Ontology

(Resume Kuliah Ontologi Bapak Muhammad Nur, MA) 

Ontology hadir dalam seluruh ruang hingga mampu mengoneksikan seluruh pemikiran. Epistemologi adalah bathin ontologi. Di Barat, Wujud dibahas secara general, sedangkan dalam Islam wujud dianalisa dari wujud khusus pembahasan Tuhan termasuk pembahasan ontology metafisik, jadi semua yang ada itu masuk ke ontology. Ilmu itu ada yang particular dan universal. Ilmu yang particular ialah ilmu yang berkaitan dengan yang diindra, wahm (bersifat hudhuri).

Ilmu Universal itu terbagi menjadi 2 :

  1. Primer (Uulaa) => Mishdaqnya itu berdiri sendiri di luar sehingga bisa kita tunjuk, misalnya : Itu Toko Buku.
  2. Sekunder (Tsanawi) =>ia tidak berdiri sendiri.  terbagi lagi menjadi 2 :
  • Logika (Mantiqi) : Mishdaqnya ada di alam di mental.
  • Filsafat (Falsafi) : sebuah konsep pemahaman universal, yang mishdaqnya tidak berdiri sendiri. Di luar, tapi konsepnya didapatkan dari perbandingan di antara dua eksistensi. Jika dua eksistensi ini kita buat relasi, maka ada konsep sebab akibat (universal). Sebab tidak bisa sendiri dan akibat juga tidak bisa sendiri. Relasi ini mengakibatkan asosiasi makna dan bersifat niscaya yang disebut dengan hukum sebab-akibat.

Filsafat membahas wujud bima huwa wujud. Filsafat membahas wujud dari sisi universalnya, bukan wujud particular yang memiliki karakteristik benda itu sendiri. Konsep wujud itu adalah badihi. Badihi ialah cukup mengonsepsikan objeknya, maka kita langsung tahu, tidak perlu lagi dalil. Sedangkan badihi dibagi lagi menjadi :

  1. Primer : yakni Prinsip nonkontradiksi/ prinsip identitas inheren dalam jiwa, tidak butuh lagi eksplementasi.
  2. Sekunder : yakni butuh pengalaman, butuh eksplementasi pada awalnya seperti bayi yang ingin tahu api dan menyentuhnya, barulah dari situ ia tahu dan tidak mau menyentuhnya lagi.

Yang badihi adalah konsepnya (mafhumnya) yang tidak badihi adalah realitasnya. Sedangkan hakikat ialah melihat realitas eksternal yang hakiki.

Konsep wujud itu jelas, sedangkan hakikatnya tersembunyi, tidak ada yang tahu, namun konsepnya. Analoginya seperti cahaya, kita tahu cahaya itu ada dan membuat kita mampu melihat benda-benda di sekitar kita, tanpanya kita tidak bisa melihat apapun. Namun ketika kita ditanya, apakah hakikat cahaya itu? Kita bingung, tak bisa menjelaskannya, karena hakikat cahaya itu tersembunyi dan tidak kita sadari.

Badihi ini sudah jelas dengan sendirinya. Dia tidak butuh kepada definisi, karena sesuatu yang kita definisikan memiliki rangkapan ( berkaitan dengan 5 universals dalam logika). Ketika kita membuat definisi maka kita akan berhubungan dengan genus dan differentia. Sedangkan wujud itu sudah bersifat basith dan tidak memerlukan lagi definisi, karena tidak ada lagi yang lebih jelas dari wujud. Hal ini jelas dalam tataran konsepnya.

Menurut Barkeley, Wujud adalah apa yang kita persepsi, sedangkan yang ditangkap hanyalah aksiden bukan substansi. Barkeley merupakan seorang panentheisme.

Hakikat (nomen) realitasnya itu tersembunyi.

Musytarak Ma’nawi (Univokal) : sebuah kata yang memiliki satu makna.

Mussytarak Lafzhi (Equivokal) : satu kata yang memiliki banyak makna.

Argumentasi bahwa wujud itu Musytarak Ma’nawi :

Sebagian Teolog mengatakan bahwa wujud itu Musytarak Lafzhi. Karena wajib itu tidak terbatas, sedangkan mungkin itu terbatas. Tidak mungkin kita samakan yag wajib tak terbatas dengan mungkin yang terbatas. Lawan ada adalah tiada. Lawannya satu yang mutlak. Yakni ketiadaan mutlak. Mereka terjebak dalam “KONSEP” padahal sebenarnya “Ada” itu bisa dipredikatkan pada segala sesuatu dengan memiliki makna yang sama.

Tidak mungkin yang kontradiksi itu berkumpul (Ijtimaa’ Naqidoyn)

Tidak mungkin yang kontradiksi itu terangkat (Irtifaa’ naqidoyn)

Konsep adalah alam tersendiri yang di dalamnya berada dalam naungan wujud itu sendiri.

(fii annal wujuud zaa-idun ‘alal maahiyah ‘aaridun lahaa)

ISHAALATUL WUJUUD

Konsep wujud : bahwa wujud itu dipredikatkan pada mahiyah.

Apapun yang kita lihat diluar ini adalah merupakan esensinya. Mahiyah adalah jawaban dari pertanyaan apa itu. Itulah mengapa ia disebut dengan keapaan. (masih tentang konsep, bukan eksternal). Namun konsep tentang wujud berbeda dengan konsep mahiyah.

Wujudnya ialah eksistensi, sedangkan spidolnya itu esensi. Benak kita mampu memilah-milah ketika kita menangkap spidol. Benak kita ini mampu memilah-milah antara wujud dan mahiyahnya.

Wujud itu ada konsepnya dan ada realitas eksternalnya. Konsep wujud itu badihi, sedangkan realitas eksternalnya itu dipisahkan dari konsep.

Yang fundamental adalah wujud, sedangkan mahiyah itu hanya majazi saja (bukan hakikat/ hanya analisa tangkapan akal). Maksud fundamental adalah yang memberikan efek. Realitas eksternal itu adalah esensinya. Ishoolatul wujud adalah asas yang menjelaskan realitas hakikat dari luar.

Esensi sebagaimana esensi itu berlaku sama di luar dan di dalam benak. Jika esensi yang fundamental, berarti apa yang ditangkap akal bisa punya efek di benak (missal api itu esensinya membakar, jika esensi yang fundamental, itu artinya ketika kita melihat api, maka membakar itu akan ada efek dibenak kita, tapi pada kenyataannya tidak) yang memberikan efek itu ialah wujud. Hakikat ialah wujud itu sendiri. Esensi bukanlah menjelaskan hakikat, esensi hanya menjelaskan batasan wujudnya (seperti laut dan gelombang laut). ia merupakan I’tibar (abstraksi akal) bukan menjelaskan wujudnya. Jika esensi menjadi dasar realitas, maka predikat-predikat itu akan berdiri sendiri-sendiri. Sedangkan konsep itu wadahnya adalah wujud. Semua yang memberikan efek adalah wujud, bagai laut yang bergelombang. Sedangkan jika berbicara soal konsep, yang menjadi dasar adalah esensinya.

Berbeda dengan Suhrawardi yang mengatakan bahwa realitas eksternal itu adalah esensi, sedangkan wujud itu adalah I’tibari. Karena jika wujud yang fundamental contohnya akan seperti ini. ada spidol, spidol itu muncul dari mana? Dari wujud 1, wujud 1 berasal dari mana? Dari wujud 2, dan seterusnya yang akhirnya menjadi tasalsul. Sedangkan tasalsul itu adalah mustahil.

Ada itu berkenaan dengan penciptaan.  Sedangkan esensi itu tidak perlu ditanyakan lagi “darimanakah ia?” jadi yang menjadi fondasi realitas ialah esensi (Suhrawardi). Namun ketika kita memandang Suhrawardi, ingatlah bahwa wilayahnya itu adalah iluminasi. Dikatakan bahwa Suhrawardi itu terjebak dengan istilah-istilah filsafat. Padahal wujud itu dzat, dzat itu tidak perlu ditanyakan lagi kenapa? kenapa? Atau darimana? Darimana?

Kritik untuk kritik Suhrawardi terhadap Ibn Sina :

Tuhan => Ishoolatul Wujuud => kalau ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah jelas.

Mahluk=> Ishoolatul Mahiyah => kalau ini bisa ditanyakan wujudnya darimana, darimana dan darimana.

Pada pembahasan wujud antara Ibn Sina dan Mulla Shadra Masih sama.

Menurut Ishoolatul Mahiyah esensi itu akan ittisal dulu dengan Pencipta, barulah ia mewujud. Sedangkan kritik Ishoolatul Wujud mengatakan, kalau memang harus ittisal dulu, apakah wujudnya sama? Dan ada tidak? Jika tidak ada, itu artinya tidak ada penciptaan. Namun kalau memang dicipta, wujudnya sama tidak? Kalau wujudnya sama, berarti itu ishoolatul wujud namanya.

Filosof pertama yang membahas ashoolatul wujuud ialah Mir Damad. Awalnya Mulla Sadra meyakini bahwa realitas eksternal itu adalah esensi, namun setelah ia mengenal irfan ia berpindah dari ashoolatul mahiyah ke ashoolatul wujud. Perubahan itu bukan dari wujud dan berguna bagi kehidupan kita sehari-hari.

Al-maahiyah min haytsu hiya laysat illaa hiya

Konsep mahiyah dalam pikiran kita terpilah dengan wujud. Mahiyah sebagaimana quiditas itu sendiri bukanlah wujud. Melainkan mahiyah itu sendiri. Jadi tidak ada satupun dalam dirinya kecuali mahiyah itu sendiri.

Akal kita mampu menangkap mahiyah tanpa menghubungkannya dengan wujud dan ketiadaan., misalnya : saya bisa melihat spidol sebagaimana zat spidol tanpa menghubungkannya dengan ada dan tiada.

Pertanyaan : kita ini melihat esensi ada di luar. Apakah yang menyebabkan esensi ada di luar?

Jawab : untuk eksis, dia perlu pada wujud. Namun kaum esensialis bilang, ketika ia berhubungan dengan pencipta, maka esensi ini akan dikeluarkan ke realitas eksternal oleh Tuhan. Jadi Mahiyah itu ada sebelum penciptaan sedangkan wujud itu ada setelah penciptaan. Dalam al-Manzhuumah, Mahiyah secara Dzati ialah perbedaan.

Misal : Spidol ini bukan meja, air itu bukan api.

Esensi itu murni hanya menjelaskan soal dirinya dan tidak ada keterhubungannya dengan yang lain. Contoh : Air panas. Sesungguhnya tidak ada yang menghubungkan antara air dan panas. Karena esensi air dan esensi panas itu berbeda. Namun mengapa kok bisa menyatu menjadi air panas? Apakah yang menyatukannya? Yang menyatukannya adalah wujud. Esensi-esensi yang menyatukannya adalah wujud, sedangkan mahiyah adalah wadahnya wujud.

Jadi pada akhirnya kita bisa memberikan kesimpulan air adalah panas, dan panas adalah air. Karena disintesiskan bahwa teori itu diterapkan pada air panas.

GRADASI WUJUD (TASYKIIKUL WUJUD)

Satu ketersambungan cahaya dari yang terbesar berakhir semakin redup,,, redup,,, redup….

Pluralitas hakekatnya adalah keterpisahan satu sama lain. Sedangkan unitas hanya konsep alam saja (I’tibari). Kini kita dihadapkan pada beberapa pilihan :

  1. Apakah pluralitas adalah wujud yang hakiki dan unitas adalah wujud yang I’tibari ?(murni di alam pikiran kita, kita yang menciptakan perbedaan).
  2. Apakah unitas wujud yang hakiki? Dan pluralitas adalah wujud I’tibari?
  3. Apakah pluralitas dan unitas semuanya I’tibari?
  4. Apakah pluralitas dan unitas semuanya hakiki?

The answer :

  1. Salah, jika yang hakiki hanya pluralitas dan unitas itu hanya konsep alam mental saja.
  2. Salah, jika menolak pluralitas, maka itu artinya meniscayakan Tuhan dan mahluk itu sama. Ia meniscayakan skeptic. Padahal tidak ada seorang sufi pun yang mengingkari pluralitas. Dan kita menolak gradasi.
  3. Salah, jika meragukan pluralitas dan unitas, itu artinya ia skeptic.
  4. Benar, pluralitas dan unitas itu semuanya hakiki.

Menurut Ibn Sina, kesatuan itu hanya terjadi di alam mental. Yang hakiki itu ialah yang banyak. Mengapa ia bisa menjadi kesatuan wujud? Karena ia merupakan abstraksi alam mental kita. Karena hakekat spidol, meja, dll itu berbeda. Predikat bahwa semua itu wujud hanya di alam mental. Di alam eksternal sudahlah jelas bahwa meja itu bukan  spidol.

Kemudian Mulla Sadra mengkritik, katanya,

Konsep kesatuan itu tidak mungkin diambil dari perbedaan sebagaimana perbedaan. Itu mustahil. Karena perbedaan sebagaimana perbedaan tidak akan memberikan konsep kesatuan. Kesatuan itu akan diambil karena kesatuan itu sudah terjadi duluan. Sehingga kesatuan itu pun adalah eksternal, yakni wujud. Karena sesungguhnya, perbedaan dan persamaan itu kembali pada wujud.

Syarat-syarat gradasi :

  1. Segala eksistensi adalah wujud, yakni dasar dari semua yang eksternal adalah wujud (Ashalatul wujud). (Mulla Sadra dan Ibn Sina)
  2. Perbedaan kembali pada persamaan. (Mulla Sadra).
  3. Gradasi berdasarkan konsep kausalitas.
  4. Pluralitas itu hakiki. (Mulla Sadra dan Ibn Sina).
  5. Unitas itu hakiki. Karena wujud itu terjadi akibat dari kesatuan (unity) dan keterpisahan (pluralitas). (Mulla Sadra dan Ibn Sina).

Ibn Arabi dan Mulla Sadra :

  1. Unitas wujud itu hakiki.
  2. Perbedaan itu ada pada tajalli, bukan pada wujud.

Semua hancur kecuali wajahnya (selain itu adalah ada pada wujud nama-nama-Nya/ Tajalli-Nya)

Note : dalam irfan, kausalitas itu dinafikan. Kausalitas, meniscayakan adanya dualism. Wujud itu adalah satu, sedangkan yang lain ialah ketiadaan. Kausalitas itu tidak akan terpahami dengan tajalli.

Gradasi wujud ialah ciri keunggulan Hikmah Mutha’aliyah. Pada pondasi mahiyah, kita tidak bisa membangun gradasi, karena mahiyah itu meniscayakan kesatuan, sehingga tidak mungkin bergradasi.

Karakteristik wujud : Fii maa yatakhossosu fiihil wujuud (Dzati pada dirinya)

  1. Tidak bergantung pada yang lain alias independent dan ia adalah sebuah keniscayaan. Seperti cahaya dan matahari, kita tidak bisa pisahkan karena cahaya itu adalah matahari sendiri.
  2. Semakin ia dekat pada sumber, maka wujud itu semakin jelas (syiddah). Jika dianalogikan sebagai cahaya, semakin ia dekat dengan cahaya, maka ia semakin jelas, semakin ia jauh, maka semakin redup.
  3. Meskipun wujud itu adalah keseluruhan, dari titik puncak hingga terendah ialah wujud, namun tiap titik tingkatannya memiliki karakter sendiri-sendiri. Tiap batasan itu ada karakter sendiri-sendiri. Secara esensi, karakter itu tidak secara langsung dinisbahkan pada wujud. Misal : wujud manusia adalah berbeda dengan wujud pohon. Karakteristik akan dinisbahkan pada manusia dulu, baru pada wujud, atau karakteristik akan dinisbahkan pada pohonnya dulu (entitas-entitas yang berbeda) baru pada wujud.

Karakteristik itu muncul pada wujud itu sendiri , namun ketika entitas berbeda, padanya ada karakteristik berbeda-beda. Ketika materi, wujud itu dinisbatkan pada materi, tapi karakteristik tidak langsung dinisbatkan pada wujud. Selain wujud ada dua kemungkinan : mahiyah dan ‘adam.

Ilmu itu karakteristik dari wujud, karena ia mengalir dari puncak sampai bawah. Misal : hakikat jiwa, jiwa secara keseluruhan dalam manusia. Kita memiliki fasilitas akal yang terbagi lagi ke khaya;I, wahmi, dll. Tapi apakah berarti jiwa kita itu akal? Apakah jiwa kita itu khiyali? Apakah jiwa itu wahmi? Bukan……

Ada batasan (esensi). Ada yang dibatasi (wujud). Keterbatasan itu meniscayakan adanya esensi. Itulah mengapa Tuhan itu tidak memiliki karena Ia tidak terbatas.

Mahiyah itu murni abstraksi dari alam mental kita. Ia bukanlah wujud, bukan pula tiada. Kita bisa melihatnya esensi dzati tanpa harus menghubungkannya dengan esensi yang lain.

Mumkin Dzati (wajibul wujud bilghoirihi) itu berada di antara ada dan tiada.

Kita mampu melihat pulpen sebagai wujud, atau pun melihatnya sebagai esensi.

Intizaa’ : aktivitas akal yang mengambil sebuah konsep dari luar. Seperti sebab akibat, itu merupakan abstraksi dari alam mental kita. Lebih dari sederhana, ada analisisnya.

Hubungan antara subjek dan predikat disebut dengan tashdiq.

Diluar ia menyatu (wujud ialah mahiyah dan mahiyah ialah wujud). Namun wujud itu ialah yang dibatasi dan mahiyah adalah batasnya.

Gradasi itu vertical, ia memiliki tingakatan yang bergradasi, meniscayakan adanya kesempurnaan lebih. Missal, manusia, hewan, tumbuhan. Sedangkan yang horizontal, seperti rambut itu ada yang cerah, ada yang gelap, dll, itu tidak memiliki gradasi. Itu Cuma perbedaan saja.

Tsubuutu sya’in lisyai’in far’u tsubuuti mutsbati lah

Menetapkan sesuatu pada sesuatu, meniscayakan sesuatu yang kedua ini ada sebelumnya. Missal : saya mau ngecat (1) tembok (2), sehingga otomatis tembok itu sudah harus/pasti ada. relasi wujud dan mahiyah : kalo direlasikan antara wujud => mahiyah, berarti kita meniscayakan bahwa mahiyah itu ada lebih dahulu. Predikat sesuatu bagi sesuatu adalah sesuatu yang kedua harus ada terlebih dahulu.

Konsep ini tidak bisa diaplikasikan pada realitas eksternal. Kaidah di atas tadi jika dikaitkan dengan wujud gak berlaku di realitas eksternal, tapi di alam mental saja. Dalam realitas eksternal, tidak ada dualitas yang terpisah. Kalo realitas, kaidahnya bukan tsubuutu sya’un lisyay’in lagi tapi tsbuutu lisya’in saja. Karena tidak ada dualitas, penetapan pada dirinya sendiri.’wujud itu tersembunyi, hanya mampu diketahui secara hudhuri (kita yakin bahwa diri kita ada. sedangkan hushuli hanya mampu menangkap batasan saja (wa kunhuu akhfaa…

Salah satu bukti bahwa Tuhan tidak terbatas karena ia mengisi seluruh entitas yang ada. tashawwur du;u baru tashdiq, gak mungkin tashdiq dulu baru tashawwur.

Hukum Salbi Wujud  (realitas eksternal)

  1. 1.      Annal wujuuda laa goyro lah = tidak ada lawannya.

Kita tidak menemukan yang lain selain pada wujud itu sendiri. Hakikatnya semua wujud. Esensi hanyalah konsep abstraksi yang kita tangkap dari realitas eksternal.

  1. Laa Tsaaniya lah = wujud itu tidak ada duanya. Ia hakekat tunggal.

Ia shorfus syay’I (bashiith) : simple, murni wujud, tidak memiliki rangkapan. Laa yatatsannaa wa laa yatakarror (tidak memiliki yang kedua dan tidak berulang). Hal ini diungkapkan pertama kali oleh Suhrawardi.

A

A1            GRADASI WUJUD

A2           Batasan (esensi) hanya menjelaskan karakteristik wujud.

B

Wujud tidak dibatasi oleh batasan tertentu. Hakikat wujud yang mengalir dari atas sampai bawah (itu yang kita lihat, bukan wujud dengan batasan tertentu.

  1. 3.      Laa Jauhar wa laa ‘arod. Jauhar (idzaa wujidat fil khoorij, wujidat laa fii maudhuu’). ‘Arod (Idzaa wujidat fii maudhuu’).

Substansi dan aksiden ialah hukum mahiyah. Sedangkan wujud bukanlah substansi maupun aksiden (bukan jauhar dan pula bukan ‘arod).

Fayozi, filosof kontemporer mengkritik, bahwa esensi itu real ada di luar. Katanya,

Wujud                        Wajib

Mumkin                   substansi

Aksiden

Namun Mulla sadra mengkritik balik. Bahwa wujud itu dibagi dua, ada yang ghaani da nada yang faqir. Yang ghaani ia tidak bergantung pada yang lain, sedangkan yang faqir itu hakikatnya kebergantungan.

Abstraksi mahiyah itu tidak langsung  pada wujud, tapi batasan pada wujud yang terbatas. Mahiyah itu wujud itu sendiri. Dan pembagian itu murni abstraksi alam mental, bukan diluar. Sedangkan jauhar dan aksiden itu karakter dari esensi.

  1. 4.      Laa juz’a lah = tidak ada bagiannya

Bagian itu meniscayakan rangkapan, jadi wujud itu tidak ada bagiannya.

Tarkiib                         I’tibaari : rangkapan membentuk kesatuan. Misalnya rumah : jika kita pisahkan makan kita akan menemukan pasir, batu, semen, dll yang terpilah-pilah, namun jika dikumpulkan ia tidak membentuk suatu hal yang baru.

Haqiqi ‘Aqliy : Rangkapannya itu satu kesatuan yang menghasilkan yang baru (seperti genus dan fashl), misalnya : Hayawaanun naathiq.

Pembahasan kita adalah hakikat wujud, bukan wujud pada satu wadah tertentu. Ia tidak memiliki rangkapan.

Nafsul Amr (realitas dalam istilah filsafat) => hubungan antara ontology dan epistemology (proposisi dalam benak) dikaitkan dengan apakah alam akal, mental eksternal (ontology).

Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan realitas (nafsul amr) yang dia juga ada pada persepsi inderawi dan alam mental. Tiap sesuatu itu ada wadahnya sendiri.

Konsep gradasi wujud itu menjelaskan bahwa kita tidak terpisah dengan sesuatu apapun, sehingga memungkinkan kita untuk mengetahui segala sesuatu.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

  1. Jelaskan bait syair berikut ini :

Ma’riful Wujud syarhul ismi, walaysa bilhaddi walaa birrasmi

Mafhuumuhu min a’rofil asy-yaa’, wa kunhuhu fii gooyatil khifaa’i

  1. Jelaskan dalil : 1) Ishalatul Wujud, 2) Gradasi Wujud.
  2. Jelaskan : Al maahiyah min haytsu hiya, laysat illa hiya
  3. Jelaskan kaidah berikut : tsubuutu syay’in lisyay’in far’u tsubuuti mutsbati lah.
  4. Jelaskan hukum salbi wujud!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s