Meningkatkan Budaya Membaca dengan Optimalisasi Perpustakaan Kampus

Barangkali kata-kata bijak seperti “ Buku adalah Jendela Dunia” bukan lagi merupakan senjata ampuh dalam memancing daya tarik para pelajar khususnya mahasiswa untuk menyibukkan dirinya dalam aktivitas membaca buku. Tidak ada yang salah dengan kata-kata itu, semua orang pun pasti sudah mengetahui bahwa buku itu mengandung segudang pengetahuan di dalamnya. Akan tetapi realita yang kita lihat saat ini menunjukkan bahwa tingkat intensitas membaca para pelajar khususnya mahasiswa di Indonesia bisa dikatakan rendah.

Mahasiswa kini seakan-akan sudah bebal akan jejalan teori-teori berkaitan dengan aktivitas membaca buku utamanya di perpustakaan. Dengan hadirnya mesin pencari pada jaringan internet di masa kini, misalnya Google, mengakibatkan mayoritas pelajar dan mahasiswa memilih tindakan fleksibel dan instan dibandingkan bepergian ke perpustakaan umum atau pun perpustakaan yang ada di kampus mereka masing-masing. Budaya yang kini menjadi candu bagi para pelajar dan mahasiswa adalah budaya meng-copy paste. Sedangkan budaya membaca buku nampak semakin rendah sebagai dampak dari semakin luasnya media online atau jejaring sosial.

Maka dari sini kita dapat mengambil benang merah, bahwa sebenarnya masalah itu muncul dari main set para pelajar itu sendiri. Mereka yang berpikir bahwa membaca di perpustakaan itu sama saja dengan membuang-buang waktu dan juga membosankan karena harus membaca banyak tulisan, harus diubah kepada main set yang baru mengenai keutamaan membaca dan manfaatnya. Tidak mudah memang. Namun bagaimanapun, jalan yang terbaik adalah dengan cara memulainya dari diri sendiri dan dari sekarang. Jalan lainnya adalah dengan cara lebih mengoptimalkan perpustakaan sebagai pusat kehidupan kampus atas segala sumber wawasan dan pengetahuan. Karena berbagai macam buku dan referensi berasal dari tempat itu. Pengajar atau dosen pun ikut mengambil peran penting dalam mempengaruhi mahasiswa untuk meningkatkan budaya membaca di kampus.

Perlu diketahui bahwa, masyarakat pembaca itu merupakan komunitas pelajar yang siap menyongsong kemajuan. Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa “Seorang Pemimpin yang baik adalah Seorang Pembaca (A good leader is a good reader).” Karena kualitas seorang pemimpin umumnya ditentukan oleh tingkat intelektualitasnya. Sementara itu, salah satu indikator dari tingkat intelektualitas seseorang adalah dengan banyaknya membaca.

By: Fithri Dzakiyyah. H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s