ISLAM DAN KEINDONESIAAN

 

Apakah Peranan Islam dalam Membangun Indonesia?

Oleh : Fithri Dzakiyyah Hafizah

“ Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”  (QS. Al-Baqarah : 213)

Apakah Islam itu sebenarnya? Umumnya, agama Islam yang kita ketahui ialah  suatu agama yang menjadi penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Begitu juga dengan kitabnya, yakni al-Qur’an sebagai pedoman yang dibawa dan disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw kepada seluruh umat manusia. Namun benarkah Islam merpakan agama pemersatu? Yakni, agama yang bersifat Universal, Inklusif dan Egaliter, dalam arti memandang semua manusia itu dalam kedudukan yang sama? Sebagaimana dalam Q.S. Al-baqarah ayat 213 di atas, Nurcholish Madjid menafsirkannya bahwa ayat tersebut menegaskan soal kesatuan umat dan kemanusiaan. Padahal, sesuai dengan realita dunia yang ada dihadapan kita sekarang, bahwa seluruh manusia di dunia memanglah berbeda-beda baik dalam segi apapun. Dalam perbedaan, manusia hidup saling berkompetisi dan berselisih satu sama lain untuk menjadi yang paling baik dari yang terbaik. Akibat dari perselisihan itu biasanya akan melahirkan perpecahan antar sesama individu ataupun komunitas manusia. Lalu apakah yang dapat menyatukannya kembali? Apakah yang mampu mendamaikan dan memberikan gambaran juga penjelasan secara jelas bahwa dibalik perbedaan mestilah ada persatuan yang akan membawa umat manusia kepada jalan hidup yang lebih baik? Dan apakah Islam memiliki jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut?

Berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah Saw, Islam masih menyebar ke seluruh pelosok dunia. Khususnya setelah runtuhnya Dinasti Abbasyiah yang berpusat di Baghdad, yang disebut sebagai sebuah masa keemasan dan kejayaan Islam (Golden Age), Islam kemudian menyebar jauh hingga ke Asia Tenggara. Dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Prof. Dr. Amtsal Bakhtiar menyebutkan bahwa terdapat tujuh cabang Peradaban Islam setelah hancurnya Baghdad. Diantaranya adalah Arab, Persi, Turki, Afrika Hitam, Anak benua India, Arab Melayu di Asia Tenggara dan Cina. Sedangkan Indonesia merupakan Negara yang ada di Asia Tenggara. Itu artinya, Indonesia juga merupakan Negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Padahal, jika kita tengok lagi sejarah, sebelum datangnya Islam di Indonesia, mayoritas penduduk Indonesia, terutama di Pulau Jawa pada masa itu menganut agama Hindu. Salah satu kerajaan Hindu di kepulauan Jawa dahulu ialah Kerajaan Tarumanegara. Namun yang menjadi pertanyaan ialah, disaat Hindu sudah menjadi agama pribumi yang dianut secara mayoritas oleh kalangan penduduk Indonesia, mengapa Islam yang datang saat itu bisa begitu mudah diterima di Indonesia secara sempurna, bahkan masih bertahan hingga saat ini sebagai agama yang mayoritas di anut oleh para rakyatnya? Kekuatan apakah yang mampu membuat Islam begitu mudah diterima di Indonesia? Nilai-nilai dan konsep-konsep apa sajakah yang ia tawarkan?

Indonesia pada masa kini dikenal sebagai Negara yang multikultur, multiagama dan menganut demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Dengan segala perbedaan yang ada di Indonesia, Indonesia menyatukannya dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila inilah yang merupakan nilai Keindonesiaan pada Indonesia. Karena ia mencakup seluruh kemajemukan/keberagaman dalam segi kultur maupun agama di Indonesia. Menurut Nurcholish Madjid, apa yang menjadi Tujuan Indonesia ialah masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sedangkan keindonesiaan dalam arti kebangsaan Indonesia menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif ialah Bangsa Indonesia yang tidak beralih menjadi kebangsaan yang ekspansif yang tidak lain dari Imperialisme modern, berdasar pada Pernyataan Bung Karno yang mengutip dari perkataan Mahatma Gandhi “My Nationalism is Humanity (Kebangsaan saya adalah perikemanusiaan)”.[1]

Pada dasarnya, Keindonesiaan itu tidak bisa lepas dari nilai-nilai pancasila. karena tujuan bangsa Indonesia terkait erat dengan nilai-nilai tersebut. Soekarno dalam pidatonya mengatakan “Pancasila adalah salah satu alat pemersatu, yang saya seyakin-yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanyalah dapat bersatu padu di atas dasar pancasila itu. Dan bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Republik Indonesia, tetapi juga pada hakekatnya satu alat mempersatu dalam perjoangan kita melenyapkan segala penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu penyakit terutama sekali, imperialisme…”[2]

Lalu apakah hubungannya Islam dengan keindonesiaan ini? Dan apakah daya tarik Islam hingga Ahmad Syafi’i ma’arif pun mengatakan bahwa hubungan antara Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan itu tidak bisa dipisahkan? Menurut seorang Antropolog penulis buku kocak-serius Indonesia Handbook, Bill Dalton[3] mengatakan bahwa, daya tarik yang paling utama dari Islam adalah karena ia bersifat psikologis. Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa semua orang di mata Allah adalah sama-sama dibuat dari tanah, bahwa tak seorang pun dibenarkan untuk diistimewakan sebagai lebih unggul. Dalam Islam tidak ada sakramen/ acara-acara inisiasi yang misterius, juga tidak ada kelas pendeta. Islam memiliki kesederhanaan yang hebat dengan hubungannya yang langsung dan pribadi antara manusia dan Tuhan.

Selain itu, Islam di sisi lain memiliki pandangan-pandangan sosio-politik. Akarnya ada pada semangat egalitarianisme, yang merupakan hasil dari pengikatan diri antar anggota masyarakat dan meliputi semua anggota masyarakat tanpa memandang latar belakang hidupnya (kalangan atas, menegah ataupun rakyat kecil). Hal ini dibuktikan dalam sejarah ketika Islam berhasil diterima secara baik dan sempurna oleh Indonesia. Tentunya hal itu dapat terjadi karena Islam telah berhasil mempengaruhi dalam segala segi secara menyeluruh. Dalam arti, tidak hanya mempengaruhi nilai-nilai religiusnya yang kental dengan sufismenya, seperti budaya kejawen yang merupakan ilmu kebathinan (spiritualisme Jawa) yang terpengaruh oleh Islam, namun juga mempengaruhi bidang-bidang lain terutama budaya Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Jika kita hubungkan dengan perumusan pada nilai-nilai Pancasila, Nurcholis Madjid mengatakan bahwa kita akan segera menemukan unsur-unsur Islam dalam konsep-konsep tentang adil, adab , rakyat, hikmat, musyawarah dan wakil. Dan sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kata-kata yang terdapat dalam pancasila sebagiannya berasal dari Bahasa Arab seperti adil, adab, hikmat, musyawarah yang merupakan konsep-konsep utama yang terdapat dalam ajaran Islam.

Negara Indonesia memanglah menjunjung persatuan karena berbagai keragaman yang dikandungnya, sesuai dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda namun tetap satu jua). Dalam hubungannya dengan Islam, lagi Nurcholis Madjid memaparkan, bersamaan dengan rasa dan kesadaran hukum yang diwujudkan oleh Nabi dalam rintisannya untuk membentuk komunitas Negara yang berkonstitusi, semangat Egalitarianisme yang ada pada Islam  memberikan kontribusi yang paling penting bagi pembangunan Indonesia di masa depan, khususnya pembangunan demokrasi. Semangat saling menghormati yang tulus dan saling menghargai adalah pangkal bagi adanya pergaulan kemanusiaan dalam sistem sosial dan politik yang demokratis.

Memang, Permaslahatan mengenai agama itu tidak bisa lepas dari Indonesia, karena sesuai dengan pancasila dalam sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Prinsip-prinsip ketuhanan yang bernilai moral dan etika yang bagus memang dibutuhkan dalam membangun nasionalisme bangsa juga mewujudkan budaya demokrasi  demi kemajuan bangsa. Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna mengatakan bahwa, perlulah untuk menghidupkan dimensi etis dan misi profetik agama yang bersifat universal, yang diarahkan bagi perwujudan kemaslahatan bersama dengan memenuhi prinsip-prinsip deliberatif untuk membuat agama bermanfaat bagi kehidupan publik demokratis.

Adalah ekslusif jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama yang paling benar daripada agama-agama yang lain. Kemudian memaksa orang-orang yang beragama selain Islam untuk masuk Islam karena agama-agama selain Islam adalah salah ataupun sesat. Justru Islam itu bersifat Inklusif dengan semangat saling menghormati dan menghargai, Islam bersifat universal dan netral, bukanlah fanatik ataupun ekstrem, bukan bersifat paksaan dan kekerasan. Bukankah Islam itu cinta damai? Hal ini terbukti dalam firman Allah dalam Q.S. Yunus : 99, “ Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, tanpa kecuali. Apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa umat manusia sehingga mereka menjadi beriman?” Lalu dalam potongan ayat al-Ma’idah ayat 48 berbunyi, “…… Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,” sudah jelas dalam ayat-ayat al-Qur’an tersebut bahwa manusia itu berbeda-beda, baik itu dalam agama, budaya, ras, suku, dan lain sebagainya. Terutama dalam agama, al-Qur’an pun sudah menegaskan bahwa tidak diperbolehkan untuk melakukan pemaksaan terhadap orang lain untuk memasuki agama Islam dan harus saling menghormati juga berlomba-lomba dalam kebajikan. Sehingga jelaslah, bahwa Islam pada esensinya memiliki nilai toleran yang tinggi terhadap adanya keberagaman di dunia ini dan memiliki prinsip moral yang bisa diterapkan demi tegaknya keadilan di Negara Indonesia ini. menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif, terdapat beberapa prinsip hukum Islam untuk publik yang bisa diintegrasikan  dalam hukum nasional, sehingga tidak bersifat eksklusif, kecuali bertalian dengan hukum keluarga, seperti perkawinan, warisan, wakaf, dan juga yang menyangkut masalah zakat.

Jika kita melihat keadaan Indonesia saat ini, nampaknya terlihat bahwa nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai ketuhanan sudah semakin memudar. Nilai Politik sudah dipandang tidak murni lagi dan sudah ternodai akibat banyaknya kasus-kasus korupsi di Indonesia. Rakyat kurang sejahtera mayoritas disebabkan oleh krisis ekonomi yang menghimpitnya, akibatnya banyak tindak kriminal dimana-mana dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, akhir-akhir dipandang bahwa hukum di Indonesia dinilai sudah tidak adil dan tidak setara lagi. Akhirnya nilai-nilai pancasila yang luhur sebagai ideology yang terbuka tidak lagi dianggap berarti. Nilai-nilai ketuhanan pun semakin memudar dengan semakin maraknya tindak kriminal dan korupsi yang tidak mencerminkan kehidupan yang berlandaskan landasan moral dan etika.

Pada kenyataannya, tantangan utama negeri Indonesia dari generasi ke generasi (dari sejak pra kemerdekaan hingga era reformasi) belumlah berubah dari dulu hingga sekarang, yakni kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakdaulatan. Jika melihat fakta lapangan, berdasarkan data statistik, sebanyak 30,02 juta atau 12,49% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, 11,05 juta ada di perkotaan dan 18,97 juta jiwa di pedesaan.[4] Betapa permasalahan yang Indonesia hadapi kini kian pelik. Setelah mengetahui fakta ini, kemanakah sebenarnya permasalahan itu kembali? Ketidakadilan dan ketidakdaulatan itu sebenarnya kembali lagi pada nilai-nilai dasar pancasila Indonesia yang hampir oleh sebagian orang dianggap hanya sekedar sebagai simbol saja yang tak memiliki pengaruh yang berarti bagi Negara. padahal Pancasila itulah yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, berbagai suku dan beragam budaya dan agama. Sebagaimana yang Bung Karno katakan bahwa, tak mungkin Indonesia bisa bersatu tanpa dasar pancasila itu. Oleh karena itulah Nurcholis Madjid mengatakan bahwa, kita haruslah bersikap proaktif terhadap nilai-nilai pancasila, yakni usaha mengetahui dan menghayati apa sebenarnya yang dikehendaki oleh nilai-nilai luhur itu, dengan keberanian mengadakan “pengusutan” kepada keadaan sekarang. Maka disini berarti dikehendaki adanya persepsi kepada pancasila sebagai ideology terbuka dan disanalah nilai keindonesiaan. Tidak lupa disertai dengan faktor paling fundamental dan dinamis dari etika sosial yang diberikan oleh Islam, yakni egalitarianisme dalam arti semua anggota keimanan itu, tidak peduli warna kulit, ras, dan status sosial/ ekonominya, adalah partisipan yang sama dalam komunitas. Sehingga kedua prinsip dari Indonesia dan Islam ini bisa selaras dan mewujudkan Bangsa yang demokratis, adil dan makmur sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia.

Jakarta, 22 April 2012


[1] Ma’arif, Ahmad Syafi’i. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, hal. 29.

[2] Latif, Yudi. Negara Paripurna Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila, hal. 1.

[3] Madjid, Nurcholish. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, hal. 48.

[4] Dikutip dari Republika Jum’at 20 April 2012, Berubah Kinerja sekaligus Karakternya oleh Zaky al-Hamzah, hal. 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s