MUHAMMAD IQBAL : SIR MUHAMMAD IQBAL DAN GAGASAN PEMBARUAN DALAM ISLAM

By: Fithri Dzakiyyah Hafizah

Pengantar :

Kepribadian Sir Muhammad Iqbal yang luar biasalah yang membawa saya untuk menulis sebuah paper tentangnya. Sir Muhammad adalah tokoh pembaharu dari Timur (India) yang dikenal di Barat maupun Timur. Pemikirannya yang dinamis masih berbekas dan tak sirna di benak-benak para cendikia di berbagai penjuru dunia. Ia adalah contoh teladan sosok seorang pemikir yang sebenarnya.

Sebagai seorang filosof juga seorang penyair, saya melihat banyak gejolak semangat pembaruan di beberapa sajaknya. Ia mentransferkan semangat yang luar biasa membangun dan menarik para pembaca dari karya-karya yang ditulisnya. Salah satunya adalah puisinya yang judulnya saja sudah  menyiratkan ajakan kepada semua orang khususnya umat Muslim untuk bangkit, yakni Pas Cheh Bayed Kard ai Aqwam-e Sharq (Apa yang harus kita lakukan wahai Negara-negara Timur?).

Kehebatan karya-karya Iqbal menjadi jelas melalui pandangan sosial, politik dan budaya Islam. ia memang menghabiskan sebagian hidupnya di Barat untuk mengenyam pendidikan hingga selesai, hidup beberapa tahun disana, kenal dan sudah akrab betul dengan budaya, peradaban dan masyarakatnya di sana, namun ia tak terpengaruh sama sekali dari jebakannya.

Kepopulerannya memang sudah tak terelakkan lagi akan pribadi Muhammad Iqbal yang mewakili semangat seorang Muslim multi dimensional. Hal itu tergambarkan dengan usahanya yang bukan hanya mencoba untuk menjalin kembali dan merekonstruksi anggota-anggota dan dimensi-dimensi ideology Islam serta tubuh hidup Islam yang telah diceraiberaikan sebagai hasil kelicikan dan kontradiksi filosofis serta sikap-sikap sosial, dengan setiap pecahan disimpan oleh satu kelompok, dan bukan hanya menghasilkan adikarya yang berjudul  The Reconstruction of Religious Thought in Islam, tetapi adikaryanya yang terbesar adalah menyadari dengan diri utuh dan multidimensionalnya, yaitu integrasi suatu Muslim utuh di dalam sosoknya[1].

Saya mengagumi sosok beliau yang cerdas dan berkarakter. Kualitas dirinya terepresentasi dari upayanya dalam membangun kembali tanah airnya (India) juga menyerukan pada gagasan-gagasan perubahan pada semua orang agar tidak diam dalam kejumudan (statis). Ia benar-benar menerapkan apa-apa yang sudah ia pelajari dan ia dapat ke dalam kehidupan sebenarnya. Ia bukan hanya sekedar seorang filosof yang menghabiskan waktunya di perpustakaan, berkutat dengan beberapa pemikiran dan sekedar mempelajarinya saja, namun juga ikut terjun langsung ke dalam dunia sosial – politik dan berusaha untuk mewujudkan kemajuan yang signifikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Orang-orang Eropa Modern dapat berkata: “ Saya adalah seorang filosof, penulis,artis,insinyur atau ahli ekonomi. Tapi saya bukan seorang politisi. Saya tidak berpikir tentang persoalan-persoalan politik tetapi saya menyisakannya untuk para politisi”. Tetapi kolonialisasi Afrika, Asia, atau Amerika Latin tidak akan pernah dapat membuat suatu pernyataan. Ini karena di dalam kemajuan dan suatu masyarakat yang relative terdengar, politik adalah bidang khusus dari kegiatan social dan tidak perlu bagi setiap orang merasa terlibat di dalamnya. Seorang Eropa bisa merasa puas dengan hanya menjadi seorang penulis, filosof, atau ekonom yang menyerahkan urusan politik kepada para politisi, yang dia dan orang-orang lain telah memilihnya untuk tujuan ini.

Tetapi di dalam sebuah Negara yang tertindas, koloni, seseorang tidak dapat menghindari politik dan menyerahkannya kepada para ahli.  Di sini politik tidak bertanggung jawab atas administrasi Negara dan berkutat dengan persoalan-persoalan khusus tetapi ia adalah keniscayaan tujuan manusia yang genting dan vital. Di sini politik berarti menolong seseorang yang akan tenggelam, mengambil tindakan untuk memadamkan suatu lautan api, tegak berjuang melawan invasi menyeluruh, dan berjuang keras membebaskan Negara yang sekarat karena perbudakan.[2] Dan inilah yang juga merupakan upaya dari Sir Muhammad Iqbal.

Adapun dalam paper yang singkat ini saya akan menjelaskan mengenai riwayat hidup Sir Muhammad Iqbal dan juga Pemikirannya khususnya mengenai gagasannya tentang kemajuan.

BIOGRAFI

  1. 1.      Riwayat Hidup

Iqbal adalah seorang putra dari keluarga yang berlatar belakang dari sebuah kasta Brahma Kasymir. Kurang lebih tiga abad yang lalu, di masa Dinasti Moghul, Dinasti Islam terbesar yang berkuasa di India saat itu, salah seorang nenek moyang dari Iqbal masuk Islam dibawah bimbingan Syah Hamdani, seorang tokoh kaum Muslimin pada waktu itu.

Kedua orang tua Iqbal terkenal dengan kesalehan dan ketaqwaan mereka.  Ayahnya  adalah seorang sufi yang bekerja keras demi agama dan kehidupan. Konon, pada suatu ketika ia melihat Iqbal sedang membaca al-Qur’an, maka Ayahnya berkata kepadanya: “ Bila kamu ingin memahami al-Qur’an, bacalah seakan ia diturunkan kepadamu”. [3]

Selain itu, Ibu Iqbal pun terkenal dengan ketaqwaan dan kesalehannya , ia merasa tidak senang dengan memakan hasil kerja suaminya. Sebab, ayah Iqbal bekerja bersama seorang kepala yang suka menerima suap. Meski sebenarnya hasil kerja suaminya bukanlah dari bosnya itu. Ini semua timbul dari kesalehan ibunya. Ibunda Iqbal, Imam Bibi, memang dikenal sebagai seorang yang sangat religious. Ia membekali kelima anaknya, tiga putri dan dua putra, dengan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat. Dibawah bimbingan kedua orangtuanya inilah Iqbal tumbuh dan dibesarkan.[4]

Muhammad Nur, ayah Iqbal, meninggal pada 17 Agustus 1930 dalam usia sekitar seratus tahun. Pada usia delapan puluh tahun, matanya tidak bisa lagi dipergunakan, sementara itu ibunya meninggal pada 14 November 1914, dalam usia 78 tahun.

Konon dikatakan bahwa sebelum lahirnya Iqbal ke dunia, Muhammad Nur Ayahnya Iqbal bermimpi melihat burung dara putih cemerlang sedang terbang kemudian jatuh dan tinggal di kamarnya. Mimpi ini  diinterpretasikannya bahwa ia akan dikaruniai seorang putera yang terkenal. Muhammad Iqbal lahir pada 24 Dzulhijjah 1289 H/22 Februari 1873 M. Meski sebenarnya ada banyak perbedaan pendapat mengenai tahun tepatnya Muhammad Iqbal dilahirkan. Dalam buku terjemahan The Reconstruction of Religious Thought in Islam dikatakan bahwa tanggal kelahiran Muhammad Iqbal yang paling tepat adalah 9 November 1877 M.

Iqbal memulai pendidikan pada masa kanak-kanaknya pada ayahnya. Kemudian ia dimasukkan di sebuah maktab (surau) untuk belajar al-Qur’an. Setelah itu Iqbal dimasukkan di Scottish Mission School, Sialkot. Dikatakan bahwa Iqbal dimasukkan ke sekolah ini karena menginginkan agar Iqbal bisa mendapat bimbingan dari teman katribnya, Mir Hasan. Ia pada waktu itu , iaalah seorang guru dan sastra yang ahli tentang sastra Persia dan menguasai bahasa Arab. Iqbal pun pada waktu itu telah terkenal dengan kecerdasannya.

Sejak saat itu, hingga selesai belajar di Scottish Mission School, ia dibawah bimbingan Mir Hasan. Sang guru tahu akan kecerdasan dan daya imajinasinya, di samping kata dan tingkah lakunya. Karenanya, muridnya inipun benar-benar diperhatikan dan mengajari Iqbal tentang agama, bahasa Arab. Dan bahasa Persia. Selain itu, pada waktu itu ia mengetahui bakat Iqbal dalam menggubah sajak, ia memberinya dorongan, bimbingan, dan menyaraninya agar sajak-sajak itu diubah kedalam bahasa Urdu, bukannya dalam bahasa Punjab.

Di usia dewasa Iqbal  menghabiskan waktunya di kota Lahore dan kuliah di sebuah perguruan tinggi terkemuka. Sebelum masuk kuliah (1802) Iqbal dinikahkan orang tuanya dengan Karim Bibi, putri seorang dokter Gujarat yang kaya, Bahadur ‘Atta Muhammad Khan, dari bibi, Iqbal dikaruniai tiga anak, Mi’raj Begum yang wafat di usia muda, Aftab Iqbal, yang mengikuti jejak Iqbal belajar filsafat, dan salah satu lagi meninggal saat dilahirkan.

Tatkala di Eropa, Iqbal sempat menjalin persahabatan mendalam dengan seorang perempuan Muslim avant-grade bernama Atuya Begum Faizee. Namun Iqbal lebih suka memendam cintanya itu karena perbedaan latar belakang keluarga.

Pada tahun 1909, Iqbal dinikahkan dengan Sardar Begum, seorang wanita muda yang cantik namun rapuh fisiknya. Namun pernikahan tersebut tidaklah sempurna. Karena sejumlah alasan Iqbal sempat terpisah beberapa lama dengannya. Namun, pada akhirnya mereka kemudian menikah untuk kedua kalinya (1913). Sardar Begum memberikan cinta, pengabdian, dan ketenangan batin bagi Iqbal. Namun ia wafat pada usia 37 tahun. Ia meninggalkan satu putra Javid Iqbal dan seorang putri, Munirah. Rentang masa perpisah dengan Sardar Begum, Iqbal sempat menikah dengan Mukhtar Begum yang meninggal pada tahun 1924.[5]

Iqbal pun akhirnya jatuh sakit, Muhammad Iqbal terkena penyakit kencing batu, dan pada tahun 1935 ia kehilangan suaranya, pada tahun ini juga istrinya meninggal. Namun setelah dirawat oleh tabib, kondisinya pun membaik.

Akan tetapi, sakitnya mencapai puncaknya pada April 1938, dan keadaannya yang paling kritis terjadi pada tanggal 19 April 1938, dan pada tahun ini ia meninggal dunia di Lahore pada usia enam puluh tahun Masehi, satu bulan, dua puluh enam hari, atau enam puluh tiga tahun Hijri, satu bulan dua puluh Sembilan hari.[6]

  1. Pendidikan

Sejak kecil Iqbal memang sudah dididik dengan pendidikan agama yang kuat baik oleh orangtuanya maupun guru-gurunya di madrasah. Selepas  dari sekolah menengah, pada tahun 1893, Iqbal memperoleh beasiswa ke perguruan tinggi. Mir Hasan seorang professor sastra Timur di Scotch Mission College, membujuk temannya Nur Muhammad agar mengizinkan Iqbal untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Modern pertama di wilayah tersebut. Di sekolah yang didirikan para misionaris Scotlandia dan Belanda inilah semangat intelektual Iqbal mulai tumbuh. Belum lagi didikan privat Mir Hasan dalam pengetahuan kesusasteraan Arab, Urdu dan Persia, yang semakin menghidupkan bakat kepenyairan Iqbal.

Pada tahun 1895 Iqbal menyelesaikan pelajarannya di Scottish dan pergi ke Lahore. Di sini ia melanjutkan studi di Government College dan berguru kepada Sir Thomas Arnold, seorang orientalis asal Inggris yang ketika itu menjabat sebagai guru besar di Universitas Aligarh dan Government College di Lahore. Di sisnilah untuk pertamakalinya, Iqbal berkenalan dengan filsafat Barat lewat gurunya Arnold. Sebagaimana  halnya Mir Hasan di Sialkot, Sir Thomas Arnold juga melihat kecemerlangan dan kegeniusan Iqbal. Ia membekali Iqbal dengan ilmu pengetahuandan filsafat serta mendorongnya untuk lebih mendalami ilmu pengetahuan secara intens. Bahkan Arnold mendorong Iqbal untuk lebih jauh melanjutkan pendidikannya di Eropa.

Dua tokoh dari dunia yang berlainan ini, yakni Sayid Mir Hasan dari Timur dan Thomas Arnold dari Barat, telah berjasa dalam membentuk pola pemikiran Iqbal yang kritis. Ia tidak semata-mata hanya mempelajari Islam dengan kaca mata Timur, teapi juga membuka dirinya terhadap pendekatan keilmuwan dari Barat dalam menjawab berbagai permasalahan. Meskipun begitu, bukan berarti Iqbal hanyut dalam arus pola pikir dan filsafat hidup Barat yang sekuler sehingga meninggalkan tradisi keilmuwan keislamaan (Timur). Di satu sisi, Iqbal mengecam filsafat dan peradaban Barat yang kering dari agama. Namun, di sisi lain, ia juga mengkritik umat Islam yang statis, jumud dan masih bodoh.

Setelah selesai dari Government College, Iqbal menerima saran Arnold untuk belajar di Eropa. Pada tahun 1905 Iqbal pun akhirnya berangkat ke Inggris dengan membawa bekal ilmu dari dua gurunya, Mir Hasan dan Arnold. Di Inggris, ia melanjutkan program Magister di Cambridge University. Selama tiga tahun, hidup Iqbal habis untuk menyerap filsafat Barat. Ia belajar filsafat dari Taggart- Guru besar agama di Cambridge.[7]

Setelah di Cambridge, kemudian Iqbal pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi program doktoralnya. Pertama-pertama ia belajar bahasa dan filsafat Jerman di universitas Heidelberg dari Fraulent Wagnastdan Faraulein Senecal. Secara menakjubkan Iqbal berhasil menguasai bahasa Jerman dalam jangka waktu tiga bulan. Kemudian dia belajar di Fakultas Filsafat Universitas Ludwig-Maximilians, Munich. Di bawah bimbimngan Friedrich Hommel, Iqbal menyelesaikan disertasi doktornya yang berjudul “The Development of Metaphysics in Persia”. Gelar dictoris philosophiae gradum pada tahun yang sama.

Setelah menyelesaikan program doktornya, Iqbal kembali ke kota Lodon pada tahun itu juga. Di London, Iqbal kembali bertemu lagi dengan gurunya Sir Thomas Arnold. Di sisnilah disertasinya dipublikasikan dan dipersembahkannya kepada Arnold sebagai tanda rasa hormat dan rasa terima kasihnya kepada sang guru.

Karena factor usia, Arnold yang saat itu menjadi guru besar di London University istirahat dari jabatannya dan digantikan oleh Iqbal. Disana, Iqbal diangkat menjadi guru besar bahasa Arab di Universitas London dan enam bulan kemudian dia dipercaya menjadi Ketua jurusan Filsafat dan keusastraan Inggris. Disamping mengajar , di London Iqbal juga mempelajari hukum, dan lulus sebagai advokat. Dan pada tahun yang sama (1908) ia diterima sebagai pengacara oleh Lincoln Inn, dan pemikirannya yang sudah memperlihatkan penguasaan atas ide-ide filsafat pada saat itu sangat menyingkapkan kemampuanya untuk menguasai persoalan-persoalan hukum.

  1. Karir dan Posisi

Iqbal tinggal di Eropa kurang lebih selama 3 tahun. Kemudian ia kembali ke tanah airnya pada tahun 1908. Pada Juni 1908, Iqbal sampai di Lahore. Kedatangannya disambut oleh banyak warga kota setelah kepergiannya selama 3 tahun. Berbagai pertemuan diadakan untuk menyambut kembalinya seorang tokoh yang untuk beberapa lama menghilang dari kalangan para sahabat dan pengagumnya. [8]

Di negerinya ini ia menjalankan profesinya sebagai pengacara, guru besar di universitas dan penyair sekaligus. Dengan pengetahuan hukum dan gelar yang ia peroleh di bidang itu selama di London, di Lahore ia praktek sebagai advokat. Profesi ini ia jabat hingga tahun 1934, empat tahun sebelum ia meninggal dunia. Sebab, sakit yang menimpa Iqbal memaksanya untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.

Sekembalinya dari Eropa, Iqbal kembali mengajar di Government College, tempat di mana sebelumnya ia menyelesaikan kuliahnya di sana. Di sini, ia memberi kuliah mengenai filsafat, sastra Arab, dan sastra Inggris. Pekerjaannya di sini berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun. Dalam hal advokat, meskipun ia telah mengundurkan diri dari Government College, namun hubungannya dengan Government College tidak pernah terputus. Ia tetap duduk dalam pelbagai lembaga dan badan yang ada di situ. Selama beberapa tahun ia menjabat Dekan Fakultas Kajian-Kajian Ketimuran dan Ketua jurusan Kajian-kajian Filosofis.

Selain itu ia selalu berhubungan dengan Islamic College, Lahore. Ia juga selalu menaruh perhatian terhadap Universitas Milla, Lahore.

Pada tahun 1922, datang seorang wartawan Inggris, yang sedang mengelilingi dunia Timur, ke Lahore. Ia, telah mendengar ketenaran karya sastra Iqbal, baik di Eropa maupun di negeri-negeri Timur. Ia pun kemudian memberi saran kepada pemerintahnya untuk memberi gelar Sir kepada  penyair besar itu. Maka Iqbal pun mendapat undangan undangan penguasa Inggris di Punjab untuk pertama kalinya. Salah seorang sahabatnya, Mirza Jalaluddin, menuturkan bahwa Iqbal pertama-pertama menolak undangan itu dan sahabatnya itulah yang mendorongnya untuk datang ke gedung penguasa itu dengan keretanya. Di sana, ia ditawari dengan berbagai gelar yang lebih rendah daripada Sir, namun ia tolak. Kemudian ia ditawari gelar Sir, namun ia tolak juga. Akan tetapi salah seorang sahabatnya, Sir Zulfikar Ali Khan, meminta dengan sangat padanya agar gelarnya itu diterima. Akhirnya ia mau menerima gelar tersebut dengan syarat hendaknya gurunya yang ahli tentang sastra Arab dn sastra Persia, yaitu Mir Hasan, diberikan gelar Syams al-Ulama. Meski gurunya tidak terlalu dikenal orang banyak untuk diberi gelar tersebut, namun Iqbal bersikeras dengan syarat yang ia ajukan, hingga akhirnya diterima oleh penguasa Inggris.

Singkatnya, Pada tahun 1926, Iqbal mulai aktif dalam politik dan membuat konsep pendirian Negara Islam Pakistan. Pada 1927, Iqbal duduk di DPR Punjab dan setahun kemudian menjadi Ketua Liga Muslimin. Dalam konferensi Meja Bundar, ia menjadi anggota-anggota dalam komisi-komisi yang meneliti tentang masalah perbaikan pendidikan di India. Dan pada tahun 1933, ia bersama Syaikh Sulaiman al-Nadavi , dan Sir Ras Masood diundang ke Kabul, untuk meninjau pendidikan di sana pada umumnya, dan mwninjau system pendidikan tinggi di Kabul pada khususnya. Banyak saran-saran mereka yang dilaksanakan  oleh  pemerintah Afghanistan.

  1. Karya-karya

Sumbangan terbesar Iqbal di bidang pendidikan dan pengajaran ialah filsafat kepribadiannya. Ini ia terapkan pada pendidikan, pengajaran, dan seni dalam kebanyakan sajak-sajaknya. Mengenai filsafat pendidikan menurut Iqbal, ini telah diuraikan oleh Prof. K. G. Sayidain dalam karyanya Iqbal’s Educational Philosophy.[9]

Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemikir, Iqbal banyak menulis puisi-puisi yang menyentuh dan menggerakkan emosional umat Islam untuk bangkit dari keterbelakangan dan kebodohan mereka. Selain itu Iqbal dikenal sangat kreatif dan sangat produktif dalam melahirkan gagasan-gagasannya tentang berbagai bidang, seperti sosial, politik, budaya, hukum dan pemikiran Islam. Dalam menuangkan gagasannya, Iqbal banyak menggunakan bahasa Urdu, Persia dan Bahasa Inggris. Dalam hal puisi, di antara 12.000 puisi yang telah ditulisnya, ada sekitar 7.000 puisi yang oleh Iqbal tulis dalam bahasa Parsi.

Sekembalinya ke Tanah airnya, Pada masa Pakistan ini, belasan buku telah dihasilkan Iqbal. Tulisan pertamanya adalah Stray Reflection, yang mulai ditulisnya pada 27 April 1910. Buku ini merupakan catatan-catatan lepas tentang hal-hal yang dilihat dan dialaminya. Namun penulisan buku ini terhenti karena alasan yang tidak pasti. Lima tahun kemudian, Pada 1915, Iqbal menerbitkan kumpulan puisinya dengan judul Asrar-e-Khudi (Rahasia Jiwa) dalam bahsa Parsi. Puisi ini berisi tentang konsep ego dan tekanan jiwa dari sebuah agama dan pandangan spiritual.

Kemudian, berturut-turut Iqbal menulis Rumuz-e-Bekhudi (Isyarat tidak ego (1918)), Asrar-e-Rumuz (isyarat rahasia), Payam-e-Mashriq (Pesan dari Timur (1923)), Zabur-e-Ajam (Mazmur Persia (1927)), Gulshan-e-Raz-e-Jadeed (Rahasia baru hutan), Bandagi Nama (buku perbudakan), Javed Namah (buku Javed (1923)).

Adapun puisi yang ditulis Iqbal dalam bahasa Urdu antara lain, Bang-e-Dara (Panggilan Lonceng (1924)), Tarana-e-Hind (Lagu India), Tarana-e-Milli (lagu nasional komunitas Muslim), Tulu’i Islam (Kemunculan Islam), Khizr-e-Rah (Jalanan panduan), The Bal-e-Jibril (sayap-sayap Jibril (1935)), Pas Cheh Bayed Kard ai Aqwam-e Sharq (Apa yang harus kita lakukan wahai Negara-negara Timur? (1936)), Musafir (penjelajah (1933)), karya terakhirnya adalah Armughan-e-Hijaz (Hadiah dari Hijaz (1938)) yang diterbitkan beberapa bulan setelah Iqal wafat.

Setelah disertasi doktoralnya, buku kedua Iqbal yang ditulis dalam bahasa Inggris adalah The Reconstruction of Religious Thoughts in Islam. buku ini adalah kumpulan  enam kuliah yang disampaikan oleh Iqbal di Madras, Hyderabad, dan Aligarh. Buku ini pertama kali diterbitkan di Lahore pada 1930. Di dalam buku ini, Iqbal menyatakan bahwa Islam adalah agama, politik, dan filsafat. Iqbal menolak praktik politik yang dilakukan oleh politisi Muslim yang tidak bermoral, tersesat, mementingkan kekuasaan, dan tidak mau berdiri bersama masyarakat Muslim. [10]

PEMIKIRAN IQBAL

Gagasan Kemajuan: Prinsip Pergerakan dalam Struktul Islam

Muhammad Iqbal dikenal luas sebagai Bapak Spiritual Pakistan. Pidato kepresidenannya di Liga Muslim pada tahun 1930, telah membatu meluncurkan gerakan yang bertujuan untuk membagi Asia Selatan jajahan Inggris ke dalam dua Negara, Pakistan-Muslim dan India-Hindu yang sama-sama berdaulat. Di dunia politik, Iqbal dikenal juga sebagai “Kekuatan penggerak modernism Islam di Asia Selatan. Iqbal mekancarkan kritik tajam terhadap kekakuan penafsiran keagamaan tradisional dan menyerukan suatu penekanan baru terhadap konsep pergerakan dalam penafsiran Islam.

Sebagai sebuah pergerakan cultural, Islam pada dasarnya menolak pandangan lama yang statis tentang alam semesta. Sebagai agama yang penuh dengan sikap toleransi yang tinggi yang bersifat menyatukan, Islam menghargai individu sebagaimana mestinya, dan menolak hubungan-darah sebagai aspek dasar dari persatuan manusia.

Iqbal mencontohkan salah satu contoh yang kontras dari pandangan Islam tadi. Agama Kristen yang sejak awalnya muncul sebagai tatanan yang monastic (gerejawi) telah dicoba oleh Konstantin (Kaisar Romawi, memerintah pada tahun 306-337) sebagai suatu sistem penyatuan. Kegagalan agama Kristen untuk berfungsi sebagai sistem tesebut mendorong Kaisar Julian (memerintah tahun 361-363) untuk kembali pada dewa-dewa lama Romawi yang ia coba berikan penafsiran-penafsiran filosofis. Seorang sejarawan modern tentang peradaban telah menggambarkan keadaan dunia yang beradab ketika Islam muncul dalam panggung sejarah.

Dan sebagai hasilnya, ternyata peradaban besar yang telah dibangun selama empat ribu tahun itu sudah mendekati kehancurannya, dan umat manusia sepertinya akan kembali kepada keadaan barbarian di mana setiap suku dan kelompok saling menyerang, dan hukum serta peraturan sudah tak dikenal. Aturan-aturan kesukuan lama pun sudah tak ada pengaruhnya lagi. Oleh karena itu, cara-cara kekaisaran lama tidak akan dapat berjalan lebih lama lagi. Aturan-aturan baru yang dibuat oleh Kristen telah menimbulkan perpecahan dan kehancuran yang menggantikan persatuan dan keteraturan. Maka, masih adakah kebudayaan yang dapat digunakan untuk menghantarkan manusia sekali lagi kepada persatuan dan untuk menyelamatkan peradaban? Menurut Iqbal, kebudayaan itu harus merupakan sesuatu yang baru, sebab aturan-aturan dan tata cara yang lama telah mati, dan untuk membangun kembali yang lain dari jenis yang sama akan meupakan pekerjaan yang akan memakan waktu berabad-abad. Iqbal menambahkan bahwa dunia ini sedang membutuhkan sebuah kebudayaan baru untuk mengambil alih tempat sebagai budaya kekaisaran dan sistem penyatuan yang didasarkan pada pertalian darah. Kehidupan dunia secara intuitif telah mengetahui kebutuhannya sendiri, dan pada situasi kritis menentukan arahnya sendiri.

Islam, sebagai sebuah Negara, menurut Iqbal, hanyalah suatu sarana praktis dalam menjadikan prinsip ini sebagai factor yang hidup di dalam kehidupan intrlrktual dan emosional manusia, Islam menuntut kesetiaan kepada Tuhan, bukan kepada kaisar. Karena Tuhan menjadi basis spiritual yang hakiki bagi semua kehidupan, kesetiaan kepada Tuhan sebenarnya sama dengan kesetiaan manusia kepada cota alaminya sendiri. Basis spiritual yang hakiki bagi semua kehidupan, sebagaimana dijelaskan dalam Islam, adalah abadi dan menyatakan dirinya dalam keragaman dan perubahan. Suatu masyarakat yang didasarkan konsepsi tentang realitas seperti itu harus menggabungkan, dalam kehidupannya, kategori-kategori yang tetap dan berubah. Masyarakat itu harus memiliki prinsip-prinsip abadi untuk mengatur kehidupan kolektifnya;  karena keabadian itu member kita pijakan dalam dunia yang terus berubah. Akan tetapi, prinsip-prinsip yang abadi ketika dipahami untuk meniadakan semua kemungkinan perubahan, yang menurut al-Qur’an termasuk “tanda-tanda” terbesar dari Tuhan, cenderung untuk menghentikan apa yang pada esensinya bergerak secara alamiah. Kegagalan Eropa dalam ilmi-ilmu politik dan sosial mengilustrasikan prinsip yang pertama; kemandegan Islam selama 500 tahun terakhir melukiskan prinsip yang berikutnya. Jadi apakah prinsip pergerakan dalam Islam? Inilah yang dalam literature Islam dikenal sebagai ijtihad.

Kata ijtihad secara literal “mengerahkan kemampuan”. Dalam terminology hukum Islam ia berarti mengerahkan segala kemampuan dengan tujuan menghasilkan suatu penilaian yang independen dalam suatu masalah hukum. Muhammad Iqbal meyakini hal tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an yang artinya, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan Kami”. (Q.S. 29:69). Secara leih definitive digambarkan dalam sebuah hadits Nabi. Ketika Mu’adz (Ibn Jabal, wafat 627) dipilih sebagai pejabat di Yaman, diceritakan bahwa Nabi bertanya kepadanya  tentang bagaimana ia akan memutuskan perkara-perkara yang dihadapinya, “Saya akan memutuskan perkara itu berdasarkan Kitab Allah,” Kata Mu’adz. “Tetapi, jika dalam Kitab Allah tidak terdapat petunjuk bagimu?” “Maka aku akan berbuat berdasarkan contoh dari hadis-hadis Rasulullah.” “Tetapi, jika dalam hadis-hadis juga tidak ditemukan?” “Maka aku akan berusaha membuat penilaian sendiri.”

Kini Muhammad Iqbal kembali bertanya, “Apakah Hukum Islam mampu berevolusi?”

Hukum Islam tentunya selalu dikaitkan dengan al-Qur’an sebagai dasar sumber hukum utama dalam agama Islam. Iqbal  menjelaskan bahwa, ya, sumber utama hukum Islam adalah al-Qur’an. Akan tetapi, menurutnya, al-Qur’an bukanlah kitab undag-undang. Tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan kesadaran manusia lebih tinggi tentang hubungannya dengan Tuhan dan Alam. Tidak diragukan bahwa al-Qur’an telah meletakkan beberapa acuan prinsip dan aturan umum, khususnya yang berhubungan dengan keluarga sebagai basis kehidupan sosial. Akan tetapi, mengapa aturan-aturan tersebut dijadokan bagian dari pewahyuan tentang tujuan akhir kehidupan manusia yang lebih tinggi?

Maka, hal penting yang harus dicatat berkaitan dengan hal ini, bagaimanapun juga, adalah pandangan al-Qur’an yang dinamis. Adalah jelas bahwa dengan cara pandang demikian, Kitab suci agama Islam itu tidak dapat bermusuhan dengan gagasan evolusi. Hanya saja, kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan itu tidak berubah, tetapi tetap murni dan sederhana. Ia juga mengharuskan adanya konservasi terhadap elemen-elemennya. Sambil menikmati aktivitas kreatifnya dan selalu berusaha untuk memusatkan energy-energinya untuk menemukan pandangan hidup baru, manusia memiliki suatu perasaan yang tidak mudah untuk menampilkan pengungkapannya sendiri. Dalam gerak majunya, ia tidak dapat menolak untuk melihat ke masa lalunya, dan menghadapi ekspansi batinnya sendiri dengan perasaan takut yang memuncak pada batas-batas tertentu. Spirit manusia dalam gerak majunya akan ditahan oleh kekuatan-kekuatan yang tampak berhadap-hadapan secara langsung. Ini hanyalah cara lain untuk mengatakanbahwa kehidupan bergerak dengan beban masa lalunya di belakangnya, dan bahwa menurut pandangan sosial manapun, nilai dan fungsi kekuatan-kekuatan konservativisme tidak dapat dihilangkan begitu saja. Dengan pandangan organic ke dalam esensi ajaran al-Qur’an, rasionalisme modern harus mendekati institusi-institusi kita yang ada. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak masa lalu mereka seluruhnya, karena masa lalu itulah yang telah membentuk identitas pribadi mereka; dan dalam sebuah masyarakat seperti Islam, masalah revisi  institusi-institusi lama masih tetap sulit dilakukan, dan tanggung jawab pembaru melingkupi aspek-aspek yang jauh lebih serius. Islam itu non-teritorial dalam karakternya, dan tujuannya adalah untuk memberikan model bagi semua kombinasi akhir kemanusiaan, dengan menarik penganut dari berbagai macam ras yang saling bertentangan dan kemudian mentransformasikan gagasan utama ini kepada orang yang memiliki kesadaran diri. Ini adalah tugas yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Belum lagi Islam, dengan makna institusinya yang dipahami dengan baik, telah sangat berhasil menciptakann semacam keinginan dan kesadaran kolektif dalam masyarakat yang heterogen ini. Dalam evolusi masyarakat yang demikian, bahkan aturan-aturan yang berhubungan dengan makan dan minum, kesucian dan kotoran, memiliki nilai kehidupan, sebagaimana ia bertujuan untuk memberikan kepada masyarakat tersebut kehidupan batin yang spesifik, dan selanjutnya mematikan keseragaman eksternal dan interal yang menghalangi kekuatan-kekuatan keberagaman yang selalu tersembunyi dalam masyarakat. Pengkritik institusi-institusi ini dengan demikian harus mencoba untuk menjaga, sebelum ia mulai untuk menanganinya, pandangan yang jernih kepada kepentingan terakhir dari eksperimen sosial yang dikemas dalam Islam. Ia harus melihat struktur mereka, tidak dari sudut pandang menguntungkan atau tidak menguntungkan secara sosial bagi Negara ini atau itu, tetapi dari sudut pandang tujuan yang lebih besar yang secara gradual berlaku dalam kehidupan manusia secara keseluruhan.

Untuk itu Iqbal menyimpulkan bahwa baik dalam prinsip-prinsip dasar maupun dalam struktur sistem-sistem kita, sebagaimana kita jumpai sekarang, tidak ada sesuatupun untuk membenarkan sikap kita sekarang. Dilengkapi dengan pemikiran yang tersebar dan pengalaman yang segar, dunia Islam harus berani meneruskan upaya rekonstruksi para pendahulu mereka. Upaya rekonstruksi ini, bagaimanapun, memiliki aspek-aspek yang jauh lebih serius daripada sekadar penyesuaian diri dengan kondisi-kondisi kehidupan modern. Umat islam, di sisi lain, dikuasai ole hide-ide pokok yang berdasarkan pewahyuan, yang berbicara dari kedalaman-kedalaman kehidupan tertinggi, yang menyusupkan penampakan eksternalnya. Dengannya, basis spiritual kehidupan adalah masalah keyakinan, yang dengannya bahkan orang yang paling tidak tercerahkan sekalipun dapat menjalani hidupnya; dan karena ide dasar Islam bahwa tidak mungkin ada lagi wahyu berikutnya yang mengikat manusia, secara spiritual kita harus menjadi salah satu dari kaum yang paling merdeka di dunia. Umat Islam awal yang muncul dari perbudakan spiritual Asia pra Islam, tidak siap untuk menyadari signifikasi dari ide dasar ini. Biarlah umat Islam sekarang mengapresiasi keadaannya, merekonstruksi kehidupan sosialnya berdasarkan prinsip-prinsip tertinggi, dan mengembangkannya untuk tidak hanya sampai pada pencapaian parsial tujuan Islam, dimana demokrasi spiritual merupakan tujuan tertinggi Islam.[11]

PENUTUP

Kesimpulan

Pada kesimpulannya, Sir Muhammad Iqbal menyerukan pada seluruh umat manusia untuk bangkit dan tidak bertahan dalam situasi yang statis dan selalu konservatif. Bagaimanapun, meski tidak dinafikan juga bahwa kita harus memegang beberapa pandangan konservatif dalam Islam sebagai petunjuk dan pandangan hidup. Akan tetapi, bukan berarti al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam terkesan menjadi suatu pencegah untuk mewujudkan sebuah evolusi akibat berelasi dengan peristiwa-peristiwa masa lalu. Kita haruslah dinamis, sebagaimana hukum dalam al-Qur’an sendiri memiliki sifat kelenturan sesuai dengan konteks perubahan zaman. Karena tujuan utama kita pada akhirnya tetaplah berujung pada pendirian suatu Negara yang berbasiskan demokrasi spiritual.

Pemikiran Muhammad Iqbal masih memiliki pengaruh dan masih dikaji baik di negeri Barat maupun Timur. Sebagai contoh, saya mengutip salah satu bukti mengenai pengaruh pemikiran Iqbal terhadap perkembangan di Indonesia. Dikatakan bahwa kajian yang serius terhadap pemikiran Iqbal adalah setelah penerjemahan buku Asrar-I Khudi, 1950-an. Kemudian kajian tersebut semakin intens ketika Osman Raliby menerjemahkan karya Iqbal The Reconstruction of Religious Thought in Islam pada tahun 1966. Di sinilah pemikiran Iqbal mempunyai gema dalam arus pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Salah satu tokoh Indonesia yang terpengaruh adalah Ahmad Syafi’i Ma’arif yang mengambil concern terhadap masalah-masalah manusia yang juga merupakan sumber kegelisahan intelektual Iqbal. Pengembangan gagasan Iqbal oleh Ma’arif terlihat dalam usahanya untuk  membedakan antara Islam sejarah (Historic Islam) dan Islam cita-cita (Ideal Islam). Pada akhir kata, saya sepakat dengan konsep pemikiran Muhammad Iqbal, bahwa Islam itu dinamis dan begitu pula kita. Kita pun harus berpikir dan bergerak secara dinamis demi merekonstruksi kembali bangsa kita ke dalam sebuah sistem kehidupan dan pandangan dunia yang lebih baik.

***

 

 

BIBLIOGRAFI

Aldian, Dony Gahral. Muhammad Iqbal. 2003. Jakarta : Teraju.

‘Azzam, ‘Abdul Wahhab. Filsafat dan Puisi Iqbal. 1954. Bandung : Pustaka.

Haryadi, Andi. Iqbal dalam Pandangan Para Pemikir Syi’ah. 2003. Jakarta : Islamic Center Jakarta.

Iqbal, Muhammad. Rekonstruksi Pemikiran Islam. 1994. Penerbit : Kalam Mulia.

Kurzman, Charles. Wacana Islam Liberal. 2003. Jakarta : Paramadina.

Riswanto, Arif Munandar. Buku Pintar Islam. 2010. Bandung : Mizan.

 

 


[1] Haryadi, Andi (penerj). Iqbal dalam Pandangan Para Pemikir Syi’ah. Hal. 74

[2] Haryadi, Andi (penerj). Iqbal dalam Pandangan Para Pemikir Syi’ah. Hal. 78

[3] ‘Azzam, ‘Abdul Wahhab. Filsafat dan Puisi Iqbal. Hal. 13

[4] Aldian, Dony Gahral. Muhammad Iqbal. Hal. 24

[5] Aldian, Dony Gahral. Muhammad Iqbal. Hal. 26-27

[6] Hal. 40

[7] Iqbal, Muhammad. Rekonstruksi Pemikiran Islam. Page.45-46

[8] ‘Abdul Wahhab. Filsafat dan Puisi Iqbal, Hal.26

[9] , ‘Abdul Wahhab. Filsafat dan Puisi Iqbal. Hal.28

[10] Riswanto, Arif Munandar. Buku Pintar Islam. Hal. 387

[11] Lihat Kurzman, Charles (editor). Wacana Islam Liberal, (Muhammad Iqbal: Prinsip Pergerakan dalam struktur Islam (2003)), Hal. 427

One thought on “MUHAMMAD IQBAL : SIR MUHAMMAD IQBAL DAN GAGASAN PEMBARUAN DALAM ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s