sini timbul pertanyaan : Bagaimanakah para pengikut Aliran Mu’tazilah mengenai sifat Allah, Tuhan sekalian alam yang tidak dapat diketahui oleh Musa as? Mengapa Musa as ingin melihat Allah SWT, padahal hal itu mustahil?

Barangkali ketololan para pembuat bid’ah dan hawa nafsu orang-orang bodoh dan dungu tersebut lebih utama daripada kebodohan para Nabi as. Mengenai bagaimana ayat tentang melihat Tuhan secara lahiriah tersebut bisa dimengerti, hal itu tidak mustahil. Karena melihat Allah SWT  semacam kasyf dan ilmu, tapi lebih sempurna dan lebih jelas daripada ilmu. Jadi, bila ilmu bisa dikaitkan dengan-Nya sementara Ia tidak berada pada satu arah, tentu melihat pun bisa dilakukan terhadap-Nya sementara Ia tidak berarah.

Seperti halnya bagi Allah SWT tiada halangan untuk melihat mahluk-Nya tanpa berhadapan dengan mereka, demikian halnya tiada halngan bagi-Nya untuk bisa dilihat oleh mahluk-Nya tanpa berhadapan denga-Nya. juga, seperti halnya tiada halangan bagi-Nya untuk diketahui tanpa berkeadaan dan berbentuk, demikian pula halnya bagi-Nya bisa dilihat dalam keadaan seperti itu.

Pokok kesepuluh : adalah mengetahui bahwa Allah SWT Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tunggal, tiada berteman bagi-Nya, sendirian dalam menjadikan dan menciptakan segala sesuatu, Maha Kuasa dalam menjadikan dan megadakan, tiada yang menyerupai dan menyamai-Nya, dan tiada lawan bagi-Nya untuk bertengkar dan bermusuhan. Dalam QS. Al-Anbiya :22 Allah berfirman yang artinya : “ Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya rusak binasa”.

Andaikan Tuhan dua dan salah satu di antara keduanya menghendaki sesuatu, tentu Tuhan kedua yang terpaksa membantu Tuhan yang pertama lemah, tidak berdaya, dan tidak sebagai Tuhan Yang berkuasa penuh. Sebaliknya jika Tuhan kedua tersebut membantah dan menolak permintaan tolong Tuhan yang pertama, tentu Tuhan yang kedua kuat dan perkasa, sementara Tuhan yang pertama lemah, tak berdaya, dan tidak sebagai Tuhan yang berkuasa.


[1] Dari Ihya Ulumu al-din jil.2, hal. 377

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s