Utsman bin ‘Affan

Kebijaksanaan Politiknya Yang Kontroversial

(Dikutip dari Buku berjudul “Menguak Sejarah Muslim, Suatu Kritik Metodologis”, ditulis oleh: Drs, Nourouzzaman Shiddiqi, MA)

Profil Utsman

‘Utsman ibn ‘Affan ibn ‘Abdi Syams ibn ‘Abdi Manaf ibn Qushai al-Quraisyi, lahir di Makkah pada tahun kelima setelah kelahiran Rasulullah saw. Berasal dari lingkungan bangsawan Quraisy. Beliau adalah khalifah ketiga dalam deretan Khulafa al-Rasyidin. Memerintah selama duabelas tahun antara tahun 24 H/644 M-36 H/656 M. Sejak kecilnya  termasyhur dengan budi pekerti yang utama dan perbuatan yang terpuji, yang oleh Fransesco Gabrieli dilukiskan dengan “ a gentle and a pious man”. Dia termasuk salah seorang di antara assabiqun al-awwalun. Ikut berhijrah pertama ke Abessinia (Habasyah). Ikut dalam setiap peperangan bersama Rasul, kecuali perang Badr. Mewakafkan sumur Raumah yang dibelinya dari seorang Yahudi dengan harga dua puluh ribu dirham untuk keperluan persediaan air bagi kaum muslimin. Menyumbangkan harta asebanyak bawaan seribu ekor unta untuk persiapan perang Tabuk. Pernah menjalankan tipu diplomatik dalam masa yang sulit dan penuh ancaman bahaya, yakni ketika bertindak  sebagai utusan Rasulullah untuk melakukan perundingan dengan pemimpin Quraisy di Makkah yang kemudian menelurkan perjanjian damai Hudaibiyah pada tahun 6/628. Ketika menjalankan tugas ini ia pernah diduga telah dibunuh atau setidaknya ditahan oleh orang Quraisy, karenanya kaum Muslimin melakukan sumpah setia yg terkenal dengan nama Bai’at ar Ridlwan. Dia adalah salah seorang penulis wahyu dan termasuk di antara ssepuluh orang yang dijamin masuk syurga.

Dia diangkat untuk menduduki jabatan khalifah atas pilihan yang dilakukan oleh sebuah panitia pemilih (syura) yang terdiri atas enam orang yang dibentuk oleh Umar pada masa akhir hayatnya. Panitia ini memilih Utsman dengan pertimbangan bahwa dialah orang yang terbaik pada masa itu untuk menduduki jabatan tersebut. Selama masa pemerintahannya yang duabelas tahun itu sementara penulis sejarah membaginya atas dua periode. Enam tahun pertama dikatakan sebagai masa baik, sisa enam tahun terakhir dianggap masa buruk.

‘Utsman yang berprofil seperti tersebut di atas itulah yang mendapat tuduhan menghambur-hamburkan kekayaan negara untuk keperluan pribadi dan kerabat serta nepotis. Utsman juga dituduh telah menyalahgunakan kekuasaan yang di luar haknya.

Tuduhan nepotis dijatuhkan kepadanya, karena dia mengangkat (?) Mu’awiyah, saudara sepupu, menjadi gurbernur di Syria. Mengangkat ‘Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarh, saudara angkat, menjadi gurbernur di Mesir menggantikan ‘Amr ibn al-‘Ash. Mengangkat ‘Abdullah ibn Amir, saudara sepupu, menjadi gurbernur di al-Bashrah. Mengangkat Sa’d ibn al-‘Ash , saudara sepupu, menjadi gurbernur di Kufah menggantikan al-Walid ibn ‘Uqbah, yang juga saudara sepupu, tapi tidak kompeten untuk jabatan itu. Mengangkat Marwan ibn al-Hakam , saudara sepupu, yang dituduh membuat surat palsu, menjadi sekertaris negara dan penasehat pribadi. Dan memberikan kontrak-kontrak dagang khususnya persediaan bahan makanan dalam jumlah besar kepada keluarga sendiri. Gabrielli menulis:

‘Utsman sangat bergantung pada keluarganya selama masa pemerintahannya. Dia memberikan jabatan-jabatan penting dan kekayaan kepada sanak kadangnya, dan menghina serta memandang rendah golongan Shahabat Nabi, juga orang-orang shalih yang melihat kelahiran Bani Umaiyah seperti kebangkitan kembali paganisme Arab Jahiliyah.

‘Utsman dituduh menghina sahabat dan orang-orang shalih, seperti pengusiran terhadap Abu Dzar.

Tuduhan bahwa ia menggunakan kekuasaan di luar wewenangnya ialah keputusannya “mempromulgasikan” mushaf resmi hasil panitia Zaid ibn Tsabit, juga memerintahkan dan membakar semua mushaf yang lain.

Dengan tuduhan-tuduhan seperti tersebut di atas, Sayeed Ameer Ali memberikan hukuman yang sangat kejam, dengan ungkapannya, “His election proved in the end the ruin of Islam”. “ Pemilihannya pada akhirnya membuktikan kehancuran Islam”.

Jika kedua pernyataan tersebut di atas, baik yang memuji maupun yang mencela kita terima sebagai satu kebenaran, yakni sama-sama benarnya, maka dalam diri ‘Utsman terhimpun dua sifat yang saling bertentangan, atau boleh dikatakan bahwa ‘Utsman adalah seorang yang unik.

Situasi Negara Pada Waktu Utsman Menjadi Khalifah

Sebelum dikemukakan alasan-alasan yang menjadi pertimbangan bagi Utsman dalam mengambil keputusan-keputusan yang menyebabkannya dituduh nepotis, baiklah terlebih dahulu kita tinjau sejenak, bagaimana situasi pemerintah pusat di Madinah. Bagaimana keadaan yang melingkupi diri Utsman sendiri, bagaimana juga keadaan masyarakat ketika dia menjabat kepala pemerintah.

Akibat perluasan wilayah Islam yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat, maka perubahan-perubahan dalam masyarakat Arab terjadi secara cepat pula. Cepatnya terjadi perubahan-perubahan ini memberi pengaruh tersendiri di dalam masyarakat. Kehidupan yang sulit di Jazirah Arab dengan alamnya yang gersang dan kejam, berubah dengan kehidupan yang makmur di Mesopotamia, Syria dan Mesir. Namun perubahan-perubahan dalam kehidupan lahiriah ini, karena waktunya yang masih sangat singkat, belum mengubah sikap hidup dan karakter asli bangsa Arab, yakni sikap tidak merasa wajib tunduk kepada pimpinan yang di luar lingkungan sukunya.

Dalam masa kekhalifahan Utsman, rjadi gelombang baru perpindahan penduduk dari Jazirah ‘Arab ke Iraq dan Mesir. Kebanyakan mereka ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari suku-suku yang berdiam di Arab Utara. Orang-orang Arab Utara memang terkenal sebagai nomaden dan demokrat tulen. Mereka merasa diri independen dengan rasa kesukuan (‘ashabiyah) yang kuat. Mereka datang menggabung ke amshar-amshar (tempat-tempat pemusatan pasukan) Kufah, Bashrah dan Fushthath sebagai muqatila (pejuang). Berhari-hari, terbawa oleh sifat yang independen itu, mereka merasa bebas untuk mengatur diri sendiri tanpa perlu patuh pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah pusat di Madinah. Malah mereka merasa bahwa pengaturan dari pemerintah pusat sebagai hal yang tidak sah. Memang, bagi orang-orang Baduwi, fungsi kepala suku (syaikh, sayyid) hanyalah sebagai juru damai, bukan memerintah, apalagi memaksa. Syaikh sebagai orang yang terpillih untuk dituakan haruslah mengikuti kehendak dan opini rakyatnya. Dia tidak bisa memaksakan rakyatnya untuk melaksanakan kewajiban mereka. Tidak pula bisa menjatuhkan hukuman tanpa berunding dengan majelis atau mala. Pokoknya seorang syaikh tidak mempunyai kekuasaan memaksa.

Masalah lain yang timbul akibat perpindahan penduduk ini ialah muncul kembali konflik lama antara Arab Utara (Mudlar) dengan Arab Selatan (Himyari). Orang-orang Arab Selatan yang sudah biasa hidup menetap dan telah mempunyai tingkat kebudayaan yang tinggi, sejak bobolnya bendungan Ma’rib telah melakukan migrasi ke Syria. Di tempat kediaman baru ini, mereka meneruskan usaha pertanian mereka. Ketika Islam membebaskan wilayah Syria dari cengkeraman kuku kaisar Byzantium, para penggarap tanah ini tetap memiliki tanah-tanah mereka. Rumah-rumah dan tanah-tanah yang ditinggalkan oleh Byzantium dibagi di antara pejuang Muslim. Rumah-rumah mereka dijadikan tempat kediaman. Bagi yang memeluk Islam dikarenakan pungutan zakat atas hasil pertanian mereka, sedang bagi yang tetap memeluk agama bukan Islam dikenakan pajak tanah (kharaj) dan pajak kepala (jizyah). Demi menjaga stabilitas penduduk agar mampu menangkis serangan Byzantium yang belum lagi dapat dihancurkan secara total, dan juga karena sedikit sekali tanah pertanian yang ditinggalkan oleh pemiliknya, maka ‘Utsman meneruskan kebijakan ‘Umar, menetapkan Syria sebagai wilayah tertutup bagi pendatang baru.

Suku-suku yang berasal dari Arab Utara yang pada waktu itu masih hidup secara nomaden, pada umumnya melakukan perpindahan tempat kediaman ke Iraq. Mereka belum terbiasa hidup bertani, karenanya mereka tinggal di amshar-amshar sebagai muqatila. Pada waktu Iraq dibebaskan dari kekuasaan khosru sasanian (Persia), banyak tanah-tanah pertanian yang ditinggalkan oleh pemilik-pemiliknya, yang karenanya dikuasai oleh pasukan-pasukan Muslimin sebagai tanah ‘anwatan. Di Persia, walaupun para dihqan yang pergi meninggalkan negeri karena tidak mau tunduk pada kekuasaan Islam tidak berjumlah banyak, namun mereka adalah pemilik-pemilik tanah yang luas. Dengan luasnya tanah-tanah ‘anwatan di daerah as-sawad (Mesopotamia) ini menimbulkan problem tersendiri. ‘Umar yang tidak menghendaki timbulnya feodalisme dengan lahirnya landlords (tuan-tuan tanah) yang kaya, yang berakibat akan lebih menyulitkan pembinaan dan pemeliharaan keutuhan wilayah negara, serta akan menimbulkan kepincangan-kepincangan sosial yang parah, menetapkan wilayah Iraq sebagai wilayah yang terbuka bagi pendatang-pendatang baru. Bahkan Umar menetapkan, bahwa semua tanah ‘anwatan, demikian juga semua barang yang tidak bergerak lainnya, adalah milik negara. Kiranya Umar telah memiliki gagasan tentan land-reform. Kebijaksanaan Umar menjadikan wilayah Iraq sebagai wilayah yang terbuka tetap dilanjutkan oleh Utsman. Utsman yang walaupun kemudian mebagi-bagi tanah-tanah di as-Sawad itu kepada orang-orang tertentu untuk dikelola, namun dia tetap berusaha agar pemilik tanah yang luas berada dalam satu tangan haruslah dihindari. Itulah sebabnya, dia membentuk lembaga pertukaran tanah. Untuk menyebut sebagai contoh kerja lembaga pertukaran tanah ini ialah, Thalhah harus melepaskan tanahnya yang berada di Madinah untuk digunakan buat keperluan umum dengan mendapat ganti tanah di as-Sawad, demikian juga al-Asy’ats harus melepaskan tanahnya yang berada di Hadlramaut dengan mendapat ganti di as-Sawad.

Perbedaan kebijaksanaan terhadap Syiria dan Iraq dalam masalah kependudukan ini menimbulkan keresahan-keresahan di kalangan rakyat di Iraq. Para ahlul qurra (yang dalam hal ini lebih tepat diartikan dengan “para penetap” walaupun ahlul qurra bisa juga berarti parapenghafal al-Qur’an) di mana banu Tamim dari Arab Utara merupakan suku yang dominan, sudah barang tentu merasa diperlakukan tidak adil. Ditambah lagi dengan kebijaksanaan Utsman membagi-bagi tanah as-Sawad kepada orang-orang tertentu, membuat ahlul qurra’ yang selama ini bertindak sebagai pemungut hasil atas tanah-tanah itu menjadi semakin gelisah. Satu hal yang menarik dari kasus ahlul qurra ini ialah, banu Tamim ini pulalah nanti yang menjadi inti gerakan khawarij.

Perasaan resah yang ditambah dengan rasa iri dari suku Arab Utara yang berdiam di Iraq terhadap suku Arab Selatan yang berdiam di Syria memang dapat dimaklumi. Jasa suku-suku Arab Selatan dalam usaha-usaha pembebasan baik terhadap Syria sendiri maupun terhadap Iraqmemang tidak melebihi, untuk tidak dikatakan kurang, jika dibandingkan dengan pengorbanan yang telah diberikan oleh suku-suku Arab Utara. Memang ini adalah masalah sentimentil yang dapat menutup pertimbangan yang jernih. Tapi beginilah keadaan manusia. Pertentangan Utara-Selatan ini memang pada masa Mu’awiyah agak mereda, yang karenanya Mu’awiyah bisa dinilai sukses dalam memerintah. Tapi setelah Mu’awiyah wafat pertentangan ini muncul lagi. Golongan Kalb (Selatan) mendukung Banu Umayyah dan golongan Qais (Utara) di bawah pimpinan ad-Dahhaq ibn Qais al-Fihri mendukung Abdullah ibnu Zubeir. Memang dalam bulan Muharram tahun 65/694 Marwan ibn al-Hakam dengan dibantu oleh Kalb dapat menghancurkan Qais dalam pertempuran Marjur-Rahit, tapi karena peristiwa ini bahkan dendam Utara-Selatan menjadi lebih berkobar. Kobarannya tidak hanya terbatas di Syria, tapi merambat ke seluruh negeri, terutama di Khurasan. Dari Khurasan inilah nanti di sekitar tahun 132/749 dikibarkan bendera hitam, panji-panji dinasti Abbasyiah.

Di Mesir, timbul persoalan pembagian Ghanimah (Harta rampasan perang), Abdullah ibn Sarh yang memangku jabatan gurbernur di Mesir dalam melaksanakan tugasnya untuk membebaskan wilayah-wilayah di Afrika Utara, membutuhkan anggota-anggota pasukan yang masih muda dan segar. Untuk dapat merekrut anggota pasukan seperti itu, dia menjanjikan kepada orang-orang muda itu akan mendapat ghanimah yang lebih besar. Kaum veteran perang yang telah tua dan lemah, memprotes kebijaksanaan ini. Mereka berpendapat bahwa walaupun prestasi mereka dalam medan laga tidak sebanyak yang dapat diberikan oleh yang masih muda-muda, namun tidak boleh diabaikan bahwa karena saham yang telah mereka berikan pada pertempuran-pertempuran masa lalu, maka wilayah negara sudah seluas seperti sekarang ini. Unsur “ansienitas” dan terdahulu tampil dalam perjuangan bukanlah masalah yang pantas diremehkan. Oleh karena itu mereka merasa berhak untuk menikmati deviden dari dshsm yang mereka tanam. Tuntutan mereka tidak banyak. Mereka hanya meminta agar ghanimah itu dibagi rata saja tanpa memandang umur. Keresahan yang semula terbatas dalam lingkungan anggota pasukan yang tua usia, kemudian menjadi meluas setelah Ibnu Abi Sarh menetapkan aturan-aturan yang lebih ketat dalam masalah keuangan dan perpajakan. Negara memerlukan biaya besar untuk keperluan pembangunan Angkatan Perang yang kuat, khususnya penyediaan perlengkapan Angkatan Laut, agar mampu menangkis serangan Byzantium yang berpangkalan di Cyprus dan Rhodes. Karena itu Ibn Abi Sarh menaikan beban pajak dan mengurangi pengeluaran yang bersifat tunjangan. Setelah mendapat laporan tentang terjadinya keresahan-keresahan di Mesir, Utsman mengutus Ammar ibn Yasir, seorang veteran tua, bekas gurbernur Kufah di masa Umar untuk memimpin missi fact finding ke Mesir. Ammar, selaku seorang veteran tua, sudah barang tentu merasa senasib dengan angkatan tua yang berpendirian bahwa lamanya masa pengabdian haruslah dijadikan pertimbangan pokok. Karena itu Ammar tidak bisa bertindak sebagai seorang “ombudsman” yang obyektif, sehingga laporan-laporannya kepada Amirul Mu’minin malah menimbulkan gelombang oposisi baru.

Di Madinah sendiri, dimana pusat pemerintahan berada, situasinya tidak cukup favorable bagi Utsman. Tokoh-tokoh muda yang energik, karena tugas, banyak berada di daerah-daerah. Yang tinggal hanyalah tokoh-tokoh tua, yang lebih banyak diam daripada membantu kesibukan Amirul Mu’minin. Ali sibuk dengan tugasnya sendiri. Thalhah ibn ‘Ubaidillah dan al-Zubeir dengan mengajak serta Aisyah Umm al-Mu’minin membentuk kelompok sendiri.

Alasan-alasan kebijaksanaan Utsman

Begitulah situasi yang terjadi ketika Utsman memangku jabatan kepala pemerintahan, khususnya dalam masa enam tahun terakhir masa jabatannya. Dia berada sendirian di pusat pemerintahan yang terletak di jantung Jazirah Arab yang mulai sepi. Rakyat-rakyat di daerah-daerah bergolak, berusaha membebaskan diri dari ikatan kesatuan dengan pemerintah pusat. Kebijaksanaan-kebijaksanaannya ditentang dan diprotes.dalam situasi seperti itu hanya keluarganyalah saja yang bisa diharapkan bantuannya.

Utsman sebagai seorang negarawan yang mampu melihat jauh ke depan merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu demi kepentingan negara. Utsman harus berjuang keras untuk menyelamatkan kelangsungan hidup negara yang telah dibangun oleh Rasulullah dan dibina oleh kedua pendahulunya. Untuk itu diperlukan adanya kesatuan langkah yang terkoordinasikan. Kewibawaan pemerintah pusat harus ditegakkan. Daerah-daerah harus dicegah jangan sampai berjalan terlalu jauh melampaui jangkauan kontrol pemerintah pusat. Oleh karenanya hak otonomi daerah, desentralisasi kekuasaan dan perimbangan keuangan antara daerah dan pusat harus tetap berada di bawah pengawasan pemerintah pusat. Negara harus diperkuat agar mampu menghadapi ancaman musuh yang selalu mengintai di Utara. Persatuan umat Islam merupakan hal yang paling pokok, karena di situlah letak kekuatannya. Karena itu setiap hal yang bisa berakibat perpecahan harus dihindari sejauh mungkin.

Agar perjuangannya dapat memberi hasil seperti apa yang diharapkan dan cita-cita politiknya bisa tercapai, dia membutuhkan dukungan, setidaknya dukungan moril dari tokoh-tokoh masyarakat. Untuk itu dia harus melakukan pendekatan-pendekatan, yang kadangkala terpaksa harus diawali dengan pemberian hadiah-hadiah. Ini masalah manusia yang tetap masih  berlaku sampai sekarang ini. Memang kebijaksanaan Utsman dalam masalah keuangan ini berbeda dengan kebijaksanaan para pendahulunya. Abu Bakr dan Umar hanya bertindak sebagai distributor, sedang Utsman merasa punya hak untuk mengaturnya secara lebih bebas. Namun perlu dicatat tidaklah semua kekayaan negara itu dijadikannya sebagai barang hadiah. Sebagian besarnya tetap dipergunakannya untuk pembangunan negara dan kesejahteraan rakyat. Hadiah pun tidak hanya diberikan kepada sanak kadangnya saja tetapi juga kepada orang lain. Tuduhan berbuat korupsi  mungkin sasaran pokoknya adalah Marwan ibn al-Hakam, saudara sepupunya yang menjabat sebagai sekertaris Negara dan penasihat pribadinya. Akan tetapi kita tidak menjumpai laporan bahwa baik Marwan maupun Utsman yang memberitakan bahwa kedua orang ini hidup bermewah-mewah yang berlebihan.

Utsman membutuhkan pembantu pelaksana yang cakap dan setia kepadanya. Tetap taat, loyal dan menghargainya sebagai kepala pemerintahan. Orang-orang yang diperlukannya dan memenuhi persyaratan yang dikehendakinya, hanya bisa diperoleh dari lingkungan keluarganya. Orang lain mungkin cakap, tapi loyalitasnya dipertanyakan kalaupun tidak diragukan. Karena itu, nampaknya Utsman tidak memiliki pilihan lain kecuali mengangkat sepupu, saudara angkat atau kemenakannya sebagai pejabat-pejabat pemerintahan baik di pusat maupun di daerah-daerah.

Uraian berikut mencoba memaparkan kualitas orang-orang yang diangkatnya dalam jabatan pemerintahan itu, yang kebetulan sanak saudaranya, untuk kita nilai apakah Utsman sudah salah pilih dan berbuat tidak adil.

1)      Mu’awiyah memangku jabatan gurbernur Syria adalah atas pengangkatan Umar. Utsman hanya meneruskannya saja. Mu’awiyah terkenal sebagai orang yang bijaksana dan memiliki sifat hilm. Sebagai bukti bahwa dia adalah orang yang bijaksana ialah selama masa memangku jabatan Amir Al-Mu’minin, yang gelar ini dipergunakannya setelah tahun Jama’ah, yakni tahun 41/661, dia dapat menetralisir pertentangan antara Arab Utara dengan Arab Selatan. Orang yang bisa menetralisasikan pertentangan ini bukan orang sembarangan. Sampai sekarang pun kita bisa melihat bagaimana situasi di Timur Tengah yang sulit untuk dipersatukan. Iraq sejak dulu sampai sekarang tetap the hot spot. Di Syria orang-orang Kristen Maronit, Greek Orthodox dan Muslim bisa hidup berdampingan. Tapi kemudian pertentangan Druzee-Maronite berkobar lagi. Sekarang ini dapat kita lihat sedang terjadi di Libanon.

Atas perkenan Utsman, dia membangun angkatan laut, yang merupakan peristiwa pertama dalam sejarah Muslim. Angkatan lautnya mampu menghancurkan armada perang Byzantium dalam perang di luar pantai Lycia pada tahun 35/655. Perang ini terkenal dengan nama Dzatus-Sawari dan merupakan perang laut yang terhebat di Laut Tengah setelah masa Vandals. Dengan adanya armada perang ini, maka dapat dilakukan ekspedisi-ekspedisi pembebasan ke pulau Cyprus pada tahun 29/649 dan ke Rhodes pada tahun 34/654. Kedua pulau ini dijadikan pangkalan armada Byzantium. Di daratan, Mu’awiyah dapat membebaskan Armenia dalam tahun 33/653-35/655. Perlu dicatat pula, bahwa Mu’awiyah adalah salah seorang penulis yang mendampingi Nabi.

2)      Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh, yang menjabat kedudukan gurbernur untuk Mesir, yang menggantikan ‘Mar ibn al-Ash, sebelumnya sudah menjadi tangan kanan ‘Amr. Karenanya patutlah diduga bahwa dia telah menguasai masalah Mesir sebelum diangkat menjadi gurbernur. Selama kariernya sebagai gurbernur, dia mampu menghancur leburkan pasukan-pasukan Gregorius di Shaitla di Utara Tunisia pada tahun 27/647. Sebagai wakil gurbernur, ia dapat mengusir orang-orang Byzantium dari Alexandria (Iskandariah) pada tahun 25/645 Alexandria direbut oleh Byzantium yang pada tanggal 17 September 22/642 telah menyerah kepada kaum Muslimin. Ada buku yang menyebutkan, bahwa setelah Alexandria diduduki oleh kaum Muslimin, Amir Al-Mukminin memerintahkan agar perpustakaan Serapium di Alexandria dihancurkan dan semua buku-bukunya dibakar, dengan alasan tidak boleh ada buku yang tertinggal di muka bumi selain al-Qur’an. Cerita ini muncul pertama kali pada abad ketujuh/ketiga belas dan tidak ada sumber berita lainnya yang menyebutkan tentang hal ini, juga tidak dalam sumber-sumber orang Nasrani. Cerita ini jelas merupakan sebuah cerita buruk yang dialamatkan kepada Amirul Mukminin, walaupun semula dimaksudkan untuk  tujuan yang barangkali baik. Mungkin penulis cerita ini ingin mempergunakan dongeng ini sebagai dalil atas ketidaksetujuannya disebarkannya buku-buku filsafat hasil pikiran orang-orang Yunani lama, mungkin. Tapi mungkin juga cerita perintah bakar membakar ini dikaitkan dengan perintah Utsman untuk membakar semua mushaf selain mashhab resmi. Kalau ini tujuannya, tentulah dengan makna untuk menyatakan bahwa Utsman bukan seorang pecinta ilmu. Memang tidak jelas siapa Amirul Mukminin yang dituju yang menjelaskan perintah menghancurkan dan membakar itu, apakah Umar ataukah Utsman. Jika dilihat pada tahun dibebaskannya Alexandria untuk pertama kali yakni tahun 22/642, maka hal itu terjadi dalam masa pemerintahan Umar, berarti yang memerintahkan membakar itu adalah Umar. Tetapi jika dilihat pada pembebasan yang kedua kalinya terjadi pada tahun 26/646, dalam masa pemerintahan Utsman maka yang memerintahkan membakar itu adalah Utsman. Di  lain pihak jika dilihat pada alasan perintah pembakaran, yakni yang boleh beredar hanyalah al-Qur’an saja, maka berat kemungkinan bahwa Amirul Mukminin yang dituju adalah Utsman. Mengingat pada masa Umar belum ada mashhaf resmi, sehingga bagaimana mungkin bisa dikaitkan dengan alasan perintah membakar itu. Terlepas dari apa yang dimaksud dan siapa pula yang dimaksud dan tujuannya, namun yang jelas bahwa berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan pada waktu akhir-akhir  ini terbukti, bahwa perpustakaan Serapium di Alexandria itu telah lebih dahulu musnah sebelum Alexandria dibebaskan oleh kaum Muslimin. Dari cerita yang tidak berdasarkan bukti sejarah seperti yang tersebut di atas tadi, dapatlah diambil satu kesimpulan bahwa mengada-ada dalam menulis cerita yang dikatakan sejarah (?), memang pernah terjadi.

Dalam hal penggantian gurbernur Mesir dari tangan ‘Amr ibn al-‘Ash ke tangan Abdullah ibn Abi Sa’d ibn Abi Sarh perlu dicatat bahwa, ‘Amr ibn al-’Ash  telah pernah diberhentikan oleh Umar dari jabatan gurbernur Mesir. Utsman kemudian mengangkatnya kembali. Jadi penggantian dari tangan ‘Amr ke tangan Abdullah bukanlah penggantian dari tangan orang yang diangkat oleh Umar ke tangan orang yang diangkat Utsman. Dalam hal ini, baik ‘Amr maupun Abdullah bukanlah penggantian dari tangan orang yang diangkat oleh Umar ke tangan orang yang diangkat Utsman. Dalam hal ini, baik ‘Amr maupun Abdullah adalah orang-orang yang diangkatnya sendiri. Dengan demikian tidaklah bisa dituduhkan bahwa Utsman melakukan kebijaksanaan pembersihan terhadap personalia-personalia angkatan Umar, atau deumari-sasi, sebagaimana yang diinterpretasikan oleh sementara sejarahwan. Tuduhan yang seperti ini tidak tepat, setidaknya tidak berlaku terhadap penggantian ‘Amr.

Tokoh ‘Amr ibn al-‘Ash ini memang agak unik. Setelah diberhentikan oleh Utsman dia diduga bermain di belakang layar sampai menimbulkan drama keresahan-keresahan di Mesir, berarti menentaang Utsman. Tetapi kemudian ketika terjadinya perang saudara antara Ali dengan Mu’awiyah, ‘Amr menjadi wakil Mu’awiyah  untuk berunding dengan Abu Musa al-‘Asy’ari yang mewakili ‘Ali dalam perundingan Shiffin.

3)      Sa’id ibn al-‘Ash yang memangku jabatan gurbernur Kufah adalah panglima yang mendapat nama harum di front Adzerbaijan. Dalam menghadapi front ini ia dibantu oleh al-Asy’ats ibn Qais, seorang bekas pemimpin kaum riddah (orang-orang yang memberontak terhadap Abu Bakr). Hal ini merupakan salah satu unsur pula bagi terjadinya gejolak-gejolak di kalangan ahl al-qurra’, yang berakhir dengan dilakukannya kup atas diri Sa’id. Pada tahun 35/655 sekembalinya dari perjalanan hajji. Dia dicegat oleh orang-orang Kufah di bawah pimpinan Malik al-Asytar, yang meminta agar dia mundur dari jabatan gurbernur. Orang-orang Kufah ini mengangkat Abu Musa al-Asy’ari untuk menggantikannya, dan Amir al-Mukminin Utsman bin Affan memberikan pengakuan dan pengesahannya. Abu Musa nampaknyaberpihak kepada ahl al-qurra’, karena itulah mereka mendesak kepada Ali untuk menunnjuk Abu Musa untuk mewakilinya dalam perundingan Shiffin. Padahal Ali sendiri lebih cenderung untuk menunjuk Abdullah bin Abbas atau Malik al-Asytar yang menjadi komandan sayap kanan pasukan Ali dalam perang Shiffin. Abu Musa kemudian diberhentikan oleh Ali dari jabatan gurbernur karena terbukti tidak cakap dan tidak loyal.

4)      Abdullah ibn ‘Amir yang menjabat gurbernur di Bashrah adalah panglima yang mendapat nama harum dalam peperangan-peperangan di Khurasan yang terjadi dalam tahun-tahun 31/651-33/653. Dia juga yang menerima penyerahan Herat, Merv dan Balkh dan yang menumpas habis sisa-sisa kekuasaaan Yasdigird III, Khosru Sasanian yang terakhir.

5)      Marwan ibn al-Hakam, yang menjabat kedudukan sekertaris Negara dan penasihat pribadi Amirul Mukminin, adalah seorang yang cerdas, “elekuen” dan berani. Dia banyak membaca al-Qur’an dan banyak pula merawikan hadits, khususnya dari Utsman, Umar dan Zaid ibn Tsabit. Dalam masa pemerintahan Mu’awiyah, dua kali dia menjabat kedudukan gurbernur di Hijaz. Marwan ini kemudian menjadi khalifah keempat dari dinasti Umayyah yang memerintah pada tahun 64/684-65/685. Mulai sejak anaknya yang bernama Abd al-Malik memangku jabatan khalifah sampai masa akhir kekuasaan dinasti Umayyah, semua jabatan khalifah dipangku oleh anak, keturunannya, sehingga periode pemerintahan bani Umayyah sejak Marwan sampai akhir dalam sejarah diberi nama juga sebagai periode “Marwaniyah”.

Demgan bantuan orang-orang yang berkaliber seperti tersebur di atas, maka wilayah kekuasaan Islam pada masa pemerintahan Utsman terbentang dari Alexandria di Barat sampai ke Oxus di Timur. Dengan bukti keberhasilan seperti ini, dapatkah dikatakan bahwa Utsman sudah salah pilih dan berbuat tidak adil, hanya melihat hubungan keluarga dan tidak mementingkan kemampuan seseorang? Di samping itu apakah benar bahwa Utsman tidak pernah menggunakan tenaga lain yang cakap di luar anggota keluarga dan kerabatnya?

Bukti sejarah menunjukkan bahwa Utsman juga memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang bukan anggota keluarganya, yang karena kebijaksanaannya ini bahkan dia mendapat kritikan juga dan harus melepaskan Sa’d ibn al-‘Ash, kemenakannya, dari jabatan gurbernur Kufah. Berbeda dengan kebijaksanaan Umar yang hanya baru memperkenankan pengikut-pengikut kaum riddah turut serta dalam operasi-operasi pembebasan, Utsman telah memberikan kepercayaan-kepercayaan kepada pemimpin-pemimpinnya. Al-Asy’ats ibn Qais al-Kindi, salah seorang pemimpin kaum riddah diangkat menjadi komandan di front Adzerbaijan mendampingi Sa’d. Dari kesediaan Utsman dalam memberikan peranan yang lebih besar kepada bekas-bekas pemimpin kum riddah, jelas memperlihatkan sikap toleransinya dan sifat pemaafnya yang besar. Tentunya Utsman beralasan bahwa waktu mereka memberontak dahulu telah lampau lebih dari sepuluh tahun, satu masa yang cukup panjang bagi seseorang untuk sadar dan insaf atas segala kesalahan dan kekeliruannya. Alasan mereka memberontak dahulu, selain dari Muslamah yang dipanggil Musailamah al-Kadzab dari banu Hanifah di al-Yamamah; Aihala al-Aswad di Yaman, Thalhah yang dipanggil Thulaihah dari Banu Asad; Sajah, seorang perempuan yang beroperasi di kalangan banu Tamim dan melakukan kerjasama (kawin?) dengan Musailamah, adalah bermotifkan politik. Ada yang hanya enggan membayar zakat, ada yang karena tidak mau taat pada pemreintah pusat. Kini situasi sudah jauh berbeda. Eksistensi pemrintahan pusat sudah diakui, walaupun ketaatan terhadapnya bisa berlebih dan berkurang. Abu bakar telah memberikan amnesti kepada mereka, Umar telah mengikutsertakan para pengikut mereka dalam kegiatan negara, maka apa salahnya jika potensi pemimpin-pemimpin mereka dipergunakan demi tercapainya tujuan yang lebih besar?. Kiranya Utsman tidak melakukan kekeliruan dengan mengajak serta mereka dalam kegiatan negara. Terbukti loyalitas mereka terhadap negara cukup baik dan mereka berprestasi. Satu-satunya kesalahan yang bisa ditimpakan kepada Utsman ialah, dia ingin melupakan luka lama. Tapi salahkah keinginannya ini atau justru memperlihatkan sifat lapang dada yang merupakan salah satu sifat yang harus dipunyai oleh setiap pemimpin yang baik?

Argumentasi lain yang patut dikemukakan untuk dijadikan bukti bahwa Utsman adalah seorang yang melindungi keluarga ialah ketidaksediaannya menyerahkan Marwan ibn al-Hakam untuk diadili oleh sebuah “pengadilan rakyat” atas tuduhan membuat surat palsu atas nama Amirul Mukminin. Surat palsu itu berisikan perintah untuk menangkap dan menghukum (mati?) pemimpin-pemimpin yang membangkang di Mesir di bawah pimpinan Muhammad ibn Abi Hudzaifah, seorang saudara angkat Abu Bakr, seorang pendukung Ali yang antusias.

Dalam hal Utsman tidak mau menyerahkan Marwan ke tangan orang-orang yang sedang emosional dan mengamuk untuk “diadili” hendaknya dilihat sebagai suatu upaya untuk menyelamatkan negara dari bahaya yang lebih besar. Marwan adalah dari Banu Umayyah, sedangkan orang-orang yang tengah mengamuk itu baik yang datang dari Mesir maupun Basrah adalah orang-orang yang terang-terangan pro Ali. Jika terjadi pembunuhan atas diri Marwan dalam keadaan yang seperti itu, sudah barang tentu akan membangkitkan amarah Banu Umayyah. Karena orang-orang yang mengamuk itu pro Ali, maka sulitlah dihindari kemarahan Banu Umayyah kepada Ali. Jika hal ini terjadi, maka soal lama yakni sengketa antara Umayyah dengan Hasyim, yang sudah terkubur, akan bangkit lagi. Utsman mengharapkan jangan sampai sengketa Umayyah-Hasyim ini terbakar lagi, namun harapannya ini tidak terpenuhi. Dengan tertumpahnya darahnya sendiri, maka sengketa Umayyah-Hasyim ini makin membara, yang berakibat jalannya sejarah Umat Islam menjadi seperti yang kita pelajari sekarang ini. Utsman ingin mendeponir perkara Marwan, kalaupun tuduhan itu benar, bukan karena alasan Marwan itu anggota keluarganya, tetapi adalah demi keselamatan negara. Bukanlah masalah pendeponiran perkara dalam masa modern sekarang ini pun masih dianggap perlu, walaupun sikap vendetta hanya tinggal di Corsica saja lagi? Apalagi dahulu, khususnya di kalangan masyarakat Arabia, di mana mata harus dibayar dengan mata dan jiwa harus dibayar dengan jiwa, maka sikap Utsman mendeponir perkara Marwan ini memperlihatkan bahwa Utsman adalah seorang negarawan yang telah mampu melihat ke mana arah kilat beliung. Dalam kasus ini ada satu pertanyaan yang menarik, yakni “Mengapa Marwan sendiri tidak dibunuh?”, jika benar dia sebagai biang keladi terjadinya kemarahan orang-orang di Mesir dan Bashrah, apa pula dasar timbulnya kemarahan orang-orang Bashrah, padahal isi surat perintah itu, jika benar ada, hanya menyangkut pemimpin-pemimpin Mesir? Apakah hanya sekedar solidaritas?

Utsman terbunuh pada tanggal 17 Juni 36/656, melalui sebilah pedang yang dipegang oleh tangan seorang Muslim , ketika dia sedang membaca al-Qur’an . hari terjadinya pembunuhan atas diri Utsman ini diberi nama yaum al-dar. Peristiwa pembunuhan ini merupakan peristiwa pertama terjadi di mana darah seorang Muslim ditumpahkan oleh Muslim. Dari peristiwa ini muncul satu pertanyaan menarik, yakni “bagaimana kita harus menilai sikap seorang Muslim yang tega membunuh seorang Muslim yang lagi membaca al-Qur’an?”. Jika catatan sejarah ini benar, maka dalam menjawab pertanyaan ini barangkali kita harus mengaitkannya dengan pertanyaan tentang kewenangan khalifah dalam masalah “promulgasi” mashhaf resmi.

Utsman sebenarnya cukup beralasan untuk mengambil keputusan hanya memberlakukan satu mashhaf saja dmi menyelamatkan rakyat dari perbedaan pendapat dan pertengkaran yang bisa membawa perpecahan. Hal ini jelas terlihat ketika sedang berlangsungnya pertempuran-pertempuran di Armenia pada tahun 33/653. Di situ berkumpul pasukan-pasukan dari Syria dan Iraq yang masing-masing memegang mashhaf yang berbeda. Masalah terjadinya perbedaan pendapat yang bisa mengakibatkan timbulnya keretakan dan tidak utuhmya kesatuan umat Islam kiranya dapat juga kita lihat dengan adanya perbedaan madzhab yang terjadi sampai sekarang ini. Bagaimana halnya, kiranya sudah cukup jelas. Apalagi kalau yang berbeda itu menyangkut sumber hukum yang paling pokok. Terlepas dari benar tidaknya tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Syi’ah bahwa telah terjadi manipulasi dalam masalah mashhaf ini, namun yang jelas kebijaksanaan Utsman telah memberikan satu rahmat yang paling besar bagi umat Islam. Dengan Umat Islam yang hanya berpegang pada satu sumber, sedikit banyak telah membantu tercegahnya umat Islam dari keporak porandaan. Namun, kebijaksanaan ini menimbulkan pertanyaan tentang batas wewenang seseorang Khalifah atau Amirul Mukminin. Apakah seorang Amirul Mukminin mempunyai kewenangan dalam menetapkan dan atau membatalkan sesuatu yang menyangkut masalah agama yang paling fundamental, yakni masalah wahyu atau al-Qur’an? Bukankah sejak masa hayat Nabi sendiri sudah diketahui adanya perbedaan-perbedaan catatan dan susunan mashhaf antara satu penulis dengan penulis yang lain? Tapi mengapa Nabi sendiri membiarkan hal ini terjadi , padahal ia adalah orang yang paling berkompeten dalam maslah ini? Mengapa Abu Bakr dan Umar, yang menurut catatan, telah berusaha untuk mengumpulkan catatan-catatan al-Qur’an baik yang tertulis pada lempengan-lempengan, maupun yang terpatri pada ingatan-ingatan sahabat, tetapi hanya menyimpan kumpulan catatan itu dan diserahkan untuk dijaga Hafshah? Mengapa Utsman berbuat lain? Apakah ini tidak berarti bahwa Utsman telah menggunakan kekuasaan di luar hak dan kewenangannya? Demikianlah omelan-omelan orang-orang yang tidak setuju dengan keputusan Utsman dalam mempromulgasikan mashhaf resmi ini. Omelan-omelan ini keras sekali terdengar di Kufah dan di Mesir setelah Utsman memrpomulgasikan mashhaf resmi itu pada tahun 33/653. Pemberontakan di Kufah pecah pada tahun 35/655 dan di Mesir pada tahun  36/656.[1]


[1] Nourouzzaman Shiddiqi, MA. 1984.  Menguak Sejarah Muslim, Suatu Kritik Metodologis. Yogyakarta: PLP2M. hal. 57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s