FENOMENA ISLAM DAN KEMANUSIAAN DI INDONESIA

Agama, pada umunya, dikenal penting dan tidak bisa lepas dari manusia karena fungsinya sebagai petunjuk dan pembimbing manusia kepada tujuan akhirnya, yakni kebahagiaan. Secara garis besar, tentu kita sudah mengenal beberapa agama-agama besar di dunia seperti, Hindu, Buddha, Yahudi, Zoroastria, Kong Hu Chu, Kristen dan Islam. Jika kita telaah kembali sejarah tentang peradaban manusia di dunia, maka kita akan menemukan catatan-catatan peristiwa besar mengenai kemunculan agama-agama tersebut pada zamannya masing-masing. Contoh kecilnya kita bisa telaah kembali mengenai sejarah peradaban di  Indonesia. Di bumi Nusantara ini, kita mengenal beragam budaya dan tradisi pada setiap daerahnya. Kekayaan kultur ini tidak lain memiliki hubungan erat dengan sejarah agama yang dianut penduduk Indonesia  pada zaman praIslam dahulu. Dengan melihat kekayaan budaya dan tradisi Islam di kalangan Muslim Indonesia saat ini, jelas mengindikasikan bahwa dahulu saat pertama kali datang, Islam mampu menyebar luas di Indonesia karena kemampuan para muballighnya yang berhasil menggabungkan budaya-budaya Indonesia yang berbau mistis kedalam budaya-budaya yang Islamis. Sebagaimana yang diketahui bahwa sebelum Islam, para penduduk Indonesia mayoritas adalah peganut agama Hindu. Hal ini jelas terbukti dengan beberapa peninggalan budaya yang masih terawat dengan baik hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah candi Borobudur dan candi Prambanan. Adapun setelah Islam mulai menyebar di wilayah Indonesia dan setelah beberapa kerajaan Islam didirikan, agama Kristen pun datang dan menyebar melalui jalan Imperialisme Barat, yakni Kolonialisme Belanda. Meskipun pada akhirnya, kemerdekaan mampu diraih kembali berkat jasa para pejuang-pejuang yang sebagian besar dari mereka adalah muslim dan para tokoh-tokoh pembaharu Islam di Indonesia. Hal ini menjadi suatu bahan untuk ditelaah lebih lanjut mengenai hubungan antara Islam dan manusia sebagai penganutnya yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan.

Kini agama Islam di Indonesia masih bertahan hingga sekarang dan bahkan menjadi agama yang paling banyak dianut oleh penduduknya. Hal ini ditandai dengan adalanya Majelis Ulama Indonesia di Pemerintahan Indonesia dan beberapa  gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi Islam yang kian banyak didirikan. Di sisi lain, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Indonesia saat ini dikenal sebagai Negara demokrasi yang memiliki  prinsip-prinsip egalitarian dalam semboyannya juga dasar negaranya yakni pancasila. Walaupun pada kenyataannya Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara di Asia dengan penduduk Muslim terbanyak, namun hal ini tidak menghalangi agama-agama besar lain dan para penganut dari agama lain untuk ikut eksis di dalamnya. Akan tetapi, ada warna yang berbeda mengenai Islam di Indonesia sekarang ini dengan Islam di Indonesia saat pertama kali menyebar dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa salah satu faktor diterimanya Islam di Indonesia adalah bahwa Islam itu agama yang bersifat portable dan tidak menekan ataupun mengekang penganutnya. Berbeda dengan paham animisme yang kebanyakan dianut oleh masyarakat Indonesia sebelumnya yang meyakini bahwa dewa-dewa itu berbeda-beda di setiap tempat yang kita singgahi. Setiap tempat itu memiliki dewanya masing-masing dan itu cukup menyulitkan karena sang penganut animisme tersebut menemukan kesulitan jika ia harus keluar dari wilayahnya sendiri, dikarenakan ia takut kehilangan perlindungan dari Dewanya. Sedangkan di dalam Islam hanya ada satu Tuhan dan Ia akan selalu ada dan melindungi hambanya kapanpun dan dimanapun ia berada. Selain itu, Islam yang juga memiliki corak mistis mampu berbaur dengan budaya Indonesia yang memiliki kesamaan corak mistis dari agama yang dianut sebelumnya. Nilai-nilai keislaman pun akhirnya mampu menyatu dengan budaya dan tradisi Indonesia yang masih dilestarikan hingga sekarang. Secara implisit, hal itu menggambarkan bahwa Islam itu adalah agama yang memiliki nilai-nilai universal yang bisa dianut oleh kalangan manapun dan tidak membatasi. Islam adalah agama yang toleran dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan manusia di beberapa belahan dunia yang berbeda-beda. Artinya Islam itu tidak saklek, rigid (kaku) atau pun berbelit-belit, juga tidak statis. Nilai-nilai universal yang terkandung pada Islam itulah yang mempermudah berbagai persoalan menyangkut kehidupan manusia. Bukannya mempersulit.

Kini banyak tragedi yang terjadi di Indonesia yang berbau kekerasan, anarkisme dan radikal yang mengatasnamakan jihad ataupun membela Islam. Beberapa kasus itu terjadi dengan dalih untuk memusnahkan kesesatan yang ada di Indonesia agar kembali kepada syari’ah, yakni kitab suci al-Qur’an dan Hadits. Ironisnya, tindak anarkisme dan kekerasan itu dilakukan kepada sesama Muslim yang ada di Indonesia. Peristiwa itu terjadi karena alasan perbedaan pemahaman Islam yang dianggap tidak biasa, tidak sama, berbeda dan tidak bisa diterima. Sebagai beberapa contohnya adalah penyerangan pada golongan Ahmadiyyah, golongan Syi’ah di Sampang Madura atau pun penyerangan ke kantor JIL (Jaringan Islam Liberal) di Indonesia. Semua ini membuat benak setiap orang bertanya-tanya. Inikah Islam itu? Dengan seperti inikah cara Islam mengajarkan ajaran kebenarannya? Dan benarkah perbuatan semacam ini adalah perbuatan yang Islami?

Islam secara etimologinya saja berarti “Keselamatan”. Berakar dari kata Bahasa Arab, yakni Aslama-Yuslimu-Islaaman. Sedangkan dalam bukunya Agama-agama Besar Dunia (Great Religion Worlds), Ulfat Aziz-us-Samad mengatakan bahwa arti Islam itu adalah Penyerahan Diri kepada Kehendak Ilahi, yang arti ini sangat penting sebagai salah satu gambaran dari tujuan agama Islam itu sendiri yakni “perdamaian”. Perdamaian ini akan terwujud dengan keselarasan antara ruh manusia dengan Ilahi dan kemauan baik di antara sesama manusia.[1] Sementara, manusia dalam pandangan Islam adalah mahluk bebas yang memiliki tugas dan tanggung jawab. Itu artinya manusia itu memiliki hak dan kewajiban. Karena kebebasan menjadi elemen yang terpenting dalam ajaran Islam, maka Islam memberikan jaminan bagi manusia agar terhindar dari berbagai tekanan baik dalam masalah agama, politik, maupun ideology. Selain itu, Islam juga mengajarkan prinsip toleransi dalam hal kebebasan. Yakni, dengan kebebasan bukan berarti juga bahwa manusia bisa berlaku seenaknya saja. Akan tetapi, justru dari prinsip itulah manusia akan belajar dan memahami bahwa di dalam kebebasan itu terkandung hak dan kepentingan orang lain yang harus dihormati. Karena di dalam Islam, penghormatan kepada sesama manusia adalah sama. Dan persamaan inilah yang menjadi manifestasi kemuliaan wujud manusia yang manusiawi.[2]

By: Fithri Dzakiyyah Hafizah


[1] Us-Samad, Aziz. Agama-agama Besar Dunia (Great Religion Worlds), BAB. IX, pdf.

[2] Yefrizawati, Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Hukum Islam, hal. 3. Pdf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s