Universality According to Ibn Arabi, Rumi and Bulent Rauf

Wawancara Seminar

Pada hari Jum’at, 28 oktober 2011, pukul 14.00, Kampus The Islamic College menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk “Universality According to Ibn Arabi, Rumi and Bulent Rauf”. Peter Young (Hakim), pendiri dari Beshara School South East Asia, hadir sebagai pembicara dalam seminar ini. Adapun bertindak sebagai moderator seorang dosen tamu the Islamic College Jakarta, doktor berkebangsaan al-Jazair yang merupakan  seorang ahli di bidang filsafat dan tasawuf jebolan al-Mustafa International University, Iran, Dr. Abdulaziz Abbasy.
Seminar yang berdurasi kurang lebih dua jam ini dihadiri peserta baik dari dalam maupun luar kampus The Islamic College Jakarta.

Selama seminar berlangsung, Peter Young dengan luwes menyajikan materi seputar gagasan universalitas dari perspektif ajaran tasawuf Ibn Arabi, Rumi dan Bulent Rauf. Beberapa peserta terlihat antusias berperan aktif dalam seminar ini Hal ini terlihat dari begitu banyaknya peserta yang mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pembicara, bahkan ketika seminar telah usai.

Beberapa peserta yang kami wawancarai mengaku sangat tertarik dengan kajian dalam seminar ini. Ibu Rani, misalnya, dosen psikologi Universitas Paramadina yang juga merupakan salah seorang mahasiswa dari Beshara School. “Saya merasa senang mendapatkan banyak wawasan setelah mengikuti seminar ini,” ujarnya sambil tersenyum. Meski baginya paparan tersebut sudah sering beliau peroleh dari Young dan tidak lagi terdengar asing, namun baginya paparan pembicara dalam seminar tersebut terdengar luar biasa dan sangat penting untuk dipelajari, dipahami dan diaplikasikan oleh semua orang dalam keseharian. Menurutnya, arus perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang berada di tengah kita saat ini semestinya dapat diseimbangkan dengan wawasan untuk menyadari adanya universalitas dalam kehidupan sehingga kita lebih terbuka dalam menghadapi perbedaan-perbedaan, perbedaan agama misalnya, dan lebih termotivasi untuk menggali pengetahuan sedalam-dalamnya. “We have to start from now, dan menggali pengetahuan sampai sedalam mungkin, sampai menuju root of the root!” katanya lagi dengan antusias. Lebih lanjut murid Beshara School ini mengemukakan rasa bangganya terhadap kampusnya tersebut karena Beshara School dianggap telah berhasil merealisasikan konsep universalitas yang menjadi inti dari perbincangan dalam seminar ini.

Peserta lainnya, Bapak Iskandar dari Universitas Sriwijaya pun turut mengungkapkan rasa senangnya setelah mengikuti seminar tersebut. Ia mengaku tertarik dengan tema yang diangkat dalam seminar. Sebagaimana Ibu Rani, ia pun berpendapat bahwa gagasan universalitas merupakan konsep yang sangat bagus untuk dipelajari, dipahami manusia, dimiliki dan diterapkan oleh setiap insan dalam memandang segala sesuatu khususnya realitas.

Sedangkan Hadi Kharisman, salah seorang Mahasiswa S3 The Islamic College Jakarta member pendapat yang agak lebih mendetil. Menurutnya kajian yang disampaikan oleh Peter Young masih sangat relevan relevan dalam konteks kekinian, terutama dalam membekali kita untuk berinteraksi dengan keberagamaan. Peter Young menggambarkan bahwa meski realitas itu satu,  namun bisa tampil memerankan diri-Nya dalam beragam bentuk berbeda sehingga keberagaman dan perbedaan dalam kehidupan dapat kita pahami sebagai bentuk-bentuk berbeda dari satu realita dan satu kebenaran yang sama. Dengan sebuah ilustrasi terkenal dari para sufi, ia mengatakan bahwa air yang selalu bening akan tampak dalam warna-warni berbeda ketika ia dituangkan ke dalam gelas yang juga memiliki warna berbeda. Jika gelasnya kuning, si bening tampak seolah kuning. Jika air bening itu dimasukkan ke gelas hijau, atau merah, maka air itu pun akan tampak seperti hijau atau merah. Demikian pula bentuk air mengikuti bentuk gelasnya. Air bening akan tampak dalam beragam bentuk dan warna sesuai dengan bentuk dan warna atau sesuai dengan kapasitas gelas yang menampungnya, namun tanpa sedikitpun mengurangi hakikat dari kebeningan air itu sendiri. Hal ini dapat menjadi analogi bagaimana Tuhan yang satu, Mutlak dari segala bentuk, kemudian menyelaraskan diri dalam beragam bentuk penampakkan sesuai dengan kapasitas hamba-Nya. Jadi dari sini kita dapat memahami dalam perspektif universalitas, perbedaan itu bukanlah suatu hal yang mesti menjadi benih konflik diantara umat manusia. Konsep universalitas ini justru membawa kita untuk bisa lebih komunikatif, penuh empat dan bertidak lebih toleran. Namun menurut Hadi, hal yang mesti difahami dalam ilustrasi tersebut adalah tidak bahwa cukup kita berhenti dalam memandang Yang Satu yang tampil sesuai kapasitas hamba-Nya, tanpa berupaya mencari adakah suatu bentuk kapasitas ideal yang dapat mewadahi yang satu dalam bentuk yang lebih sempurna? Menurut Hadi, inilah celah yang tertinggal dari pembicara yang kemudian dengan cermat berusaha dilengkapi sang moderator. Paparan Peter Young ini masih berkutat dalam separuh konteks ajaran Ibn Arabi, yakni konteks hubungan antara Tuhan dengan Hambanya, atau Pencipta dengan makhluknya, atau dikenal sebagai konteks nuzûl (turun). Dalam konteks ini, Tuhan yang tidak terbatas, mutlak sehingga tidak dikenal, menurunkan derajat ketidak terbatasan-Diri-Nya dalam beragam bentuk dan beragam batasan sehingga ia kemudian dikenal oleh hamba-hamba-Nya yang memiliki kesiapan dan kapasitas yang serba terbatas. Namun turun derajat disini tidak berarti bahwa derajat Tuhan turun, melainkan Ia turun karena keagungan dan dengan kemurahhatian dan kasih sayang-Nya terhadap hamba-hamba-Nya sehingga Ia tampil dan menampakkan Diri dalam batas-batas yang dapat dipahami oleh kapasitas setiap hamba-Nya. Namun terdapat konteks lain dalam memahami gagasan universalitas selain nuzûl (turun), yitu su’ûd (naik). Konteks ini adalah mengenai bagaimana kita, seluruh hamba, dapat meniti jalan kembali mendaki menuju sumber keragaman, kepada Yang Satu, secara sempurna, dan tidak berdiam diri begitu saja dengan keragaman yang tampil kepada kita. Sosok ideal yang menjadi teladan dalam proses ini adalah manusia sempurma (Insan Kamil), manusia universal yang tidak lain dalam ajaran Ibn Arabi adalah Rasulullah Muhammad saw. Manusia universal memahami seluruh bentuk penampakan Tuhan secara universal dan sempurna. Oleh karena itu jalan yang membawa kita kepada taraf yang lebih sempurna adalah jalan yang ditempuh oleh sang Insan Kamil. Oleh karena itu, dalam menghayati gagasan universalitas terutama dalam mistisisme Islam, misalnya ajaran Ibn Arabi, melihatnya dari perspektif relasi antara Tuhan kepada hamba saja, aspek nuzûl saja baru separuh jalan. “Seharusnya kita juga memahami aspek su’ûd (naik) untuk mencapai kesempurnaan. Itulah sejauh yang saya pahami dari paparan sang moderator di akhir acara yang tidak kalah signifikan,” tegasnya di akhir wawancara.

Belum puas rasa penasaran kami, di sela-sela sesi pemotretan, kami sempat merekam sebuah pertanyaan peserta kepada Thomas Young ketika seminar telah usai, sebagai berikut: Apakah konsep universalitas di balik segala ragam bentuk perbedaan dimensi dan penampakkan Tuhan dapat menjadi dasar relevansi bagi kesadaran akan adanya keselarasan di balik semua ilmu tentang objek-objek dalam dimensi yang berbeda, misalnya hal yang sama sebagaimana dilakukan Fritjof Capra dalam bukunya ‘The Tao of Physics’, yang mengetengahkan gagasan paralelisme antara penemuan-penemuan dalam fisika baru dan mistisisme Timur? Young menjawab hal ini secara positif. Menurutnya, meskipun belum tentu gagasan Capra dapat sepenuhnya dibenarkan, namun apa yang dia lakukan berdiri di atas kesadaran yang relevan dengan perspektif Ibn Arabi. Hal ini karena apapun dimensinya, karena segala sesuatu adalah manifestasi berbeda dari satu realitas universal yang sama, pada tingkat tertentu anda akan menemukan bahwa semuanya mencerminkan prinsip-prinsip yang sama. Dia mengkonfirmasi hal ini dengan pengalaman temannya sendiri ketika memperdalam teknologi informasi, dan akhirnya pada tingkat tertentu menemukan banyak prinsip-prinsp yang selaras dengan apa yang ada dalam mistisisme. Hal ini mungkin berlaku untuk bidang-bidang lainnya, seperti ekonomi dan bahkan kedokteran. Inilah salah satu implikasi penting yang dapat ditemukan dari gagasan universalitas kaum mistisisme dalam ranah disiplin-disiplin ilmu lainnya.

Dengan demikian salut kepada panitia yang tidak hanya berhasil mendatangkan pembicara yang cukup kompeten, namun  juga berhasil  memilih moderator yang tepat, yang tidak hanya berperan aktif memediasi pembicara dan partsipan namun juga mengisi celah informasi secara kritis sehingga tidak hanya sekedar memberi informasi tambahan, melainkan information balancing, khususnya terkait universalitas dalam ajaran Ibn Arabi,  sehingga persfektif yang diperoleh peserta menjadi lebih berimbang, dan berhasil menyerap antuasiame peserta bahkan sampai ke akhir acara. Salut buat panitia! (Fithri Dzakiyyah Hafizah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s