VIRTUE ETHICS ARISTOTELES

Prinsip-prinsip dan Bagaimana Cara Memperoleh Moral Virtue

Fithri Dzakiyyah Hafizah

0.0.            Abstrak

Etika dikatakan sebagai filsafat praktis yang membahas mengenai bagaimana manusia bertindak dan bagaimana ia seharusnya bertindak. Salah satu filosof dan ilmuwan terbesar Zaman Eropa Kuno, Aristoteles, mengatakan bahwa etika adalah ilmu tentang hidup yang baik. Semakin bermutu hidup manusia, maka semakin ia bahagia. Paper ini akan menyorot mengenai pemikiran Aristoteles mengenai hidup yang baik adalah hidup yang bahagia yang pemikiran etikanya ini biasa dikenal dengan Virtue Ethics.

Kata kunci: Etika Nikomacheia (Nicomachean Ethics), Virtue Ethics, Moral Virtue, Intellectual Virtue, Golden Mean, Vices.

1.0.            Pendahuluan

“Every art and every inquiry, every action and choice, seems to aim at some good; whence the good has rightly been defined as that at which all things aim”

-Aristotle, Nicomachean Ethics-

Pemikiran Aristoteles mengenai etika terurai pada 3 karyanya, yakni Ethica Nicomachea, Ethica Eudimia, dan Magna Moralia. Akan tetapi dari ketiga karya itu, hanya Ethica Nicomachea lah yang dianggap otentik dan lebih matang dalam bidang etika.  Oleh karena itu pembahasan mengenai Virtue Ethics Aristoteles ini akan lebih terfokus pada pemikirannya dalam Nicomachean Ethics.

Etika Aristoteles bersifat teleologis dan berfokus pada tindakan untuk menghasilkan kebaikan manusia. Jika ada tindakan yang berlawanan dengan pencapaian dari kebaikan dirinya yang sesungguhnya, maka ia akan menjadi tindakan yang salah.

Pada dasarnya, teori Aristoteles mengenai moral berpusat di sekitar keyakinannya bahwa manusia itu memiliki tujuan khusus untuk mencapai dan memenuhi fungsinya. Pada Nicomachean Ethics ia mengatakan bahwa “Setiap seni dan penyelidikan, juga setiap tindakan dan pilihan, sudah pasti bertujuan untuk suatu kebaikan”. Namun jika memang demikian adanya, maka pertanyaan selanjutnya berhubungan dengan hal ini adalah, “Kebaikan seperti apakah yang kemudian menjadi tujuan tindakan manusia?”[1] Aristoteles menyatakan bahwa kebaikan yang menjadi tujuan tindakan manusia adalah sama dengan kebahagiaan. Hidup kita berhasil apabila kita mencapai tujuan terakhir yang kita cari melalui segala usaha kita, dan inilah tujuan akhir itu yang disebut dengan kebahagiaan. Dalam bahasa Yunani kebahagiaan disebut dengan istilah eudaimonia. Maka etika Aristoteles disebut juga dengan  eudomonisme. Bagi Aristoteles, etika itu menawarkan petunjuk ke kehidupan bahagia tersebut.[2]

2.0.            Konsep Etika Aristoteles dan prinsip-prinsipnya

Aristoteles berpandangan bahwa prinsip dari kebaikan dan kebenaran sebenarnya sudah tertanam pada diri setiap orang. Apalagi, prinsip ini dapat ditemukan dengan mempelajari hakikat manusia dan dapat dicapai melalui sikap yang aktual dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip dasar Etika Aristoteles adalah bahwa kita hendaknya hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga kita mencapai hidup yang baik, bermutu dan berhasil.

 Untuk memahami ini, maka Aristoteles menjelaskan dasar moral dalam struktur hakikat manusia dengan menjelaskan terlebih dahulu mengenai tipe-tipe tujuan, fungsi Manusia, dan kebahagiaan sebagai tujuan.

  1. Tipe-tipe Tujuan

Berkaitan dengan Etika Aristoteles yang bersifat teleologis, maka Aristoteles membedakan dua macam tujuan yang penting pada manusia, diantaranya:

  1. Tujuan Instrumental (Instrumental Ends), yang berarti tindakan yang telah dilakukan dalam arti untuk tujuan yang lain. Misalnya, ketika kita sakit, kita akan minum obat. Meminum obat ini tujuannya agar kita sembuh, namun setelah kita sembuh, sembuh ini bukanlah merupakan tujuan akhir dari diri kita sebagai manusia. Setelah kita sembuh kita akan berangkat menuju tujuan yang lainnya, misalnya bekerja atau belajar. Inilah yang dimaksud dengan tindakan yang dikakukan demi tujuan yang lain.
  2. Tujuan intrinsik (Intrinsic Ends). Yakni tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk dirinya sendiri. Misalnya seperti meminum obat tadi saat sakit agar bisa sembuh, bukanlah merupakan tujuan bagi diri kita sendiri. Oleh karena  itu setelah mengetahui hal tersebut, maka kemudian kita akan sampai pada sebuah tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh aktivitas lainnya dengan satu tujuan sebagai seorang manusia, bukan sesuai dengan profesi yang dilakoni oleh manusia.  Aristoteles menyebutkan bahwa tujuan inilah yang pasti merupakan kemanusiaan yang baik.

Selain itu, Aristoteles membedakan dua fungsi kebaikan manusia, yakni fungsi menjadi seseorang yang baik sesuai dengan profesinya (misalnya dokter yang pekerjaannya merawat dan mengobati pasien), dan fungsi bertindak sebagai manusia. Dokter yang baik, tidak sama halnya dengan seorang yang baik, begitu pula sebaliknya. Karena seorang yang baik menurut Aristoteles adalah orang yang mampu memenuhi fungsinya sebagai manusia.

  1. Fungsi Manusia

Aristoteles mengatakan bahwa tujuan manusia itu tidaklah hanya ‘sekedar hidup belaka’. Karena secara sederhana, tumbuhan maupun hewan juga mengalami hal itu. Selanjutnya Aristoteles mengatakan bahwa ‘Kita itu menginginkan kesempurnaan pada manusia’. Berbeda dari hewan dan tumbuhan, manusia adalah mahluk rasional. Maka Aristoteles berpendapat lebih jauh lagi bahwa, “Jika fungsi dari manusia adalah sebuah aktivitas dari jiwa yang mengikuti prinsip rasional, maka kebaikan manusia muncul dari aktivitas jiwa yang berdasar pada virtue (Kesempurnaan/Keutamaan)”.

Seseorang adalah cerminan dari jiwanya. Dalam hal ini, Aristoteles membagi jiwa ke dalam dua bagian, yakni jiwa irrasional yang terdiri dari komponen tumbuhan dengan kapasitas menyerap nutrisi dan memenuhi kebutuhan biologis kita dan komponen hewan yang appetitif yang memberikan kita hasrat sehingga kita bergerak cepat untuk pemenuhan hasrat itu.  Sedangkan yang kedua adalah jiwa rasional yang cenderung berlawanan dengan jiwa irrasional. Konflik yang terjadi di antara jiwa rasional dan jiwa irrasional lah yang memunculkan masalah mengenai moral juga baik dan buruk.

Selain itu, moral juga meliputi tindakan. Tindakan-tindakan partikular yang diartikan di sini merupakan kontrol  jiwa rasional dan petunjuk terhadap jiwa yang irrasional. Orang yang baik, menurut Aristoteles adalah orang yang baik secara seluruhnya dan bukan hanya di waktu-waktu tertentu saja.

  1. Kebahagiaan sebagai Tujuan

Tujuan yang baik dan utama bagi manusia berawal dari tindakan yang self-sufficient dan final. Yakni tindakan yang selalu ia hasratkan atau ia tuju dan tidak pernah ditujukan untuk kepentingan hal lain. Dalam arti ia bersifat swasembada dan jika manusia sudah bahagia, maka ia tidak memerlukan apapun lagi. Inilah yang menurut Aristoteles harus dicapai semua orang.

Aristoteles  meyakini bahwa semua orang akan sepakat  jika kebahagiaan itu merupakan tujuan yang sempurna dan memenuhi semua persyaratan utama bagi tujuan tindakan manusia. Memang, kebanyakan dari manusia memilih kesenangan, kekayaan dan kehormatan hanya karena berpikir bahwa instrumen-instrumen itu mampu memberikan manusia kebahagiaan. Padahal, kebahagiaan sendiri sebenarnya merupakan nama lain dari kebaikan, dan kebaikan merupakan pemenuhan dari fungsi khusus manusia sebagaimana yang dikatakan oleh Aristoteles, ‘Kebahagiaan adalah sebuah kerja jiwa berdasarkan keutamaan atau kesempurnaan (Exellence or Virtue)’.

Apakah kita akan bahagia atau tidak, itu tergantung pada pola hidup yang kita pilih. Aristoteles membagi pola hidup ke dalam tiga bagian:

  1. Hidup mengejar nikmat,
  2. Hidup politis, yakni hidup aktif dengan berpartisipasi dalam kehidupan polis [yang disebutnya praxis], dan
  3. Hidup kontemplatif sebagai filosof (theoria).

Karena hidup dengan mengejar kenikmatan, kedudukan, kekayaan maupun keutamaan tidak menjamin kebahagiaan, dengan demikian, secara implisit Aristoteles mengemukakan bahwa manusia mampu mencapai kebahagiaan dalam hidup sosial–etis (politis) dan dalam filsafat.[3]

Maka kebahagiaan itu terdiri dari apa? Aristoteles merumuskan bahwa manusia hanya  dapat bahagia apabila ia tidak bersikap pasif, dalam arti ia harus aktif, dan yang harus diaktifkan adalah kemampuan khas manusia, yakni akal budi.

3.0.             Virtue sebagai Golden Mean (Jalan tengah)

            Tindakan virtue adalah tindakan yang mengambil pertengahan antara kelebihan dan kekurangan, keterlalu banyakkan dan kesedikitan. Jalan tengah (golden mean) ini dapat kita temukan dengan keseluruhan hasrat kita seperti takut, percaya diri, marah, menderita, senang, dan lain-lain. Apabila kita gagal untuk mencapai pertengahan ini, maka diri kita akan menunjukkan sifat  buruk dari yang terlalu berlebihan dan sifat buruk dari yang terlalu kekurangan. Adapun hasrat yang ada pada diri kita akan dikendalikan oleh kekuatan rasional dari jiwa, dan oleh karenanya kebiasaan yang membentuk kesempurnaanlah yang akan membimbing kita secara spontan kepada sebuah tindakan yang mengambil jalan tengah. Contohnya, di antara sifat pengecut dan sifat terburu-buru, maka jalan tengahnya adalah sifat berani. Nah, sifat berani inilah yang merupakan virtue (keutamaan).

            Kesempurnaan moral (Moral Virtue), kemudian terdiri dari pengembangan secara spontan yang akan membuat kita cenderung mengambil jalan tengah (golden mean) – atau lebih sederhanya, mencegah tindakan jelek dalam kasus seperti pencurian dan pembunuhan.

            Berhubungan dengan itu, Aristoteles mengatakan bahwa asal muasal dari etika adalah pilihan dan asal dari pilihan itu adalah hasrat dan akal.  Akal berperan penting, karena tanpa akal, maka kita tidak memiliki kapasitas apapun. Itu karena berbuat baik itu tidak terjadi secara alamiah. Perbuatan baik akan terjadi apabila kita menggerakkan potensi kita agar menjadi aktual dengan mengetahui apa yang harus kita lakukan, mempertimbangkannya dengan hati-hati, kemudian memilihnya.

4.0. Virtue Intelektual (Intellectual Virtue)

            Aristoteles juga mengungkapkan bahwa selain Moral Virtue, ada juga yang dinamakan dengan Virtue Intelektual (Intellectual Virtue). Franz Magnis Suseno menyebut Virtue Intelektual ini sebagai keutamaan-keutamaan intelektual- begitu juga virtue ia artikan sebagai keutamaan-keutamaan.

            Aristoteles membedakan lima keutamaan intelektual, diantaranya adalah akal budi (nus), kebijaksanaan teoritis (Sophia), pengetahuan ilmiah (episteme), kebijaksanaan praktis (phronesis), dan keterampilan (techne). Salah satu dari kelima virtue intelektual yang mengajarkan kita bagaimana bertindak dengan baik adalah phronesis, dan bukan Sophia. Karena Sophia adalah kebijaksanaan yang diperoleh karena theoria, dengan memandang alam yang tak berubah dan abadi. Sedangkan phronesis adalah kebijaksanaan tentang bagaimana manusia harus bertindak, tentang alam manusiawi yang bergerak, berubah-rubah, dinamis dan tidak pasti.[4]

            Definisi dari moral virtue diartikan sebagai berikut: ‘Virtue adalah sebuah disposisi (sikap tetap) yang meliputi pilihan dan meletakkannya pada jalan tengah yang relatif pada kita sebagaimana yang didefinisikan oleh akal (reason) dan sebagaimana manusia dengan kebijaksanaan praktis yang akan mendefinisikan itu’. Keberanian contohnya, yang terdiri dari tidak hanya perasaan yang benar akan percaya diri, akan tetapi juga menghubungkan mereka dengan objek yang benar, dari motif yang benar, cara yang benar, dan di waktu yang benar dan tepat. Akan tetapi diskusi mengenai semua faktor-faktor ini, keadaan dari tindakan individual, akan jatuh pada area kebijaksanaan praktis.[5]

            Moral Virtue, sebagaimana yang Aristoteles katakan dalam Etika Nichomacea, merupakan suatu hal yang mampu membawa kita menuju kebenaran, maka kebijaksanaan praktis adalah sesuatu yang membuat kita mengambil langkah-langkah yang benar untuk mencapai tujuan yang benar itu. Hubungan antara dua keunggulan ini memang sangat dekat. Aristoteles megatakan bahwa memang kedua virtue ini (baca: Moral Virtue dan kebijaksanaan praktis) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Seseorang bisa saja membedakannya secara logis antara dua elemen ini, Yang pertama bahwa moral virtue merupakan perbincangan lebih jauh mengenai jalan tengah (golden mean), sedangkan yang kedua yakni kebijaksanaan praktis merupakan keinginan (hasrat) untuk suatu tujuan, akan tetapi Aristoteles meyakini bahwa dari segi praktis, akan mustahil untuk memiliki salah satu keunggulan saja tanpa keunggulan yang lainnya. Malahan, Aristoteles menyatakan bahwa moral virtue tanpa kebijaksanaan praktis, dalam bahasa halusnya, adalah apa yang ia sebut dengan ‘natural virtue’ (keutamaan alamiah), yakni sebuah disposisi natural (sikap tetap alamiah) yang bahkan anak-anak dan hewan-hewan pun bisa membaginya, akan tetapi membutuhkan latihan dan akal untuk mengembangkannya ke dalam virtue (keutamaan).[6]

5.0. Kritik terhadap mean (Jalan tengah) sebagai virtue

            Teori Aristoteles yang menyatakan bahwa virtue itu bisa didapatkan dengan pengambilan jalan tengah antara kedua ekstrem (terlalu berlebihan dan terlalu kekurangan) tidaklah mampu direalisasikan semudah itu dalam tindakan praktis. Apa yang menjadi kekurangan dalam pengambilan jalan tengah (mean) sebagai virtue ini nyatanya tidak selalu sama bagi setiap orang, tidak pula setiap tindakan itu memiliki jalan tengah. Selain itu, jalan tengah itu tergantung pada tingkatan orangnya dan kondisinya. Contohnya dalam hal makan, jalan tengahnya tidak akan sama untuk seorang atlet dewasa dan anak kecil. Meskipun banyak virtue yang berdiri di antara dua sifat buruk, terdapat pula beberapa tindakan yang tak memiliki pertengahan sama sekali. Dalam arti bahwa perbuatan-perbuatan itu memang sudah secara alamiah merupakan keburukan (vices), seperti sombong, zina, mencuri, membunuh, dan lain-lain. Semua ini sudah buruk pada diri mereka sendiri dan tidak ada kekurangan maupun kelebihan pada keduanya.

Kita mengetahui bahwa setiap virtue itu merupakan jalan tengah (mean) anatara dua ekstrem dari keburukan. Kita juga megetahui nama-nama untuk virtues (keutamaan-keutamaan) dan vices (kejelekan-kejelekan). Akan tetapi bagaimanakah kita mampu memutuskan pada setiap kasus dimana jalan tengah (mean) itu diletakkan, atau bagaimanakah kita menentukan tentang ini atau pun tindakan partikular tersebut bahwa hal itu merupakan sebuah tindakan dari virtue? Di sinilah tempat di mana Aristoteles mengimbau pada virtue yang berdasarkan kebijaksanaan praktis (phronesis/Practical Intelligence). Jalan tengah (mean) merupakan apa yang phronesis putuskan untuk menjadi jalan tengah (mean). Doktrin inilah yang telah menghentikan para pembaca seakan-akan tidak tertolong. Karena apa yang kita inginkan bukanlah sebuah diskusi mengenai fakultas yang melakukan putusan, melainkan kriteria atau ukuran pasti yang menjadi dasar penilaian sesuatu dengan petunjuk yang membuat hal itu mampu melakukan tersebut.

Untuk menjawab ini Aristoteles menjelaskan lebih jauh lagi bahwa phronesis (kebijaksanaan praktis) itu merupakan persepsi. Ia (phronesis) beroperasi di sini (pada tempat) dan saat ini (pada waktu). Ia memutuskan apakah sesuatu yang bermoral untuk dilakukan di sini dan saat ini, dan menilai di sini dan saat ini merupakan pekerjaan dari persepsi. Ia juga menyebutkan bahwa phronesis ini seperti sebuah jenis ‘mata’.[7] Phronesis menilai dimana jalan tengah (mean) dari virtue terletak pada di sini (tempat) dan saat ini (waktu), bukan dengan menunjuk kembali pada beberapa kriteria atau ukuran, akan tetapi langsung dengan ‘melihat’ jalan tengah (mean) ini di sini (pada tempat) dan saat ini (pada waktu). Dengan kata lain, phronesis itu bukan merupakan akal (reason) tentang virtue; ia adalah secara langsung mengintuisinya. Untuk mencari sebuah kriteria virtue yang mana kebijaksanaan praktis ikuti adalah merupakan kekeliruan. Untuk  berpikir bahwa kriteria adalah niscaya- adalah sama saja dengan berpikir bahwa kebijaksanaan itu merupakan beberapa jenis dari fakultas berpikir yang memperkecil kasus-kasus partikular di bawah aturan-aturan umum atau mengaplikasikan aturan-aturan umum pada kasus-kasus partikular. Akan tetapi jika phronesis mengintuisi, dan bukan dengan berpikir, hal ini dengan jelas merupakan apa yang tidak akan ia (kebijaksanaan praktis) lakukan.

Masalah yang lebih besar dengan imbauan pada intuisi adalah bahwa setiap orang yang berbeda, dan bahkan setiap orang yang sama dalam waktu-waktu yang berbeda, memiliki intuisi yang berbeda-beda, jadi tidak akan ada orang yang pernah mendapatkan, dalam cara ini, satu jawaban yang konsisten tentang apa yang benar untuk dilakukan.[8]

6.0. Kesimpulan

            Secara singkat Aristoteles tidak menjadikan masalah ketika setiap manusia memiliki intuisi yang berbeda-beda. Bagaimanapun, ia tetap menegaskan bahwa moral virtue tidak akan lepas dari phronesis atau kebijakan praktis. Ketika kebijakan praktis disebut sebagai matanya jiwa, maka Aristoteles mengatakan bahwa seseorang yang bermoral adalah orang yang memiliki intuisi yang benar. Begitu pula dengan seseorang yang memiliki intuisi yang benar, maka ia adalah orang yang bermoral (virtuous).

            Dalam sudut pandang Islam yang mendukung gagasan pemikiran Aristoteles mengenai kebahagiaan (kesempurnaan/Virtue) adalah tujuan akhir dari kehidupan mayoritas adalah para filosof muslim sendiri. Sebagai contohnya adalah al-Farabi dan Ibn Miskawayh (w.1030), Nashr al-Din al-Thusi (w.1274) dan al-Razi (w. 925) yang mengatakan bahwa akal adalah kesempurnaan (entelechy) manusia yang memiliki posisi yang krusial dalam etika Islam dan tidak hanya memiliki fungsi kognitif semata.

            Akal merupakan syarat yang paling fundamental bagi tercapainya tujuan etika yakni ‘kebahagiaan’ atau ‘kesempurnaan’ (virtue) manusia. Nafsu, yang mampu dikekang ekstrimitasnya oleh keunggulan akal atau yang dalam terminologi psikologi modern disebut mental faculties terdiri dari tiga bagian: 1) al-nafs al-syahwaniyah (nafsu syahwat); 2) al-nafs al-ghadlabiyah (nafsu kemarahan) dan 3) al-nafs al-nuthqiyah (nafsu rasional). Para pemikir etika Muslim meyakini bahwa kebahagiaan/virtue dapat dirasakan ketika terjadi keseimbangan (equilibrium) di antara ketiga fakultas (nafsu) tersebut. Namun keseimbangan baru akan dicapai apabila akal telah melaksanakan  fungsi ‘managerial’nya, yakni telah melaksanakan fungsi kontrolnya terhadap nafsu-nafsu manusia.[9]

Daftar Pustaka

Fieser, James & Samuel Enoch Stumpf. The Ancient Greek Philosophy. Amerika: Mc. Graw Hill Companies.

Kartanegara, Mulyadhi. Artikel: Wacana Filsafat Islam di ambang Millenium Ketiga. Sub Bab: Etika, Akal, Ilmu. (Tidak ada halaman)

Lloyd, G.E.R. 1968. Aristotle: The Growth and Structure of His Thought. Great Britain: Cambridge At The University Press.

Suseno, Franz Magnis. 1998. 13 Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: Kanisius.

Virtue Ethics on Aristotle. Pdf (no pages, no author and Year).


[1] Samuel Enoch Stumpf & James Fieser. The Ancient Greek Philosophy. Amerika: Mc. Graw Hill. Hal. 90

[2] Franz Magnis Suseno. 1998. 13 Model Pendekatan Etika. Yogyakarta:Kanisius. Dikatakan bahwa tujuan akhir dari hidup yang merupakan suatu keberhasilan adalah kebahagiaan. Kebagahagiaan diungkapkan Aristoteles sebagai tujuan utama bagi seluruh manusia. Dan bagaimanapun, kebahagiaan merupakan kebaikan.

[3] Franz Magnis Suseno, Op Cit., hal.36

[4] Franz Magnis Suseno, Op Cit., hal. 38

[5] Dalam G.E.R. LLOYD. 1973. Aristotle: The Growth and Structure of His Thought. Great Britain: Cambridge at The University Press . hal. 224.  Istilah kebijaksanaan praktis disebut dengan istilah Practical Intelligence yang juga merupakan nama lain dari Phronesis (Prudence) yang memiliki relasi kuat dengan moral virtue yang membimbing manusia untuk bertindak menuju virtue.

[6] G.E.R. LLOYD, Op Cit., sub bab. Practical Intelligence. Hal. 225-226

[7] Dalam G.E.R.LLOYD. 1968. Aristotle: The Growth and Structure of His Thought. Cambridge at The University Press, hal. 226, bahwa kebijaksanaan praktis merupakan mata jiwa. ‘ Practical Intelligence itself, the ‘eye of the soul’ as he calls it at EN II44a29f.,’

[8] Virtue Ethics on Aristotle. Pdf (no pages)

[9] Mulyadhi Kartanegara. Artikel: Wacana Filsafat Islam di ambang Millenium Ketiga. sub bab: Etika Akal dan Ilmu. (tidak ada halaman dan tahun).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s