Al-Zahrawi, Sang Dokter Legendaris dari Spanyol

Al-ZAHRAWI  (936-1013 M)

  1. 1.      Kedokteran  Arab dan Pengaruhnya pada Kebangkitan Eropa, Spanyol.

Dalam buku yang berjudul Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan yang ditulis oleh Komisi Naional Mesir untuk Unesco, dikatakan bahwa di Spanyol, orang-orang Arab berhasil menciptakan suatu peradaban yang mencengangkan. Peradaban itu ialah kedokteran yang dikembangkan oleh para dokter-dokter muslim yang berasal dari Arab . Prinsip-prinsip umum kedokterannya sudah diterima dan dalam beberapa kasus prinsip-prinsip tersebut dipelajari sebagai suatu bagian yang tak terpisahkan dari ilmu pengetahuan sejati yang merupakan tujuan akhir dari semua filsafat. Ibn Rusyd adalah seorang filosof yang mempelajari prinsip-prinsip tersebut dan menulis tentangnya, namun  ia tidak mempraktekkannya. Namun para dokter di Spanyol memiliki keunggulan dalam segi yang lebih praktis dari ilmu pengetahuan kedokteran. Materia Medika[1] dan pembedahan adalah klaim dari kelebihan mereka. Dan salah satu dokter yang mengangkat derajat Pembedahan adalah sang jenius al-Zahrawi (Abulcasis) yang sangat berbakat dalam pembedahan juga telah menemukan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk tujuan ini.

Spanyol dan Negeri Maghribi atau negeri-negeri Islam bagian Barat, adalah tempat-tempat kedudukannya para dokter-dokter besar. Utamanya Kordoba yang merupakan salah satu pusat aktivitas medis di abad ke-4 H/ke-10 M. Sarjana Yahudi, Hasday bin Syapruth menerjemahkan  Materia Medika , karangan Dioscorides, yang kemudian dikomentari oleh Ibn Juljul , yang juga menulis buku tentang kehidupan para dokter dan filosof. Arib Ibn Sa’d al-Katib yang juga berasal dari Kordoba mengarang naskah terkenal tentang ginekologi. Pada gilirannya ia disusul pula dalam awal abad ke-5 H/ke-11 M oleh Abu al-Qasim al-Zahrawi (Abulcasis), sang tokoh terbesar Muslim dalam ilmu pembedahan. Dengan mengandalkan pada karya para dokter Grika, khusunya Paul dari Aegina, tapi dengan menambahkan banyak bahan original dari dia sendiri, Abulcasis mengarang bukunya yang termasyhur Konsesi atau Consessio, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona dan  juga dikaji beberapa abad lamanya dalam terjemahan Ibrani dan Katalania.[2]

Kontak budaya antara orang-orang Latin dan orang-orang Arab di Spanyol lebih membuahkan hasil dibandingkan dengan yeng terjadi selama Perang Salib, juga lebih terpelajar dibandingkan dengan yang terjadi di Afrika Utara. Sepanjang Abad-13 dan 14 M orang-orang Latin aktif menimba seluruh pengetahuan yang bisa mereka peroleh dari daerah-daerah tetangganya. Meskipun dalam beberapa kasus, terdapat usaha-usaha yang disengaja untuk menyaingi dan mengungguli orang-orang Arab dalam rangka upaya untuk merongrong superioritas mereka di semua bidang. Gereja penguasa Negara dan pecinta ilmu-ilmu pengetahuan semuanya ikut terjun dalam kegiatan yang digalakkan tersebut. Paul Sylvester II mengambil peranan yang aktif dalam gerakan ini, sebelum ia diangkat menjadi Paus dengan Gerbert. Sedangkan Raymonde, Bishop di Toledo, memerintahkan orang-orang yang terpelajar, baik Muslim, Kristen maupun Yahudi untuk menerjemahkan karya-karya Arab dan mengajarkan buku-buku tersebut ke sekolah-sekolah Kristen. Alfonao dari Toledo melindungi pertukaran pengetahuan tersebut. Catalonia bersaing dengan Toledo dalam kegiatan ini dan pengaruhnya tersebar sampai ke Montpillet tempat dimana pengaruh budaya Arab lebih lama bertahan daripada di pusat-pusat ilmu pengetahuan Eropa lainnya.

Orang-orang Latin aktif menerjemahkan apa saja dari semua yang mereka temukan. Sayang, banyak hasil dari terjemahan mereka yang acak-acakkan. Karya-karya sastra misalnya, yang hanya menjadi kepentingan filolog-filolog Arab, juga mereka terjemahkan dengan cara yang mirip dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa berkembang sekarang ini dalam berurusan dengan kebudayaan Eropa modern. Namun ternyata kegiatan yang dilakukan secara intens ini mengarah pada dua jenis plagiatisme seperti yang terjadi di Afrika Utara. Jenis pertama adalah Buku-buku yang diterjemahkan itu diakui sebagai karya pengarang-pengarang Arab dengan maksud agar harganya meningkat. Dan jenis kedua adalah penerjemah-penerjemah Latin mendewakan diri sebagai penulis dari karya-karya yang mereka terjemahkan, dengan maksud agar reputasi ilmiah mereka meningkat.

Terjemahan-terjemahan yang dilakukan secara akurat secara keseluruhannya ialah terjemahan yang dilakukan di Spanyol berkat integritas Gerard dari Cremona dan ilmu yang telah dimilikinya. Ia telah menerjemahkan 80 buah karya utama dalam semua cabang ilmu pengetahuan.

Memanglah suatu hal yang wajar jika kedokteran menarik perhatian orang-orang Latin. Itu disebabkan karena ilmu kedokteran seringkali menjadi pelopor yang memperkenalkan suatu kebudayaan baru suatu daerah baru. Kebutuhan kepada ilmu kedokteran itu lebih mendesak dan keberhasilannya lebih nyata, karena dengan segera ia akan memberikan imbalan.

Semua karya besar kedokteran Arab yang diterjemahkan paling terkenal diantaranya adalah sebagai berikut :

–         The Continents karya al-Razi (Razes) terjemahan tahun 1282, oleh Gerald de Cremone 1486.

–         Al-Mansuhri, karya Al-Razi.

–         Canon (Al-Qanun) karya Ibn Sina (Avicenna), dicetak ulang sampai tahun 1473 di Milan dan 1476 di Padua.

–         Makalah tentang Campak dan Cacar, 1498.

–         Materia Medica, karya Ibn al-Bitar.

–         Materia Medica, karya al-Haruri.

–         Materia Medica, karya Messus Junion.

–         Penyakit Mata, karya Ali ibn Issa (Jean Haly).

–         Penyakit-penyakit Mata, karya Ammar al-Musuli (Gamamusuli),

–         Al-Tasrif, karya al-Zahrawi (Abulcasis), Venice 1497, Basel 1532.

Semua karya di atas merupakan buku-buku standard yang dipelajari di semua Universitas Eropa sampai pertengahan abad ke-15 M.

Namun di sisi lain, dibandingkan dengan ilmu kedokteran lainnya, Ilmu bedah merupakan cabang kedokteran yang diabaikan oleh dokter-dokter terkenal. Beruntungnya,  mereka menemukan tempatnya dalam karya besar Abu al-Qasim al-Zahrawi (Abulcasis) yang melakukan praktek di Spanyol. Pengakuannya atas ilmu bedah sebagai cabang ilmu kedokteran yang penting muncul pada abad ke-18, tujuh abad setelah al-Zahrawi merintisnya. Abu al-Qasim  menemukan alat-alat untuk melakukan berbagai macam  operasi, seperti memotong batu dalam kantung kemih. Selain itu, ia juga menyarankan posisi yang memudahkan pekerjaan tersebut.

Pemikiran Abulcasis memang memiliki pengaruh yang sangat kuat pada system pengobatan di Barat, menurut Donald Campbell,  tak heran jika pada masanya, di Eropa, al-Zahrawi dikatakan sebagai ahli kedokteran yang bahkan reputasinya dan popularitasnya lebih besar daripada Galen dan Hippocrates.

  1. 2.      Biografi Al-Zahrawi  (936-1013 M)

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim Khalaf Ibn al-Abbas Al-Zahrawi. Ditemukan pula pada referensi lain bahwa nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim  az-Zahrawi al-Qurtubi. Kisah masa kecilnya tak banyak terungkap. Sebab, tanah kelahirannya Al-Zahra telah dijarah dan dihancurkan. Sosok dan kiprah Al-Zahrawi barulah terungkap setelah ilmuwan Andalusia Abu Muhammad bin Hazm (993M-1064M) menjadikannya sebagai salah seorang dokter bedah terkemuka di Spanyol. Sejarah hidupnya baru muncul dalam Al-Humaydi’s Jadhwat al Muqtabis yang baru rampung setelah enam dasa warsa kematiannya.[3]

Ia dilahirkan pada tahun 936 M di kota al-Zahra pada zaman kerajaan di Andalus, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab Ansar (Ansar Madinatul Munawwarah) yang berhijrah ke Andalusia dan menetap di Spanyol. Di kota Cordoba itulah dia menimba ilmu, mengajarkan ilmu kedokteran, mengobati masyarakat , serta mengembangkan ilmu bedah bahkan hingga ia tutup usia.[4]

Abu al-Qasim mendedikasikan separuh abad masa hidupnya untuk praktik dan mengajarkan ilmu kedokteran. Sebagai seorang dokter termasyhur, Al-Zahrawi pun diangkat menjadi dokter istana pada era kekhalifahan Al-Hakam II di Andalusia.[5] Berbeda dengan ilmuwan muslim kebanyakan, Al-Zahrawi tak terlalu banyak melakukan perjalanan. Ia lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk merawat korban kecelakaan serta korban-korban perang.

Kejeniusannya diakui oleh para dokter di zamannya terutama di bidang bedah. Dan jasanya dalam mengembangkan ilmu kedokteran sungguh sangat besar. Al-Zahrawi meninggalkan sebuah karya yang sangat luar biasa dan fenomenal bagi ilmu kedokteran, yakni kitab at-Tasrif li man ‘ajiza ‘an al-Ta’lif (Medical Vademecum atau Buku Pedoman Kedokteran — sebuah ensiklopedia kedokteran. Kitab yang dijadikan materi sekolah kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume.

Di Barat Al-Zahrawi dikenal sebagai  Albucasis. Dia dikenal sebagai bapak ilmu bedah modern, bukan hanya itu, bahkan dia juga disebut sebagai ahli bedah pertangahan Islam terhebat. Karena kemahiranya dalam ilmu bedah dan penemuan-penemuan alat-alat bedahnya hingga dia disebut sebagai cahaya dikegelapan masa pertengahan di Eropa[6]. Az-Zahrawi adalah seorang dokter bedah yang amat fenomenal. Karya dan hasil pemikirannya banyak diadopsi para dokter di dunia Barat. Menurut Dr.Campbell dalam History of Arab Medicine mengatakan, “Prinsip-prinsip ilmu kedokteran yang diajarkan az-Zahrawi menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa”. Popularitas al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang handal menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak diherankan lagi, jika kemudian pasien dan anak muda yang ingin belajar ilmu kedokteran dari Abulcasis berdatangan dari berbagai penjuru Eropa. Menurut Will Durant, pada masa itu Cordoba menjadi tempat favorit bagi orang-orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah. Di puncak kejayaannya, Cordoba memiliki tak kurang dari 50 rumah sakit yang menawarkan pelayanan yang prima.[7]

Az-Zahrawi pada waktu itu memang meningkatkan ilmu kedokteran dan ilmu bedah melalui usaha-usahanya. Dia belajar dan mendeskripsikan atau menjelaskan tentang flora dan fauna Spanyol juga tanaman, binatang dan mineral.

Namun selain sebagai ahli ilmu bedah, ia juga merupakan pendidik yang ahli dan sekaligus seorang psikiater. Sebagai seorang guru ilmu kedokteran, Al-Zahrawi begitu mencintai murid-muridnya. Dalam Al-Tasrif, dia mengungkapkan kepedulian terhadap kesejahteraan siswanya. Al-Zahrawi pun mengingatkan kepada para muridnya tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dengan pasien. Menurut Al-Zahrawi, seorang dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya.

Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Al-Zahrawi menanamkan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan untuk tercapainya diagnosis yang akurat serta kemungkinan pelayanan yang terbaik untuk pasien. Al-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi.

Menariknya, statusnya sebagai seorang ahli bedah professional tidaklah mendorongnya untuk menganjurkan pembedahan (operasi) pada pasiennya. Menurut Ajram (1992), al-Zahrawi hanya menerapkan pembedahan jika berbagai tahap pencegahan dan pengobatan klinis sebelumnya telah dilakukan. Pembedahan atau operasi adalah tindakan terakhir ketika dibutuhkan secara mutlak.[8]

Ternyata tidak hanya dalam bidang kedokteran. Pada abad ke-11, dunia Islam menghasilkan ilmuwan-ilmuwan kimia yang piawai. Salah satunya adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi yang memang namanya jarang disebut. Dalam salah satu idenya, Abulcasis menjelaskan bahwa penyulingan air mawar dan cuka anggur dapat diperoleh dengan proses distilasi yang sama. [9]  Proses distilasi adalah proses menghilangkan kotoran-kotoran yang tak tampak. Al-Zahrawi pun menggunakan proses sublimasi dan distilasi untuk pembuatan obat-obatan. Sebagian dari ikhtisar pengobatannya telah diterbitkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Liber Theorical nec non Practicae as-Saharavil di Augsburg pada 1519.[10] Memang al-Zahrawi tidak terlalu terkenal sebagai seorang kimiawan. Namun sebenarnya ia pun merupakan salah satu ilmuwan Arab yang sangat tertarik pada kimia dan menulis buku tentangnya.

Al-Zahrawi tutup usia di kota Cordoba pada tahun 1013M—dua tahun setelah tanah kelahirannya dijarah dan dihancurkan. Al-Zahrawi wafat di umur 77 tahun.[11]  Meski Cordoba kini bukan lagi menjadi kota bagi umat Islam, namun namanya masih diabadikan menjadi nama jalan kehormatan yakni ‘Calle Albucasis’. Di jalan itu terdapat rumah nomor 6 –yakni rumah tempat Al-Zahrawi pernah tinggal . Kini rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol.

  1. 3.      Karya-karyanya

Abu al-Qasim al-Zahrawi adalah ahli bedah dan kulit, telinga dan dokter gigi muslim Spanyol yang hidup pada abad ke-11 yaitu pada masa pemerintahan Abdurrahman III (890-961). Kitab yang diwariskannya bagi peradaban dunia adalah sebuah Ensiklopedia berjudul at-Tasrif li man ‘ajiza ‘an al-Ta’lif yang terdiri dari 30 jilid.[12] Ensiklopedia ini disempurnakan pada tahun 1000 M yang merupakan hasil dari pengalaman dan pendidikannya dalam perobatan dan kedokteran selama 50 tahun. Ia menulis di akhir kitabnya : “ Segala yang aku ketahui, adalah hasil dari pembacaan kitab-kitab dahulu dan dari keinginanku untuk memahaminya dan mengaplikasikan pengetahuan sains ini; kemudian aku lengkapi dengan pemerhatian dan pengalaman dari seluruh hidupku”. [13]

At-Tasrif  adalah sebuah ilustrasi pengalaman perobatan dan pembedahan. Sebagai sebuah ensiklopedia setebal 1500 halaman, kitab itu membuktikan bahwa az-Zahrawi bukan hanya seorang ilmuwan medis akan tetapi juga merupakan seorang pakar yang mempraktekkan pengetahuan medis dan pembedahannya. Ia mempengaruhi dan memajukan bidang pembedahan Eropa.

At-Tasrif berisikan 30 bab dan ditujukan kepada para pelajar bidang pengobatan dan juga dokter-dokter yang menjadikan ensiklopedia tersebut sebagai teman dalam pelbagai situasi masalah karena mengandung jawaban dan penyelesaian-penyelesaian klinikal yang banyak. At-Tasrif dilengkapi dengan gambar-gambar peralatan pembedahan terawal di dalam sejarah, yang kurang lebih ada sekitar 200 gambar peralatan pembedahan yang dijelaskan di jilid terakhir ensiklopedinya. Selain itu cara penggunaan peralatan tersebut beserta prosedur pembedahan dengan peralatan itu pun turut dijelaskan.

Karyanya ini terdiri dari tiga bagian[14]: pertama adalah pensterilan dengan cara pembakaran yang diambil dari tradisi profetis dan anjuran oleh Az-Zahrawi untuk penyakit aplopexia, yang kedua adalah operasi-oprasi yang dilakukan dengan pisau bedah dan juga operasi-operasi mata sebagaimana pembedahan oral, dan yang terakhir adalah berbagai macam bentuk luka atau keretakan dan pergeseran pada tulang. Berbagai macam topic telah disebutkan dalam at-Tasrif  seperti pengobatan pada luka, pendarahan, kebidanan, pencabutan anak panah, pengobatan pada tulang-tulang yang retak pada bagian tubuh, pembukaan dan pembagian dari urat nadi atau pembuluh nadi, pengalihan urine kedalam dubur dan lain-lain. Sebagian pembahasan yang lain dipusatkan pada pengobatan bedah mata, telinga dan gigi.[15]

Terdapat sebuah klaim sejarah yang mengatakan bahwa penerapan ilmiah pembedahan dikembangkan pertama kali oleh ahli bedah Prancis bernama Ambroise Pare pada 1545. Dikatakan bahwa para ahli bedah sebelum Pare berusaha mengeluarkan darah melalui prosedur yang mengerikan, seperti pembakaran luka dengan minyak yang mendidih. Lalu, Pare menghentikan teknik semacam itu dan mulai menggunakan teknik dengan membalut arteri (pembuluh darah). Pare kemudian dianggap sebagai “Bapak Ilmu Bedah yang rasional”. Ajram (1992) dengan tegas membantah klaim itu. Karena menurutnya, 500 tahun sebelumnya, ahli bedah Islam Spanyol, al-Zahrawi, telah menerapkan pembalutan arteri dengan benang-benang bedah halus (fine sutures). Dia juga mengembangkan penggunaan katun plus lilin untuk menyumbat luka-luka pendarahan. Abulcasis memperkenalkan sejumlah pembedahan yang inovatif, termasuk pengangkatan polip (tumor hidung yang bengkok), penghilangan batu kandung kemih, dan perbaikan pelbagai dislokasi organ tubuh. Ajram mengatakan bahwa Abulcasis adalah seorang master dalam cabang medis ortopedi (Ilmu bedah bagian tulang).

Dalam kitabnya Al-Tasrif, Bab 1 dan  2 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin yang diberi judul “Liber Theoricae”, yang dicetak di Augsburg pada 1519. Di dalam bab-bab ini, az-Zahrawi menjelaskan 325 jenis penyakit dan turut membincangkan gejala-gejala (symptom) dan perawatan-perawatan yang diperlukan. Ia juga menjelaskan untuk pertama kalinya di dalam sejarah pengobatan mengenai suatu penyakit yang dibawa oleh para ibu tanpa menunjukkan gejala namun menyebabkan anak laki-laki mereka dijangkiti penyakit tersebut. Penyakit itu sekarang disebut dengan Hemophilia. Ia mendeskripsikannya dengan jelas bahwa hemofili merupakan sebuah penyakit turunan (hereditas). Ia juga menjelaskan mengenai penggunaan posisi apa yang sekarang disebut sebagai posisi Walcher untuk proses kelahiran. Padahal sebenarnya sebelum, Gustav Adolf Walcher lahir, yakni 700 tahun kemudian, al-Zahrawi telah merintis posisi untuk kelahiran itu, yang kemudian penemuan tersebut dinisbahkan kepada Walcher sehingga dinamakan posisi Walcher yang dipakai hingga sekarang.

Pada Bab 28 dijelaskan perihal obat-obatan (farmasi) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di awal tahun 1288 M dan diberi judul “Liber Servitoris”. Beberapa bagian dalam kitab itu diterjemahkan oleh Gernard de Cremona ke dalam Bahasa Latin pada abad-16[16]. Abulcasis juga  menjelaskan cara membersihkan luka dan perlunya melakukan post mortum bagi beberapa jenis mayat untuk mengetahui sebab-sebab kematian.

Instrument-instrumen yang ditemukan oleh Az-Zahrawi yang dipakai untuk pembedahan yaitu termasuk alat pencabut gigi, catheter yaitu tabung atau pipa yang untuk dimasukan ke bagian tubuh untuk  menyebarkan cairan agar jalan atau lubang pada bagian tubuh tetap terbuka. Dia juga menemukan tang atau alat penjepit yang digunakan untuk mencabut janin yang telah mati, jarum bedah, pisau bedah, sendok bedah, dan kail bedah. Sebagian besar instrument-instrumen ini  ditemukan oleh dirinya sendiri dan bukan hanya itu, dia juga menjelaskan penggunaannya. Selain itu Az-Zahrawi menekankan penggunaan  antiseptic pada luka-luka.

Menurut catatan, selama karirnya Al-Zahrawi telah menemukan 26 peralatan bedah. Salah satu alat bedah yang ditemukan dan digunakan Al-Zahrawi adalah catgut. Alat yang digunakan untuk menjahit bagian dalam itu hingga kini masih digunakan di ilmu bedah modern. Selain itu, ia juga menemukan forceps untuk mengangkat janin yang meninggal. Alat itu digambarkan dalam kitab Al-tasrif. Dalam Al-Tasrif, Al-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan ligature (benang pengikat luka) untuk mengontrol pendarahan arteri. Jarum bedah ternyata juga ditemukan dan dipaparkan secara jelas dalam Al-Tasrif. Selain itu, Al-Zahrawi juga memperkenalkan sederet alat bedah lain hasil penemuannya.

Peralatan penting untuk bedah yang ditemukannya itu antara lain, pisau bedah (scalpel), curette, retractor, sendok bedah (surgical spoon), sound, pengait bedah (surgical hook), surgical rod, dan specula. Tak cuma itu, Al-Zahrawi juga menemukan peralatan bedah yang digunakan untuk memeriksa dalam uretra, alat untuk memindahkan benda asing dari tenggorokan serta alat untuk memeriksa telinga. Kontribusi Al-Zahrawi bagi dunia kedokteran khususnya bedah hingga kini tetap dikenang dunia. Berikut adalah gambar dari beberapa peralatan bedah al-Zahrawi yang masih dipakai sampai sekarang.

Al-Tasrif – al-Zahrawi secara terperinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedic, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika, seperti deodorant, hand lotion, dan pewarna rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil karya al-Zahrawi.[17] Bukunya memang secara lengkap menjelaskan tentang pengobatan medis, nutrisi, kosmetik, terapi obat, teknik pembedahan, anesthesia (obat bius), pra dan pascapemeliharaan operasi. Lagi, dengan deskripsi lengkapnya mengenai 200 peralatan pembedahan yang ia temukan seperti speculum, pisau bedah, semprotan, pipa kateter, dan penekan lidah. Atas dasar itulah, menurut Ajram, yang paling patut memperoleh julukan sebagai “Bapak dan Pendiri Pembedahan Rasional” adalah al-Zahrawi.

Gerrad dari Cremona menerjemahkan buku ini kedalam bahasa Latin pada abad ke 12. Dan ini menjadi buku teks utama pada bidang ilmu bedah di Eropa sampai hampir lima abad. Terjemahan latinnya dari diskursus satu dan dua dari At-Tasrif dipublikasikan di Augusburg pada tahun 1519. Yang mana diskursus ini berhubungan dengan klasifikasi dari 325 penyakit. Ilmu tentang gejala-gejala dan pengobatan juga telah dibahas.

Abulcasis juga menulis karya lainnya yakni kitab al-Mansur. Hingga abad ke 15, terjemahan buku ini digunakan dalam kuliah kedokteran di universitas Tubingen Jerman. Sedangkan Ensiklopedianya telah dijadikan standard rujukan bidang pembedahan di semua universitas Eropa selama lebih dari 500 tahun.

  1. 4.      Keahlian-keahlian/ Buah pemikiran Abu al-Qasim al-Zahrawi
  2. a.      Batu Ginjal (Urologi)

Batu ginjal adalah masa keras  seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri perdarahan, penyumbatan aliran kemih, atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih).

Para dokter Muslim di masa kekhalifahan telah memberi perhatian begitu intens terkait batu ginjal. Mereka mencoba untuk menjelaskan secara ilmiah pembentukan batu ginjal , tanda-tanda serta gejalanya. Untuk pertama kalinya pula, dokter Muslim berhasil melakukan operasi untuk membuang atau menghancurkan batu ginjal. Selain itu, para dokter muslim pun telah memberikan petunjuk pengobatan untuk merawat pasien batu ginjal serta bagaimana pencegahannya.

Ibn Sina dan al-Zahrawi sepakat bahwa batu kandung kemih adalah hal yang umum terdapat pada anak-anak. Benda kecil itu, papar keduanya, akan berubah menjadi batu ginjal pada saat umur seseorang terus bertambah. Kedua dokter itu juga sependapat bahwa batu kandung kemih jarang ditemukan pada wanita.

Abulcasis merupakan dokter bedah pertama yang berhasil melakukan operasi ketika mengeluarkan batu ginjal. Secara khusus, al-Razi dan al-Zahrawi menjelaskan proses operasi untuk mengeluarkan batu ginjal. Al-Razi menyatakan sebelum dikeluarkan, batu ginjal perlu dipecahkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua dokter muslim legendaris itu menyatakan kesulitan yang dihadapi saat mengoperasi batu ginjal pada pasien wanita.

Al-Zahrawi merupakan salah satu dokter yang tak hanya mampu mendeteksi dan mengobati beragam penyakit urologi, yakni cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani bedah ginjal dan saluran kemih serta alat reproduksi, tetapi juga telah menemukan sederet peralatan dan teknologi pengobatannya. Salah satu alatnya adalah alat untuk memotong batu dalam kantung kemih.

Buah pemikiran dari hasil penemuannya dalam bidang urologi telah memberi pengaruh yang sangat besar bagi dokter-dokter dunia Barat. Peradaban Barat telah mengembangkan dan menerapkan urologi yang ditemukan para dokter muslim dari abad-9 M. bahkan tak heran lagi jika dokter bedah terkemuka di Barat, E. Forge, begitu takjub dengan pencapaian yang ditorehkan al-Zahrawi dalam bidang kedokteran-lewat karyanya al-Tasrif.

Kitab al-Tasrif adalah buah pikir al-Zahrawi yang paling legendaris. Ensiklopedia kedokteran dan bedah itu terdiri atas 30 bab. Karya dokter muslim asal Cordoba itu tidak cuma legendaris, namun juga fenomenal. Sejumlah sejarawan menggambarkan pencapaian yang berhasil ditorehkan al-Zahrawi lewat kitabnya itu yang sungguh mengagumkan.

Al-Zahrawi telah dinilai mampu menjelaskan prosedur bedah serta peralatan-peralatan bedah yang diperlukan. Padahal, saat itu, belum ada satu kitab kedokteran pun yang mengupasnya. Para sejarawan kedokteran, seperti Cumston, Spink, dan Lewis menyatakan, al-Zahrawi merupakan peletak dasar lithotripsy – sebuah prosedur dalam kedokteran untuk memecahkan batu yang terdapat dalam ginjal, saluran kemih, dan kandung kemih. [18]

Sementara itu dalam  bidang lain yakni mengkhitan/sunat, al-Zahrawi lebih memilih menggunakan gunting untuk menyunat.

  1. b.      Otorhinolaryngology (THT)

Otorhinolaryngology secara etimologi berasal dari kata oto yang berarti telinga, rhino yang berarti hidung, dan laryngo yang berarti tenggorokan. Kita biasa menyingkatnya dengan THT, Yakni Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Menurut  Neil Weir, Otorhinolaryngology merupakan bidang kedokteran yang secara khusus dikembangkan pada awal abad ke-20 M dengan menggabungkan dua departemen yang berbeda, yakni Ontology dan Laryngology. Namun klaim ini masih diragukan dan dianggap ahistoris.

Karena jika kita melihat melalui jejak dan sejarah perkembangannya, tampaknya umat Islam memiliki hak untuk mengklaim bahwa para dokter Muslim merupakan para perintis dari lahirnya bidang Otorhinolaryngology di dunia kedokteran modern.

Penelitian tentang anatomi dan fisiologi THT dilakukan sederet dokter Muslim dari abad ke abad, seperti Ibn Zakariya al-Razi (80 M-923 M), Ibn Sina (980 M-1036 M), Ali Ibnu Abbas (994 M), Abdul Latif al Baghdadi (1161 M-1242 M), Ibn Al-Baladi (971 M), Abdul Malik Ibn Zohr (1092 M-1162 M), AL-Zahrawi (936 M-1013 M), dan Ibn al-Nafis (1210 M – 1288 M).

Hasil kajian para dokter muslim tentang anatomi dan fisiologi THT itu terekam dalam kitab dan risalah kedokteran Islam. Ar-Razi menuangkan buah pikirannya tentang anatomi dan fisiologi THT dalam kitab Al-Hawy. Sedangkan Ibn Sina memaparkannya dalam Canon of Medicine (al-Qanun fit tib) – kitab kedokteran legendaris. Ali Ibn Abbas mencatatnya dalam dalam Al-Kitab El Malaky, sementara itu al-Bagdadi menuliskan hasil kajiannya dalam The Compendium in Medicine dan Ibn al-Baladi dalam The Care of Pregnant Women, Infants, dan children. Ibn Zohr menuangkan penelitiannya tentang natomi dan fisiologi THT dalam kitab Al-Tayseer. Sedangkan dokter bedah terkemuka dari Cordoba, al-Zahrawi menuliskannya dalam kitab Al-Tasrif. Dan Bapak Fisiologi Ibn Al-Nafis menuliskan hasil kajiannya dalam kitab al-Shamel Fi Sinaat al-Tibb.

Sementara itu, al-Zahrawi – Bapak Ilmu Bedah Modern – banyak membahas operasi telinga, hidung dan tenggorokan secara perinci dalam kitab al-Tasrif. Menurut Arsyad (1989), al-Zahrawi dikenal baik sebagai perintis ilmu pengenalan penyakit (diagnostic) dan cara penyembuhan (therapeutic) penyakit telinga. Dialah yang telah merintis dilakukannya pembedahan telinga untuk mengembalikan fungsi pendengaran, dengan jalan memperhatikan secara saksama anatomi saraf-saraf halus (arteries), pembuluh-pembuluh darah (veins), dan otot-otot (tendons). Tidak hanya itu, al-Zahrawi pun dikenal sebagai motor pelopor pengembangan ilmu penyakit kulit. Ia juga merupakan perintis pertama kali yang memberikan deskripsi akurat tentang cacat genetic (genetic deformities) pada mulut dan lengkungan gigi. Ia dengan tepat menggambarkan semacam patologi di balik kelumpuhan dawai suara/vocal ratusan tahun sebelum ditemukan Barat. Untuk alat pembedahannya, Al-Zahrawi memiliki alat untuk memindahkan benda asing dari temggorokan dan alat untuk memeriksa telinga.

Apa yang ditemukan dan dikembangkan oleh para dokter muslim di era kekhalifahan itu diadopsi dan diserap dokter di Eropa. Berbekal pengetahuan yang ditransfer dari peradaban muslim itu Eropa mengalami Renaissance. Seorang dokter dari Eropa bernama De Boer ikut menguatkan argumen mengenai kontribusi Peradaban Islam dalam dunia kedokteran dengan mengungkapkan, “ Kedokteran itu tak ada sampai Hippocrates menciptakannya, kedokteran mati sampai Galen menghidupkannya, kedokteran tercerai berai sampai ar-Razi menyatukannya, dan kedokteran tak lengkap hingga Ibn Sina menyempurnakannya”.[19]

  1. c.       Kedokteran Gigi (Dentistry)

Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Rasulullah pun mewariskan tips kesehatan gigi dengan bersiwak. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah SAW wafat, para dokter muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia di lembah Indus di sekitar tahun 7000 hingga 5500 SM.

Namun peradaban Barat mengklaim bahwa Pierre Fauchard – berkebangsaan Prancis yang hidup di abad ke-17 adalah Bapak Ilmu kedokteran gigi modern yang pertama. Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas al-Zahrawi alias Abulcasis telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi. Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam kitab al-Tasrif. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. Noble mengatakan, “ Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut. Bukan hanya Noble, Arsyad (1989) juga mengatakan bahwa al-Zahrawi dikenal baik sebagai seorang dokter gigi. Menurutnya, dari ilustrasi-ilustrasi yang digambarkan buku-buku yang ditulis al-Zahrawi , dapat diketahui bahwa ia telah menggunakan banyak macam peralatan untuk keperluan pengobatan gigi. Karena di dalam al-Tasrif dijelaskan tentang penyakit gigi sekaligus cara pengobatannya.

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian gigi palsu itu dikembangkan lagi dengan menggunakan kayu – seperti yang digunakan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington 700 tahun kemudian.[20]

Menurut Arsyad, al-Tasrif – Al-Zahrawi lah yang kemudian meletakkan dasar-dasar pengembangan kedokteran gigi di Eropa. Beberapa bagian penting dari isi tersebut dikutip oleh seorang ahli bedah kebangsaan Prancis yang amat terkenal di Eropa, Guy de Chauliac. Buku tersebut cukup lama  digunakan di Eropa, terutama di universitas-universitas Salerno dan Muenchen. Secara umum, pemikiran al-Zahrawi memanglah banyak berpengaruh kuat pada system pengobatan di Barat. Hal itu diakui oleh Donald Campbell dalam bukunya Arabian Medicine and Its Influence on The Middle Ages. Bahkan di Eropa, pada masanya, al-Zahrawi mendapat pujian sebagai seorang ahli yang mempunyai reputasi dan popularitas lebih besar daripada Galen dan Hippocrates, yang telah dikenal lebih awal.[21]

  1. d.      Anestesi ( pembiusan )

Dunia kedokteran Barat mengklaim dirinya sebagai perintis di bidang anestesi (pembiusan). Mereka menyebut Oliver Wondel Holmes Sr sebagai dokter pertama di dunia yang memperkenalkan istilah anestesi pada tahun 1846. Klaim itu dianggap sangat ahistoris. Karena ratusan tahun sebelum Holmes mengenal anestesi, sebenarnya dunia kedokteran Islam telah mengembangkan teknik Anestesi.

Anestesi berasal dari Bahasa Yunani yang berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit saat melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya pada tubuh. 9 abad sebelum Holmes lahir, para dokter muslim terkemuka seperti Ibn Sina, al-Zahrawi, Ibn Zuhr, dan Ibn al-Nafis telah sukses melakukan operasi pembedahan. Uniknya, pembedahan yang dilakukan oleh para dokter muslim di zaman dahulu memang sama sekali tidak terasa sakit.

Dokter Muslim perintis Anestesi adalah Ibn Zuhr[22] dan Al-Zahrawi. Di Spanyol Islam mereka dikenal sebagai  pengembang Anestesi modern (Anestesiolog).

Prof. Mohammad S. Takrouri dari Departemen Anestesi Universitas King Khalid Riyadh mengatakan bahwa anestesi yang dikembangkan kedokteran Islam sangat unik. Ia benar-benar mampu menghilangkan rasa sakit pada pasien yang akan dioperasi. Berbeda dengan anestesi yang dikembangkan diperadaban India, Yunani, dan Romawi. Anestesi dari ketiga peradaban itu tak membantu menghilangkan rasa sakit. Menurutnya salah satu anestesi yang dikembangkan peradaban Islam adalah “Spon Obat Tidur” (Soporific Sponge). Tekhnik tersebut bahkan tidak dikenal pada peradaban sebelum Islam.

Spon obat tidur itu terbuat dari campuran hanish, papver, dan hyocymine. Campuran itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Ketika akan digunakan, campuran itu kemudia dilembabkan dan ditempatkan di hidung pasien yang akan menjalani operasi. Seketika pasien akan tertidur dan tak akan merasakan sakitnya operasi.

Teknik anestesi seperti ini baru dikenal kedokteran Barat – terutama Eropa – pada abad ke-18 M. Dunia Barat kedokteran Barat kemudian mengembangkan anestesi inhalational modern pada abad ke-19. Penemuan itu dipengaruhi oleh karya-karya dokter Muslim yang beredar dan diajarkan di Universitas Barat. Prof. Takrouri menegaskan bahwa dasar-dasar Anestesi melalui pernapasan sesungguhnya berasal dari Islam. [23]

  1. 5.      Hubungan Kedokteran dan Filsafat

Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Sains dan Peradaban di dalam Islam mengatakan bahwa seorang bijak atau hakim, yang sepanjang sejarah Islam merupakan tokoh sentral dalam pengembangan dan penyebaran sains, juga biasanya seorang dokter. Hubungan antara kedua ini sungguh erat, sehingga orang bijak maupun dokter disebut sebagai hakim. Karena seorang dokter umumnya diharapkan seorang yang berwatak luhur, yang menggabungkan ketajaman ilmiah dengan nilai moral, dan yang daya intelektualnya tidak pernah terpisah dari kepercayaan religious yang dalam dan takwa kepada Allah SWT.[24] Sedangkan Osman Bakar (2008 : 108) berpendapat bahwa kedokteran merupakan posisi yang paling mulia dibandingkan dengan semua ilmu dan seni praktis yang dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim. Hal itu disebabkan oleh adanya nilai religious yang dilekatkan pada kedokteran. Dan bahwa kedokteran itu termasuk kategori ilmu fardhu kifayah.

Kuatnya perhatian para sarjana Muslim dalam ilmu medis disebabkan oleh salah satu implikasi dari pandangan Islam tentang hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Ibn Sina dalam karyanya The Canon of Medicine mendefinisikan ilmu medis sebagai “cabang ilmu yang mempelajari keadaan-keadaan sehat dan sakit tubuh manusia dengan tujuan mendapatkan cara yang sesuai untuk menjaga atau mempertahankan kesehatan” merupakan salah satu ilmu terapan yang terpenting karena menyangkut kesehatan tubuh manusia sebagai pokok bahasannya. Karena diyakini bahwa tubuh dan jiwa saling berpengaruh maka kesehatan tubuh menjadi sangat penting untuk penyempurnaan jiwa. Sesuai dengan doktrin filsafat pada umumnya, meskipun jiwa pada esensinya adalah substansi nonmaterial, ia tetap saja membutuhkan tubuh untuk aktualisasi dan penyempurnaan di alam korporeal ini.[25]

Karakter umum dari para sarjana Muslim dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan ialah kentusiasan mereka dan sikap apresiasinya dalam mempelajari khazanah ilmu pengetahuan dari berbagai tradisi dan peradaban pra-Islam. Kemudian mereka mengembangkannya secara kreatif dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang baru dan dengan menggunakan [aradigma yang sesuai dengan nilai-nilai Tauhid dan Islam.

Kesehatan adalah menjadi perhatian utama dalam paradigm medis Islam. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW, yakni makan tidak berlebihan dan tidak juga berkekurangan, melainkan cukup untuk sepertiga isi lambung merupakan salah satu motto pola konsumsi yang diajarkan Islam. Pola itu ternyata sesuai dengan penelitian mutakhir bahwa banyak penyakit yang muncul karena menyalahi pola konsumsi yang sehat dan seimbang.

Berbeda dengan paradigm Cartesian yang menganggap tubuh manusia sebagai sebuah mesin yang bisa dianalisis menurut bagian-bagiannya sehingga tubuh yang sakit diperlakukan seperti mesin yang rusak yang dalam hal ini tentunya praktik kedokteran hanya focus pada metode dan pendekatan kuantitatif dan serba terukur, sehingga mengabaikan aspek—aspek kualitatif. Fritjof Capra mengusulkan sebuah paradigm holistic sebagai paradigm baru bagi praktik ilmu medis. Ia berargumen,

“ Sifat dasar kesehatan haruslah holistic jika kita ingin memahami fenomena penyembuhan. Selama berabad-abad penyembuhan telah dilakukan oleh para penyembuh (healer) dengan tuntunan kearifan tradisional yang melihat penyakit sebagai suatu kekacauan manusia secara utuh, yang tidak hanya melibatkan tubuh pasien melainkan juga pikirannya, gambaran dirinya, kebergantungannya pada lingkungan fisik dan social, serta hubungan antara manusia dengan kosmos dan Tuhan” (1996: 155).[26]

Argumen ini semakin diperkuat dengan pendapat Osman Bakar (2008:108) yang menyatakan bahwa,

“Salah satu nama al-Qur’an adalah al-Syifa yang berarti yang menyembuhkan (that which heals) atau yang memulihkan kesehatan. Kaum Muslim memahami kesehatan itu sebagai hal yang merujuk kepada kesehatan spiritual, intelektual, psikologis dan fisik. Semua dimensi yang berbeda-beda dari kesehatan manusia itu terintegrasi dan menyatu dalam pandangan-dunia religious Islam. Jadi, tujuan kedokteran sangat selaras dengan pandangan Al-Qur’an tentang kesejahteraan manusia”.

Salah satu bentuk penerapan pandangan holistic ilmu medis Islam adalah adanya perhatian yang intensif terhadap potensi mental pikiran dan spiritual dalam praktik penyembuhan penyakit-penyakit fisik. Hubungan yang sedemikian erat dan alamiah serta saling berpengaruh timbal balik antara jiwa dan tubuh merupakan cara pandang pokok tradisi kedokteran Islam.

  Ibn Sina : Pangeran Para Dokter memiliki pendekatan filosofi untuk penyembuhan psikologis penyakit-penyakit fisik atau yang sekarang disebut dengan “ilmu medis psikosomatis”. Ibn Sina menekankan prinsipnya yang menunjukkan eratnya hubungan antara pikiran dan jiwa dengan kesehatan tubuh; bahwa cara berpikir berpengaruh terhadap kondisi badan dan, juga sebaliknya, bahwa kesehatan tubuh berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Ia ingin menunjukkan bahwa penyembuhan psikologis-spiritual daoat mengatasi penyakit fisik, serta memperlihatkan pengaruh pikiran terhadap tubuh. Dengan prinsip dasar itulah Ibn Sina menganjurkan para dokter untuk memiliki simpati dan kesabaran dalam menghadapi pasien. Menurut Ibn Sina, seorang dokter haruslah memberikan sugesti dan harapan yang optimistic kepada pasien bahwa dia akan segera sembuh. Dan sesuai dengan pandangan interaksionis, Ibn Sina juga menganjurkan para dokter dan rumah-rumah sakit untuk menciptakan lingkungan yang ramah, nyaman, teduh, dan higienis agar membantu proses penyembuhan pasien.

Ibn Sina pun mencoba menjelaskan secara rasional mengenai interaksi yang erat antara jiwa-badan melalui sejumlah konsep, diantaranya apa yang dia sebut sebagai “semangat vital” (Vital Spirit), yang hadir dalam diri dan berinteraksi langsung dengan tubuh. Ibn Sina menjelaskan,

Allah membuat bagian kiri jantung berongga agar berfungsi sebagai tempat simpanan semangat Vital dan juga sebagai sumber produksinya. Dia menciptakan semangat vital untuk membawa kemampuan jiwa atau bentuk (Form) kepada anggota badan yang sesuai. Jadi, semangat vital berfungsi sebagai dasar unifikasi kemampuan-kemampuan jiwa, dan selanjutnya sebagai sarana emanasi ke berbagai anggota badan dan jaringan (dikutip dalam Nasr, 1968 : 226).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kesehatan itu merupakan bentuk keseimbangan; sebuah kecerdasan dan keterampilan bagaimana hidup dengan pola yang seimbang, selaras, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Yang kedua, kesehatan adalah bentuk keutuhan yang mencakup berbagai dimensi yang terkait dengan identitas kemanusiaan (bersifat holistic : mencakup aspek spiritual, intelektual, psikologis, social, fisikal); bahwa terdapat interaksi, interrelasi, dan interkoneksi yang erat dan alamiah antara jiwa dan tubuh.[27]


[1] Materia Medika adalah sebuah karya klasik dan merupakan karya terbesar dalam bidang obat-obatan  sepanjang Abad Tengah.

[2] Nasr, Sayyed Hossein. Sains dan Peradaban di dalam Islam, hal.194.

[4] Dikutip dari Koran Republika. Anestesi di Era Peradaban Islam. Kamis, 22 Januari 2009.

[6] Editor Baharudin Ahmad. “Islamic science and the contemporary world”, hal 102.

[7] Republika. Anestesi di Era Peradaban Islam. Kamis, 22 Januari 2009

[8] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal. 210.

[9] Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jil.4. Hal. 243

[10] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal. 210.

[12] Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jil.4. Hal. 245

[14] Seyyed Hossein Nasr “Islamic Science an Illustrated Study” hal 178.

[15]. Editor Baharudin Ahmad “Islamic science and the contemporary world” hal 104.

[16] Ada juga yang mengatakan diterjemahkannya pada abad-12.

[17] Republika. Anestesi di Era Peradaban Islam . Kamis, 22 Januari 2009

[18] Dikutip dari Republika. Khazanah Urologi dalam Kedokteran Islam. Kamis 11 Desember 2008

[19] Dikutip dari Republika. Khazanah Pengobatan Penyakit THT Warisan Kedokteran Muslim. Rabu, 20 Agustus 2008.

[20] Dikutip dari Republika. Khazanah Kontribusi Peradaban Islam dalam Kedokteran Gigi. Kamis, 11 Oktober 2008.

[21] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal. 209.

[22] Ibn Zuhr juga merupakan seorang Dokter bedah yang hebat di Spanyol. Di Barat ia dikenal dengan panggilan Avenzoar. Ibn Zuhr juga merupakan perintis atau dokter pertama yang memanfaatkan binatang sebagai kelinci percobaan untuk bedah tracheotomy. Ialah perintis ilmu bedah eksperimental. Ia dilahirkan di Seville, Spanyol. Ia dianggap berjasa dalam memperkenalkan metode eksperimental dalam ilmu bedah. Avenzoar pun trcatat sebagai dokter perintis yang memperkenalkan metode bedah manusia dan autopsy. Selain itu ternyata dia juga merupakan guru dari Averroes.

[23] Dikutip dari Republika.  Anestesi di Era Peradaban Islam . Kamis, 22 Januari 2009.

[24] Nasr, Sayyed Hossein. Sains dan Peradaban di dalam Islam, hal. 165

[25] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal.327

[26] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal.337

[27] Heriyanto, Husain. Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, hal. 341

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s