Contoh Proposal Library Research

Strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Aceh di Zaman Kolonialisme Belanda

Kajian terhadap karya Snouck Hurgronje “The Achehnese

Fithri Dzakiyyah Hafizah

BAB I:  PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Salah seorang tokoh  yang namanya dikenal kontroversial dalam sejarah Indonesia dengan berbagai julukan yang disematkan padanya adalah Christian Snouck Hurgronje, yang digambarkan sebagai petualang oportunis, seorang poligamis dan mata-mata yang cerdik atau seorang guru besar agama dan budaya Islam yang juga terkenal di Universitas tempatnya belajar dan mengajar-Universitas Leiden.[1] Karena keluasan pengetahuannya mengenai Islam, ia pernah mendapatkan beberapa julukan diantaranya Mufti Batavia, Mufti Hindia Belanda dan Syaikhul Islam Jawa.[2] Bagi Universitas Leiden, sosok Snouck Hurgronje merupakan nama kebanggaan. Karena sarjana Belanda tersebut telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan Islam, bukan hanya untuk universitas tetapi juga untuk Belanda yang banyak mendapatkan manfaat dari beberapa penelitian Snouck untuk tujuan-tujuan penetrasi politiknya di Hindia-Belanda.[3]

Hurgronje memang menekuni Islam; ia bukan saja memeluk Islam, tapi ia juga berkhitan, sholat, puasa, membayar zakat, bahkan menunaikan ibadah haji. Nama lain yang ia miliki setelah ia masuk Islam adalah Abd al-Gaffar.[4] Namun Paul van’t Veer (1969) mengatakan bahwa Snouck Hurgronje bukanlah merupakan seorang ahli ilmu pengetahuan, melainkan hanya seorang mata-mata. Ketika ia menyamar sebagai seorang Muslim, mengadakan penelitian di Jeddah dan Mekkah (1884-1885), pengetahuan Snouck Hurgronje itu kemudian digunakan sebagai landasan politik pemerintah Hindia Belanda menindas pergerakan kebangsaan Indonesia yang sebagian besar berdasarkan ajaran Islam seperti perang Aceh dan Sarekat Islam.[5]

Penyelidikan di Mekkah ternyata nantinya akan sangat membantu dalam penyusunan laporannya tentang Aceh, suatu karangan yang kemudian diperluas menjadi buku “De Atjehers” (dalam bahasa Inggris The Achehnese) yang terbit dalam dua jilid. Dalam laporan Aceh ini Snouck Hurgronje menganjurkan suatu politik penghajaran tanpa ampun. Hal ini sesuai dengan pendiriannya yang cukup terkenal ialah: selama para pemuka agama tidak berpolitik, perlu dibiarkan. Akan tetapi kalau melancarkan gerakan politik, perlu dihancurkan. Tidak mengherankan apabila di Timur Tengah Snouck Hurgronje dikenal sebagai Bestrijder van de Islam (yang memerangi).[6]

Memang, sebenarnya Prof. Dr. Snouck Hurgronje ini telah dikenal sebagai Orientalis besar pada zamannya. Oleh kebanyakan orang Indonesia kini, ia dianggap sebagai kaki tangan kaum imperialis, alat kaum penjajah, sehingga segala ulah dan sikapnya dinilai sangat menguntungkan kolonialis semata.[7]

Snouck Hurgronje (1906) memiliki gagasan bahwa tidak akan ada satu orang pun dari Belanda yang mampu menaklukkan Aceh tanpa memiliki pengetahuan tentang kondisi-kondisi lokal di sana. Selain itu, jika seseorang menginginkan ketundukan Aceh, tapi menawarkan padanya sedikit bantuan, maka Aceh sama sekali tak akan tunduk padanya. Karena dengan hadirnya musuh yang kurang berbahaya di dalam sebuah Negara, golongan kaum religius dan para petualang yang dinamik akan memiliki peluang lebih besar untuk mengadakan perang dengan penjajahan di dalam penjajahan (Belanda) itu sendiri. Maka, jalan keluar agar Aceh dapat tunduk sepenuhnya dan ditaklukkan adalah dengan melakukan kekerasan kepada mereka secara terus menerus.[8]

The Achehnese merupakan salah satu karya penting Snouck Hurgroje yang relevan dengan debat terkait Hukum Islam vs Hukum adat khususnya di Aceh. Snouck lah yang pertama kali memberi istilah adatrecht (hukum tradisi atau hukum adat) untuk menunjukkan bahwa hukum adat memiliki konsekuensi legal (sesuai aturan hukum). Menurut Snouck Hurgronje, kajian mengenai hukum adat memiliki posisi yang amat penting.[9] Strategi yang dilancarkan Snouck Hurgronje dalam memenuhi tujuannya untuk penelitian mengenai pengaruh Islam di Aceh baik dalam bidang sosial, politik dan hidup domestik, adalah pertama-tama dengan masuk ke tanah Aceh secara langsung dan berbaur dengan masyarakat di sana, terutama dengan kehidupan pribuminya (adat), bahkan masuk agama Islam.[10] Setelah masyarakat mampu menerimanya hingga semua orang memberinya berbagai julukan sebagai yang ahli dalam agama Islam, bahasa Arab dan hafal al-Qur’an, Hurgronje jelas sudah tahu banyak akan kondisi-kondisi lokal dan sosial-politik mereka, sehingga data-data yang ia butuhkan dalam penelitiannya telah rampung terkumpul. Keberhasilannya dalam hal ini adalah karena metodenya yang ia gunakan untuk mencapai tujuannya. Metode ini biasa kita sebut sekarang dengan psikologi humanistik berkaitan dengan ‘Teori kebutuhan dasar manusia’ yang mungkin pada zaman pemerintahan kolonial Belanda metode tersebut belum banyak dikenal orang. Salah satu tokoh yang merupakan pakar psikologi humanistik ini adalah Abraham Maslow.[11] Karena inilah, maka Snouck Hurgronje diangkat menjadi penasihat Kolonial Belanda yang meminta bantuannya dalam rencana penaklukkan Aceh agar menjadi daerah kekuasaan mereka.

Metode yang digunakan oleh Snouck Hurgronje melalui pendekatan psikologi humanistik ini menarik mengingat nasihatnya pada Belanda dalam menaklukkan Aceh bisa diterima karena penelitian terhadap Aceh dan kehidupan manusia pribuminya yang ia lakukan mampu membuat Belanda yakin akan pengetahuan Snouck mengenai Aceh beserta kehidupan dalam segala aspeknya secara lebih luas dan komprehensif. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Aceh yang dimulai dari metode psikologi humanistik berkenaan dengan “Teori Kebutuhan Dasar” ini. Dengan demikian penelitian ini diharapkan mampu menguak lebih jelas mengenai strategi jitu yang digunakan Snouck Hurgronje dalam misi penaklukkan Aceh demi tujuan orientalismenya dan ekspansi jajahan Bangsa Kolonial Belanda.

  1. B.      Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian

Dalam kamus Tesaurus Bahasa Indonesia, Strategi diartikan sebagai cetak biru, desain, muslihat, program, rencana, siasat, skema, kebijakan, pendekatan, politik, garis haluan dan prosedur. Sedangkan secara istilah, strategi diartikan sebagai perencanaan dan pengaturan operasional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.[12] Strategi Snouck Hurgronje dalam memenuhi tujuannya yang dimaksud di sini adalah erat kaitannya dengan metode pendekatan psikologi humanistik yang berkaitan dengan “Teori Kebutuhan Dasar” dengan menggunakan paradigma fenomenologis untuk mencapai tujuannya, yakni mengetahui  pengaruh Islam dan hukum adat dalam kehidupan manusia pribumi Aceh secara mendalam dari berbagai aspek kehidupan, sehingga memahami akan seluruh titik lemah dan kuatnya, dan tahu dengan jalan keluar apa agar Aceh bisa ditaklukkan oleh Belanda.

Berkaitan dengan latar belakang di atas, maka perumusan masalah atas penelitian ini dapat dispesifikasikan sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi Snouck Hurgronje dalam karyanya “The Achehnse” dalam rangka menaklukkan Aceh?”
  2. Apa landasan utama dari pemikiran Snouck Hurgronje sebenarnya?
  3. Bagaimanakah konsepnya mengenai mempelajari hukum adat dan hukum Islam dalam  memenuhi misi orientalismenya khususnya di Aceh?
  4. C.     Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah yang dikemukakan tadi, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui strategi Snouck Hurgronje dalam karyanya “The Achehnese” dalam rangka menaklukkan Aceh.
  2. Mengetahui Landasan utama dari pemikiran Snouck Hurgronje sebenarnya.
  3. Mengetahui Konsepnya mengenai mempelajari hukum adat dan hukum Islam dalam memenuhi misi orientalismenya khususnya di Aceh.
  4. D.     Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat turut memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan ilmu terkait, khususnya dalam bidang psikologi humanistik, pengkajian mengenai orientalisme dan pengkajian Sejarah Islam di Indonesia pada zaman Kolonialisme Belanda.

Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu digunakan dalam aspek praktis, misalnya dengan menggunakan pendekatan psikologi humanistik dalam melakukan sebuah penelitian.

  1. E.     Definisi Istilah

Untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam memaknai dan memahami beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan dijelaskan terlebih dahulu beberapa istilah yang banyak digunakan dalam penelitian ini. Istilah-istilah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: Orientalisme, Fenomenologi, Hukum Adat dan Hukum Islam (Hukum Adat dan Hukum Islam dikerucutkan definisinya hanya menurut Snouck Hurgronje).

Menurut Edward W. Said (1978), Orientalisme adalah disiplin dengan mana Timur didekati secara sistematis sebagai topik ilmu pengetahuan, penemuan dan pengalaman. Ia menjelaskan bahwa orientalisme merupakan suatu gaya berpikir yang berdasarkan pada perbedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara “Timur” (The Orient) dan hampir selalu “Barat” (The Occident) yang biasanya berasal dari Eropa. Orang yang mengkaji tentang Timur disebut dengan Orientalis. Biasanya berasal dari Barat. Sebagaimana tujuan Belanda dan Snouck Hurgronje dalam mengkaji soal Indonesia sebagai Negara Timur secara lebih mendalam, Edward W. Said mengatakan bahwa Timur itu dekat dengan Eropa yang juga merupakan tempat koloni-koloni Eropa terbesar, terkaya dan tertua sumber peradaban dan bahasa-bahasanya, saingan budayanya dan salah satu imajinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang “Dunia yang lain”.

Ninian Smart (2009) mengungkapkan bahwa istilah fenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos. Secara etimologi fenomenon artinya adalah fantasi , tentom, jostor, foto yang sama artinya dengan sinar, dam cahaya. Sedangkan dari asal kata kerja, diantaranya berarti  nampak, terlihat karena  cahaya  dan bersinar. Maka   fenomenon berarti sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya . Begitu pula logos yang berasal dari bahasa Yunani yang secara etimologi berarti ucapan, pembicaraan, pemikiran, akal budi, kata-arti, studi, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, dan dasar  pemikiran tentang suatu hal. Fenomenologi lahir dan biasanya diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang ditawarkan  dengan pendekatan teologis. Pendekatan fenomenologis mula-mula merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koheren bagi studi agama.

Snouck Hurgronje (1985) berpendapat bahwa hukum agama di Indonesia yang ajarannya berpusat pada lima rukun Islam berfungsi sebagai pedoman bagi siapa saja yang ingin mematuhi kewajiban dasar agamanya yang  cukup ketat.

Istilah Adat berasal dari kata Bahasa Arab  yang kebanyakan diserap oleh bahasa Melayu. Adat berarti tradisi (costum), kelaziman (usage), hukum adat (customary law) sebagai lawan dari hukum agama (religious law). Hukum adat seakan-akan merubah segala sesuatu yang bersifat duniawi dengan setiap generasi secara berturut-turut dan tak bisa dibantah (Snouck Hurgronje; 1906).

BAB II: DESKRIPSI TEORI DAN TELAAH PUSTAKA

Psikologi Humanistik menjunjung tinggi kebebasan serta harga diri manusia. Psikologi ini mengacu pada pengembangan manusia untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam ungkapan yang khas (Darmanto Jatman:2000).  Teori psikologi humanistik yang berhubungan dengan teori tentang kebutuhan dasar adalah teori tentang motivasi manusia yang dapat diterapkan pada hampir seluruh aspek kehidupan pribadi serta kehidupan sosial. Karena individu merupakan keseluruhan yang padu dan teratur (Abraham Maslow; 1987). Pada manusia terdapat hasrat-hasrat di dalam dirinya. Sebagian besar hasrat dan dorongan pada seseorang adalah saling berhubungan. Hal ini jelas berlaku untuk jenis-jenis kebutuhan yang kompleks seperti cinta. Akan tetapi tidak berlaku untuk hal-hal yang fundamental seperti rasa lapar.

Konsep fundamental mengenai ini adalah bahwa manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan itu tidak hanya bersifat fisiologis melainkan juga kebutuhan-kebutuhan psikologis yang merupakan inti kodrat manusia, hanya saja mereka itu lemah, mudah diselewengkan dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang keliru. Kebutuhan-kebutuhan itu juga merupakan aspek-aspek intrinsik kodrat manusia yang tidak dimatikan oleh kebudayaan, hanya ditindas.

Kondisi lingkungan sekitar dan keadaan sosial dalam masyarakat juga berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Maslow berpendapt bahwa kondisi-kondisi yang merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan dasar meliputi antara lain kemerdekaan untuk berbicara, kemerdekaan untuk melakukan apa saja yang diinginkan sepanjang tidak merugikan orang lain, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri, keadilan, kejujuran, kewajaran dan ketertiban. Adanya ancaman terhadap prakondisi-prakondisi ini akan membuat individu memberikan reaksi sama seperti reaksinya menghadapi berbagai ancaman terhadap kebutuhan dasarnya sendiri. Kondisi-kondisi ini pun akan dipertahankan, sebab tanpa kondisi-kondisi tersebut, maka aneka kepuasan dasar mustahil didapat atau setidaknya menjadi sangat terancam.

Berhubungan dengan itu, inilah konsep psikologi humanistik yang dipahami oleh Snouck Hurgronje dan diterapkan dalam penelitian yang ia lakukan di Aceh. Keterlibatannya dalam masyarakat pribumi Aceh secara langsung hingga membaur ke dalam kehidupan mereka baik di sisi adat maupun agama secara mendalam dengan menempatkan diri sebagai subjek yang memiliki kebutuhan dasar yang sama sebagaimana objek yang ia teliti membuatnya mampu memenuhi tujuan utamanya dan lebih memahami dasar-dasar atau pondasi pengetahuan yang mengakar pada kehidupan pribumi di Aceh itu, yakni bahwa hukum adat dan hukum agama itu sangat berpengaruh di wilayah tersebut dan berkaitan erat satu sama lain. Terutama dengan bekal wawasannya mengenai Islam dari hasil penelitiannya di Mekkah, semakin memudahkan Snouck Hurgronje dalam menguasai Aceh yang sedang ia teliti. Semakin ia mengetahui konsep dasar dari kehidupan manusia pribumi Aceh dari seluruh aspek secara menyeluruh, maka tentu ia mampu mengembangkan pengetahuannya itu untuk menemukan strategi baru dalam menaklukkan Aceh sebagaimana yang diajukan oleh pihak Kolonial Belanda padanya.

Snouck Hurgronje secara langsung beranjak dari kedudukannya sebagai pengkaji Islam menjadi seorang penasehat pemerintah Belanda dalam menangani jajahan-jajahan Indonesia Islamnya. Meskipun Hurgronje memperkenankan bahwa sesuatu yang begitu abstrak seperti “Hukum Islam” misalnya kadang-kadang menyerah kepada tekanan sejarah dan masyarakat, namun ia lebih tertarik untuk mempertahankan abstraksi itu untuk penggunaan intelektual. Karena secara garis besarnya “hukum Islam” menguatkan perbedaan antara Timur dan Barat. Selain daripada itu, pengetahuan akan Timur akan membuktikan, meningkatkan, atau memperdalam perbedaan yang digunakan oleh Eropa untuk mengetahui secara efektif seluruh Asia. Oleh karenanya, dengan mengetahui Timur secara keseluruhan berarti mengetahuinya karena Timur dipercayakan kepada perlindungan seseorang, jika seseorang itu adalah Barat (dalam konteks ini adalah perlindungan Belanda terhadap Aceh) (Edward W. Said; 2001).

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.     Tempat dan Waktu Penelitian

Karena Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau Library Research, maka penelitian ini dilkukan di perpustakaan STFI SADRA Jakarta, di kampus STFI SADRA Jakarta dan di Asrama Putri  tempat tinggal penulis. Sedangkan waktu untuk melakukan penelitian ini adalah pada tanggal 02-22 Januari 2013.

  1. B.     Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, menurut peneliti, adalah pendekatan historis dan humanistik.   Pendekatan historis yang digunakan di sini adalah dimaksudkan untuk meneliti kehidupan Snouck Hurgronje baik dari aspek sosial, agama, budaya dan politik. Karena bagaimanapun, kondisi kehidupan dalam berbagai aspek itu pasti mempengaruhi pola pemikiran Snouck Hurgronje dalam melakukan atau menggagas sesuatu.

Sedangkan pendekatan humanistik yang dimaksud di sini adalah berdasarkan pemikiran Abraham Maslow, bahwa manusia itu memiliki kebutuhan dasar yang menjadi motivasi manusia atau hasrat utntuk mencapai tujuan fundamentalnya yang teori mengenai motivasi ini dapat diterapkan pada hampir seluruh aspek kehidupan pribadi serta kehidupan sosial. Pendekatan ini dimaksudkan untuk meneliti kondisi psikologis Snouck Hurgronje yang juga seakan-akan memiliki rasa dan tujuan yang sama sebagaimana yang dirasakan objek yang ia teliti, sehingga ia ikut berinteraksi secara lebih intim dan dapat diterima sebagai bagian dari masyarakat di sana. Hal ini ia lakukan demi mencapai tujuan fundamental yang merupakan kebutuhan dasar yang ada pada dirinya juga, yakni pemuasan akan dahaga Snouck Hurgronje akan informasi-informasi kehidupan Islam dan budaya manusia pribumi Aceh.

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau library research, yakni penelitian yang dilakukan melalui mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan, atau telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya tertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.

  1. C.     Sumber Data
  2. Sumber Data Primer

Sumber primer adalah hasil-hasil penelitian atau tulisan-tulisan karya peneliti atau teoritisi yang orisinil, dalam hal ini sumber data primer yang digunakan adalah The Achehnese vol. I karya Snouck Hurgronje yang diterjemahkan oleh A. W. S. O’Sullivan dari bahasa Belanda (De Atjehers) ke dalam bahasa Inggris. Sang penerjemah masih memiliki hubungan pertemanan dan hidup sezaman dengan Snouck Hurgronje saat ia akan mempublikasikan karyanya tersebut dalam bahasa Inggris. Sumber data primer yang kedua adalah karya Snouck Hurgronje yang berjudul  Aceh di mata kolonialisme jilid ke-2 yang diterjemahkan oleh Ng. Singarimbun dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

  1. Sumber Data Sekunder

Sumber sekunder adalah bahan pustaka yang ditulis dan dipublikasikan oleh seorang penulis yang tidak secara langsung melakukan pengamatan atau berpartisipasi dalam kenyataan yang ia deskripsikan, melainkan dengan memberikan komentar atau kritik terhadap pemikiran Snouck Hurgronje. Dengan kata lain penulis tersebut  bukan penemu teori. Adapun sumber data sekunder yang menjadi pendukung adalah :

  1. Sofia Rangkuti Hasibuan. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Teori dan Konsep. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
  2. Frances Gouda. 1995. Dutch Culture Overseas. Praktik Kolonial Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  3. B. J. Bolland and I. Farjon. 1983. Islam in Indonesia, A Bibliographical Survey. U.S.A: Forris Publication Holland.
  4. Edward. W. Said. 2001. Orientalisme. Bandung: Pustaka.
  5. D.     Teknik Pengumpulan Data

Karena penelitian ini merupakan penelitian library research, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data literer yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan pustaka yang berkesinambungan (koheren) dengan objek pembahasan yang diteliti.  Data yang ada dalam kepustakaan tersebut dikumpulkan dan diolah dengan cara:

1. Editing, yaitu pemeriksaan kembali dari data-data yang diperoleh terutama dari segi kelengkapan, kejelasan makna dan koherensi makna antara yang satu dengan yang lain.

2. Organizing yakni menyusun data-data yang diperoleh dengan kerangka yang sudah ditentukan.

3.   Penemuan hasil penelitian, yakni melakukan analisis lanjutan terhadap hasil penyusunan data dengan menggunakan kaidah-kaidah, teori dan metode yang telah ditentukan sehingga diperoleh kesimpulan (inferensi) tertentu yang merupakan hasil jawaban dari rumusan masalah.

E. Analisis Data

Penelitian ini menggunkan metode analisis isi (content analysis).  Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat kesimpulan-kesimpulan (inferensi) yang dapat ditiru (replicabel) dan dengan data yang valid, dengan memperhatikan konteksnya. Metode ini dimaksudkan untuk menganalisis seluruh pembahasan mengenai strategi penaklukkan Aceh oleh Snouck Hurgronje secara lebih mendalam dan menggali makna dibalik pemikirannya yang bersifat orientalis, yang dalam penelitian ini, penulis memulainya dari tahapan merumuskan masalah, membuat kerangka berpikir, menentukan metode operasionalisasi konsep, menentukan metode pengumpulan data, mengumpulkan metode analisis data yang kemudian sampai pada tahap interpretasi makna.

Daftar Pustaka

Bisri, Cik Hasan dan Eva Rufaidah. 2002. Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial, Himpunan Rencana Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Bolland, B.J. and I. Farjon. 1983. Islam in Indonesia, A Bibliographical Survey. U.S.A: Forris Publication Holland.

Gouda, Frances. 1995. Dutch Culture Overseas. Praktik Kolonial Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Goble, Frank. G. 1987. Mazhab Ketiga, Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta: Kanisius.

Hasibuan, Sofia Rangkuti. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Teori dan Konsep. Jakarta: PT. Dian Rakyat.

Hurgronje, Snouck. 1985. Aceh di Mata Kolonialis, Jilid II. Jakarta: Yayasan Soko Guru.

. 1906. The Achehnese Vol. I. Leyden:  Late E. J. BRILL.

Jatman, Darmanto. 2002. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Bentang.

Said, Edward. W. 2001. Orientalisme. Bandung: Pustaka.

Smart, Ninian. 2009. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKis Yogyakarta.

Umar, A. Muin. 1978. Orientalisme dan Studi tentang Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

STRATEGI SNOUCK HURGRONJE DALAM MENAKLUKKAN ACEH DI ZAMAN KOLONIALISME BELANDA

(Kajian Terhadap Karya Snouck Hurgronje “The Achehnese”)

PROPOSAL

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Studi Metodologi Penelitian 1

Dosen Pengajar:

Ir. Ahmad Jubaeli M, Pd.

Oleh:

Fithri Dzakiyyah Hafizah

NIM: 12. 11. 211. 011

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT ISLAM SADRA

JAKARTA

2013


[1] Frances Gouda. 1995. Dutch Culture Overseas. Praktik Kolonial Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. Hal. 87

[2] Sofia Rangkuti Hasibuan. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Teori dan Konsep. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Hal. 143

[3]  A. Muin Umar. 1978. Orientalisme dan Studi tentang Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Hal. 61.

[4] Hasibuan. Op. Cit., 143.

[5] Snouck Hurgronje. 1985. Aceh di Mata Kolonialis, Jilid II, diterjermahkan oleh Ng. Singarimbun ke dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Yayasan Soko Guru. Lampiran Biografi.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Dikatakan, dalam karyanya The Achehnese vol. 1 yang diterjemahkan oleh A. W. S. O’Sullivan ke dalam bahasa Inggris : In the presence of a quite harmless enemy within the country, the religious party and the energetic adventurers had a most desirable opportunity of establishing war-chests and, with them, imperia in iinperio- No wonder then that no one with any knowledge of local conditions expected any good from this “scheme”. A child could grasp that it offered either too much or too little. If one hoped to effect the subjugation of Acheh, it offered little help, — in fact none at all; if one only desired so much conquest as would permit of the Dutch flag flying over the village of the old Sultans, then the tenure of a very small area would have sufficed, and one might have been spared the trouble and expense incurred in the holding of the “line” which necessitated a considerable military force to do a work of the danaides under the continuous harassing of the Achehnese.

[9] B. J. Bolland and I. Farjon. 1983. Islam in Indonesia, A Bibliographical Survey. U.S.A: Forris Publication Holland. Hal. 20

[10] Snouck Hurgronje (1906) in The Achehnese : In order to get at the very foundations of a knowledge of the influence of Islam upon the political, social and domestic life of the Achehnese, I took (so far as local conditions allowed me) that life in its entire range as the subject of my research.

[11] Sofia Rangkuti Hasibuan. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Teori dan Konsep. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Hal. 139.

[12] Drs. Kusnadi Suhandang dalam “Konsep Komunikasi Dalam Strategi Dakwah Ali Hasjmy” dalam Cik Hasan Bisri dan Eva Rufaidah, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial, Himpunan Rencana Penelitian (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2002), hal. 95.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s